{¹⁸} Kembali Terlambat

..."Jangan sementang lo siswa, lo bisa seenaknya melanggar peraturan."...

...•...

...•...

...•...

...•...

06 : 30

Gadis berambut ikat kuda dengan seragam sekolahnya sedang berlarian menuju sekolah. Dalam langkahnya Nasya menghela napas kasar sudah bisa di pastikan dia akan kembali terlambat.

Jika saja Nasya memiliki uang maka sedari tadi dia sudah menyetop taksi atau bahkan memesan gojek. Tapi semua hanyalah angannya, Aren bahkan tidak memberi Nasya seperak uang pun, setelah tau gadis itu memutuskan pertunangannya.

"Tega bener Tasya, ninggalin gue," gerutu Nasya dengan kaki yang berlarian. 

Sekarang di waktu yang amat sangat mepet ini Nasya harus bisa mengejar waktu agar tidak kembali di hukum. Akan sangat melelahkan jika sepasang kakinya harus berlarian di tengah lapangan atau bahkan menjemur wajahnya di hari yang terik ini.

Semoga saja tidak terlambat. Batinnya

Nasya harap dia bisa datang tanpa ada kata terlambat dari bibir Alanza. Mengingat jika gadis itu masih dendam pada pria itu.

Suara deru motor sport terdengar begitu memekakkan gendang telinga Nasya. Gadis itu mengatup kedua daun telinganya. Kakinya tidak lagi berlarian, dia melirik kebelakang di mana motor sport itu berada.

Motor besar berwarna putih dan sedikit corak biru tua itu melambat dan berhenti tepat di sampingnya. Nasya menarik dahinya ke atas. Nasya semakin di buat kaget saat pemilik motor itu membuka helm full face nya. Rambutnya dia gelengkan ke kanan dan ke kiri dengan tangannya menyugarkan rambutnya.

"Revan? Ngapain Lo di sini?" Nasya jelas saja kaget setahu nya rumah Revan tidak searah dengannya.

"Naik!" Perintah Revan dengan nada cool-nya.

"Terus kembaran lo? Gue nggak mau di sebut perebut lagi, 'ya." Dengan tangan menyilang di dada Nasya melanjutkan langkahnya.

Sudah cukup pergelutan kemarin menjadi warning bagi Nasya. Dia tidak mau membuat masalah dengan siapa pun, Nasya hanya ingin hidup tenang dan damai tanpa adanya permusuhan.

Revan mendorong motornya agar dekat dengan Nasya. "Na, lo mau di hukum di bawah tiang bendera dari pada pergi bareng gue?"

"Itu lebih baik dari pada gue harus di fitnah!" Sarkas Nasya berlari kencang agar Revan lelah dan memilih pergi sendiri.

Revan menggalang motor besarnya dan berlari mengejar Nasya yang tak jauh. Badannya memblokir akses Nasya untuk kabur.

Nasya menyerong ke kiri Revan mengikutinya, gadis itu ke kanan Revan pun juga ikut ke kanan. Akhirnya Nasya berhenti dan memandang Revan dengan wajah datar.

"Pergi Revan, gue nggak mau, 'ya di Jambak dan di fitnah lagi," ucap Nasya dengan nada tegas.

"Hidup itu pilihan Na, lo lebih milih di hukum dari pada pergi bareng gue?"

"Kalo pilihan gue pada akhirnya di fitnah lebih baik gue di hukum," tutur Nasya mantap. Tekad Nasya sudah bulat, dia tidak akan dekat-dekat lagi dengan Revan apapun alasannya.

"Minggir!" ucap Nasya sedingin balok es.

Rahang Revan mengeras. Jika cara lembut tidak di hargai maka Revan akan menggunakan cara kasar.

Seringai miring tercetak di bibirnya. "Oke, kalo cara halus nggak lo hargai, berarti lo pengen di kasari."

Manik biru itu membola saat telinganya mendengar kalimat Revan.

"Lo jangan macem-macem, 'ya!" ucap Nasya mulai was-was.

Daun telinga Revan menuli, tanpa komando Revan  mengangkat tubuh Nasya ala bridal style. Membawanya ke atas motor besar milikinya.

"LEPAS, REVAN!!" Nasya berteriak kencang seraya memukuli dada bidang Revan.

Ucapan Nasya malah di hadiahi tatapan dingin. "diem!"

Revan mendudukkan Nasya di jok motornya yang tinggi. Hasilnya rok pendek Nasya tersingkap dan memperlihatkan paha putih mulusnya.

Tatapan setajam komenan netizen di arahkan pada Revan. "Rok gue pendek, Revan!!"

Revan melempar jaket baseball hitam yang di pakainya pada Nasya. "Diem atau gue di cium sampe bengkak?" Nada serius Revan sukses mengatup bibir Nasya. 

Gadis itu segera menutupi pahanya yang terekspos dengan mulut yang berdecak sebal. Bisa-bisanya Revan jadi se serius ini dalam waktu singkat.

"Pegangan!" Peringat Revan setelah memakai hel full face-nya.

Baiklah, Nasya akan menurut dari pada harus di cium Revan. Gadis itu meletakkan kedua tangannya di atas bahu Revan. 

"Lo pikir gue tukang ojek!?"

Nasya tersentak. Dia memindahkan tangannya memegangi jok belakang.

Melihat Nasya yang malah memegangi jok belakang Revan menghela napas frustasi. Ini Nasya yang tidak peka atau memang goblok sih? Batinnya.

Karena ingin lama berdebat lagi Revan menarik kedua tangan Nasya dari jok dan melingkarkan tangan itu di perutnya.

Nasya yang ingin melontarkan kalimat tidak terima langsung bungkam saat Revan menjalankan motornya dengan kecepatan di atas rata-rata. Spontan tangan Nasya memeluk erat perut Revan. tubuh mereka bersentuhan tanpa penghalang di antaranya. Tangan Nasya seperti memegangi balok kotak-kotak yang beraturan. sadar posisinya Nasya melotot kaget.

"Revaaaan!" Teriak Nasya memukul kuat helm full face pria itu.

Sedangkan pria itu tersenyum penuh kemenangan di balik helm nya. Ada perasaan senang karena telah berhasil menjahili Nasya. Matanya melirik ke arah pinggang yang kini di peluk erat oleh Nasya. Gadis itu sedikit meraba perutnya.

"Lo pantes bahagia, Na."

********************

"Kalian telat 56 detik!" Suara bariton penuh penekanan itu menghentikan langkah kedua remaja berbeda gender. Padahal kaki mereka baru saja terayun dua langkah, tapi sudah di jegat oleh si ketos.

Nasya menggerling matanya malas. "Lo punya dendam apa sih, sama gue?!"

"Segera hormat di tiang bendera!" tekan Alanza seakan tidak mempedulikan protes Nasya.

"Dari kejadian kemarin, bahkan sampe hari ini lo masih dengan seenaknya ngatur seseorang sesuai keinginan lo!!" Seru Nasya.

Gadis itu merasa jika Alanza memiliki dendam pribadi padanya. Pasalnya dari kemarin Alanza terus memberikan aura negatif pada Nasya.

'dendam? Yang benar aja gue cemburu sama lo!!' batin Alanza. Manik abunya memandang tajam pada cowok di belakang Nasya.

"Gue nggak pernah ada dendam sama cewek modelan kayak, lo," ucapnya dingin. rasa cemburu semakin memburu ketika melihat Revan menggenggam erat jemari lentik Nasya.

rahangnya mengetat. ingin rasanya menghancurkan Revan detik itu juga.

"Sebenarnya lo ke pilih jadi osis itu di lihat dari apanya, sih?!" emosi Nasya meledak-ledak saat ini. Beradu mulut dengan Alanza membuat api amarahnya membara.

Diam-diam Revan menyeringai lebar. Akhirnya Nasya berada di pihaknya. Kartu as berada di tangan Revan. dan Alanza, pria itu sebentar akan tersingkirkan.

'emang enak tersingkirkan?' ucap Revan dalam hati.

"Lo pikir gue ke pilih modal tampang doang?!" Alanza masih dengan raut datar menahan marah. tidak, dia tidak marah pada Nasya melainkan pada Revan yang tersenyum remeh ke arahnya.

'sialan!!' umpatnya dalam hati.

"Iya!! Lo menang voting karna mereka mau osisnya ganteng, tanpa tau kalo ternyata osisnya STRESS!!" Nasya sengaja menekan kata terakhirnya.

Alanza berjalan mendekati gadis itu. Alhasil jarak mereka hanya satu jengkal saja. "Stres-an mana gue sama elo, hmm? Gue yang ngehukum cewek terlambat atau si cewek terlambat yang nggak terima di hukum?"

Nasya menelan salivanya kasar, Menyadari jika jarak mereka begitu dekat. apa lagi mendapati tatapan dingin Alanza yang begitu menyeruak masuk ke matanya.

"Jangan se mentang lo osis, lo bisa seenaknya buat peraturan sendiri." 

Alanza menaikkan satu alisnya. Mata elang itu menatap Nasya penuh peringatan. "Jangan sementang lo siswa, lo bisa seenaknya melanggar peraturan."

"Lo nggak bisa ngehukum kita, karna ini belum jam masuk." Revan ikut bersuara. Pria itu juga tidak mau di hukum.

Alanza mengalihkan perhatiannya ke arah Revan. Diam-diam telapak tangannya mengepal erat bersiap ingin menonjok wajah pria itu, tapi lagi-lagi dia tahan.

"Siapa, bilang ini belum jam masuk?" Alanza memperhatikan arlojinya. "Sekarang jam tujuh lewat lima dan kita masuk jam tujuh pas, masih mau bilang kalo ini belum jam masuk?"

"Itu kar......"

"Hormat tiang bendera atau sikat wc!?" tekan Alanza dengan nada geram.

"Nggak! Gue nggak mau," seru Nasya tak terima.

Baiklah, Alanza kali ini sudah cukup sabar dengan tingkah kekanak-kanakan Nasya. Jika terus berdebat maka Alanza akan kehilangan kendali atas dirinya. bisa-bisa Nasya yang menjadi sasaran amukannya.

menghela napas panjang Alanza kemudian berucap.

"Oke, kalo kalian nggak mau hormat tiang bendera atau sikat WC, maka gue akan mengambil jalan pintas dengan Memanggil orang tua kalian." Tandas Alanza jengah bernegosiasi.

Huh! Tidak ada pilihan lain.

"Osis sialan!!" umpat Nasya menarik tangan Revan untuk segera pergi dari sana. rasa keki di ulu hatinya menjalar sampai ingin mencabik-cabik wajah menjengkelkan Alanza.

Sedangkan Revan berseringai penuh kemenangan ke arah Alanza. "Kartu as ada di tangan gue," ucapnya tanpa suara.

"bastard!"

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!