"Kim. Turunkan aku di gang saja dan jangan lupa ambilkan bajuku di bagasi!" ucap Sean.
"Baik tuan"
Sean menghela nafas panjang, ia merasa lelah karena hari ini harus mengurusi pekerjaan di perusahaan yang sangat padat.
Apalagi dengan ia harus menyembunyikan status pernikahannya walaupun hanya asisten Kim yang tau.
Asisten Kim melirik kaca diatasnya yang terpantul wajah sang tuan nampak jelas sedang kelelahan. Dia tau jika beban seorang presdir sangatlah berat terlebih lagi dengan perjodohan yang semakin menambah pikiran.
"Bagaimana dengan gadis itu tuan?" tanya asisten Kim.
"Siapa? Mauren? Hah! Otaknya sedikit gesrek, aku menyesal menikahinya"
"Jika tuan mau saya akan mengurus perceraian anda secepat kilat"
"Jangan! Gadis itu penyelamatku dari perjodohan dengan Alana. Jika waktunya tiba aku akan menceraikannya juga. Lagi pula aku belum melakukan uhuk-uhuk dengannya"
Sean tercekat dengan ucapannya sendiri, ia dengan sengaja menggigit bibirnya dengan kuat. Mulutnya begitu serampangan mengucapkan hal itu di depan asistennya, harga dirinya seakan jatuh sedalam-dalamnya. Asisten Kim hanya tersenyum tipis baru pertama kali sang tuan berbicara terang-terangan seperti itu.
"Uhuk-uhuk," suara Sean seperti terbatuk-batuk tetapi di sengaja.
"Tuan. Jangan merasa sungkan berbicara seperti itu dengan saya"
"Hey! Kau cari mati? Mau ku pecat?"
"Maaf tuan"
Setelah sampai di depan gang, asisten Kim segera keluar mobil untuk mengambil baju ganti milik Sean setelah itu menyerahkannya kepada Sean yang masih menunggu di dalam mobil.
Dengan segera Sean mengganti pakaian jaz lengkap dengan pakaian rumahan yang harganya seratus ribuan di pasar. Setelah itu ia bergegas keluar mobil sementara asisten Kim sedikit membungkuk memberi penghormatan kepada tuannya.
"Jangan lupa besok jemput aku disini lagi, pastikan Mauren tidak melihat kita"
"Baik tuan"
Sean berjalan kearah rumahnya, ia memang sengaja membeli rumah di perkampungan biasa supaya ia bisa berkumpul bersama teman-temannya. Selama ini ia mengaku kepada orang tuamya tinggal di apartemen.
Setelah sampai dirumahnya, ia membuka pintu dan mendapati Mauren tengah mengorek hidungnya sambil menonton tv.
Pemandangan yang cukup membuat emosi tetapi ia tahan karena sudah sangat lelah untuk marah.
"Bisakah kau menghilangkan sifat jorokmu yang mengupil sembarangan?" tanya Sean sambil berjalan kearah kamar mandi.
"Eh... Sayang kau sudah pulang?"
"Terserah!"
Sean tidak ingin berdebat panjang dengan Mauren memutuskan untuk mandi, ia menyiram tubuhnya dengan air hangat yang turun dari shower.
Sementara itu Mauren menyiapkan makan malam untuk sang suami, hanya telur balado dan oseng kangkung menemani makan malamnya kali ini.
Beberapa menit kemudian Sean menghampirinya di meja makan, ia menatap makanan itu dengan tajam.
"Kau hanya memasak makanan ini?"
Mauren menganggukan kepala, "Kenapa? Bahkan kau tidak memberiku uang belanja"
Sean tersenyum kecut, ia lupa sedang berpura-pura miskin di depan Mauren.
Dengan secepat kilat Sean menyambar masakan istrinya itu, ia terlihat menikmatinya.
Mauren tersenyum puas melihat suaminya makan masakannya dengan lahap.
"Kau tidak makan?" tanya Sean melihat sedari tadi Mauren menatapnnya.
"Sudah"
Sean melanjutkan makannya setelah itu bergegas merebahkan diri di kamarnya sementara Mauren tengah mencuci piring yang digunakan suaminya tadi.
Setelah selesai dengan aktivitasnya ia segera menyusul sang suami di kamar.
Dia melakukan apa yang harus dilakukan sebagai seorang istri menurut buku yang dibacanya.
Mauren melihat Sean terbaring diatas ranjang sambil menutup mata, tampak terlihat wajah Sean yang begitu kelelahan.
Dengan cepat Mauren naik keatas ranjang dan mulai memijat kaki Sean.
Sean terkejut seketika membuka matanya.
"Biarkan aku memijatmu sepertinya kau sangat kelelahan"
Sean membiarkan tubuhnya di pijat oleh Mauren. Ini adalah pertama kalinya ia dipijat oleh seorang wanita, sebelumnya ia hanya dipijat oleh sesama lelaki profesional dalam urusan pijat memijat. Itu yang membuat dirinya di cap pria gay oleh keluarga dan teman-temannya.
Mauren memijat dengan lembut membuat Sean merasa keenakan, capek dan linu berada di kakinya seketika hilang.
Tangan Mauren perlahan demi perlahan naik keatas paha Sean, jari jemarinya menyentil harta karun yang tersimpan dibalik celana Sean.
Sean tersentak merasakan getaran dahsyat akibat sentilan maut itu. Tubuh Sean merinding seketika, ia melihat Mauren tengah menyeringai mengerikan.
Dia sedang menggodaku?
"Kau tau akibatnya jika membangunkan sang ular?" tanya Sean sambil memegang dagu Mauren.
"Hiiii aku takiyut (takut)" ucap Mauren mengejek sambil menjulurkan lidahnya.
"Kau!"
"Apa?" jawab Mauren menantang.
Sean begitu marah baru kali ini ada seorang gadis yang menantangnya terang-terangan.
Bibirnya berdecak dan langsung mengambil guling, ia meletakan guling itu ditengah ranjangnya. Dia menganggap guling itu sebagai batas pemisah tidurnya dengan Mauren.
"Jangan sampai kau melewati batas ini. Dan jangan pernah kau mencoba memancingku lagi, aku tidak akan membiarkan dirimu selamat jika sampai ularku terbangun lagi?" gertak Sean.
"Oh kau pelihara ular?" jawab Mauren dengan santai sambil mengorek hidungnya.
Sean memegang kepalanya. Oh Tuhan kenapa kau pertemukan perempuan konyol ini dengan Sean? Tak adakah perempuan lain yang lebih normal darinya?
Sean menghela nafas panjang, ia mengelus dadanya untuk bersabar. Dia lalu memutuskan membaringkan tubuhnya membelakangi Mauren, tidak lupa ia menarik selimut sampai ke lehernya.
Cih! Sombong sekali pria ini.
Awas kubuat kau merengek-rengek meminta enak-enak dariku setelah itu aku campakan dia selagi tegang-tegangnya.
Hihihihi.... Jahat sekali rencanaku sampai bulu ketiakku ikut tertawa.
Mauren lalu ikut merebahkan dirinya di ranjang, badannya menghadap Sean yang membelakanginya.
Tangannya mencoba meraih selimut Sean, ia menariknya pelan.
"Hey oppa jangan tidur dulu ini masih jam 8, aku masih ingin mengobrol denganmu"
"Oh!"
"Sejak kapan kau menjadi tukang parkir? Berapa gajimu sehari? Huh! Aku tidak bisa membayangkan pria tampan sepertimu menjadi tukang parkir. Terus.. terus.. terus... yak mundur! Mundur! Dikit lagi! Dikit lagi! Yak stop!" ucap Mauren sambil memperagakan jika Sean menjadi tukang parkir membuat dirinya tertawa terpingkal-pingkal.
Bukannya ikut tertawa tetapi Sean marah karena Mauren seperti mengejeknya.
Bagi Sean pekerjaan apapun itu baik asalkan menghasilkan uang halal.
Mauren yang tau bercandaannya kelewatan lalu meminta maaf kepada Sean, ia tidak ada niat menghina pekerjaan Sean.
"Tapi oppa apakah kau tidak ingin mencari pekerjaan lain? Kau tau membuat diriku terlihat cantik butuh biaya banyak? Skincare, bedak, lipstick, parfum dan lain-lain," ucap Mauren memelas lalu beringsut memeluk Sean dari belakang.
Tubuh Sean mulai merinding ketika mendapat pelukan dari Mauren, tangan Mauren mulai memegang perut Sean yang sispack.
Sean seketika membalikan badan menghadap Mauren, ia tersenyum menyeringai seperti ingin menyerang.
"Kau jangan khawatir aku akan membuat dirimu berteriak cantik di hadapanku malam ini," ucap Sean.
Mauren mengorek hidungnya lagi lalu berkata, "Mau upil?" membuat Sean berangsur mundur dan memilih tidur di sofa.
Gadis gila! Sampai kapan aku harus bersamanya?
Dia memang cantik tetapi otaknya sangat rumit dimengerti.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 233 Episodes
Comments
inayah machmud
🤣🤣😂😂😂😂😂
2023-12-01
0
Ida Sursanty
astaga
2023-03-15
0
Nurhaida Nurhaida
Waduh ini mah novel nya buat aku ketawa trus,,bulu ketiak ketawa kayak mana itu ya😂😂😂😂
2023-02-17
1