Ruangan asisten Kim terlihat memanas, 2 orang itu memang sedari dulu berseteru dan tidak saling menyukai, apalagi Devano yang sangat iri dengan asisten Kim.
Asisten Kim menghela nafas panjang, ia harus bersabar menghadapi Devano yang selalu memancing amarahnya.
"Pergilah Pak Devan! Saya harus menyelesaikan pekerjaan saya"
"Kau cuman seorang asisten tetapi lagakmu seperti seorang bos"
Asisten Kim menatap tajam Devano, ia berdiri dari kursinya lalu mendekati Devano seakan ingin membunuh. Devano mundur perlahan seperti orang pengecut, kesabaran asisten Kim sudah tak terelakkan lagi, ia ingin membunuh lelaki di depannya saat itu juga.
Tetapi tiba-tiba langkahnya terhenti setelah mendengar panggilan dari tuannya, saat itulah Devano mempunyai kesempatan kabur dari asisten.
10 menit yang lalu di ruangan Sean.
Sean ******* habis bibir Mauren yang menggoda itu, tangannya bergerak aktif keseluruh tubuh Mauren.
Setelah puas berciuman, Sean mendorong Mauren supaya berada posisi tidur, Sean menindihnya dengan cepat, ia menatap wajah Mauren dengan hangat tak lupa ia bertanya," Sudah siapkah melakukannya?"
Sean menciumi wajah Mauren dan perlahan turun ke leher, terdengar Mauren mulai mendesah menikmati ciuman mesra dari Sean. Setelah puas menggerayangi leher istrinya, ia segera berpindah menuju dada Mauren, ia sudah siap membuka kancing baju Mauren tetapi matanya melotot tajam saat melihat sebuah tanda pengenal di dada Mauren.
Dimana dia mendapat ID Card ini?
Dia sedari tadi memakai baju hitam putih layaknya seorang karyawan baru.
Jangan-jangan?
Sean bangun dari tubuh Mauren, istrinya sampai kebingungan melihat ekspresi wajah Sean yang terkejut. Mauren segera membenahi rambut dan bajunya yang nampak kusut.
"Kim! Kim!" teriak Sean memanggil asistennya.
Dengan cepat asisten Kim datang, ia sudah menduga sang tuan mengetahui jika istrinya bekerja di perusahaannya.
Sean berdiri sangat marah layaknya seorang bos, ia memandangi Mauren dengan tatapan sinis.
"Kau tidak bilang jika dia bekerja disini Kim"
"Maaf tuan. Saya pikir anda sudah tahu"
Sean melirik Kim dengan tatapan marah, ia sungguh kecewa karena asisten Kim tidak memberitahunya.
"Kau sudah membaca aturan di perusahaan ini Mauren? Kau tau jika di perusahaan ini sangat dilarang memiliki hubungan spesial sesama pegawai entah itu berpacaran, saudara kandung bahkan menikah?" tanya Sean menatap wajah Mauren.
Mauren kebingungan sampai tidak bisa berkata-kata dan untuk pertama kalinya ia melihat tatapan tajam ala seorang bos yang marah kepada pegawainya, Sean berdiri bersedekap sedangkan Mauren masih terduduk di sofa. Wajah Mauren berangsur ketakutan, mimik wajahnya menjadi sedih dan ingin menangis.
"Huaaaaaaaa hiks hiks hiks ku menangis...... membayangkan...... hiks hiks oppa jangan memarahiku! Aku tidak tau jika kamu bekerja disini, katamu kau hanya seorang tukang parkir hiks hiks hiks"
Sean menjadi iba, ia mendekati Mauren lalu duduk di sebelahnya. Asistennya sedari tadi berdiri berjarak 3 meter dari mereka, ia seperti menonton sebuah drama FTV.
Tangisan Mauren sangat kencang sampai membuat telinga merasa sakit, ia menangis seperti anak kecil yang tidak diberikan permen. Bukannya menenangkan Sean malah bertambah memarahinya.
"Simpan air matamu beg*! Kau yang salah disini! Aku bosnya dan aku selalu benar! Cepat kau angkat kaki dari sini! Dirumah saja kau nonton acara nangis menangis itu!"
Mauren menangis sesegukan, ia cukup kecewa jika harus di pecat hari ini. Padahal ia sangat ingin bekerja di perusahan ternama. Bapaknya berharap jika Mauren suatu saat bekerja di perusahaan itu, tetapi pupus sudah harapan Mauren gara-gara suaminya.
Tiba-tiba pintu terbuka, seorang kakek tua berpakaian rapi sambil membawa tongkat masuk ke ruangan Sean tanpa mengetuk.
Dia terkejut saat melihat seorang gadis cantik menangis sesegukan di ruangan cucunya.
"Tuan Askar?" ucap Asisten Kim sambil menunduk hormat.
Sean berdiri dari sofa, ia lalu mencium tangan sang kakek. Terlihat Mauren masih menangis sesegukan, ia tidak menghiraukan kedatangan kakek itu.
"Sean! Kim! Kemarilah!"
TOOOOK! TOOOOK!
Tongkat sang kakek tepat mengenai kepala sang bos dan asistennya itu, mereka meringis kesakitan sambil mengelus kepalanya yang mungkin benjol terkena tongkat kayu milik sang kakek.
"Adik manis. Apa yang mereka perbuat padamu hingga kau menangis sesegukan seperti itu?"
Dia Askar Wijaya? Mantan Direktur utama perusahaan Young Group. Berarti dia kakek Sean?
"Hiks hiks hiks...," tangis Mauren, ia tidak ingin menjawab pertanyaan dari kakek.
Sang kakek lalu mengajak Mauren untuk keluar dari ruangan Sean, ia menggandeng gadis itu yang matanya sudah sembab.
Kakek Askar di kenal sebagai pria yang baik terhadap para wanita, apalagi ia cantik dan imut seperti Mauren. Kakek Askar terkenal dengan mata keranjangnya, ia sering kali menginap dengan beberapa gadis cantik nan seksi. Mauren mengikuti sang kakek, Sean dan Kim memandang dengan ternganga saat mereka berjalan keluar ruangan. Lalu kepala Mauren menengok ke belakang, ia menjulurkan lidah kepada Sean dan Kim seolah mengejek, tak lupa ia memberikan jempol terbalik kepada mereka.
"Kim"
"Iya Tuan"
"Perang akan di mulai Kim, gadis itu sungguh licik Kim!"
"Yang anda takutkan bukan Nona Mauren tuan, tetapi kakek anda. Lihatlah! Tangannya mulai merangkul Mauren"
"Eh?"
_____________________________________
Suasana perkampungan yang sehabis hujan membuat perut terasa lapar dan ingin memakan makanan yang lezat.
Tatapan bapak Mauren kosong memandang dedaunan yang masih basah, ia memikirkan putrinya yang kini sudah menikah.
Sebagai seorang bapak ia cukup kecewa dengan Mauren yang memutuskan tiba-tiba menikah mendadak, apalagi suaminya hanya sebagai tukang parkir.
Ibu datang dengan membawa segelas kopi hitam dan sepiring singkong hangat, dengan cepat bapak melahapnya.
"Ayo pak besok kita ke Mauren, ibu kangen dengan Mauren"
"Kenapa kita yang harus mengunjungi dia? Bahkan dia tidak menghubungi kita sekalipun"
"Bapak yang salah telah mengusirnya, lagipula untuk apa kita harus marah kepada Mauren, semua itu pilihan Mauren"
Bapak berdecak tapi sejujurnya ia sangat merindukan Mauren, putri satu-satunya yang menjadi harapannya kini malah sudah menikah di usia yang terbilang sangat muda.
Dia tidak bisa menikmati masa mudanya dengan bebas, dia juga tidak memungkinkan untuk melanjutkan kuliah.
Ibu mencoba menelpon Mauren, tetapi tidak diangkat oleh Mauren membuat ibu menjadi sedikit kecewa.
Tiba-tiba Mauren mengirim pesan kepada ibunya, ia mengatakan jika sudah bekerja di perusahaan Young Group. Dia juga mengirim sebuah foto saat ia berada di depan gedung perusahaan ternama itu.
Nampak raut wajah Mauren terlihat senang.
"Bapak lihatlah! Mauren sudah bekerja di Young Group seperti keinginan bapak"
"Untuk apa aku harus senang? Toh dia bekerja untuk keluarganya sendiri"
Ibu memukul pundak suaminya, ia kesal dengan ucapan sang suami yang terkesan tidak mendukung putrinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 233 Episodes
Comments
Aysana Assyafa
bajsj
2025-01-02
0
Rubi s handayani
bpk nya Mauren sdh tau siapa Sean?!!
2021-11-05
1
Lia Liyut
kirain Reno barakkk
2021-06-28
1