Mauren menghela nafas panjang karena pekerjaan hari ini sangat banyak, ia harus mondar mandir menyerahkan berkas ke setiap lantai. Setelah cukup senggang ia kembali ke ruangan pegawai lain yang ia kenal yaitu Lala dan Desy. Mauren membantu mereka mengetik berkas-berkas dan sesekali mengobrol kesana kemari.
Suasana yang cukup santai tiba-tiba menjadi tegang setelah kedatangan bos besar perusahaan Young Group dan asistennya.
Memang sesekali mereka turun dari ruangan mewahnya untuk melihat secara langsung para pegawainya melakukan pekerjaan.
Bahkan AC ruangan yang dari tadi dingin tiba-tiba menjadi panas.
Mauren menundukan kepala seolah tidak memperdulikan kedatangan mereka.
Apa oppa marah denganku karena aku mengambil semua uang yang ada di dompetnya?
Sean dan Kim mulai memasuki ruangan, nampak para pegawai tengah serius dengan pekerjaannya masing-masing.
Sean mengecek satu persatu pekerjaan dari pegawai itu, ia nampak berwibawa ketika menjadi seorang atasan.
"Kerja bagus," ucap Sean kepada salah satu pegawai sambil menepuk bahunya.
Asisten Kim juga mengecek pekerjaan para pegawai tak lupa ia menunjukan senyuman maut membuat siapapun terkesima melihatnya.
Sialan kau Kim! Malah tebar pesona kau**!
Lala dan Desy mulai ketakutan saat Sean mulai mendekatinya, mereka bahkan dulu pernah di hukum membersihkan toilet karena pernah melakukan kesalahan.
Bulu kuduk mulai merinding saat Sean mengecek pekerjaan mereka. Sedangkan Mauren duduk di pojok dan tidak memperdulikan kedatangannya.
"Kerja bagus"
"Terima kasih Pak Sean," ucap Lala dan Desy bersamaan, mereka kini bisa bernafas lega.
"Kau anak baru!" ucap Sean.
Nampaknya Mauren tidak mendengarkan, ia fokus mengetik.
"Hey budek! Sialan kau tidak mendengarkanku!"
Dengan cepat Lala menepuk punggung Mauren membuat gadis itu terkejut dan gelagapan.
"Iya Om, tante, budhe, kakek!" ucap Mauren dengan terkejut.
Mauren memandang Sean yang melototi dirinya, ia ketakutan jika Sean akan menagih uang yang diambilnya.
Terlihat pegawai lain di ruangan itu menahan tawa melihat ekspresi Mauren.
"Berdiri kau! Sapu ruanganku sekarang!"
Oppa mengerjaiku? Awas kau oppa!
___________________________________
Gadis berumur 25 tahun itu sedang bersolek di depan cermin, ia asyik menatap wajahnya yang sudah cantik bagai permaisuri. Hari ini ia sangat senang karena akan makan siang dengan presdir Young Group. Dia dengan sengaja memakai gaun yang nampak belahan dadanya supaya bisa menarik perhatian sang presdir.
"Alana. Kamu sudah siap?" tanya calon ibu mertuanya.
Alana menganggukan kepala dan tersenyum manis, ia sudah tidak sabar makan siang bersama calon suami. Dengan langkah anggun ia menggandeng Mama Sean dan segera menuju kantor pusat Young Group.
"Alana. Kamu sangat cantik sekali, janji ya jika sudah besar jangan lupakan aku?" tanya Sean.
"Aku tidak akan melupakanmu Sean"
Mereka bergandengan tangan sambil berlarian di padang rumput yang luas milik keluarga mereka. Sesekali senyuman terlontar di bibir Sean membuat Alana semakin jatuh hati dengannya.
Kupu-kupu nampak terbang kesana kemari seperti menggoda dua anak kecil yang masih polos itu. Sean segera mengajak berlari mengejar kupu-kupu itu bersama Alana.
Kepala mereka mendongak keatas sambil menahan sinar mentari yang menyilaukan tetapi tiba-tiba Alana jatuh tersandung membuat kakinya lecet dan ia pun menangis.
Sean terkejut segera menolongnya.
"Alana kamu baik-baik saja?"
Alana menangis ketika menyadari lututnya terluka dan mengeluarkan darah. Sean dengan sigap menggendong Alana, ia juga terlihat sangat khawatir.
"Ah! Iya Mama," ucap Alana terkejut ketika Mama Sean menepuk pundaknya dan membuyarkan lamunannya.
"Ayo cepat turun dari mobil Alana, kita sudah sampai"
Alana segera turun dari mobil, ia berjalan menggandeng Mama Sean masuk ke gedung Young Group. Nampak para petugas keamanan dan beberapa pegawai menunduk hormat kepada mereka, mereka sudah tahu jika Alana adalah calon istri dari presdir Young Group.
Disaat bersamaan di ruangan Sean nampak Mauren sedang menyapu padahal di ruangan itu sudah bersih sekali. Mauren menyapu sambil merengut karena sedari tadi tidak ada kotoran sedikitpun yang tersangkut di sapunya. Dia melirik Sean yang tengah terfokus pada laptop, pria itu sungguh tampan ketika sedang serius.
"Pak Sean sampai kapan aku harus menyapu?"
"Sejak kapan aku menikah dengan ibumu? Panggil aku tuan!" jawab Sean yang masih terfokus pada laptopnya.
Iya Tuan Sinting. Batin Mauren.
Mauren melanjutkan menyapu ruangan itu, tangannya sudah mulai sakit ketika memegang gagang sapu. Dia sedikit melirik ke arah Sean dan ingin mengumpat tetapi ia takut jika Sean akan memecatnya.
"Tuan Sean yang tampan..."
"Cukup! Kau tidak usah merayuku! Dompetku sudah kosong gara-gara kau ambil tadi"
"Hey! Siapa yang merayumu? Aku sudah menyapu 1 jam tetapi tidak ada yang ku sapu sedikitpun karena ruangan ini sudah bersih"
"Kau sapu itu mikroorganisme dan kuman-kuman di ruangan ini jika perlu sapu otak kau yang sinting itu! Berani berisik lagi ku suruh kau menyapu langit-langit gedung ini!" umpat Sean kesal dan menatap tajam ke arah Mauren.
Mauren terdiam dan melanjutkan menyapu dengan mulut yang terkunci. Dia terlihat jengkel telah di kerjai oleh suaminya sendiri.
Dia melirik Sean yang tengah menerima telepon dari seseorang wajahnya menjadi panik.
Tiba-tiba pintu terbuka, nampak perempuan bergaun seksi dan perempuan setengah baya memasuki ruangan Sean. Sean berdiri memeluk perempuan setengah baya itu yang ternyata sang Mama. Mama sangat rindu dengan Sean karena sudah 2 bulan ini sang anak tidak pulang ke rumah dan memilih tinggal sendirian di apartemen. Padahal faktanya Sean tinggal di sebuah rumah sederhana terletak di perumahan biasa.
Dia memilih tinggal disitu karena ia bisa berkumpul bersama teman-temannya, teman-teman lelaki yang sudah dianggapnya keluarga sendiri.
Setelah melepaskan pelukannya tiba-tiba Alana bergantian memeluknya tak lupa mengecup bibir Sean membuat Mauren merasa syok.
Siapa dia? Siapa perempuan itu beraninya mencium oppa ku?
Sean juga terkejut lalu segera melepas pelukan Alana dan mundur perlahan.
"Mati kau! Mati kau brengs*k! Sialan! Kau membuatku emosi! Pergilah ke neraka brengs*k!" umpat Mauren kesal sambil kakinya menghentak-hentak di lantai.
Dia terhenti ketika Sean, Mamanya dan Alana menatapnya dengan kebingungan. Dia menunduk memberi hormat meminta maaf.
"Maafkan saya. Mikroorganismenya menggigit kaki saya. Tuan Sean saya pamit dulu, saya tidak mau mengganggu waktu anda bersama keluarga anda," ucap Mauren sedih sambil berjalan keluar dari ruangan itu.
Sean menatapnya dengan iba, ia tau jika Mauren kesal dengannya karena di cium oleh perempuan lain. Lamunannya tersadar ketika Alana memeluknya lagi dengan erat, Sean melepas paksa dan menatapnya dengan tajam membuat Alana ketakutan.
"Jangan begitu Sean! Dia sangat merindukanmu," ucap Mama melihat sifat Sean yang dingin kepada Alana.
Cih! Merindukanku katanya? Bahkan hampir setiap hari dia kesini padahal aku selalu mengusirnya.
"Mau apa kalian kesini? Aku sangat sibuk hari ini"
"Kita akan makan siang bersama disini. Mama sudah menyuruh chef handal untuk memasakan makanan lezat untuk kita," jelas sang Mama membuat Sean terkejut.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 233 Episodes
Comments
inayah machmud
aku kasihan sama Mauren, , Sean kok malah diam aja bibirnya di cium sama alana di depan Mauren.
2023-12-01
0
HNF G
alamat perang dunia ke 3 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
2021-06-23
1
Ashan Achenk
mauren 😭😭😭😭😭
2021-06-07
0