{¹⁵} Surprising fact

..."Seandainya aja posisi lo kebalik, gue pastiin Lo bakal ngelakuin hal yang sama bahkan lebih."...

...•...

...•...

...•...

...•...

Nasya menyenderkan tubuhnya di bawah pohon besar di belakang sekolah. Setelah keluar dari ruang BK Nasya tidak langsung mengerjakan hukumannya. Dia terlalu kecewa dengan keputusan sepihak Alanza. Bodoh nya dia bahkan berpikir jika Alanza akan berpihak padanya dan menyudutkan Ayu. Tapi ternyata Nasya terlalu percaya diri dia bahkan lupa siapa dirinya.

Jika boleh jujur Nasya sangat berharap agar Alanza yang memberi Ayu hukuman bukan malah dirinya yang di hukum. Bulir bening itu kembali terjatuh ketika kilasan Alanza memberinya tatapan tajam. Wajar bukan Nasya kecewa dengan Alanza. Seharusnya sebagai ketua OSIS dia harus bijakana dalam mengambil keputusan bukan malah memutuskan semuanya secara satu pihak. Itu sangat tidak adil.

"Ini nggak adil!! Gue benci! Gue benci di sudutkan." Sekelebat bayangan di saat Nasya kecil selalu di sudutkan oleh ayahnya terbayang di benaknya. Dadanya seperti di himpit paksa hingga membuatnya kesulitan bernapas.

Nasya menepuk-nepuk kuat dadanya. Isak tangis itu yang membuat dadanya sesak. "Sialan itu..... Setelah berhasil membuat hubungan gue retak dia juga berhasil memfitnah gue."

Nasya merasa jika dunia tidak berpihak padanya. Sedikit alay tapi inilah Nasya, gadis lemah yang paling benci di fitnah. Mana akan ada orang yang baik-baik saja setelah berhasil di fitnah dan bahkan di sudutkan dari yang paling sudut.

Apa lagi semuanya menolaknya untuk menjelaskan semuanya.

***************

Brak!!

Pintu ruangan BK berhasil di buka secara kasar. Ayu dengan napas tak beraturan segera berlarian menuju kelasnya. Kepalanya sesekali tertoleh kebelakang memastikan apakah Alanza mengejarnya.

Setelah apa yang Alanza lakukan terhadapnya berhasil membuat Ayu trauma berat. Tangisnya pecah saat kembali mengingat bagaimana Alanza memperlihatkan sisi lain dari dirinya.

A

yu sukses menciptakan seringai semanis gula aren. Dia sangat senang ternyata Alanza berpihak padanya. "Al, mak...."

"Jangan lo pikir gue akan membebaskan lo setelah lo berhasil memfitnah Nasya dan memotret kami di trotoar untuk menjadikannya alat biar dia putus." Bibir tipisnya menyeringai misterius. Kaki jenjang Alanza berdiri menghampiri Ayu yang gemetaran.

'Alanza, tau? Bagaimana bisa?' batin Ayu bertanya-tanya bagaimana bisa Alanza tau rencananya.

"A-al-alanza."  Ayu memundurkan langkahnya saat Alanza semakin mendekat dengan pandangan mengerikan. Hingga karna terus memundurkan langkahnya Tubuh Ayu bersentuhan dengan dinginnya tembok. Tangisnya pecah dengan pikiran-pikiran buruk yang ada di benaknya.

"Akh!!" Ayu memekik saat Alanza mengapit kedua tangannya di lehernya. Pria itu benar-benar memberi cekikan yang tidak main-main sakitnya.

"Setelah Lo ambil tunangannya sekarang Lo dengan beraninya lo fitnah dia." Alanza di kuasai oleh amarahnya.

Sebenarnya Alanza tidak pernah percaya dengan ucapan Ayu. Tapi untuk membuat wanita ini sedikit bahagia akhirnya Alanza dengan sangat sangat terpaksa melakukan itu dan berhasil menyakiti hati pujaannya. Balasannya sekarang adalah membuat Ayu merintih kesakitan dan menyaksikan wajah ketakutan Ayu.

"Al......lep......pas..."  Napas Ayu tercekat wajahnya merah padam karna aliran darah yang terblokir.

"Lo pikir gue bakalan semudah itu ngelepasin mulut pemfitnah kayak, lo!?" Seringai itu jauh lebih mengerikan dari hantu yang pernah Ayu tonton.

Ayu memegangi kedua tangan Alanza berharap agar pria itu melepasnya. Ayu kehilangan napasnya. Sedetik saja jika Alanza tidak melepasnya maka bisa pastikan Ayu tinggal nama.

"Uhk....uhk..." Ayu terbatuk kasar, cekikan Alanza membuat tenggorokannya perih.

"Masih berani lo, sakiti dia?" Alanza memberinya tatapan sedingin balok es.

Ayu segera menggeleng cepat. cekikan tadi sudah lebih dari cukup sebagai tanda peringatan. Gadis itu memegangi lehernya, mengusap pekan dengan harapan agar bekasnya hilang.

"Ngapain lo masih disini? Mau gue cekek lagi!?" Tanya Alanza. "Ouh, atau sentuhannya masih kurang?"

Ayu segera pergi dari sana dengan langkah sempoyongan.

"Sialnya Alanza malah berpihak sama bitch itu."

***************

Revan berlari menghampiri deretan WC perempuan yang berjejer rapih. Perlahan telinganya mendengar bunyi sikatan WC dari ujung bilik. Revan lantas menarik langkahnya menuju suara itu, bisa di pastikan yang di sana adalah Nasya.

Revan sudah tau jika Nasya di fitnah dan di adili secara satu pihak. Revan bahkan sengaja menguping hanya ingin memastikan apakah Nasya baik-baik saja, tapi ternyata gadis itu bahkan di perlakukan secara tidak adil. Revan sebenarnya juga tau jika Nasya menangis di bawah pohon belakang sekolah. Tapi Revan tidak ingin semakin membuat mood gadis itu hancur jadilah dia membiarkan Nasya meluapkan emosinya di sana. 

"Mau gue bantuin nggak, Na?" Pertanyaan bodoh itu terlontar dari bibir Revan.

"Nggak perlu!" Ketus Nasya seraya mengayunkan tangannya menyikati kloset.

Jika Nasya sedang badmood maka siapa pun yang menanyainya maka dia akan membentaknya meski orang itu tidak ada salah. Apa lagi pria ini malah bertanya dengan pertanyaan yang jelas tidak penting.

Harusnya kalo mau bantuin, 'ya bantuin aja nggak usah harus nanya! Batin Nasya berteriak. Bibirnya sedari tadi misuh-misuh tidak jelas.

Revan tidak sakit hati jika Nasya berujar ketus padanya. Bahkan setelah Nasya menguak hubungannya di ruang BK hari lalu, Revan tetep tidak sakit hati. Karna ucapan Nasya benar.

Tanpa aba-aba Revan mengambil untuk menyikat WC sebelah. Membantu Nasya adalah cara menebus kemarahan gadis itu.

Sedangkan Nasya, gadis itu membiarkan Revan membantunya. Toh dengan adanya Revan, tugas Nasya jadi lebih ringan.

"Na," panggil Revan seolah di buat angin lalu oleh Nasya. "Maafin gue, 'ya karena gue lo berakhir di fitnah, Ayu."

Nasya menyiram kloset yang telah dia bersihkan. Setelah di rasa bersih gadis itu mempertanyakan pertanyaan yang memenuhi benaknya.

"Sebenernya lo itu punya hubungan apa sih sama, Ayu?" Nasya menyembul kepalanya ke bilik sebelah dapat manik biru itu lihat jika Revan sangat sungguh-sungguh membersihkan klosetnya.

"Hubungan gue sama, Ayu?" Revan membalik badan mengamati wajah Nasya. manik biru laut laut itu tidak memerah lagi tapi menimbulkan sembap di kantung matanya.

Hatinya berdenyut pilu melihat keadaan Nasya. Tangannya terangkat untuk menyeka peluh di dahinya, tapi suara Nasya berhasil menghentikan aksinya.

"Gue capek Van, kalo lo pikir gue nanya, karna gue cemburu sama lo. Maka lo salah besar, oke gue tau lo pernah suka sama gue tapi bukan berarti gue cemburu kala lo dekat sama cewek modelan Ayu," ujar Nasya.

"Asal lo tau Van, Gue nggak pernah takut kehilangan orang yang mencintai gue. Gue nggak pernah benci ketika fans-gue lari dari gue, karna gue sadar gue nggak secantik itu untuk di cintai."

Revan menghela napas kasar. Bukan Revan sudah tidak mencintai Nasya, bukan. Rasa cinta itu bahkan semakin melebar di hatinya.

Akhirnya Revan mengajak Nasya untuk pergi dari tempat ini. Setelah di rasa pertanyaan yang Nasya lontarkan adalah obrolan berat, Revan langsung mengajaknya ke taman belakang di tempat Nasya menangis tadi.

Pria itu mendudukkan bokongnya pada kursi panjang berwarna putih itu. Sebelum dia berbicara Revan menarik napasnya dalam-dalam.

"Gue sama Ayu, itu saudara kembar," celetuknya tiba-tiba sebelum Nasya berhasil mendaratkan bokongnya di bangku itu.

Aliran di tubuh Nasya terhenti. Tubuhnya seperti tersengat listrik di detik itu juga. Fakta bahwa Revan dan Ayu saudara kembar adalah hal yang terdengar seperti dongeng pengantar tidur saat dirinya masih kecil.

"Kalo gitu..." Napas Nasya tercekat tidak bisa melanjutkan kalimatnya.

"Tapi hubungan gue sama dia jauh dari kata baik-baik aja, setelah perpisahan bokap-nyokap gue yang berhasil membuat hubungan kita retak. gue yang dulunya menyayangi Ayu, berubah jadi rasa benci setelah dia berbuat seenaknya aja dan mulai obsesi sama, Alanza," jelas Revan.

"Maka dari tu dia nggak suka kalo gue sayang sama  cewek lain selain dia, Karna itu dia ngasih peringatan ke elo karna dia benci kakaknya di rebut."

Nasya terdiam cukup lama. Keheningan yang menyiksa menyelimuti keduanya. Jika di perhatikan mimik wajah Nasya berubah murung.

"Mungkin lo butuh pendekatan sama Ayu, kasian dia," sahut Nasya dengan mata memandang damai rerumputan yang bergoyang.

Gadis itu cukup tau jika posisi Ayu itu sakit. Di benci oleh saudaranya sendiri bahkan di jauhi adalah hal yang paling buruk dari yang terburuk. Hidup akan terasa sepoh jika kita di acuhkan oleh saudara sendiri.

Revan terdiam tak percaya. Gadis di depannya ini mengatakan hal yang jelas tidak menguntungkan dirinya.

"Lo nggak pantes kasihani orang yang udah bikin hidup lo hancur, Na."  Revan di buat terperangah dengan balasan Nasya.

Mata Nasya bertemu dengan manik hazel milik Revan. Nasya tau jika Ayu berhasil membuat hidupnya jungkir balik. Bahkan karna gadis itu Nasya mendapat begitu banyak makian perbandingan dari Lingga. Bukannya Nasya tidak dendam, tentu saja dia dendam tapi setelah tau bagaimana keadaan gadis itu hati Nasya tak kuasa untuk dendam.

"Van, dia adik lo. Nggak seharusnya hubungan kalian retak." Nasya mencoba memberi pengarahan pada Revan.

*Suatu hari nanti Lo pasti membutuhkan Ayu, karna memang cuma dia yang lo punya, Van."

Revan tak habis pikir hati Nasya ini terbuat dari apa sih? Harusnya Nasya senang karna Ayu tidak mendapatkan kasih sayang dari orang yang dia sayangi. Tapi gadis itu malah memintanya untuk mendekatkan diri pada Ayu.

"Gue nggak bisa Na, gue terlalu benci bahkan sekedar melirik aja gue enggan." Revan tidak yakin jika suatu saat nanti dia membutuhkan Ayu, karna selama ini Revan selalu mengandalkan dirinya sendiri.

"Lo berdua itu saudara kembar, nggak seharusnya lo memperlakukan Ayu, kayak gitu."

"Nas.."

"Seandainya aja posisi lo kebalik, gue pastiin Lo bakal ngelakuin hal yang sama bahkan lebih."

Revan berdiri dari kursinya. "Sorry Na, tapi gue belum bisa." Pria itu pergi dari sana meninggalkan Nasya.

"Saudara itu saling menyayangi, Van! Bukan saling menyakiti!!" Teriak Nasya sebelum Revan benar-benar pergi.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!