"Sebuah pelukan."
Max menundukkan kepala sembari mengusap rambutnya. Ia terlihat malu - malu. Namun sejurus kemudian ia membuka kedua tangannya, dan dengan wajah memelas meminta Wulan untuk segera memeluknya.
"Dalam mimpimu!" hardik Wulan seraya memukul ujung kepala Max. Lalu menekan luka di pelipis pemuda itu dengan keras.
"Auchh, sakit sekali, Miss." Max mengaduh sembari memegangi pelipisnya.
"You little rascal (dasar kau anak nakal)!" maki Wulan kesal. Namun kemudian ia menarik sudut bibirnya. Tersenyum tipis. Ekspresi wajah kesakitan anak bengal itu terlihat lucu. "Pulang sana!" usirnya.
"Boleh aku menginap di sini, Miss? Kepalaku sedikit pusing," pinta Max sembari memijit kepalanya.
"Kau bercanda, Max. Kau tidak boleh menginap di sini."
"Kenapa?"
"Karena ...." Wulan berusaha mencari - cari alasan untuk menolak permintaan Max. "Tidak enak dengan tetangga," lanjutnya asal.
Max terbahak. "Tidak masuk akal."
"Pokoknya kau harus pulang. Jangan membuat Ayahmu khawatir."
Max terbahak sekali lagi. "Ayahku tidak akan peduli," ujarnya. "S'il te plait (kumohon), Miss, aku janji tidak akan merepotkanmu." Max menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada, memohon pada Wulan.
Wulan menghela nafas dalam - dalam. Entah kenapa, sepasang mata biru itu membuatnya luluh. "Aku cuma punya satu kamar. Kau bisa tidur di sini." Ia menepuk - nepuk sofa yang sedang mereka duduki.
"Tidak apa - apa, Miss. Yang penting aku bisa dekat denganmu."
Dada Wulan berdesir mendengar ucapan Max. Ada semacam perasaan aneh bergelanyut dalam dadanya. Namun segera saja ia menepisnya.
"Aku akan mengambil bantal dan selimut untukmu."
Wulan beranjak dari duduknya dan melangkah menuju kamarnya. Mengambil satu selimut yang tak terlalu tebal, dan satu bantal. Lalu memberikannya pada Max.
"Merci, Miss."
Wulan hanya mengangguk. Ia melirik jam dinding yang menunjukkan pukul sepuluh malam.
"Aku harus tidur, Max," ujarnya. Ia pun menguap beberapa kali. Entah dibuat - buat atau tidak, yang jelas, ia tidak ingin lama - lama berdekatan dengan anak itu. "Kalau kau merasa lapar, kau bisa menghangatkan makanan yang ada di kulkas."
"Okay."
"Bonne nuit (selamat malam), Max."
Max memandangi punggung Wulan yang beberapa saat kemudian menghilang di balik pintu kamarnya. Sesaat sebelum wanita itu mematikan lampu ruangan.
.
.
Wulan merasa tenggorokannya begitu kering. Ia pun beranjak dari ranjangnya dan memeriksa jam di ponselnya. Pukul dua dini hari. Ia berniat pergi ke dapur untuk mengambil segelas air. Sekalian saja mengecek keadaan Max yang tidur di ruang tamu.
Ia membuka pintu kamarnya perlahan. Sayup - sayup terdengar suara isak tangis yang tertahan dari arah sofa. Tangan Wulan meraih saklar lampu yang ada di sebelah pintu kamarnya.
Begitu lampu menyala, ia melihat Max yang sedang duduk di lantai menelungkupkan wajahnya ke lutut dan menyandarkan punggungnya di kaki sofa.
"Max? Ça va toi (kau baik - baik saja)?" tanya Wulan. Ia mendekat dan mengguncang punggung Max pelan.
Wulan mendecak sembari menggelengkan kepalanya begitu melihat dua botol anggur yang telah kosong tergeletak di atas meja.
"Anak ini!" ujarnya.
"Miss ...."
Max mengangkat kepalanya. Wajahnya yang kacau tampak basah oleh air mata. Kedua matanya sembab. Ia merangkak ke arah Wulan dan memeluk lutut Ibu Gurunya itu dengan erat.
"Max?" Ragu - ragu Wulan menyentuh rambut pemuda itu dan mengelusnya dengan lembut. Entah karena pengaruh alkohol atau apa, Max tampak begitu rapuh.
"Je suis fatigué (aku lelah), Miss," isaknya.
"Max, jangan begini. Kau mabuk."
"J'ai besoin de toi (aku membutuhkanmu)." Max kembali mengangkat kepalanya. Lalu beranjak dari lantai dan duduk di sebelah Wulan. Ia melingkarkan lengannya ke leher Wulan dan menelusupkan kepalanya di sana.
"Max, Max .. please, jangan begini." Wulan berusaha melepaskan pelukan Max dengan mendorong dada pemuda itu pelan. Namun rengkuhan Max cukup kuat. Ia sama sekali tak berniat melepaskan Wulan.
"Tolonglah, Miss .. peluk aku," pintanya setengah merintih. Ia semakin erat mendekap Wulan sembari mendusalkan wajah ke leher jenjangnya.
Ragu - ragu Wulan akhirnya meraih punggung Max dan mengelusnya lembut. Pikirnya, anak ini mungkin benar - benar butuh pelukan. Butuh seseorang untuk menampung apa pun yang sedang ia rasakan. Lagi pula, bukankah ini yang Wulan inginkan, dekat dengan Max, atau murid - muridnya yang lain.
"Wulan ...." Max menarik wajahnya dari leher Wulan. Pelan namun pasti, ia melepaskan jaket hoodienya, kemudian kaosnya, lalu melemparnya ke atas meja. Wulan terperangah menyaksikan pemandangan aneh di depan matanya itu. Sesaat otaknya berusaha mencerna apa yang sedang terjadi.
Max bertelanjang dada, menampakkan otot - otot dada dan perutnya yang mulai kokoh.
"Max .. apa .. yang .. kau .. lakukan?" Tenggorokannya seakan tercekat. Ia merasa seakan jantungnya tidak lagi berdetak dengan normal.
"Miss, aku belum pernah melakukannya dengan wanita mana pun."
A - apa?"
Max meraih dagu Wulan dan mendekatkan bibir padanya. Wulan terperangah. Untuk sekian detik lamanya ia seakan tak bisa menggerakkan tubuhnya. Ia hampir saja menerima pasrah perlakuan tak terduga murid bengalnya itu. Bahkan ia sempat memejamkan matanya. Menunggu ada sentuhan lembut di bibirnya. Mungkin.
Wulan terkesiap dan tersadar dari lamunannya. Seketika di dorongnya tubuh Max dengan kencang.
"Jangan kurang ajar, Max!" hardiknya seraya berdiri dan menyambar jaket serta kaos milik Max dan melemparkannya tepat di wajah pemuda itu.
"Keluar!" Wulan menunjuk ke arah pintu dengan muka yang telah merah padam.
"Miss .. aku ...."
"Pakai bajumu dan keluar, Max. Sekarang!" teriak Wulan.
"Miss, maafkan aku .. aku terbawa suasana. Aku ...," ucap Max terbata sembari memakai kaos dan jaketnya.
Wulan berjalan cepat ke arah pintu dan membukanya lebar - lebar. Lalu dengan gerakan kepalanya ia memberi titah pada Max untuk segera pergi.
Max berjalan mendekat ke arah Wulan dan berusaha untuk meraih lengannya. Namun dengan cepat Wulan menepisnya.
"Maafkan aku," ucap Max memelas.
Bahkan Wulan tak mampu memandang ke arah Max. Ia mendorong tubuh pemuda itu keluar dan menutup pintu rapat - rapat.
Ia menyandarkan punggungnya pada pintu sembari menarik nafasnya dalam - dalam. Menggeleng, membenturkan kepalanya ke belakang pelan, lalu menangkup keningnya dengan kedua telapak tangan.
Badannya pelan merangsek turun. Kini ia terduduk menyandarkan kepalanya ke pintu. Mendongak, berusaha mencegah buliran embun yang muncul dari sudut matanya.
Entah perasaan macam apa ini.
***
***
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments
Seikha Aludra
Botcah dewasa sebelum waktunya kah🤣
2021-07-07
0
Daisy🇵🇸HilVi
hais almost
2021-05-29
1
Emi Wash
aduh dd max....mau ngapain coba?
2021-05-19
0