LES MARAIS, PARIS.
Wulan memperhatikan orang-orang yang berjalan keluar masuk Museum Picasso di seberang jalan. Ia menyandarkan punggungnya pada dinding bangunan apartemen memanjang bercat cream muda di sepanjang Rue de Thorigny. Sesekali diliriknya jam di pergelangan tangannya. Pukul 10.15. Ia sedang menunggu Max yang belum juga menampakkan batang hidungnya.
Wulan mulai merasa kesal. Janji temu jam sembilan pagi, nyatanya anak itu sudah terlambat satu jam lebih.
"Miss!"
Ia melihat Max berlarian dari arah samping kanannya. Sepertinya ia baru saja keluar dari pintu stasiun bawah tanah. Tidak seperti biasanya, penampilannya cukup rapi kali ini. Celana jean warna biru muda dan mantel tebal warna hitam panjang yang membalut kemeja kotak-kotak warna merahnya. Rambut hitam panjang setengah gondrongnya yang biasanya ia ikat sembarang pun kini ia sisir rapi ke belakang.
Wulan menunjuk-nunjuk jam tangannya tepat di depan wajah Max.
"Sorry, Miss," ucapnya terkekeh sembari memijit tengkuknya. "Ada urusan mendadak tadi."
Wulan memutar kedua bola matanya dan menggeleng kecil. Kemudian menyapukan telapak tangannya ke udara. Pertanda ia akan segera melupakan kekesalannya.
"Alors (jadi)?" tanya Wulan. "Kau bilang akan menunjukkan sesuatu padaku," tagihnya.
Max mengangguk. Lalu mempersilahkan Wulan untuk berjalan terlebih dahulu. Kemudian ia mengimbangi langkah kecil Wulan. Menelusuri sidewalk yang mulai ramai oleh para turis.
Melewati pertokoan yang berjejer rapi dengan bangunan khas Paris yang klasik, keduanya terus berjalan hingga Max menghentikan langkahnya di sebuah galeri lukis kecil.
Wulan mengerenyitkan dahinya ketika Max mendorong pintu bercat ivory itu. Ia tahu betul galeri ini milik Patrick. Pria tua yang ia beli lukisannya sekitar dua tahun lalu. Namun ia segera mengikuti Max masuk ke dalam galeri.
"Bonjour (selamat pagi), Patrick," sapa Max ramah pada Patrick yang tengah sibuk merapikan beberapa pernak pernik yang ada di etalasenya. Wulan terkejut. Ternyata Max mengenal Patrick.
"Max ...." Patrick menghentikan aktifitasnya dan menyapa Max. Kemudian memandang ke arah Wulan. Pria tua itu mengerenyitkan keningnya. Seperti berusaha mengingat-ingat siapa wanita cantik di depannya ini.
"Salut (halo), Patrick. Aku wulan ...."
"Ahh, kau yang membeli lukisan Lady Magnifica waktu itu bersama suamimu, bukan?"
"Benar sekali," sahut Wulan. "Ingatanmu bagus sekali, Patrick," pujinya.
"Aku selalu mengingat orang-orang yang membeli lukisan spesialku," seloroh Patrick.
"Ah, d'accord (begitu)."
Patrick mengalihkan pandangannya pada Max kembali. "Kalian saling kenal?" tanyanya.
"Oui (iya), dia Guruku," jawab Max. "Aku akan mengambil barangku," ujarnya sembari melangkah menuju sebuah loker di ujung ruangan. Kemudian mengeluarkan tas besarnya dari sana.
"Sampai nanti, Patrick," ucap Max. Lalu memberi isyarat pada Wulan untuk meninggalkan tempat itu.
Wulan berpamitan dengan Patrick. Pria itu melambaikan tangan padanya.
.
.
Max menghentikan langkahnya di sudut jembatan Pont Marie. Meletakkan tasnya di lantai, dan mulai mengeluarkan peralatan melukisnya.
Wulan yang berdiri di belakangnya terperangah menyaksikannya. Lalu senyumnya pun terbit.
"Aku tidak pernah menyangka, Max," ujarnya sembari ikut membantu Max menata peralatannya. "Kau menjadi pelukis jalanan di sini. Amazing."
"Aku belajar dari Patrick."
Wulan meninju pelan bahu Max. "Dasar kau ini. Kau berpura-pura tidak tahu sewaktu aku membicarakan tentang Patrick padamu."
Max terbahak. Lalu Ia menyiapkan kursi dan easel lipat mini.
"Miss, duduk di sini." Max menepuk-nepuk kursinya.
"Moi (aku)?" tanya Wulan heran sembari menunjuk dirinya sendiri.
"Oui, toi (ya, kau)."
Wulan mencebik. Lalu meuruti permintaan Max untuk duduk di kursi yang telah pemuda itu siapkan.
"Kau mau melukisku?" tanya Wulan.
"Ya," jawab Max pendek sembari menyiapkan kanvas, kuas, dan cat beserta pernak - perniknya.
Max menatap wajah Wulan untuk beberapa saat. Memiringkan kepalanya sembari mencari angle yang bagus untuk memulai goresan tangannya.
Ia bangkit dari duduknya dan mendekati Wulan.
"Excusez-moi (permisi)." Tangannya meraih rambut Wulan yang tergerai dan merapikannya. Membuat wajah keduanya begitu dekat. Max mencuri pandang sekilas pada wajah cantik di hadapannya itu.
Wulan menjadi canggung. Ia pun segera melempar pandang ke jalan.
"Voila," ucap Max sembari memberi sentuhan terakhir pada rambut Wulan.
Ia kembali duduk di depan kanvas dan mulai bermain-main di atasnya.
Mata mereka bertemu, setiap kali Max menelusuri setiap sudut wajah manis itu untuk dituangkan ke dalam kanvas.
Dan jantung Wulan bereaksi aneh ketika sepasang mata biru itu seperti mempunyai kekuatan magis yang begitu menghipnotis.
Max benar-benar terlihat jauh berbeda dari seorang anak bengal yang biasa ia temui di sekolah.
Ia terlihat ... memesona.
Wulan menggeleng tanpa sadar. Menepis pikiran-pikiran aneh yang bergelayut dalam otaknya.
"Jangan bergerak, Miss," ujar Max membuatnya terkesiap.
"Sorry." Wulan menelan ludahnya. Ia mentertawakan dirinya dalam hati. Otaknya mulai eror akibat rasa canggung yang luar biasa.
Lagi pula, untuk apa ia merasa canggung dengan seorang Max?
.
.
"Wow!" seru Wulan begitu Max menunjukkan hasil lukisannya. Wanita di dalam kanvas itu terlihat sembilan puluh sembilan persen mirip dengan dirinya.
"Aku kira kau akan mengerjaiku dengan membuat wajahku menjadi jelek," cebiknya.
Max terbahak. "Mungkin saja, kalau aku melukismu saat kau berada di kelas dengan wajah tegang dan menyeramkanmu itu."
"Hei, itu semua gara-gara kalian anak-anak bengal!" tukas Wulan.
"Aku selalu duduk manis di kelas," protes Max.
"Ya, ya, tentu saja. Saking manisnya sampai-sampai kau tidak pernah memperhatikan pelajaranku. Kau tertidur di kelas, atau bahkan asyik dengan duniamu sendiri."
Max meringis mendengar penuturan Wulan.
"Ngomong-ngomong. Berapa harga lukisannya?"
"Untukmu gratis."
"Jangan Max. Sebuah karya harus dihargai. Lagi pula kau mencari uang di sini, bukan?"
Max berpikir sejenak. Ia menatap Wulan yang masih asyik memandangi lukisan dirinya itu.
"Bagaimana kalau makan malam," ujarnya.
"Makan malam? Kau ingin aku mentraktirmu makan malam?" tanya Wulan.
"No, aku mengundangmu makan malam denganku."
Wulan mengacak rambut Max gemas. "Kau ini, lagakmu seperti pria dewasa saja!"
"Aku memang sudah dewasa, Miss."
"Kau anak umur 16 tahun," kekeh Wulan.
Max menghela nafas pelan. "Alors (jadi)?"
"Aku bayar saja ya lukisanmu."
Max menggeleng. Lalu mengumpulkan barang - barangnya dan memasukannya ke dalam tas. Terlihat sekilas raut kecewa di wajahnya.
"50 euro," ujarnya seraya mengulurkan tangannya tanpa melihat ke arah Wulan.
"Kau bercanda," sergah Wulan tak percaya.
"Apa lagi, Miss?"
"Terlalu murah untuk lukisan sebagus ini."
Max mendecak. "Memang itu harga yang aku patok, Miss."
Wulan mengambil dompet dari tasnya. Lalu mengeluarkan satu lembar 100 euro dan satu lembar 50an. Ia meraih tangan Max dan meletakkan uang di telapak tangan pemuda itu.
"Hmm ... lumayan untuk membeli beberapa botol minum," gumamnya membuat Wulan memutar kedua bola matanya.
Max memasukkan lembaran hijau itu ke dalam sakunya. Lalu mencangklong tas besarnya dan berjalan mendahului Wulan yang masih berdiri di tempatnya sembari memegang lukisan di tangannya.
"Mau minum denganku, Miss?" tawar Max sembari menoleh ke arah Wulan.
Wulan melangkah mendekati Max dan memukul pelan ujung kepalanya.
"Dasar kau anak nakal!" makinya.
Max tergelak. "Aku bercanda, Miss. Kau serius sekali," ujarnya di sela-sela gelak tawanya.
"Kita ke tempat Patrick. Aku harus menitipkan barang-barangku. Kau juga bisa membingkai lukisannya di sana."
Wulan mengangguk setuju. Lalu mendorong Max untuk berjalan kembali di depannya.
***
***
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments
Wind Magus
Hezeeeh glenyeerrr ya mbak wulan🤣
2022-01-11
0
fina
kalo 50 euro berapa rupiah?
2021-09-20
0
𝑀𝒶𝓎𝑀𝑜𝓊
kayaknya....authornya kehabisan ide untuk sebuah nama??atau emang aslinya narsis bangeeddd🤔🤔🤔🤔
2021-06-20
0