LYCÊE COLLÈGE JEAN - BABTISTE SAY (SMA JEAN - BABTISTE SAY), SURESNES, PARIS.
Bangunan bergaya renaissance itu berdiri megah. Seperti bangunan - bangunan lain di Paris, klasik nan elegan, hangat seperti musim semi, dengan dominan warna cokelat muda yang menyegarkan mata.
Wulan masih terpaku memandang ke arah pintu utama yang terbuka lebar. Beberapa siswa melewatinya untuk masuk ke dalam sekolah.
Ini adalah hari pertamanya mengajar di SMA yang dibangun pada tahun 1895 ini. Namanya diambil dari nama seorang ahli ekonomi klasik Perancis, Jean - Baptiste Say.
Ia menarik napasnya dalam - dalam. Membenarkan letak syal yang sedikit miring di lehernya, lalu dengan mantap dia melangkahkan kakinya masuk ke dalam gedung sekolah. Membaur dengan para siswa yang mulai berdatangan.
Menuju ruang guru, Wulan harus melewati koridor panjang di gedung utama, dan keluar melewati satu pelataran luas yang banyak ditumbuhi pepohonan ash berbatang besar dan berdaun lebat. Namun, musim dingin membuat pepohonan itu kehilangan dedaunan. Tinggallah cabang - cabang gundul yang tertutup salju tipis.
Suara tawa beberapa siswa lelaki yang tengah bermain dengan bola sepak mereka membuat Wulan menolehkan kepalanya ke asal suara.
Buggh.
Tak sempat menghindar, bola melayang ke arahnya dan menghantam pelipisnya. Wulan mengaduh sembari mengelus pelipisnya yang terasa perih.
Bukan permintaan maaf yang diterimanya dari anak - anak itu, melainkan suara tawa mereka yang kembali terdengar. Dengan kesal Wulan mengambil bola yang tergeletak tak jauh darinya dan berjalan mendekati satu, dua .. lima anak yang terdiri dari dua kulit hitam, satu bermata sipit dan dua lagi berkulit putih.
Wulan memandangi satu persatu wajah para siswa itu dengan tatapan tajam. Menuntut mereka untuk segera meminta maaf.
"C'etait Max qui a botté le ballon (Max yang mendendang bolanya)." Sembari menahan tawa, salah satu remaja berkulit hitam berucap dan menunjuk pada sosok kulit putih yang dipanggil Max.
Wulan mengalihkan pandangannya pada remaja berambut hitam setengah gondrong dan berantakan itu.
"Quoi (apa)?" Dia menantang tatapan Wulan dengan sombongnya.
Wulan mendesis. Ia melempar bola di tangannya dengan keras ke arah Max. Memandang sinis padanya sekilas, lalu berlalu dengan perasaan dongkol.
Terdengar suara tawa meledak kembali di belakangnya. Ia tak berniat menanggapi anak - anak nakal itu.
Murid SMA di Perancis memang begitu, tidak punya sopan santun pada guru. Ia teringat pada berita - berita di media tentang konflik antara guru dan murid yang marak terjadi beberapa tahun belakangan ini. Bukan lagi tentang buli membuli antar siswa, namun siswa membuli guru.
***
Wulan berdiri menatap sebuah pintu yang terdapat papan kecil bertuliskan "La salle des Profs (ruang guru) di hadapannya. Dia menarik napas dalam - dalam sebelum akhirnya jemarinya bergerak membuka handle pintu.
"Bonjour (selamat pagi)." Ia menyapa tiga orang guru yang berada di dalam ruangan, duduk di meja masing - masing.
"Bonjour (selamat pagi)." Mereka menjawab sapaan Wulan secara bersamaan.
"je suis Wulan (saya Wulan). Guru bahasa Inggris yang baru."
"Ah d'accord (oh, begitu)." Seorang wanita berkulit putih yang sepertinya seumuran dengannya, bangkit dari duduknya dan menghampiri Wulan sembari menjabat tangannya.
"Aku Adrienne," ujar wanita itu. "Mejamu di sebelah sini."
Wanita bernama Adrienne itu menunjuk sebuah meja kosong di samping mejanya sendiri.
"Merci (terimakasih)." Wulan berucap sembari menarik kursi di bawah meja dan meletakkan buku - buku pelajaran yang ditentengnya sejak tadi ke atas meja.
"Selamat datang di Jean Baptiste Say," celetuk seorang pria paruh baya dari meja seberang. "Aku Paul."
"Hallo, Paul. Terimakasih." Wulan melambaikan tangannya pada pria bernama Paul itu.
"Kuharap kau betah di sini," kekeh seorang wanita berambut pirang dengan dandanan yang cukup modis dari meja di sebelah Adrienne. "Ah, aku Monique."
"Salut (hallo), Monique." Wulan mengangguk pada wanita bernama Monique itu.
Hati Wulan mulai menghangat. Ketegangan yang dirasakannya sejak menginjakkan kaki di sekolah ini, mulai luntur. Rekan - rekan guru yang berada satu ruangan dengannya begitu ramah. Sepertinya itu akan membuat hari - harinya tidak akan terlalu membosankan.
"Kau mengajar kelas berapa?" tanya Adrienne membuat Wulan terkesiap.
"Kelas 12."
"Kelas 12 sangat susah diatur. Seperti mengajar anak - anak anggota gangster. Kau harus punya kesabaran yang tinggi." Adrienne memperingatkan.
Wulan tersenyum kecut. Ingatannya kembali pada beberapa siswa bengal yang ia temui beberapa saat lalu. Nyalinya sedikit menciut. Namun tekadnya telah bulat. Ia membutuhkan pekerjaan ini untuk bertahan hidup. Apa pun yang akan ia hadapi nantinya, ia harus menyiapkan diri. Lagi pula, yang akan dihadapinya hanyalah anak - anak labil usia 17an tahun.
"Benar kata Monique, semoga kau betah mengajar di sini," kekeh Adrienne.
Wulan terbahak. "Ya semoga saja."
***
***
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments
Annis Zalwa
aku suka ceritanya ad Bhs Prancis ny ..
kebetulan disklh aku ad pljrn b.Prancis 😅🤭
2021-11-23
2
fina
sukaaa😄
2021-09-20
2
🐊⃝⃟ Queen K 🐨 코알라
Kencangkan sabuk pengaman Wulan karena sebentar lagi goncangan akan semakin kuat 😁😁😁
2021-07-29
1