{³} Left

..."Kalian tau, aku paling membenci mulut pendusta seperti kalian!" ...

...°...

...°...

...°...

...°...

Drtt drtt

Getaran di saku Lingga berhasil membuatnya langsung merogoh sakunya. Ketika tahu siapa yang menelepon pria itu langsung menekan icon hijau dan membawa benda pipih tepat di telinganya.

"Iya sayang, kenapa?" Tanyanya dengan nada bicara yang begitu lembut. Sangat berbanding terbalik ketika dia berbicara dengan Nasya. Gadis itu jadi sedikit iri, Ayu bahkan dengan mudah merebut hati Lingga darinya.

"......"

"Aku nggak lagi ngapain-ngapain sayang, lagi di rumah." Lingga seakan melupakan Nasya yang seharusnya dia antar.

Nasya meloloskan tatap kaget. Setelah ini Nasya akan tersingkir. Pikirnya.

"......"

"Iya, sayang secepatnya aku datang."

"......"

"Yaudah, aku matiin ya sayang."

Tut...... Tut

Lingga lantas menyimpan ponselnya di dasbor. Netranya seakan mengisyaratkan Nasya untuk segera keluar dari mobilnya.

"Keluar!! Lo nggak denger kalo Ayu, takut petir?!" bentak Lingga mengagetkan Nasya.

"Tapi Ga, aku juga butuh kamu. Memangnya nggak bisa kamu anter aku dulu baru kamu ke rumah, Ayu?" Sebagai tunangan sah-nya seharusnya Nasya satu tingkat lebih tinggi derajatnya di banding Ayu yang hanya seorang pacar.

Lingga menarik rambut Nasya sangat kuat. Ringisan kesakitan terdengar. "Heh! Lo pikir Lo siapa? Lo itu cuma benalu sialan yang numpang hidup sama gue!"

"Keluar sekarang atau gue yang keluarin Lo secara paksa?" Tatapan tajam mengintimidasi terarahkan pada Nasya.

Secara paksa yang Lingga maksud adalah menyeretnya dengan tidak manusiawi.

Dengan perasaan yang sangat terpaksa akhirnya Nasya keluar dari mobil Lingga. Pria itu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi dan menyipratkan genangan air yang ada di sampingnya.

"Sial! Kenapa nasib baik nggak berpihak pada gue?" ingin rasanya Nasya menangis saat itu juga. Baju basah kuyup, jalanan sepi dengan langit yang mulai menggelap. Itu adalah mimpi buruk dari yang terburuk.

Hujan memang sudah tidak mengeluarkan rintiknya tapi bukan berarti berhenti total. Gerimis tipis-tipis masih menyapa kulit Nasya. Butuh waktu seperempat jam untuk Nasya bisa sampai di rumahnya.

Nasya ingin sekali rasanya marah pada takdirnya yang tidak adil. Kenapa dirinya harus merasakan takdir buruk? Itu sangat kejam. Nasya juga ingin bahagia. Nasya juga ingin merasa semua yang Ayu rasakan.

Nasya merasa jika dari belakang ada seseorang yang mengikutinya, berkali-kali gadis itu menoleh kan wajahnya tapi tidak seorang pun dia menemukan orang lain selain dirinya.

Aneh! Nasya jelas cukup tau jika ada seseorang yang mengikutinya dari belakang. Gadis itu mempercepat langkahnya. Jantungnya berdetak tak karuan. 

Sepasang kaki lain dari belakang tiba-tiba memblokir jalannya pulang. Dua pria dengan banyak tatto di lengannya  berdiri di depan Nasya dengan senyum manisnya.

"Hai cantik kok cepet-cepet amat, sih jalannya?"  ujar pria satu lagi yang memiliki tindik di telinganya.

Nasya mundur beberapa langkah, pria ini akan sangat berbahaya. Nasya tidak bisa melawan keduanya bahkan jika tenaganya tidak terkikis habis setelah uppmelawan hujan.

"Cantik, mau kemana? Mending sini sama kita biar di beri kehangatan," ujarnya di selingi dengan tawa yang menyebalkan.

"Tutup mulut sialan lo itu!" pekik Nasya menghentikan tawa keduanya badan gadis itu bergemetar hebat.

"Apa kau bilang tadi? Mulut sialan? Mulut mu yang jalang!" Pria itu mencengkeram erat pergelangan tangan Nasya menyeretnya paksa agar mengikuti pria itu. "Lihat di saja aku akan membuatmu berada di bawahku."

Nasya jelas saja memberontak hidupnya akan berakhir dalam sekejap mata jika mereka membawanya entah kemana. Dengan modal nekad Nasya menggigit kuat pergelangan tangan pria itu.

"Akhh."

Nasya menggunakan kesempatan itu untuk segera kabur dari dua orang itu. Semua tenaga dia gunakan untuk lari sejauh mungkin berharap jika Nasya bisa menemukan seseorang untuk membantunya. Tapi nyata itu hanyalah pikirannya saja jalanan ini bahkan dua kali lipat lebih sepi dari biasanya. Pepohonan hutan yang sangat mendukung dua preman itu melakukan kejahatan.

"Sialan!! Kejar dia! Akan ku perkosa dia sampai mati!" Kedua pria itu mengejar Nasya yang tidak jauh dari mereka.

Sialnya langkah Nasya melambat bersamaan dengan Kepalanya yang memberat. Migrennya kambuh di saat yang tidak tepat. Nasya menoleh kebelakang dua pria itu semakin dekat dengannya.

Brugh!

Di saat genting begini kaki Nasya malah tersandung batu. Alhasil tubuh Nasya terjatuh tepat di aspal hitam.  Dengan dagunya yang menghantam kuat aspal.

"Akhh."

Kepala Nasya berdenyut nyeri dengan pandangan yang mulai mengabur. Nasya seakan sudah pasrah. Kedua pria itu tersenyum penuh kemenangan. Nasya menangis berharap hal buruk tidak terjadi padanya.

'Lingga, gue mohon tolong gue.' batinnya berharap agar pria itu datang menolongnya. Yang ada itu hanyalah harapan semata yang jelas tidak akan pernah terkabul bahkan sampai Nasya nangis darah sekalipun. 

"Haha~~ kau pikir kau bisa lepas dari kejaran ku?" Tangan kanan pria itu meraih leher Nasya. Mencengkeram kuat leher gadis itu dan membawanya ke gubug reot yang tak jauh dari sana.

Nasya yang dengan pandangan mengabur berusaha untuk bisa bernapas. Kedua tangannya memegangi tangan kekar pria itu berupaya agar bisa lepas dari cekikan yang aamat menyiksa.

Bugh!!

Perlahan Nasya menutup pintu matanya karna kepalanya sekaan di hantam kuat oleh balok kayu. Ppria satunya lagi memukulnya dengan balok kayu yang tidak tebal. Dia sudah jengah dengan perlawanan Nasya yang sia-sia.

"Dia sudah tepar bahkan sebelum kita menyentuhnya." Ucap pria yang tadi mencekik Nasya. Keduanya tertawa kencang.

Bugh!

Pria itu melempar kuat tubuh Nasya di lantai gubug. Pria satunya lagi menutup rapat-rapat pintu tersebut bersiap untuk melakukan keinginannya.

"Malam ini aku akan memperkosanya sampai tulangnya pahanya patah!" Pria itu tertawa kencang memikirkan jika sebentar lagi dia bisa menggerayangi tubuh mulus Nasya.

Tangannya dengan tidak sopan mengelus pelan paha mulus Nasya.

"Aku dulu atau kau?" Tanya temannya satu lagi.

"Kau pikir kau siapa, sampai berani bertanya aku atau kau duluan!" Sentaknya dengan sorot mata tajam.

"Baiklah, terserah mu aku akan menunggumu,"" ujar pria satunya mengalah.

Tangannya terangkat memegang benda kenyal berwarna merah di wajah Nasya. "Bibir jalang mu ini sudah berani mengata-ngatai ku. Akan ku buat kau tidak bisa bicara."

Pria itu menanggalkan kancing baju Nasya dengan tawa gembira yang menghiasi wajahnya.

"Malam ini dia ak......"

Bugh!

Pintu gubuk berhasil di dobrak oleh seseorang sebelum kedua pria itu berhasil menanggalkan dua kancing di bawah kemeja Nasya. Pandangan ini mereka teralihkan ke arah pintu. Netra keduanya seketika membola saat tau siapa gerangan yang mendobrak kasar pintu gubug itu.

"Sepertinya ucapan ku kalian anggap angin lalu, ya." suara dingin nan datar itu sukses menciptakan suasana menakutkan di sana.

"Ma-maaf, 'kan aku tuan! Aku janji tidak akan melanggar perintah mu lagi, aku mohon jangan bunuh aku." Pria yang menyeret paksa Nasya bersujud tepat di bawah kaki Alanza. Pria satunya lagi terlihat ikut-ikutan memuja kaki Alanza.

"Kalian tau, aku paling membenci mulut pendusta seperti kalian!" Seringai iblis tercetak jelas di wajahnya. Kedua pria itu saling menatap satu sama lain, sebelum sebuah kaki mendepak wajah keduanya.

Bugh!

Bugh!

"Orang sampah seperti kalian pantasnya ku apakan, 'ya?" Tanyanya bermonolog. Keduanya pria itu sudah jatuh tersungkur dengan luka di keningnya.

Alanza mencekik kuat leher pria yang berani membawa Nasya dengan mencekik lehernya. Alanza Membawanya ke udara dengan kedua tangannya yang berada di leher.

"Atas dasar apa kau berani memperkosanya, huh!?! Kalian pikir kalian ini siapa!?" Tatapan tajam begitu menusuk tercetak jelas.

Pria itu terlihat dari kesulitan bernapas. Tangannya menyentuh lehernya yang di cengkeram kuat Alanza. Cekikan Alanza tidak main-main urat hijau ke unguan menonjol di wajah pria itu. Dia kesulitan bernapas. tangannya berusaha memukuli tangan Alanza berharap agar lepas.

"Coba kau ulangi perkataan mu tadi aku mau dengar." Alanza menantang pria itu. Seringai iblis itu masih membingkai wajah Alanza.

"To.....Lo....ng......lep....pa....pas," ucap pria itu jelas semakin membuat Alanza marah.

"Bukan kalimat ini yang kau ucapkan padanya!" Alanza semakin menguatkan cekikan nya pada pria itu. Pria itu di ambang kematian.

"Katakan atau mati."

Diam.

Hanya terdengar erangan dari pria itu. Dia saja kesulitan untuk bernapas bagaimana bisa dia mengulangi perkataannya tadi dan menjawab pertanyaan Alanza.

melihat kebengisan Alanza, Pria yang tadi menjadi partner-nya kini sudah berlari ketakutan. Dia tidak mau bernasib sama seperti temannya.

"Sepertinya kau lebih memilih opsi kedua." Senyuman smirk tercetak di bibir tipis itu.

Semenit kemudian pria itu berhenti memberontak. Tangannya tidak lagi memberontak ingin melepaskan cekikan nya. Kakinya bahkan lemas tidak bergerak. Dengan tubuhnyayang tidak menegang. Ya, Dia sudah mati. Alanza melepaskan tangannya dari leher pria itu.

Brak!

Tubuhnya jatuh lemas di lantai gubug.

"Payah sekali harusnya kau tidak mati!" Alanza mendepak keras kepala pria itu yang membiru.

Langkahnya terseret ke arah di mana seorang gadis yang hampir mereka perkosa. Pria itu meringis ketika melihat wajah pucat Nasya. Buru-buru dia meletakkan tangannya di kening Nasya.

"Panas." Taajul Alanza segera menggendong tubuh Nasya dan membawanya masuk ke dalam mobil.

Terpopuler

Comments

Rừng cây

Rừng cây

Kocak banget, ngakak ga ketulungan

2023-10-19

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!