"Bulan... Dimanakah pujaan hatiku? Aku telah menunggunya sekian lama tetapi aku belum berjumpa dengannya, wahai sang pelita hati semoga kamu mendengar puisiku ini," ucap Mauren sambil tangannya bergerak dan mondar-mandir seperti orang yang sedang membaca puisi.
"Meow"
"Ah! Kamu benar aku harus bisa cari pengganti Reza"
"Meow"
"Dimana mau cari suami cing?"
Kucing ini gila, masak aku harus cari suami supaya aku gak halu.
Mauren merobohkan dirinya diranjang kamar kostnya, ia menatap kamar langit-langit yang telah lapuk terkena air hujan. Yang ia pikirkan kini hanya bisa bekerja di perusahaan Young Group seperti cita-cita orang tuanya.
Dia menghela nafas panjang setelah 2 bulan kelulusannya dan telah mengirim surat lamaran tetapi belum mendapatkan panggilan dari pihak Young Group, seketika ia menguap dan terlelap dimalam yang hujan ini.
Ditempat lain.
Reza dan Mira sedang membuka amplop, ia menghitung berapa jumlah sumbangan yang diberikan para undangan tak lupa mereka membuka kado satu persatu.
Mereka terlihat sangat antusias membukanya, sampai mereka membuka salah satu amplop.
"Idih gila! Jaman sekarang ngasih goceng doang," ucap Reza sambil menempelkan uang itu dikeningnya.
Mira hanya tersenyum, ia juga cukup geli mendengarnya. Dia lalu teringat sebuah kado yang diberikan oleh mantan pacar Reza.
Mira lalu memintanya tetapi Reza seolah lupa dimana meletakannya. Mira mulai melototi Reza, membuat Reza ketakutan dan mengambil kotak cincin itu di kantongnya.
Mira segera memberi kode kepada Reza untuk membuka kotak cincin itu.
Obat kuat?
Reza terkejut setelah mengetahui didalam kotak cincin itu obat kuat, ia mulai tersenyum kearah Mira. Mira dengan cepat merebut kotak cincin itu, mulutnya menganga seketika melihat obat itu.
10 jam sebelumnya.
Setelah pulang dari acara kondangan, Mauren menyempatkan diri ke toko perhiasan.
Dia naik ojek dari tempat pernikahan itu, setelah sampai di toko perhiasan ia segera mengeluarkan sebuah cincin emas seberat 3 gram. Cincin itu pemberian dari Reza sebelum ia menikah. Mauren menjualnya supaya ia bisa melupakan kenangan dari Reza. Setelah bernego cukup alot akhirnya ia mendapatkan uang sebesar 1,8 juta.
Setelah itu ia segera pulang ke kost menggunakan taksi tak lupa ia memakai kacamata hitam supaya terlihat seperti orang kaya.
Hihihi... Buat beli skincare, buat beli masker rambut, buat beli lipstick.
Wuahahaha... Bisa makan enak hari ini.
Aduh.. Gatal banget tanganku jika pegang uang banyak.
Setiba ditempat ditempat kost ia segera turun dari taksi, ia menyerahkan selembar uang berwarna biru.
"Kembaliannya ambil saja mas"
"Uangnya aja pas neng"
Mauren segera berjalan kedalam tempat kosnya dengan riang sampai ia melihat ibu kos berada ditangga sedang tersenyum menyeringai.
Mauren segera berjalan menunduk seolah tidak melihat ibu kos.
Matilah aku! Uang skincareku.
Mauren menunduk melewati tangga, seketika ibu kos mengajaknya berbicara.
"Mauren?"
Mauren melihat ibu kos dengan tersenyum.
"Ini tanggal berapa?"
"Tanggal tua bu"
Ibu kos mengendus tas Mauren dan memberikan kode. Jantung Mauren mulai berdegup kencang seperti ditembak oleh cowok. Ibu kos terus memberikan kode tetapi seolah Mauren pura-pura tidak mengerti.
"Ya sudah ini hari terakhirmu disini Mauren, kamu juga bulan kemarin belum membayar uang kos"
Mauren tiba-tiba mengeluarkan uang dari dalam tasnya, ia menyerahkan uang sebesar 1,4 juta untuk membayar kosnya selama 2 bulan. Ibu kos dengan cepat mengambil uang itu.
"Semoga kamu betah disini ya Mauren," ucap ibu kos tersenyum puas dan menciumi bau khas uang tersebut.
Dengan berat langkah kaki Mauren segera melangkah menaiki tangga dengan bibirnya yang manyun. Harapan untuk makan enak kali ini gagal karena uangnya kini tinggal 400 ribu.
Skincareku, lipstickku, masker rambutku.
Hah! Malam ini mie instan lagi.
________________________________
Malam berikutnya Mauren diajak oleh Valto yaitu sepupunya untuk kumpul bersama teman-temannya, cukup malas Mauren ikut dengan Valto tetapi bagaimana lagi demi makanan enak, haha biasa anak kos suka makan gratisan.
"Tapi temen-temen kau ada ceweknya kan?"
"Pasti dong"
Mauren cukup lega lalu fokus melihat jalanan saat dibonceng oleh Valto, ia memegang erat tubuh Valto sambil kepalanya menyender pungggung sepupunya itu.
Ini anak pasti galau berat, biarlah kasian juga ditinggal nikah sama pacarnya.
Setengah jam kemudian mereka sampai dirumah teman Valto. Valto segera memarkirkan motornya dihalaman rumah temannya.
Terlihat mereka sudah berkumpul didepan teras itu, mereka sedang asyik membakar ikan dan sosis untuk acara malam tahun baru nanti. Valto menghampiri teman-temannya meninggalkan Mauren terduduk dilantai teras.
"Curang kau Val malah bawa pacar?"
"Eh bukan itu adik sepupuku"
Teman-teman Valto berjumlah 8 orang dan itu semua laki-laki. Sedari tadi Mauren menengok ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan cewek sepertinya tetapi nihil hanya ada lelaki saja disitu.
****** nih! 9 VS 1. Batin Mauren.
Valto menghampiri Mauren yang duduk sendirian, ia membawa sepiring mie goreng buatan temannya itu. Valto segera duduk didepan Mauren menggunakan kursi kecil lantas ia menyuapi Mauren.
"Kau bohongi aku Val, mana perempuannya? Disini laki-laki semua"
"Tenang aja kan ada aku," ucap Valto sambil menyuapi mie goreng ke mulut Mauren.
"Iihh... Ada ****nya Val"
"Itu bawang goreng ****!"
Teman-teman Valto melirik mereka yang tengah bertengkar kecil dan beradu mulut. Tak terkecuali teman Valto yang bernama Sean, ia sedari tadi melirik Mauren padahal selama ini Sean adalah tipe yang cuek dengan wanita, dia juga terkenal dingin dan jutek. Tapi entah kenapa ia terpesona dengan Mauren si cewek berambut panjang, berponi depan dan memiliki gigi kelinci yang membuat orang selalu terpana dengan senyumannya.
"****nya nyangkut di gigi Val, itulah sebabnya aku gak pernah makan mie pake ****" ucap Mauren sambil berkaca pada layar handphonenya.
"Itu bawang goreng Mauren," jawab Valto gemas sambil mencubit pipi Mauren.
Setelah makan mie goreng, Valto segera mengembalikan piring itu ke dapur seolah ia bebas keluar masuk rumah itu.
Rumah itu adalah milik Sean, mereka menjadikan rumah Sean tempat nongkrong atau lebih jelasnya perkumpulan para jomblo tampan atau disingkat Perjompan.
Mauren melanjutkan pikirannya yang meracau entah kemana. Antara pekerjaan atau ditinggal menikah sang kekasih dia bingung uang sudah menipis tetapi ia belum mendapat pekerjaan. Dia tidak mau pulang ke kota asalnya karena ia sudah betah tinggal dikota ini.
Huh! Kalau aku tidak segera mendapat pekerjaan pasti emak dan bapak nyuruh aku pulang.
Hmmm... Pasti Reza dan istrinya sedang asik suap-suapan dan sekarang pun lagi
enak-enak.
Apalah dayaku yang hanya disuapi oleh Valto, pakai mie goreng pula. Menu tak beda jauh di kos-an ku.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 233 Episodes
Comments
Mayyuzira
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
2024-12-26
0
inayah machmud
ngenes banget hidup mu Mauren.
2023-12-01
0
flowers city
🤣🤣🤣🤣🤣
2022-08-18
0