Malam hari nampak mendung, terlihat kilatan-kilatan cahaya di langit. Hawa dingin menyeruak seakan menusuk tulang.
Jaket tipis Mauren tidak bisa melindungi dinginnya malam itu apalagi ia harus berdiri di pinggir jalan menunggu sebuah taksi atau angkot lewat tetapi belum ada yang lewat.
Handphonenya mati tidak memungkinkan untuk memesan ojek online.
Tiba-tiba sebuah mobil hitam mewah berhenti di depannya, ia menatapnya dengan bingung.
Asisten Kim menyuruhnya untuk masuk, ia sebelumnya telah memastikan tidak ada pegawai lain yang tahu.
Mauren masuk ke dalam mobil, ia memandang Sean tetapi pria itu malah memalingkan muka.
Mauren tidak memperdulikannya, ia bersandar dikursi sambil menatap kaca mobil. Tubuhnya hari ini sangat lelah karena aktivitas di perusahaan yang cukup padat, ia harus membantu banyak pegawai khususnya laki-laki. Mauren tau jika mereka hanya modus untuk mendekatinya saja, tetapi ia tidak mungkin menolak permintaan para pegawai itu.
"Mampir ke restoran dulu Kim!"
"Baik Tuan"
Asisten Kim melajukan mobilnya menuju restoran Ananta favorit tuannya.
Terlihat pasangan suami istri itu tengah saling memalingkan muka bahkan duduknya juga saling berjauhan.
"Nona Mauren baik-baik saja? Anda terlihat pucat," tanya Asisten Kim.
"Cih! Baru bekerja sehari sudah letoy, dirumah saja kau belajar masak!" ucap Sean mengejek.
Kau enak cuma duduk manis di ruangan mewahmu itu, sedangkan aku harus naik turun ke setiap lantai.
Mauren hanya terdiam, ia membayangkan kejadian tadi saat berada di ruangan Devano, ia sudah mendapatkan pelecehan yang tiba-tiba mencium pipi dan memfoto Mauren diam-diam. Tetapi Devano mengancam akan memecat jika dia tidak bisa diam dan menutup mulut.
"Koko Kim?" ucap Mauren.
Sebelum asisten Kim menjawab tiba-tiba Sean menjewer telinga Mauren. Dia sangat marah ketika Mauren memanggil Kim dengan sebutan koko.
"Aaaaw... Lepaskan!"
"Kau jangan memanggil dia koko, ku gampar mulut kau jika memanggil itu lagi"
Setelah itu Sean melepaskan jewerannya, ia kembali menatap kaca mobil. Sedangkan Mauren mengelus telinganya yang merah.
Dia memandang Sean dengan tatapan sinis.
"Oppa Kim?"
Sean terkejut lalu dengan cepat mendekati Mauren dan melum*t bibir Mauren, sepertinya cara kasar tidak bisa digunakan kepada Mauren. Setelah itu Sean melepaskan ciuman itu, memang benar cara itu bisa membuat Mauren terdiam, dia masih syok dengan ciuman tiba-tiba itu.
"Jangan panggil dia oppa! Sebutan oppa hanya untuk aku saja!" ucap Sean marah.
Mauren berdecak lalu merasa kesal melihat tingkah Sean yang kekanakan.
"Ayang Kim" goda Mauren.
Sean menatap tajam Mauren, Mauren mengejeknya dengan mengorek hidung.
Asisten Kim terlihat menahan tawa dan Sean berganti menatapnya.
Sean dengan cepat menarik kerah asistennya yang sedang mengemudikan mobil membuat mobil menjadi oleng ke kanan dan ke kiri.
"Ayo bertengkar Kim! Kau sepertinya senang jika membuatku marah"
Mauren panik lalu melerai Sean yang sudah seperti ingin membunuh, ia menarik Sean lalu menyuruhnya duduk tenang. Asisten Kim bernafas lega karena ia bisa fokus mengemudi bahkan sedikit lagi saja bisa menabrak truk di depan mobil mereka.
"Hey! Sedari tadi aku ingin bertanya dengan asisten Kim bahwa bagaimana sifat Pak Devano sebenarnya, ia sudah mencium pipiku dan memotretku diam-diam tapi kau oppa, kau selalu memotong omonganku. Sialan!" ucap Mauren tidak sadar dengan omongannya sendiri.
Setelah sadar, ia menutup mulut rapat-rapat dan duduk bergeser dekat pintu menjauhi Sean yang sudah terlihat marah. Asisten Kim juga sudah terkejut setengah mati mendengar ucapan Mauren.
"Setelah ini kau tau apa yang harus kau lakukan Kim?"
"Iya Tuan," jawab Asisten Kim dengan wajah garang seperti ingin membunuh.
"Apa yang akan kalian lakukan? Jangan! Aku takut dia akan memecatku," ucap Mauren ketakutan.
"Dasar beg*! Kau lebih takut kepadanya ketimbang denganku, padahal dia hanya bawahanku"
Otak Mauren mencerna, ia baru sadar posisi suaminya jika tertinggi di perusahaan itu.
Dia menatap Sean dengan takjub akan kuasa suaminya. Mauren mendekatinya lalu memijat lengan Sean, ia memberikan ekspresi yang imut.
Sean melepaskan pijatan Mauren, ia sangat marah kepadanya karena mau di cium oleh pria lain.
"Oppa, aku lapar"
Setelah sampai di restoran Ananta, Mauren dengan cepat memesan menu paling mahal, ia makan dengan lahap karena makanan itu sungguh lezat dan dia tidak pernah memakannya. Sean hanya berdecak melihat cara makan Mauren yang rakus sedangkan asisten Kim makan dengan tenang.
Terlihat restoran ini cukup senggang di banding sebelumnya, mungkin karena efek dari video panas istri dari pemilik restoran itu membuat pelanggan enggan untuk berkunjung.
"Bolehkah aku bergabung?" tanya pemilik restoran ini yaitu Reno.
Sean memandangnya lalu berdiri memeluknya dengan erat, ia merasa iba kepada teman baiknya itu karena sebentar lagi akan bercerai dengan istrinya.
Mauren hanya menatapnya cuek.
Setelah puas memeluk Reno, Sean segera duduk dan menyuruh Reno duduk di depannya.
Reno memandang gadis di samping Sean, ia belum pernah bertemu sebelumnya.
Sean yang sadar akan tatapan Reno, ia segera menarik kepala Mauren di bawah ketiaknya.
"Jangan tatap istriku! Sialan kau!"
Reno hanya tertawa dengan ucapan Sean, ia tidak marah dengan umpatan Sean karena ia sudah terbiasa mendengarnya.
"Oppa aku tidak bisa bernafas," ucap Mauren.
Sean lalu melepaskan kepala Mauren, wajah Mauren merengut lalu melanjutkan makannya. Sesekali ia melirik Reno seperti pernah melihatnya di televisi.
Otaknya kembali mencerna dan mengingat siapa lelaki di depannya.
"Oh Kau Reno Alexandre?" tanya Mauren berdiri sambil menggebrak meja.
"Duduk kau beg*!" ucap Sean seakan tidak suka.
Mauren berdecak lalu duduk kembali dan menatap Sean dengan sinis. Reno tersenyum melihat tingkah pasangan di depannya. Setelah itu mereka mengobrol panjang lebar, seperti biasa Reno menjadi pendengar setia dari Sean.
"Kamu menikah tanpa mengundangku Sean?"
"Kami menikah diam-diam, bahkan keluargaku belum tau"
Reno terkejut tetapi ia hanya tersenyum, ia tahu jika temannya itu menghindari sebuah perjodohan.
"Kau tau? Kehidupan orang kaya seperti kita sangat rumit, bahkan aku sudah lelah menjadi seorang pemimpin perusahaan. Rambutku setiap hari rontok karena memikirkan pekerjaan, tapi apalah dayaku aku hanya satu-satunya pewaris perusahaan kakek ku. Mau tidak mau aku harus melakukannya"
Oppa malah curhat padahal aku sudah mengantuk.
"Kau juga harus kuat Reno. Aku yakin setelah ini kamu mendapatkan pengganti Sonia yang jauh lebih baik," sambung Sean.
"Seperti dia?" ucap Reno menunjuk Mauren.
Dia memang sengaja menggoda Sean, Sean berubah menjadi sangat marah.
"Kau mau mati dengan cara apa hah?" tanya Sean marah.
"Siapa yang mati? Kau mati oppa? Tapi kau masih hidup" ucap Mauren terbangun dari rasa mengantuknya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 233 Episodes
Comments
Aysana Assyafa
yehe
2025-01-05
0
Aysana Assyafa
iyyy
2025-01-04
0
Aysana Assyafa
iay
2025-01-03
0