{¹⁴} Disappointed

..."Tutor punya muka dua dong, saya punya muka satu aja susah ngerawatnya."...

...•...

...•...

...•...

...•...

Sepasang kaki berbalut sepatu hitam berlogo centang itu menghentakkan kakinya kasar ke lantai marmer lorong sekolah. Rambutnya terlihat acak-acakan seperti singa baru bangun tidur dan bajunya yang jauh dari kata rapih. Sorot matanya memancarkan kilatan amarah yang begitu mendalam.

Para siswa maupun siswi yang baru saja melewatinya langsung berbisik-bisik ria tentangnya.

"Eh liat deh, itu cewek yang berantem sama Ayu, 'kan?"

"Iya, gue deng....."

"Apa mata lo!?!!" sentaknya mengagetkan dua siswi yang berbisik. "Lama-lama gue jejelin sampah juga mulut busuk lo!"

Mendapati Nasya yang mengambil tong sampah, Kedua siswi tersebut langsung berlarian pergi. Tidak ingin Nasya menjejali mulutnya dengan sampah.

Nasya meletakkan kembali tong sampah itu, segera ia  menarik kakinya untuk segera pergi. Amarah sedang meletup-letup di dadanya, rasanya bibirnya gatal jika tidak memarahi orang yang menjadi alasannya begini.

Brak!

Pintu kelas terbuka kasar dari luar. Terlihat di ambang pintu gadis dengan pakaian lusuh dan rambutnya yang berantakan memandangi tajam ke seisi kelas. Sorot mata biru itu menelisik setiap murid yang ada di sana.

"Mana, Revan!?!" Serunya nyaring. Untung saja kelasnya sedang jamkos, jika tidak dapat di pastikan Nasya akan di geret paksa ke ruang BK karna telah membuat keributan.

Pria yang namanya di sebut pun terbangun dari tidurnya. dia mengangkat wajahnya dari lipatan tangannya. Masih dengan setengah nyawanya dia menggeliat di ambang pintu. di sana ada seorang gadis dalam keadaan yang berantakan. Gadis itu dengan langkah lebar berjalan menghampirinya. Revan mengucek matanya memastikan siapa gadis itu.

Brak!

"Heh! Lo kalo udah punya pacar nggak usah belagu deketin cewek lain!!" Nasya menggebrak meja Revan kasar. Bola matanya di penuhi dengan kemurkaan.

"Lo kenapa, sih!?" Revan masih belum mengerti kenapa gadis ini marah-marah tidak jelas di mejanya dan lagi dia mengatakan jika dirinya sudah punya pacar.

Sejak kapan gue punya pacar. Pikirnya.

"Ehh! Denger, 'ya gara-gara elo-- gue di Jambak sama cewek lo itu!"

Semua murid baik di dalam maupun di luar kelas mengerumuni kelas Nasya karna keributan yang di buatnya.

Revan berdiri dari duduknya dia memandangi rambut berantakan Nasya. "Gue nggak pernah jalin hubungan sama siapa pun."

"Jadi kenapa Ayu, jambak gue dan nyuruh buat jauhi elo!?!" Nasya mendongak ke atas karna tinggi Revan dan dirinya jelas sangat jauh.

Revan yang mendengar nama Ayu langsung segera mengerti jalan masalahnya. Tidak ingin mengungkapkan sesuatu yang sudah di rahasiakan, Revan beralih untuk mengerjai Nasya.

"Lo cemburu?" tanyanya dengan nada menyebalkan dan seringai manis di wajahnya.

Nasya yang mendengarnya pun melotot kaget. Sejak kapan juga Nasya cemburu sama cowok modelan Revan? Ini gila!. Pikirnya.

"Cieeee Nasya, suka sama, Revan."

"Kiw..... Kiw.... Cukurukuk........ Empok jeru."

"Cieee..... Nasya, cinlok."

"Kalo suka ngaku aja nggak usah bentak-bentak kali,  Na."

"Cieee.... Ciee...."

Sialnya hampir seluruh teman sekelasnya malah mengejeknya. Mengatakan hal yang jelas tidak pernah Nasya rasakan. Jangankan untuk cinta memikirkan konsekuensi dari cinta saja Nasya muak.

Gadis itu menutup matanya. Mencoba menahan kesal yang begitu membara di dada. "Heh! Lo pikir orang modelan kayak lo tipe gue!?"

"Oh, 'ya? Terus lo kenapa marah-marah ke gue dan curhat kalo Ayu, suruh jauhi elo? Itu artinya lo nggak terima, Na." Demi apa pun kekesalan Nasya bertambah dua kali lipat dari tadi. Sorakan riuh memojokkan Nasya untuk mengakui cintainya.

Ini gila dan sangat gila! Bukan ini yang Nasya inginkan.

Nasya meruncing matanya memandang manik hazel pria itu. "Gue nggak pernah suka sama elo! Gue cuma nggak terima....."

"Tenang aja Na, lo tetep di hati gue meskipun banyak cewek cantik di luaran sana," potong Lingga cepat.

Oh, shit! Ini sebuah kesialan yang paling sial.

Sorakan para murid kembali terdengar. Mengatakan jika Nasya cemburu buta pada Lingga dan menganggap Ayu adalah saingan. Itu sungguh buruk!  

Niatnya kesini adalah memarahi Revan habis-habisan dan memukulnya sebagai balasan yang setimpal,  bukan untuk mendapat sorakan menggoda dari para teman-temannya. Ini di luar rencana.

Kesal dengan suara sorakan dan seringai menyebalkan Revan, Nasya menendang kuat tulang kering pria itu. Meninggalkan kelas dengan wajah memerah padam. Bukan, bukan karna dia blusing, tapi karna amarah di dadanya yang terendam. Bisa-bisanya Revan mengejeknya di saat dia di Landa api amarah.

"Na! Lo mau kemana? Jangan cemburu gue nggak ada hubungan apa-apa sama, Ayu," teriak Lingga.

"Asekkk!"

"Kiw...kiw... Nasya di sukai kapten basket."

"Kyaaa Nasya, hebat banget bisa naklukin, Revan.

Semua teriakan itu begitu menjengkelkan masuk di indra pendengaran Nasya.

"Akh! Sialan!"

*********

Jangan pikir setelah Nasya tidak di geret paksa ke ruang BK bukan berarti dia terbebaskan. Itu salah besar. Namanya bahkan di panggil menggunakan mikrofon hingga seluruh murid mendengarnya. Hal yang lebih memalukan dari yang paling malu.

"Kayak anak kecil!" Sarkasme Alanza memandangi kedua gadis di depannya mereka bahkan jauh dari kata rapih.

Baju lusuh dengan rambut berantakan dan wajah kusam seperti pemulung. Alanza benci melihat keadaan mereka. Dia paling tidak menyukai hal jorok yang sangat jauh dari mata indah.

Tugas Alanza di tambah sebab dia harus menengahi kedua siswi yang baru bertengkar. Hal itu terjadi karena buk Indri selaku guru BK tidak datang di akibatkan dia sakit, jadilah dirinya yang menggantikan tugasnya selaku ketua osis. Padahal dia masih enak-enak makan tapi langsung di paksa untuk mengadili mereka.

"Heh! Lo pikir kejadian lo kemarin nggak kalah kekanak-kanakan!?!" Nasya berkacak pinggang dengan mata menilik tajam.

Alanza berdecak. Kenapa pula harus diingatkan. Batinnya.

"Al, bukan aku yang mulai. Dia duluan yang datang terus langsung main jambak aku tanpa tau apa alasannya." Ayu menunduk kepalanya memandangi  sepasang kakinya.

Nasya berdecih sinis. "Tutor punya muka dua dong, saya punya muka satu aja susah ngerawatnya." Sarkas Nasya sukses membuat Ayu melotot ke arahnya.

"Kamu apa-apaan sih?" Nada bicara Ayu sangat selembut tai lembu.

Rasanya Nasya ingin mengeluarkan isi perutnya. Perasaan jijik menjalar ke perut Nasya saat mendengar Ayu bicara menggunakan aku-kamu. Fakta bahwa Ayu merupakan Queen bullying di sekolah berhasil di patahkan karna nada bicaranya yang sok imut.

"Kimi ipi-ipiin sih?!" Beonya mengejek. Air muka tak senang begitu kentara di wajah Nasya. "Ternyata selain muka dua lo juga pick me, ya."

"Nasya!" Alanza berseru dengan nada dingin. "masalah kalian itu sebenarnya apa, sih?!" Alanza lama-lama tersulut emosi juga.

"Kalo lo tanya cewek pick me ini, maka jalan ceritanya lain." Ini saatnya bagi Nasya untuk mengejek Ayu habis-habisan. Karna gadis itu lagi di mode pick me yang pasti ingin di lihat imut di mata Alanza. Padahal jelas-jelas Alanza bersikap bodo amatan. Biasalah cewek modelan Ayu sudah sangat pasaran di lakukan.

"Aku nggak pick me!" Ayu sedikit membentak tapi tidak menghilangkan nada pick me-nya.

"Ouh, iya lo bukan pick me, tapi PHO." Nasya sengaja menekan kata 'pho' karna dia memang kepalang kesal.

"Al! Dia fitnah aku ngerusak hubungan orang, padahal aku nggak pernah kayak gitu." Bulir bening lolos dari mata Ayu. "Punya pacar aja aku nggak punya."

"What's!? Are you seriusly?!" Nasya jelas saja terpelongo kaget. Ayu menjelaskan sesuatu yang tidak benar dan dia juga menangis.

Nasya benci situasi ini. Dia benci aaat dirinya di jadikan kambing hitam atas kesalahan yang jelas tidak pernah dia lakukan. Dia paling benci dengan orang-orang yang suka berbohong apa lagi bermuka dua.

"Kamu harus hukum dia Al, dia fitnah aku." Alanza memberi Ayu sapu tangannya. Dapat Nasya lihat jika gadis itu tersenyum miring di dalam menunduknya.

"Heh!! Itu fakta! Kalo elo nggak mau di sebut PHO, ya jangan ngerebut......" Nasya tersadar hampir saja dia akan menguak pertunangannya. "Pacar orang!!"

Alanza mengangkat tangannya menghentikan Ayu yang hendak berucap. "Nasya, lo bisa masuk penjara atas tuduhan tanpa bukti."

Benar. Nasya tidak memiliki bukti apa pun. Gadis itu pun merenggut sebal dengan tangan terlipat di dadanya. Semua orang yang seakan berpihak pada Ayu. Menyebalkan! Batin Nasya.

"Gue tanya sama lo kenapa bisa sampe berantem?" Alanza mengedarkan pandangannya ke Ayu. Bibir Nasya tidak bisa biasa saja, dia merenggut sebal. Sudah bisa di pastikan jika Ayu akan memfitnahnya.

"Tadi waktu aku mau ke kamar mandi, aku nggak sengaja papasan sama Nasya. Aku sapa dia baik-baik eh nggak tau nya dia langsung Jambak rambut ku." Isak tangis Ayu terdengar. Seolah dialah korban dan Nasya lah pelakunya.

"Heh! Ayu, lo pikir gue mau jambak-jambakan sama elo?!" Nasya tersulut emosi dia paling benci di sudutkan.

Apa lagi melihat reaksi Alanza yang terlihat mempercayai ucapan Ayu. Itu tentunya membuat relung Nasya sedikit terluka.

"Nasya, lo beneran jambak, Ayu?!" Sorot abu itu memberinya tatapan elang yang amat menakutkan. Nasya terdiam dia tidak percaya jika Alanza akan mempercayai Ayu.

"Lo....... percaya sama dia?" Manik biru itu memberi tatapan tak percaya. Matanya memburam sektika. "Lo nggak mau denger cerita dari sisi gue?"

"Nggak perlu. Gue tau lo itu orangnya suka marah-marah nggak jelas." Bak elang yang siap menerkam mangsanya tatapan Alanza begitu tajam.

"Sekarang, sebagai hukumannya lo sikat semua WC di sekolah." Titah Alanza mutlak tak bisa dielak.

Nasya dapat melihat jika gadis di sampingnya tersenyum penuh kemenangan ke arahnya. Nasya masih menatap Alanza dengan tatapan tak percaya.

Seringai getir terbit di bibirnya. " Ouh, jadi gini cara lo nyikapi masalah? Jadi gini cara lo nyelesain masalah? Gue pikir lo itu bijaksana, tapi nyatanya lo orang dungu yang bahkan sangat berbanding terbalik sama wajah dingin lo." Cairan asin berasal dari manik biru itu seakan menerobos keluar dari pelupuk matanya.

Nasya mengulum bibirnya yang akan mengeluarkan Isak tangis. Kenapa semua orang hanya berpihak pada Ayu? Apa Nasya harus cantik dulu baru kesalahannya tidak terlihat? Apa seseorang harus cantik baru bisa di dengar? Se nggak adil itu ternyata dunia.

"Kerjakan hukumannya atau gue tam...."

Brak!!

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!