William akhirnya bisa masuk ke ruangan hotel. Ia masuk ke dalam kamar dan melihat Nesha sudah terlelap di tempat tidur. Tidurnya sangat lelap, sampai kedatangan William saja tidak membuatnya terbangun.
William masuk menuju kamar mandi dan membersihkan diri. Setelah itu ia gunakan celana tidurnya tanpa mengenakan kaos. Memang sudah menjadi kebiasaannya, jika tidur ia tak pernah menggunakan atasan.
Setelah itu ia meraih telepon di sisi tempat tidur dan menghubungi resepsionis. Ia meminta extra bed untuk dikirimkan ke kamarnya.
"Maaf Pak, pesan dari Pak Abraham anda tidak bisa meminta extra bed."
BRAK!
Dibantingnya telepon itu.
'Dad, harus sampai seperti ini?!' Keluhnya dalam hati.
Ia menoleh ke arah Nesha yang masih tertidur pulas, padahal suara dari bantingan telepon itu cukup keras.
"Perempuan ini benar-benar seperti panda." Gumamnya.
William pun mengambil bantal dan berjalan menuju ruang tengah. Ia rebahkan tubuhnya di sofa. Namun, tidurnya tidak nyenyak. Beberapa kali ia terbangun karena ia tak terbiasa tertidur di sofa. Kakinya terlalu panjang untuk tidur di sofa yang pendek.
Lalu tatapannya tertuju pada pintu kamar dimana ada Nesha di dalamnya.
"Terserahlah!" Akhirnya ia memutuskan untuk masuk ke kamar. Ia menyimpan bantal yang tadi dibawanya kembali ke tempat tidur di samping Nesha dan merebahkan tubuhnya disana.
William menopang kepalanya dengan satu tangan, menghadap ke arah Nesha. Di tatapnya wajah Nesha yang tertidur.
"Dari sekian banyak perempuan cantik, kenapa Daddy ingin aku menikahi perempuan gemuk ini?" Gumamnya.
Tangannya mulai jahil. Dicubitnya pelan pipi Nesha.
"Pipinya saja seperti bapau begini." Gumamnya.
Lalu William memutuskan untuk tidur. Saat akan merebahkan diri lagi, terendus wangi tubuh Nesha. William merasa familiar dengan wangi tubuh ini.
William mendekatkan hidungnya ke arah leher Nesha dan ia terkejut.
Nesha memang tak pernah menggunakan parfum. Ia lebih memilih menggunakan minyak telon. Dan wangi itu sangat berbekas dalam ingatan William.
"Nesha, kamukah perempuan yang waktu itu... "
Tiba-tiba mata Nesha terbuka. Dengan setengah sadar ia menatap ke arah William yang wajahnya berada hanya beberapa senti dari wajahnya.
"Kak Bryan...?" Lirihnya.
'Bryan?' Gumam William dalam hati.
Lalu kedua tangan Nesha melingkar di sekeliling leher William. Ditariknya tengkuk William membuat bibir mereka bertemu.
Bagi William, bercumbu dengan sembarang wanita sudah menjadi hal yang biasa. Hingga apa yang dilakukan Nesha, disambutnya dengan senang hati. Apalagi, sejak sebulan terakhir sang ayah benar-benar memonitor setiap gerak-geriknya hingga ia tak pernah bisa berhubungan lagi dengan seorang wanita pun.
Kemudian William menjauhkan bibirnya, dan merekapun saling menatap.
"Kak Bryan, aku pasti mimpi... " Lirihnya seraya masuk ke dalam pelukan William.
William hanya terdiam dan membiarkan Nesha memeluknya. Beberapa saat William pun tertidur sambil memeluk sang istri.
***
Sinar matahari pagi menembus dinding kaca dan menerpa wajah Nesha. Perlahan ia pun terbangun. Ia menyipitkan mata dan kesadarannya mulai kembali sepenuhnya.
Nesha menatap dada bidang di hadapannya. Tangannya melingkar di pinggang seseorang.
'Kak bryan?' Gumamnya. 'Jadi semalem gue gak mimpi... ?'
Sontak ia mendongak, menatap wajah seseorang yang dipeluknya. Namun, betapa kagetnya Nesha karena bukan wajah Bryan yang dilihatnya, melainkan William.
"KYAAAAAAA!!"
Spontan Nesha berteriak seraya mendorong tubuh William menjauh darinya. Saking kerasnya dorongan itu, tubuh William yang sedang tertidur sampai terjatuh ke lantai hingga menimbulkan suara 'bruk' yang cukup keras.
"Lo ngapain disini?! Kenapa lo bisa masuk ke kamar gue?!" Seloroh Nesha masih sangat syok.
William memegang pinggangnya yang kesakitan. "Kamu kira aku mau berada disini?"
"Tapi 'kan gak tidur bareng juga?! Lo bisa tidur di sofa!"
William berdecak. "Tidur di sofa tidak nyaman. Lebih baik di tempat tidur, ada guling yang empuk sekali." Ucap William seraya terkekeh.
"Kemarin lo bilang gue panda! Sekarang guling! Dasar buaya darat!" Sebuah bantal mendarat tepat di wajah William.
Nesha pun beranjak dari tempat tidurnya, meraih kacamata tebalnya, dan berjalan tergesa menuju kamar mandi.
"Nesha, kok bisa sih lo tidur bareng buaya darat itu?!"
Nesha terus menggerutu seraya mengusak rambutnya. Ia teringat bahwa semalam ia melihat Bryan dan bermimpi menciumnya.
"Itu gue cuma mimpi atau..." Segera ia menggelengkan kepalanya. "Gak mungkin! Gak mungkin 'kan gue ciuman sama William!"
Segera ia mencuci wajahnya dan menggosok gigi, menghilangkan pikiran-pikiran anehnya itu. Saat akan keluar dari kamar mandi, ia sedikit ragu. Rasanya kini ia tak ingin lagi bertemu dengan pria yang kini sudah menjadi suaminya itu.
"Gue gak boleh kepengaruh. Itu cuma mimpi, Nes."
Setelah cukup tenang, ia membuka pintu dan melihat William yang tertidur kembali di tempat tidur. Tanpa sadar Nesha menatap punggung bidang William yang terpampang di depannya. Wajah tampannya yang tertidur pulas juga membuat Nesha tak bisa mengalihkan pandangannya.
'Kenapa badan dia bagus banget sih? Itu muka dia oplas gak ya? Cocok deh dia jadi idol kpop.' Celoteh Nesha dalam hati. Segera ia tersadar. 'Apaan sih, Nes? Ngapain juga ngeliatin buaya darat itu. Gue harus segera keluar dari sini.'
Tepat saat Nesha keluar dari kamar, pintu diketuk. Rupanya itu adalah room service yang membawakan sarapan.
"Apa anda ingin sarapan di tempat tidur?" Tanya Pelayan itu.
"Untuk saya di sana aja." Nesha menunjuk ke arah meja makan yang ada di balkon. "Yang satu lagi kamu antarkan ke kamar aja."
Pelayan itu pun menuruti perintah Nesha. Nesha duduk di salah satu kursi dan menikmati sarapannya sambil menikmati pemandangan pagi.
"Kamu sarapan sendiri?" Tiba-tiba William yang masih tak berkaos, rambut berantakan, dan suara serak duduk di hadapan Nesha.
"Sarapan lo di kamar. Udah sana makan, jangan ganggu waktu sarapan gue." Usir Nesha.
"Aku tidak suka makan sendiri." Tangannya bersiap meraih jus jeruk yang tersedia, namun tangan Nesha segera memukulnya.
"Itu jus gue." Nesha memindahkan gelas berisi jus jeruknya ke dekat piringnya.
"Panda, kamu pelit sekali." Gerutunya, membuat wajah cemberut seperti anak kecil.
"Biarin. Terserah gue dong." Nesha kembali memakan sarapannya.
"Hey, kamu tidak pernah pakai parfum? Selama ini aku dekat dengan kamu tapi tak pernah tercium wangi parfum. Malah tercium wangi seperti bayi."
Nesha keheranan. Untuk apa William sampai menanyakan hal tak penting seperti itu.
"Apaan sih pertanyaan lo aneh banget?"
William mengambil sebuah croissant dan memakannya. "Tadi malam 'kan kamu sendiri yang memelukku duluan. Dan wangi kamu berbeda dari kebanyakan wanita. Aku menyukainya." Ia mengedipkan sebelah matanya ke arah Nesha.
"Lo jangan ngarang ya! Gue gak meluk lo!" Seloroh Nesha tak terima.
"Kamu bermimpi tentang seseorang yang bernama Bryan 'kan?"
Sontak Nesha terdiam mematung.
"Kamu menganggap aku sebagai laki-laki bernama Bryan itu. Kemudian kamu menciumku dan memelukku." Terang William dengan santainya.
Seketika sekujur tubuh Nesha meremang. Ia tak bisa mempercayai itu. "Bohong... "
William terheran sendiri melihat wajah Nesha yang begitu syok. "Untuk apa aku berbohong? Sudahlah, itu bukan apa-apa. Ciuman itu hanyalah kulit bertemu dengan kulit. Tidak ada yang perlu dibesar-besarkan mengenai itu."
Mendengar ucapan William, membuat Nesha sontak meraih gelas berisi jus jeruknya dan menumpahkannya ke arah wajah William.
"PANDA!" Geram William yang wajah dan dadanya kini dipenuhi tumpahan jus jeruk.
Nesha segera berlari menuju kamar dan menguncinya dan mulai menangis di sana.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 65 Episodes
Comments
Erni Fitriana
kaaian nesya...😢😢😢😢...tenang nesss...nanti kamu menjelma jadi wanita cantik...tenang ajahhhhh
2024-06-23
0