{⁴} Accusation

..."apa perlu gue panggilin bidannya biar Lo percaya? Atau perlu gue nikahin elo biar Lo nggak sedih lagi?"...

...•...

...•...

...•...

...•...

Nasya mengerjap matanya perlahan. Untuk sesaat dia melupakan kejadian tadi sore. Matanya seketika membola ketika dia menyadari ini bukanlah di rumahnya, Melainkan di tempat lain dengan kamar se mewah ini. Nasya meringis ketika kepalanya berdenyut nyeri. Dia ingat jika setelah pingsan kedua preman itu membawanya ke gubug reot yang ada di hutan. Tapi sekarang kenapa dia ada di kamar se mewah ini.

'apa ini hotel? Apa mereka membawa gue hotel?' batin Nasya bertanya-tanya.

Tangan Nasya kesulitan bergerak dia merasa ada sebuah benda yang menahannya segera dia mengalihkan pandangannya ke bawah dan mendapati seorang cowok tengah terbaring seraya memegangi tangannya.

Dari siluet itu Nasya sudah tahu siapa pria ini. Tapi otaknya seakan menolak kenyataan. Nggak mungkinlah itu dia, lagian ngapain juga dia nolong gue. Batinnya.

Karena Nasya kebanyakan bergerak Alhasil pria yang tertidur di bawah sana menengadahkan kepalanya ke atas.

Sontak saja Manik biru laut Nasya bertemu dengan netra abu setajam elang milik Alanza. Tapi, tunggu dulu kenapa tatapannya begitu teduh? Berbanding terbalik saat tadi pagi.

"Minum obat mu," perintah Alanza menunjuk obat di atas nakas. Setelahnya dia pergi ke kamar mandi meninggalkan Nasya di kamar.

Nasya masih terdiam mencerna apa yang baru saja dia alami. Tangannya bahkan masih setia berada di genggaman Alanza. Menyadari hal itu Alanza segera melepas genggamannya dan beralih memasuki kamar mandi.

"Gue keluar tuh obat harus udah di minum," perintahnya sebelum memasuki kamar mandi.

"Apa? Itu Alanza? Itu beneran dia? Gue nggak lagi mimpi kan." Nasya menepuk berkali-kali pipinya mencubiti tangannya berharap ini hanyalah mimpi. Faktanya ini bukanlah mimpi.

"Aws,... Sakit." Gadis itu mengusap belas cubitannya yang membekas.

Mingren tiba-tiba kembali menyerangnya kepalanya berdenyut-denyut. Nasya mengalihkan pandangannya ke arah nakas di mana di sana ada beberapa obat. Tanpa ada sedikit rasa curiga gadis itu meminumnya semua.

Selepas nya dia membaringkan tubuhnya di kasur yang dia yakini milik Alanza. Nasya merasa bajunya tidak lagi basah dia merasakan kehangatan di bajunya.

Tunggu dulu. Tidak basah? Manik biru itu langsung mengalihkan pandangannya ke bawah. Di sana bajunya sudah terganti dengan baju entah siapa. Nasya meneguk kasar Saliva nya.

Tak lama Alanza keluar dengan rambut basahnya yang berusaha dia keringkan dengan handuk. Benaknya di penuhi dengan pikiran negatif. Nasya bahkan memperhatikan pria itu berjalan mendekatinya.

"Lo..... Yang gantiin baju gue?" Tanya Nasya saat pria itu mendekat. Badannya mundur kebelakang memegangi selimut.

"Kenapa? Lo takut kalo gue macem-macem sama Lo?" Bukannya di beri jawaban Nasya malah di beri pertanyaan.

Tubuhnya gemetar ketakutan. Aura wajah Alanza begitu menakutkan bagi Nasya. "Jadi beneran elo yang....."

"Kalo, 'iya kenapa?" raut wajah Alanza begitu tenang tapi nadanya berhasil menggetarkan Nasya.

Apa lagi jawaban Alanza yang hampir membuatnya shock setengah mati. Manik biru laut itu melebar sempurna dengan hati yang tak percaya. Mulut Nasya terbuka hendak mengatakan protes nya tapi langsung di bungkam dengan perkataan Alanza.

"Tenang aja gue nggak selera sama badan cungkring kayak elo," ujar Alanza di selingi dengan kekehan.

Ucapan Alanza sukses membuat Nasya meloloskan satu bantal ke arahnya.

"ALANZA, SIALAN!!!" Nasya terus melempari bantal ke wajah Alanza emosinya tak terkendali saat dengan gembalanya dia mengatakan hal itu.

Nasya beranjak tadi tempat tidurnya, berlari mengejar Alanza. Tangan mungilnya tak henti-hentinya memukuli lengan Alanza. Seakan meluapkan emosi yang ada di dalam sana. Tentu saja itu tidak sakit bagi Alanza.

"Aaa, mama Nasya, di perawani sama cowok sialan ini." Tangisnya pecah dengan kakinya yang jatuh ke lantai. Harga diri yang mati Matian dia jaga ternyata dengan teganya cowok di depannya ini merusaknya. Bahkan dia lebih kejam dari pada dua pria tadi. Pikir Nasya.

Alanza merasa kasihan karna telah menipu Nasya. Padahal sebenarnya dia tidak benar-benar mengganti baju Nasya yang menggantikan adalah bidan yang sengaja Alanza telpon untuk mengecek keadaan Nasya. dia hanya ingin mengerjai gadis cerewet itu. Tapi malah begini akhirnya.

Pria itu mengelus Surai hitam Nasya, berharap agar gadis itu tenang. Tapi malah tangannya yang di pukuli oleh gadis itu.

"Lo brengsek, Al!! Lo brengsek gue benci sama Lo!! Lo renggut mahkota gue! Lo jahat!" Alanza memeluk Nasya bahkan saat gadis itu berkali memukuli dada bidangnya. Dia menangis dalam pelukan Alanza dengan tangan yang tak berhenti memukulinya.

"Bukan gue yang gantiin baju Lo, tapi bidan yang gue suruh buat sekalian gantiin," ujarnya dengan mengelus rambut Nasya. Berharap agar gadis itu berhenti menangis. Hatinya seakan tertusuk belati tajam mendengar tangis memilukan Nasya.

"Gue nggak percaya! Lo pasti bohong! Gue pasti udah nggak perawan lagi." Nasya memberontak ingin pergi dari hadapan Alanza. "Lo ternyata brengsek Al, gue benci sama Lo!!" Nasya tidak menyangka jika ternyata Alanza melakukan itu di saat dia tertidur.

"Hey, dengerin dulu penjelasan gue." Alanza memegang kedua sisi wajah Nasya memaksanya agar mata mereka bertemu. "Apa perlu gue panggilin bidannya biar Lo percaya? Atau perlu gue nikahin elo biar Lo nggak sedih lagi?"

Ucapan itu, tatapan itu dan nada itu begitu jelas masuk ke indra pendengaran Nasya. Gadis itu dapat dengan jelas melihat tatapan bersalah yang begitu kuat.

Nasya memalingkan wajahnya tidak kuat jika terus bersemuka. "Lo beneran nggak ngelakuin itu?" Tanyanya dengan wajah berpaling.

Mendapati anggukkan dari Alanza, Nasya kembali bersemuka dengan Alanza. "Tapi di kasur kok ada bercak darah?" Tanyanya dengan suara bergetar.

"Serius Na, gue nggak ngelakuin itu pas Lo tidur. Gue nggak se bejad itu." Alanza juga tidak tahu kenapa bisa ada bercak darah di kasurnya. Padahal sprei nya baru saja dia ganti kemarin.

Nasya meringis kesakitan kala perutnya merasa sakit luar biasa. Seakan perutnya di peras-peras layaknya kain basah. Nasya melupakan sesuatu. Dia dengan wajah menahan sakit mengarahkan pandangannya ke Alanza.

"Lo kenapa?" Tanya Alanza khawatir.

"Sekarang tanggal berapa?" Bukannya menjawab Nasya malah bertanya.

"24 Mei."

Sial! Ini jadwal dia halangan. Kenapa Nasya sebodoh itu dan menuduh Alanza yang tidak-tidak? Dengan senyum bodohnya Nasya tampilkan di wajahnya.

"Al, kayaknya gue halangan deh sorry, 'ya udah nuduh elo yang enggak-enggak,"ucap Nasya dengan cengiran manis di bibirnya

************

Plak!

Sebuah tamparan keras mendarat sempurna tepat di pipi mulus Nasya. Wajahnya bahkan sampai tertoleh ke samping dengan sudut bibirnya yang sedikit merobek.

"Kenapa baru pulang?! Kemana saja kau, Huh?" Aren menarik kasar rambut Nasya dan membenturkan keningnya ke dinding.

Bugh!

Dahi Nasya bertemu dengan dinginnya tembok rumah. Rasa sakit luar biasa menerjang kepalanya. Sakit kepala akibat terkena hujan saja belum sembuh, tapi kini ayahnya menambahkan dengan membentur keningnya.

Sakitnya bertambah dua kali lipat.

"Kau mau buat kamu keluarga, huh!?! Sudah main berapa ronde kau?!!" tatapan tajam dengan ucapan yang tak kalah tajamnya sukses menusuk hati Nasya.

Nasya tau malu, dia tidak serendah itu untuk melakukan hal hina semacam itu. Bahkan di saat Lingga, tunangannya sendiri meminta 'itu' padanya, Nasya dengan berani menamparnya. Itulah alasannya mengapa dia di abaikan dan malah Ayu yang di prioritaskan.

Keterdiaman Nasya seakan membakar bara api yang begitu membara. Pria itu menarik kuat rambut Nasya.

"TASYA! ambilkan rotan di ruangan papa!!" Teriak Aren dengan pandangan ke lantai atas di kamar Tasya berada.

Tak lama Tasya turun dengan rotan di tangannya. Aren dengan seringai mengerikan menghiasi wajahnya. Dia mengayunkan tangannya untuk memukul kaki Nasya bersama rotan.

Ctash!

Ctash!

Kayu rotan itu berhasil menyapa kulit kaki Nasya. Ringisan kesakitan terdengar. Nasya merasa kesakitan yang amat di seluruh tubuhnya. Kepalanya yang berdenyut keras, perutnya yang melilit seperti di perah, dan tulang keringnya yang berhasil di sabet oleh rotan. Itu sungguh menyakitkan.

Mirisnya saat Aren dengan mendengar ringisan Nasya dia malah menambah dengan kembali memukuli punggung Nasya.

Ctash!

Ctash!

"Awsh.... Pah sakit," ringisnya menahan sakit di sekujur tubuhnya.

Mendengar ringisan Nasya dan kakinya yang membiru mampu membuat hati Tasya terenyuh.

"Papah! Udah! Mau sampai kapan papa main kasar?" Tasya tidak kuasa melihat penyiksaan ini. Dia masih memiliki sifat perikemanusiaan.

"Awas Tasya, Adik mu tidak pantas di bela!" Aren yang akan kembali melayangkan rotannya kini di halangi dengan adanya Tasya yang merentangkan tangannya di depan Aren.

"Nasya, kembaran Tasya, pah!! Dia anak papa! Tega papa nyakiti darah daging papa. Gimana kalo mama sampai tahu kalo papa nyakitin anaknya." Tasya merentangkan kedua tangannya untuk melindungi Nasya dari amukan Aren. Bisa mati adiknya jika dia terus di siksa ayahnya.

Plang!

Aren melempar kasar rotan di tangannya. Kepalanya berdenyut sakit. "Maaf kan aku Aurelia, aku tidak bisa mendidik anak-anak dengan baik."

Tasya berbalik memeluk tubuh kembarannya yang terkapar di lantai. Matanya setengah terbuka. Tasya tau jika adiknya pingsan.

"Pah! Nasya, pingsan!"

Terpopuler

Comments

Star Kesha

Star Kesha

Penulis hebat! Ceritanya bikin ketagihan! ❤️

2023-10-21

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!