Wulan tertegun memandangi lukisan dirinya, hasil goresan tangan Max yang telah ia bingkai rapi dan ia pasang di dinding ruang tamu apartemennya.
Ia tersenyum simpul.
Wajah serius Max ketika sedang melukis, tergambar jelas di benaknya. Terlihat lebih dewasa dari umurnya. Ketika mata birunya yang indah itu beradu dengan matanya, Wulan merasakan ada sesuatu hal aneh yang membuat dadanya, berdebar.
Membayangkannya saja membuat dadanya kembali berdesir.
Wulan, don't ever think about it (jangan coba - coba berpikir tentang itu).
Ia hanya sedang kesepian saja.
Dan kehadiran Max dengan segala permasalahan yang ia punya, sedikit banyak mampu mengalihkan pikirannya dari luka hati yang belum juga mengering.
Iya, hanya itu saja. Max sama dengan murid - muridnya yang lain. Mereka butuh perhatian dan butuh pendekatan.
Wulan menghela nafas dalam - dalam.
Ia berjalan pelan masuk ke dalam kamarnya. Mengganti pakaiannya dengan pijama, lalu berbaring di atas ranjang dan menarik selimut tebal menutupi badannya hingga ke leher.
Matanya menerawang menatap langit - langit kamar. Ia menoleh ke sampingnya. Bayangan Pierre yang tengah tertidur di sana menyusupi pikirannya. Sudah satu tahun lamanya sejak Pierre mengemasi barang - barangnya dan melangkah pergi. Namun terasa seperti baru saja terjadi kemarin. Masih segar dalam ingatannya.
Suara sirine mobil polisi yang sedang berpatroli meraung - raung di luar sana. Menjadi nyanyian sebelum tidur di setiap malam - malamnya.
Wulan berusaha memejamkan mata. Mengatur nafasnya pelan guna menetralkan pikirannya.
.
.
"Apa kabar, Wulan?"
"Ah, perkenalkan ini Amelie, calon isteriku."
Wulan terbelalak. Calon isteri? Secepat itukah?
Pierre menyeringai. Sementara Amelie, wanita berambut pirang dengan dandanan modis itu terbahak.
Amelie menunjuk wajah Wulan sembari terus mentertawakannya. Bahkan suara wanita itu terdengar menggaung memenuhi telinganya.
"Hentikan!" seru Wulan sembari menutup kedua telinga dengan telapak tangannya.
"Kau pecundang, Wulan!"
"Lihat dirimu, menyedihkan."
"Menyedihkan!"
"Menyedihkan!"
Wulan berlutut sembari terus menutup telinganya. Mencoba mengusir suara - suara yang bersahut - sahutan di kepalanya.
"Miss!"
Tangan kokoh Max meraih lengannya dan menariknya ke dalam pelukannya. Wulan merasa seakan - akan dunia berputar. Dan lantai tempatnya berpijak ambruk ke dasar bumi.
Wulan terbelalak ketika mendapati dirinya berada di pelukan Max. Bukan sembarang Max. Ia bersayap putih. Ia membawanya terbang naik ke langit.
Max membawanya mendarat di sebuah padang rumput luas nan indah. Mata birunya menatapnya penuh damba.
Entah bagaimana, bibir Max kini telah memagut bibirnya dengan lembut. Sangat lembut, namun dingin. Seperti salju.
"Je t'aime (aku mencintaimu), Miss Wulan."
.
.
Wulan terhenyak. Ia membuka matanya pelan. Nafasnya memburu. Ia menelan ludahnya, untuk membasahi tenggorokannya yang kering.
Ia meraih ponsel di atas nakas. Mengerjap - ngerjapkan matanya untuk melihat dengan jelas kiranya sekarang jam berapa.
Pukul satu dini hari.
Wulan mengusap wajahnya pelan. Mimpi macam apa itu. Dadanya berdegup kencang.
"Ya Tuhan ...."
***
LYCÉE JEAN - BAPTISTE SAY, SURESNES.
"Kau baik - baik saja?" tanya Damien. Ia memperhatikan wajah Wulan yang terlihat sayu. Tertunduk sembari mengaduk secangkir kopi yang sedari tadi tak kunjung dicecapnya.
"Ah, ya, aku baik - baik saja," jawab Wulan sembari menyunggingkan senyumnya. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut kafetaria sekolah. Namun, kepalanya dipenuhi oleh bayangan mimpinya semalam.
"Kau belum mengiyakan ajakanku makan malam."
"Makan malam?" Wulan terkesiap.
"Iya, akhir pekan ini."
"Emm .. aku sudah punya janji akhir pekan ini."
Damien memanyunkan bibirnya. "Hari minggu, mungkin?"
"Maaf, Damien, aku selalu menghabiskan hari minggu untuk beristirahat total."
"Bagaimana kalau minggu depan?" tawar Damien sembari menyentuhkan telapak tangannya pada lengan Wulan.
Ia buru - buru menarik lengannya dengan canggung. "We'll see (kita lihat nanti)."
"D'accord (oke)."
.
.
Di sudut kafetaria, Nadia menatap tajam pada dua orang Guru yang tengah mengobrol di sudut lainnya. Wajah khas Timur Tengahnya terlihat geram. Kedua telapak tangannya mengepal.
Ia menggeleng. Ia benar - benar tidak suka dengan pemandangan itu. Damien dan Guru baru itu terlihat akrab. Hal itu benar - benar membuat Nadia marah. Ingin rasanya ia menyiram wanita itu dengan segelas lemon juice di atas mejanya itu.
Ia cemburu.
.
.
Nadia berdiri menyandarkan punggungnya di dinding koridor. Sembari tatapannya tajam mengarah pada dua orang Guru yang tengah berjalan berdua mendekat ke arahnya.
Ia memikirkan sesuatu. Ia ingin membuat Damien marah. Matanya beralih pada Max dan Etienne yang tengah bercengkrama di depan loker mereka.
Nadia menarik nafas dalam - dalam. Begitu Damien dan Wulan mulai mendekat, ia melangkah ke arah Max dan membalikkan badan pemuda itu.
Diraihnya leher Max dan dilu matnya bibir tipisnya dengan rakus. Max yang tak sempat menghindar kini berusaha melepaskan dirinya dengan mendorong bahu Nadia keras.
"Hei, jangan berciuman di lingkungan sekolah!" seru Damien yang terpaksa menghentikan langkahnya melihat adegan tidak senonoh yang dilakukan dua anak itu.
Wulan yang berada di sebelah Damien terbelalak kaget. Begitu juga dengan Max. Wajahnya terlihat pucat. Menatap Wulan dengan ekspresi yang sulit untuk diartikan.
Nadia tersenyum miring. Misinya berhasil. Semoga saja. Sementara Etienne, seperti biasa, tampak kebingungan.
"Kalian berdua nanti keruanganku!" ujar Damien dengan suara tinggi. Lalu dengan langkah cepat ia pun berlalu.
Wulan menatap Max sekilas. Hanya sepersekian detik mata mereka bertemu. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia pun berlalu.
Max hanya bisa pasrah memandangi kepergian Wulan. Kini ia berbalik dan mendorong Nadia ke dinding.
"Qu'est - ce que tu fais (apa yang kau lakukan)!" bentaknya pada Nadia yang masih saja menyunggingkan senyum puasnya.
"Merci (terimakasih), Max," ujarnya dengan nada mengejek. Lalu mendorong dada Max dan meninggalkan pemuda itu dengan amarahnya yang meluap.
Etienne yang tidak mengerti apa pun hanya membulatkan matanya dan memasang wajah bengong.
"Merde (sialan)!" maki Max sembari memukul pintu lokernya keras.
***
***
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments
nyiuhh
novelnya bagus thorrr...beda dr yg aku baca sebelumnya...btw, aq mampir kesini coz komen mom Sephinasera...novelis fav ku
2021-07-10
0
𝕭𝖚𝖊 𝕭𝖎𝖒𝖆 💱
iiiiishh..awalnya cmn mimpi...kok kenyataannya menyebalkan..🤔🤔🤔
2021-06-08
0
Emi Wash
anak2 labil....
2021-05-19
0