Sudah 10 menit Sean menatap sang Mama dan Alana di depannya, mereka nampak menikmati hidangan yang tersaji di meja.
Mama dan Alana adalah orang terpandang membuat cara makannya pun tanpa berbunyi sedikitpun. Sean melirik dada Alana yang menyembul bukannya senang tetapi ia merasa risih. Alana orang yang anggun dan sopan tetapi entah mengapa cinta membutakan semua itu, ia selalu berdandan seksi untuk memikat perhatian Sean.
Sean dengan cepat melepas jas hitamnya lalu
memberikan kepada Alana di seberangnya dengan cara di lempar.
"Pakailah! Aku tidak suka kau memakai pakaian seperti itu," ucap Sean.
Alana tersenyum kecut, ia langsung memakai jas milik Sean. Sang Mama hanya tersenyum mengira Sean sangat perhatian kepada Alana.
"Kamu tidak makan Sean?" tanya Mama.
"Aku tidak selera makan. Cepat habiskan makanan kalian! Lalu pulanglah!" jawab Sean ketus.
Mama terkejut mendengar ucapan Sean, entah mengapa Sean menjadi dingin kepadanya setelah ia memaksa Sean menikah dengan Alana. Sean melihat ekspresi wajah sang Mama yang murung segera meminta maaf, ia tahu kebahagian Mama adalah ketika Sean menikah dengan Alana tetapi Sean tidak bisa selalu menuruti setiap permintaan Mamanya apalagi masalah percintaan.
"Sean. Kamu adalah anak Mama satu-satunya tapi kamu selalu membuat Mama kecewa," ucap Mama menitikan air mata.
Alana memegang erat tangan calon ibu mertuanya, ia tahu kesedihannya selama ini setelah Sean memutuskan pergi meninggalkan rumah. Sean berdiri dari kursinya ia menghampiri sang Mama lalu memeluknya.
"Pulanglah ke rumah Sean! Mama sangat rindu membangunkanmu saat pagi, rindu menyiapkan seragam kerjamu, rindu sarapan pagi denganmu hiks hiks hiks"
Sean menepuk punggung Mamanya, setelah itu melepas pelukannya lalu mencium kening sang Mama.
"Nanti malam Sean akan pulang ke rumah tetapi Sean hanya bisa menginap semalam saja, Mama jangan menangis lagi. Sean sayang Mama"
Sean segera duduk di kursinya lagi, ia menatap Alana. Alana nampak malu di perhatikan oleh Sean lantas ia memalingkan muka.
"Kau bahkan tidak berani menatapku. Dan kau ingin menjadi istriku? Enyahlah kau!"
"Kamu tau sendiri kan Sean jika aku sangat malu ditatap oleh pria"
"Cih! Malu? Terus untuk apa kau memakai baju seksi seperti itu?"
Alana hanya terdiam, ia menangis meneteskan air mata. Mama Sean nampak menghentikan tangisan calon menantunya itu. Alana sangat sedih dengan ucapan Sean yang kini dingin kepadanya.
Baru segitu saja sudah menangis. Lihatlah! Mauren yang setiap hari ku maki dengan umpatan pedas ia tidak pernah menangis.
**
Hati terasa gundah ketika kita melihat pasangan kita berciuman dengan orang lain.
Itu lah yang di rasakan Mauren, rasa sakit menyeruak di hati gadis 19 tahun itu.
Dia menenggak minuman soda yang ia beli di kantin, ia memutuskan untuk tidak makan, ia sudah merasa kenyang melihat suaminya dicium oleh wanita lain.
Mauren kini berada digedung A lantai paling atas, ia melihat pemandangan kota metropolitan yang di penuhi gedung-gedung pencakar langit.
"Nona Mauren anda disini ternyata. Saya mencari anda kemana-mana," ucap asisten Kim membuat lamunan Mauren tersadar.
"Ini masih jam istirahat kenapa mencariku?"
Setelah berbincang dengan asisten Kim, Mauren meminta izin ke kamar mandi sebentar. Dia terkejut ketika melihat wanita yang mencium Sean juga sedang di kamar mandi. Mauren tidak memperdulikannya ia asyik menyisir rambutnya di kaca.
"Kau tidak menyerah juga ya sekertaris Yuna untuk menggoda Sean ku," ucap Alana melirik pakaian yang di kenakan sekertaris Yuna.
"Kau juga, jelas-jelas Sean menolakmu"
Sekertaris Yuna dan Alana memang sedari dulu berselisih, mereka berlomba-lomba untuk memamerkan keseksian mereka.
Mauren memperhatikan pertengkaran mereka di pantulan kaca, ia berdecak melihat tingkah mereka berdebat tentang penampilan.
"Lihat dadamu jelek sekali! Lihatlah punyaku sangat indah di pandang," ucap Alana kepada sekertaris Yuna.
Mauren mendengarkan dengan seksama lantas ia memandangi dadanya sendiri, dadanya sangat kecil daripada mereka.
Telinganya cukup panas ketika suaminya sendiri di perebutkan oleh gadis-gadis murahan itu.
"Hey kalian! Bertengkarlah di ring! Jangan disini! Aku mau menyisir rambutku saja sampai terganggu dengan celotehan kalian!" ucap Mauren kesal lalu berjalan meninggalkan mereka.
Suasana hati Mauren sangat buruk sampai ia ingin menjambak dan memukuli setiap orang yang lewat di depannya. Raut wajahnya berubah total saat marah bahkan ia tidak memperdulikan pegawai lain yang sedang menyapanya.
Dia segera menuju ke kantor Sean, entah apa lagi hukuman apa yang akan di berikan bos gila itu.
Dia membuka pintu kantor Sean setelah asisten Kim memperbolehnya masuk, matanya terbelalak ketika Sean sedang berdiri bersandar di meja termahalnya itu dan mulut Sean menggigit setangkai mawar merah.
Kali ini Sean tidak menggunakan jas, ia hanya memakai hem putih berlengan panjang dan tidak lupa dasi hitam menggantung indah di dada Sean.
Sean menatap Mauren yang tengah berdiri di depan pintu, ia langsung mendekati Mauren dengan langkah pelan sambil menjentikan jari dan mulai bernyanyi.
"Kau gadisku yang cantik. Coba lihat aku disini, disini ada aku yang cinta padamu hoo.. hoo...," ucap Sean menyanyikan lagu ST12.
Tetapi belum sempat melanjutkan liriknya tiba-tiba ia menginjak tali sepatunya sendiri yang tanpa sepengetahuan terlepas lantas ia terjatuh sebelum sampai mendekati Mauren.
Gubraaaaak
Mauren terkejut dan segera berlari mendekati Sean tetapi saat sudah berjarak satu langkah dari Sean, lelaki itu menyuruh berhenti untuk menolongnya.
"Stop! Tetap berdiri disitu!" ucap Sean.
Mauren yang sedang berdiri dan Sean yang posisinya masih sama yaitu terduduk di lantai segera memberikan bunga mawar itu kepada Mauren. Mauren menerimanya dengan senang hati, ia nampak malu-malu dan menutupi mulutnya yang tersenyum sendiri.
Saking groginya, Mauren langsung melahap kelopak bunga mawar itu yang masih nampak segar. Dia mengunyahnya dengan penuh gairah.
Cih! Keturunan kuntilanak rupanya. Batin Sean.
"Enak sekali oppa bunganya," ucap Mauren malu-malu.
Sean berdiri, ia langsung memeluk Mauren.
Dia seperti menyesali membuat Mauren cemburu dan kesal karenanya. Dia mencium kening Mauren dengan mesra, tangannya mulai meraba ke tubuh yang tinggi dan kurus itu. Tetapi Mauren seperti menolaknya dan melepaskan pelukan Sean.
"Oppa, aku ingin minum," ucap Mauren.
Sean tersenyum, ia menggesekan hidungnya ke hidung Mauren yang sama-sama mancung. Setelah itu ia mengambilkan minuman untuk Mauren.
Kini mereka duduk di sofa, Sean mengacak-acak rambut Mauren dengan gemas sesekali ia mencubit pipi Mauren.
"Perempuan itu siapa?"
"Mereka ibu dan juga temanku"
"Dia sangat cantik"
"Kamu lebih cantik sayang," ucap Sean sambil menyandarkan kepalanya di bahu Mauren.
"Oppa aku harus kembali bekerja," ucap Mauren langsung berdiri membuat Sean terkejut dan ingin terjatuh ketika kepalanya bersandar di bahu Mauren.
Sean memegang erat tangan Mauren yang sudah berdiri dari duduknya, mereka saling berpandangan, dengan sigap Sean menariknya membuat Mauren terjatuh di pelukan Sean.
Jantung Mauren berdegup kencang tetapi ia terkejut saat Sean berteriak.
"Aaaaaaarrgggghh"
Mauren terkejut, ia mengira Sean sedang berteriak keenakan padahal ia belum melakukan apapun kepada Sean.
"Aarrrghhh. Minggir kau! Kau mendengkul pahaku! Lancip sekali dengkulmu itu. Cepat minggir kau!"
Dengan cepat Mauren bangun dari tubuh Sean, ia bisa melihat ekspresi Sean yang mendadak berubah menjadi seorang bos yang menyeramkan.
"Pergi kau ambil lap! Lap semua benda yang ada di ruangan ini sampai pulang! Itu hukumanmu karena membuat pahaku sakit," ucap Sean sambil melototi wajah Mauren.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 233 Episodes
Comments
inayah machmud
punya laki kaya Sean bisa darah tinggi.
2023-12-01
0
Yunitri
pukul aja kepala Sean itu biar gak marah2 terus 🤭
2022-11-26
1
flowers city
🤣🤣😂🥰😂🥰🥰😂🥰😂🤣🤣😂🤣😂
2022-08-18
0