Gadis umur 19 tahun itu tengah menatap kaca mobil, matanya menerawang jauh tak tentu arah. Dia melihat kendaraan di malam hari berlalu lalang dengan lampu mobil yang selalu menyilaukan mata. Hatinya terasa galau ketika mengetahui sang suami akan menginap di rumah orang tuanya. Mauren memutuskan malam ini ia akan menginap di rumah Valto yaitu sepupunya, dia tidak mau tidur sendirian di rumah Sean.
Sean merasa bingung dan kasian, ia memegang pundak Mauren membuat gadis itu menengok ke wajahnya.
Sean menghela nafas ia menjelaskan jika akan semalam saja menginap di rumah orang tuanya dan besok siang ia akan pulang ke rumah. Apalagi besok adalah hari minggu, Sean ingin mengajak Mauren jalan-jalan.
"Kapan kau akan mengenalkanku pada orang tuamu?" tanya Mauren murung.
"Maka dari itu keluarlah dari perusahaanku, aku dengan senang hati akan memperkenalkanmu kepada keluargaku," jelas Sean.
"Jangan jadikan alasan dengan pekerjaanku! Aku tau jika kau malu mempunyai istri miskin sepertiku dan kau adalah seorang presdir yang kaya raya. Huh! Rasanya aku ingin menyerah saja, aku sadar diri siapa diriku ini," ucap Mauren sedih.
Sean mendadak menjewer telinga Mauren, ia sangat kesal dengan ucapan Mauren. Mauren merasa kesakitan lalu Sean melepas jeweran itu. Mauren mengelus telinganya yang memerah.
"Ku tampar mulut kau jika berucap seperti itu lagi! Aku tidak peduli kau kaya atau miskin, aku menikahimu karena aku menyukaimu! Kau bilang menyerah? Kita baru seminggu menikah, mana semangatmu untuk memperjuangkan cinta kita?"
Cinta katanya?
Tiba-tiba bilang cinta rasanya ingin muntah. Huh semua ini membuatku bingung.
Mauren langsung terdiam setelah di marahi oleh Sean, tiba-tiba Sean menggigit telinga Mauren dengan sangat lembut dan tangannya mulai meraba rok span hitam yang di kenakan oleh Mauren. Mauren sangat risih karena di depan mereka ada asisten Kim yang sedang mengemudi mobil.
"Jangan menolak atau aku akan memperkosamu di depan Kim!" ucap Sean berbisik di telinga Mauren.
Mauren terdiam setelah mendengar ucapan itu, ia membiarkan Sean bermain-main dengan telinga dan lehernya. Dia juga mengecup leher istrinya sampai meninggalkan bekas merah kehitaman.
Mauren dengan jelas mendengar nafas Sean yang mulai tak teratur, badan Mauren mulai merinding seketika.
"Oppa...."
Belum selesai berucap, Sean segera ******* bibir Mauren dengan lembut. Mereka sangat menikmati ciuman panas itu tetapi tiba-tiba mobil di rem mendadak membuat Mauren tidak sengaja menggigit lidah Sean.
Sean melepaskan ciuman itu, ia merasa sangat kesakitan. Dia memandang kearah Kim dengan tatapan tajam.
"Sialan kau Kim! Ayo bertengkar Kim! Mau mati kau ya?" umpat Sean.
"Maaf Tuan. Tapi sepertinya di depan itu adalah mobil Nona Alana, dia tiba-tiba menghentikan mobil kita," jelas asisten Kim.
Mata Sean terbelalak melihat Alana sudah di depan mobilnya, asisten Kim segera mengusirnya tetapi dicegah oleh Sean.
Sean tau jika Alana menjemputnya untuk pulang kerumah lantas ia berpamitan dengan Mauren. Sean mencium kening Mauren lalu menyuruh asisten Kim mengantar Mauren ke rumah sepupunya itu.
Air mata Mauren menetes ketika melihat suaminya di peluk wanita lain setelah keluar dari mobil, rasa sakit begitu menyiksa membuat dadanya menjadi sesak.
Tangisannya semakin kencang hingga membuat asisten Kim merasa kasihan dengan gadis itu. Dia segera melajukan mobil dan mengajak Mauren berhenti di sebuah minimarket, asisten Kim membelikan minuman soda untuk gadis yang sedang galau itu.
Mereka berdua kini duduk berhadapan di kursi yang telah di sediakan oleh minimarket.
Asisten Kim masih menatap Mauren yang menangis, ia sungguh tidak tega dengan istri tuannya itu.
Malam semakin larut dan hawa semakin dingin menusuk tulang, dengan sigap asisten Kim melepas jas hitamnya dan memakaikan ke tubuh Mauren. Mauren terkejut, ia memandang asisten Kim.
"Jangan salah paham dulu Nona, saya tidak mau anda sakit karena kedinginan"
Mauren tersenyum kecut lantas ia sedikit kepo tentang lelaki di depannya itu, ia segera mengelap air matanya. Menurutnya lelaki itu sangat tampan dan baik, ia juga selalu menunjukan senyuman yang tulus.
"Pacarmu pasti senang sekali mempunyai lelaki yang perhatian sepertimu"
"Maaf Nona. Saya tidak berpikir untuk mencari pacar atau semacamnya"
Ah! Apa dia benar gay seperti yang digosipkan di kantor?
Mauren terdiam memandang asisten Kim, masih banyak pertanyaan untuknya tetapi ia urungkan karena tidak enak dan tidak sopan.
Dia segera menenggak minuman soda itu, rasa dingin bisa di rasakan di mulutnya.
Dia memandang langit malam yang cerah tetapi tak secerah harapannya, padahal malam ini ia ingin mengajak Sean menghabiskan malam minggu berdua seperti pasangan pada umumnya.
"Ayo Nona mari saya antar pulang dan jangan bilang kepada Tuan Sean jika saya mengajak anda kesini, ia pasti akan membunuh saya"
Mauren tersenyum lalu mengiyakan ajakan asisten Kim untuk pulang.
**
Disisi lain Sean asyik menatap jalanan yang ramai akan pemuda pemudi menikmati malam minggu ini sedangkan Alana tengah asyik menyetir mobilnya.
Alana sangat senang karena Sean mau ikut pulang bersamanya padahal Sean melakukan itu karena tidak ingin berdebat panjang dengan Alana terlebih lagi ada Mauren yang berada di dalam mobilnya.
"Sean, Papaku sudah menanyakan kapan kamu akan melamarku," tanya Alana dengan penuh semangat.
"Lebaran kucing!" jawab Sean ketus dan tidak memandang kearah Alana sedikitpun.
Alana tersenyum mendengarnya, ia melirik kearah Sean yang sedari tadi menatap kaca mobil. Mungkin Sean sangat lelah sampai tidak mau berbicara dengannya, itulah yang ada di pikiran Alana.
Setengah jam kemudian mereka sampai di rumah keluarga Sean, di rumah itu terdapat keluarga besar Sean seperti kakek Askar, Mama Sean, tante Sean dan dua sepupunya yang berjenis kelamin perempuan.
Sean sudah tidak memiliki ayah dan ia juga anak satu-satunya dari sang Mama.
Sedangkan tante Sean memiliki dua anak perempuan yang keduanya masih duduk di bangku SMA sedangkan suami tante Sean telah pergi meninggalkan mereka karena seorang pelakor.
Sean memutuskan meninggalkan rumah karena ia sering dimarahi oleh sang kakek dan terlebih lagi kedua adik sepupunya selalu ribut dan membuatnya emosi.
Apalagi dengan perjodohannya dengan Alana, itu membuat ia yakin harus meninggalkan rumah.
Sang Mama memeluknya ketika Sean memasuki rumah, Sean menerima pelukan hangat dari Mamanya.
Kedua adik sepupunya juga ikut memeluknya, ia sangat rindu kepada sang kakak.
"Kalian semakin tinggi ya Sera dan Zara," ucap Sean sambil mengelus kepala mereka.
Sera dan Zara adalah saudara kembar, ia sangat menyayangi kakak sepupunya itu walaupun mereka sering bertengkar.
"Aku rindu bertengkar dengan kakak," ucap Sera.
"Cih! Rindu bertengkar? Baru dibentak saja sudah nangis. Dasar cengeng!"
Keluarga itu saling bertukar kerinduan kepada Sean, ia juga disuguhkan makan malam yang mewah tak lupa Alana ikut di tengah keluarga besar itu. Sean menatapnya dengan rasa tidak suka.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 233 Episodes
Comments
inayah machmud
kasihan Mauren, ,😭😭😭
2023-12-01
0
Renialamsyari
semoga mereka pinya momongan
2021-08-22
0
HNF G
yg sabar ya mauren
2021-06-23
0