Wulan melangkah gontai masuk ke dalam apartemennya. Dilemparnya mantel dan tasnya sembarang. Lalu ia berbaring lesu di atas ranjangnya.
Keterlaluan Si Max ini.
Ia memukul - mukul kasurnya geram. Lalu berbaring terlentang memandangi langit - langit kamarnya. Dirabanya saku celana guna mengambil ponselnya.
Wulan menggulir layar ponsel ke atas lalu kebawah, dan sebaliknya. Matanya tertuju pada satu nama di deretan kontak.
Pierre.
Ia menghembuskan nafasnya kasar. Tak yakin akan menelpon mantan suaminya itu untuk meminta bantuan. Tetapi jika harus menunggu sampai gaji turun artinya bulan ini ia akan menunggak membayar sewa. Bisa - bisa ia didepak dari sini. Paris tidak main - main mengenai hal ini.
Wulan meremas wajahnya frustrasi. Dadanya mendidih penuh amarah. Atau kasihan, mungkin. Amarah dan kasihan.
***
LYCÉE JEAN - BAPTISTE SAY, SURESNES.
Wulan menyapu pandangannya ke seluruh ruangan kelas dengan wajah muram. Ia mencari sosok Max. Namun kursi yang biasa pemuda itu duduki kosong.
Sialan.
Seisi kelas gaduh seperti biasanya. Tak bergeming dengan kehadiran Wulan di sana.
Wulan berjalan mendekati Etienne yang tengah sibuk mengobrol dengan dua temannya. Chen dan Frederick.
Ia mengetuk - ngetuk meja Etienne dengan punggung tangannya yang terkepal. Meminta perhatian pemuda itu.
"Mana Max?" tanya Wulan.
"Kenapa kau selalu menanyakan Max, Miss?" tanya Etienne.
"Aku mau tahu di mana alamat rumahnya."
"Kau menyukai Max, Miss?" goda Etienne disambut gelak tawa Chen dan Fred.
Kesal, Wulan mencengkeram lengan Etienne keras.
"Aauch, sakit, Miss," rengek Etienne.
"Beri tahu aku di mana alamat Max!" seru Wulan.
"Ben, Stalingrad (ya, stalingrad)," sahut Etienne dengan wajah polosnya.
Wulan menggebrak meja dengan keras. Menumpahkan kekesalannya di sana.
"Aku tahu rumahnya di Stalingrad. Gedung yang mana?" bentak Wulan.
"Ada apa denganmu, Miss? Kau memang menyukainya ya, sampai - sampai kau mencari alamatnya?"
Rasanya Wulan hendak mencekik pemuda bengal di hadapannya ini. Ia terdiam sejenak. Mengatur nafasnya guna mengendalikan amarahnya yang hampir saja meledak.
"Etienne ...." Wulan menurunkan nada bicaranya. "Kalau kau bertemu Max, bilang padanya aku mencarinya, d'accord(oke)?"
"Okay, Miss." Etienne mengangkat jempolnya.
Wulan bergantian menatap tajam sekilas pada Etienne, Chen dan Fred. Kemudian melangkah menuju ke arah papan tulis.
Past tense.
Wulan menuliskan dua kata di sana.
"Ada yang yang sudah tahu apa itu past tense?" serunya.
Hanya kegaduhan yang terdengar.
"Baiklah, kalian semua sudah tahu. Bravo!" sindir Wulan.
***
Etienne menghampiri Max yang tengah menyandarkan punggungnya di gang sempit dekat apartemennya. Merebut rokok yang tengah dihisap Max, dan ikut menyandarkan punggung di sampingnya.
"Hei, Miss Wulan mencarimu."
Max tak bergeming.
"Kau berhasil mencuri uang darinya?"
"Oui (ya)."
Etienne terbahak. "Pantas saja kemarin dia terlihat garang di kelas."
"Aku akan mengembalikannya," ujar Max sembari merebut kembali rokok di tangan Etienne.
"Kau sudah menyetorkan uang pada Nicholas dan Havier?"
"Aku sudah menyetorkannya."
"Lalu, bagaimana kau akan mengembalikan uang Miss Wulan?"
"Akan kupikirkan nanti."
Etienne mendecak. "Lagi pula untuk apa dikembalikan. Kau ingin berbuat baik atau bagaimana?"
"Je sais pas (aku tidak tahu)." Max mengedikkan bahunya.
"Terserah kau saja," sahut Etienne asal. "Mana bungkus rokoknya?"
Max merogoh saku jaketnya dan memberikan sebungkus rokok pada Etienne.
***
Sudah tiga hari ini Max tidak menampakkan batang hidungnya di sekolah. Wulan menjadi gusar dibuatnya. Sementara Etienne dan teman - temannya tidak mau memberinya alamat Max. Kalau begini caranya ia memang harus ke Stalingrad mencari sendiri keberadaan anak itu dan meminta pertanggung jawaban.
Wulan berdiri di antara gedung - gedung kumuh area yang terkenal rawan itu. Tak bisa dipungkiri rasa takut sedikit banyak menyerangnya.
Catcalling (pelecehan secara verbal), ia terima dari penghuni Stalingrad sejak ia masuk kawasan itu beberapa menit lalu.
Ia menghela nafas dalam - dalam. Akan mulai dari mana ia mencari alamat anak itu.
Stalingrad cukup luas.
Mata Wulan tertuju pada segerombolan pemuda yang tengah bercengkrama di sudut gedung apartemen lima lantai dengan cat dinding yang telah kusam. Ia memberanikan diri untuk menghambiri mereka, berniat untuk menanyakan alamat Max.
"Excusez - moi (permisi) ...."
Para memuda itu menoleh ke arah Wulan. Terlihat mereka saling berbicara satu sama lain, tanpa melepaskan pandangan pada Wulan. Senyum - senyum jahil mulai tersungging dari bibir mereka.
"Wow, ada wanita cantik." Seorang pemuda berwajah Timur Tengah dengan rambut bercat merahnya mendekat pada Wulan. "Ada yang bisa aku bantu?" tanyanya sembari menyisir rambut dengan jemarinya.
"Apa kau mengenal seorang anak bernama Maximilian Guillaume?" tanya Wulan. Ia bersikap waspada ketika para pemuda yang lain mulai mengelilinginya.
"Guillaume? Max? Yaaa .. tentu saja," jawab Si Rambut Merah. "Ada perlu apa, Nona?"
"Aku ingin tahu di mana alamatnya."
"Oowh .. kau mau aku memberitahumu alamat Max?"
Wulan mengangguk. Si Rambut Merah tertawa seraya memandang teman - temannya.
"Boleh saja. Asal kau temani dulu kami di sini," ujarnya seraya meraih lengan Wulan.
Wulan langsung saja menepis cekalan tangan Si Rambut Merah dan mendorong pemuda itu hingga mundur beberapa langkah.
"Wah, berani sekali kau?" hardiknya seraya mendekati Wulan kembali.
"Malik!!"
Seseorang berseru dari arah belakang. Wulan mendapati Max berdiri tak jauh darinya. Kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku jaketnya. Ekspresi mukanya datar.
"Hei, Max .. ada yang mencarimu!" Rambut Merah yang dipanggil dengan nama Malik itu berseru.
"Ya, dia temanku," sahut Max sembari melangkah mendekati Wulan dan meraih lengannya kemudian membawanya pergi menjauh dari Malik dan gerombolannya.
Begitu sampai di dekat gang sepi di antara gedung - gedung apartemen, Wulan menarik lengannya kasar.
"Dasar kau anak kurang ajar!" seru Wulan sembari mendesak tubuh Max ke dinding. "Kenapa kau mencuri uangku?"
"Aku hanya meminjamnya," ujar Max membela diri.
"Meminjam tanpa sepengetahuan pemiliknya itu sama saja dengan mencuri!" bentak Wulan geram.
Max merogoh sakunya dan menyodorkan lima lembar 100 euro pada Wulan.
"Je suis désolé, Madame (aku minta maaf, Bu)," ucapnya.
Wulan yang tadinya hampir saja tak bisa membendung amarahnya kini berangsur - angsur melunak. Tatapannya pun melembut. Pelan dia mengambil lembaran - lembaran hijau bergambar jendela era Baroque dan Rococo itu. Kemudian memasukkannya ke dalam tasnya.
"Dari mana kau mendapatkan uangnya?" tanya Wulan setengah menginterogasi.
"C'est pas important (itu tidak penting)."
"Merci (terimakasih)," ucap Wulan.
Max tersenyum tipis seraya mengelus tengkuknya canggung.
"Jangan ulangi lagi!" hardik Wulan seraya menunjuk wajah Max.
Max mengangkat kedua tangannya sembari mencebikkan bibirnya.
"Jangan membolos lagi!" seru Wulan. "A demain (sampai besok)," sambungnya seraya berlalu.
"Eemm .. Miss!" panggil Max seketika membuat langkah Wulan terhenti. "Aku antar sampai keluar Stalingrad, ya?"
"Tidak usah."
Max mendecak. Tanpa menunggu persetujuan Wulan, ia berjalan mensejajarkan langkah dengannya. Tatapannya lurus ke depan tanpa menoleh ke arah Wulan. Wajahnya angkuh seperti biasa.
"Aku bilang tidak usah!"
***
***
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments
𝕭𝖚𝖊 𝕭𝖎𝖒𝖆 💱
eehhhmm...mulai marahon..
2021-06-08
0
Theresia Setyawati
seperti nya aq mencium aroma2 guru dan murid niyh...
2021-04-16
1
⛤Mursini Zahwa🆘
aku suka..aku suka😗😗😗
2021-04-04
0