Malam hari telah tiba seperti biasa Sean diantar oleh sang asisten hanya sampai gang saja. Suasana malam hari terasa sunyi, orang-orang nampak sudah berada di dalam rumah dan menutup pintu.
Sean berjalan dengan santai dan fokus menghadap ke depan tetapi ia mendengar bunyi misterius yang sangat familiar, ia berhenti sejenak untuk menguatkan pendengarannya.
"Hihi hihi hihi hihi"
Bunyi itu terdengar seperti ada dalam sebuah film-film horor, bulu kuduk Sean merinding seketika. Dia mengamati di sekelilingnya tetapi nihil, ia hanya sendirian di tempat itu.
"Hihi hihi hihi hihi"
Bunyi itu muncul lagi sampai ketika ia tersadar bahwa bunyi itu berasal dari kebun di samping kirinya. Kebun itu terlihat horor dan sangat gelap, jika siang itu kebun itu sangat terang terdapat pepohonan singkong, pisang dan juga pohon mangga. Tetapi jika malam tiba kebun itu menjadi sangat menakutkan bagi siapa yang melintasinya.
"Hihi hihi hihi hihi"
Bunyi itu muncul lagi dan Sean menatap sebuah pohon mangga, ia terkejut ketika seonggok kuntilanak bertengger di atas pohon mangga.
Sean setengah melompat mundur sambil memegang dadanya seolah kaget, tanpa sadar ia hampir terjatuh tetapi satu tangannya refleks menopang di jalan aspal.
Sean berusaha berdiri, tubuhnya merinding ketika kuntilanak itu tersenyum menyeramkan.
Bukannya lari tetapi ia malah memaki kuntilanak itu.
"Beg* kau! Bikin kaget orang saja! Ku potong gaji kau!"
Sean langsung terdiam dan berpikir, Eh? Dia tidak bekerja untukku. Kenapa aku berucap seperti itu?
"Hihi hihi hihi," suara kuntilanak berbunyi nyaring membuat bulu kuduk Sean semakin merinding.
Sean mendekati kuntilanak itu dengan wajah berani, ia mendongakan kepala supaya bisa melihat bentukan dari kuntilanak itu.
Tanpa sadar ia tersandung ranting pohon dan membuatnya jatuh tersungkur. Kuntilanak itu seolah menertawainya.
Huft sabar Sean. Perempuan memang menyebalkan!
Sean bangkit, ia memulai mendongak dan memandangi kuntilanak itu, ia malah curhat tentang kehidupannya, mulai dari orang tuanya, perjodohannya sampai istrinya yang sinting. Setelah di rasa capek berdiri akhirnya ia bersender di pohon mangga dengan kedua tangannya bersedekap di dadanya dan menatap ke arah jalanan.
"Kau mau membantuku kunti untuk membuat Alana tidak mengejarku lagi? Hah! Aku sudah lelah berpura-pura gay, itu membuatku seperti orang gila. Aku akan membayarmu banyak dan tidak akan memotong gajimu. Huh! Sekarang pun aku malah menikah dengan cewek yang otaknya kurang se-ons, tapi... dia bisa membuatku tertawa melihat tingkah kocaknya. Kunti?"
Sean terdiam saat kuntilanak itu tidak meresponnya, " Kunti?" dia mendongak keatas dan ternyata kunti itu sudah menghilang.
"Oh Setan kau!" ucap Sean sambil menendang pohon mangga hingga kakinya kesakitan.
"Aw.. Aw.. Aw.. Aw.." ucap Sean kesakitan sambil memegangi kakinya.
Dia segera pulang menuju rumahnya, ia segera masuk tapi ia mendengar suara tangisan perempuan.
Apa kunti itu mengikutiku sampai rumah?
Sean menatap di sekelilingnya tetapi ia tidak menemukan apa-apa.
"Ku menangis.... Membayangkan.... hiks hiks hiks"
Sean mengenal suara itu, ia lalu segera masuk ke dalam rumah melihat Mauren menangis sambil menonton sinetron azab.
Sean berdecak dan segera masuk ke kamar mandi.
Setengah jam yang lalu.
Mauren baru saja membeli makan malam di warung pojok perumahan, ia berjalan dengan santai. Terlihat tidak ada seorang pun yang keluar rumah membuat suasana menjadi menyeramkan.
"Hihihi hihihi hihihi"
Mauren mendengar suara kuntilanak dan segera mencari sumber suara itu sampai ia sadar suara kuntilanak itu berasal dari kebun.
Kuntilanak itu tepat berdiri di bawah pohon mangga.
"Hey kau salah menakuti orang! Aku tidak takut denganmu bahkan tuyul-tuyul di tempat kosku dulu sering kuajak main kelereng"
"Hihihi hihihi"
"Tunggu dulu! Kamu tau suamiku? Dia pria paling tampan di kompleks ini, setengah jam lagi dia akan pulang kerja dan akan lewat sini. Kamu bisa menakutinya, buat dia takut sampai pipis di celana. Hahaha. Ah! Sudahlah aku mau pulang. Jangan lupa takuti dia!"
_____________________________________
Setelah selesai mandi, Sean segera merebahkan dirinya di ranjang.
Dari dalam kamar ia bisa mendengar Mauren ngoceh-ngoceh tidak jelas dan sesekali menangis di depan ruang TV.
Sean memejamkan mata sejenak tetapi ia tersadar seperti ada yang bernafas di depan wajahnya. Dia segera membuka mata lalu terkejut setengah mati ketika melihat cewek berwajah konyol dengan lidah menjulur berada di depannya. Sean refleks menampar pipi cewek itu dan seketika cewek itu terjatuh di lantai.
Sean menyadari bahwa ia menampar Mauren dan segera membantunya berdiri.
"Hey kau tidak apa-apa? Kenapa kau menakutiku? Aku tidak sengaja Mauren, maafkan aku"
Mauren menangis terisak sampai membuat Sean kebingungan, ia tahu jika ia menamparnya begitu keras dan pasti rasanya sangat sakit. Sean segera menelpon asisten Kim untuk menyuruh dokter keluarganya datang. Dia sangat panik ketika tangisan Mauren semakin keras, dia mengambil air dingin dengan handuk lalu mengompreskannya ke pipi Mauren yang sedikit memerah.
Sean mengelap air mata Mauren dengan jari tangannya, ia mengelus rambut Mauren.
Dia menatap wajah imut Mauren dengan lembut sampai ketika ia mendengar suara ketukan pintu.
Beberapa menit kemudian.
Dokter keluarga itu memeriksa keadaan Mauren yang masih menangis sesegukan sampai mengeluarkan ingus, dokter itu menyuruh Sean mengelap ingus Mauren tetapi ia menolak.
"Lap ingus dia Kim!" ucap Sean menyuruh asistennya.
"Tapi tuan, Mauren adalah istri anda apa boleh saya menyentuhnya?"
Sean menatap tajam wajah asisten Kim, ia merebut sapu tangan yang di bawah oleh asisten Kim di tangannya.
Sean mengelapnya dengan perasaan jijik setelah itu dokter mau memeriksa keadaan istrinya.
"Huaaaaa hiks hiks hiks. Jangan periksa pipiku dokter. Hiks hiks"
Ketiga pria tampan itu hanya saling memandang kebingungan.
"Periksa disini dokter, rasanya sakit sekali. Huhuhuuaaa," ucap Mauren sambil memegang dadanya.
Dengan cepat dokter itu memeriksa dada Mauren tetapi sebelum menempelkan stetoskop tangannya dipukul oleh Sean.
Sean melotot kearah dokter itu, ia tidak terima jika dada istrinya di sentuh pria lain.
"Terus aku mau memeriksa keadaan gadis ini bagaimana?" tanya dokter itu dengan sewot.
"Huhuhuhuaaaaa jangan bertengkar huhuhuhu, sakit sekali, sakit sekali dadaku!" ucap Mauren sambil menepuk dadanya.
"Duduk huhuhu, tolong kalian duduk!" sambung Mauren.
Sean, asisten Kim dan sang dokter dengan bodohnya menuruti perkataan Mauren.
Mereka terduduk di lantai sedangkan Mauren duduk di bibir ranjang, posisinya seperti sedang mendongengkan para lelaki tampan.
Dia mulai bercerita panjang lebar sampai terlihat asisten Kim menguap, dokter mulai kesal dan Sean yang mendengarkan celotehan Mauren dengan seksama.
"Kalian tahu? Aku tadi asyik menonton drama favoritku terus hiks hiks... Terus aku membuka IG lalu melihat mantanku berbulan madu bersama istrinya .. Huhuhuhu hiks hiks" jelas Mauren.
Sean seketika berdiri lalu memarahi Mauren, dia pikir Mauren menangis karena terluka parah tetapi malah menangisi sang mantan.
"Tunggu! Hiks hiks... mereka berdua siapa?" tanya Mauren sambil menatap asisten Kim dan dokter tampan itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 233 Episodes
Comments
inayah machmud
pasangan somplak bin gesrek.
2023-12-01
0
Liliyana Ana
jadi ambyar imajinasi ku dengan alur novel nya gara gara kuntilanak nyelip😏
2022-06-06
0
ardan
ampuuun thor, kelewat lucu ampe sakit nih perut... aduh kok ada yah alur amburadul, maaf thor dalam sisi positif saking lucunya yah, no offense 😁👍
2022-04-13
1