..."Hari ini gagal lagi."...
...•...
...•...
...•...
...•...
01 : 42
Sepasang kaki berbalut sneaker putih melangkah memasuki apartemen pribadinya. Jari telunjuknya bergerak lihai memasukkan pin sandi apartemen. Revan, memasuki apartemennya dengan pupil hazelt yang mengorot lelah.
Ctek!
"Lo masuk BK, cuma gegara cewek!?" Seorang gadis dengan tangan terlipat di dada sukses bersuara ketika jemari Revan menghidupkan lampu apart.
Revan menggerlingkan matanya malas. Badannya sudah lelah, dia tidak ingin mendengarkan ocehan apa pun dari gadis ini. Tanpa memperdulikannya Revan, berjalan melewati gadis yang terduduk manis di sofa empuk itu.
"Revan! Gue ini kembaran lo, harusnya lo hargai kekhawatiran gue." kakinya terangkat dengan kepalanya yang terarah ke arah Revan.
Sudut bibir Revan tersungging satu. "Khawatir? 'iya, 'kah?" Tubuh pria itu berbalik menatap jengah gadis di hadapannya.
"Van, mau sampe kapan hubungan kita retak? Kita ini kakak, adik kalo lo lupa," ucapnya mengingatkan Revan.
"Terus? Ada yang salah?" Bulu di keningnya terangkat satu.
"Revan, yang gue kenal nggak kayak gini, lo kemanain Revan, gue?!" Gadis itu mendatangi Revan dan mengguncangi tubuh pria itu.
"Apaan sih!?!" Revan menyentak kasar tangan lancang gadis itu. "Jalang!" desisnya tajam.
Plak!
"Jaga ucapan lo!" Gadis itu memandang Revan dengan biji mata meruncing. "Se nakal-nakalnya gue, gue nggak akan pernah buat ngelakuin apa yang lo bilang!"
"Terus kenapa, Lo masih pacaran sama dia?"
"Lo ta..."
"Se enggak pedulinya gue sama elo gue tetap tau siapa cowok yang lo pacari." Revan mendekatkan dagunya ke arah gadis itu.
"Putusin dia kalo elo memang mau hubungan kita membaik."
Gadis itu menggeleng cepat. Mau macam mana pun dia tidak akan memutuskan pacarnya semudah itu.
"Tuh, 'kan sifat jalangnya keluar. Bisanya cuma ngerebut, kayak cowok cuma dia doang." Revan jengah jika berbicara dengan gadis ini. Kakinya kian melangkah menuju kamar mandi.
"Keluar dari sini sebelum gue panggilin satpam." Pria itu memasuki kamar mandi sekolah melupakan gadis itu.
"Karena mama' dia keluarga kita jadi hancur! Lo lupa kal....."
"Nggak usah lo bahas masa lalu." Revan berbalik menghadap ke gadis itu. "Lagi pula mama' dia udah meninggal sebelum tragedi itu terjadi.*
"Van! Tetap aja karna keluarga dia hubungan papa dan mama berantakan!"
"Denger, 'ya papa sama bunda pisah setelah ibunya meninggal! Jadi semua itu nggak ada sangkut pautnya sama keluarga dia."
Gadis itu tertunduk dengan sorot mata yang di penuhi dengan liquid bening. "Nggak! Intinya karena dia, keluarga kita berantakan!!"
"Bukan karena dia!! Lo kalo nggak tau mending nggak usah belagak sok tau," seru Revan.
"dan satu lagi, kalo sampai gue denger lo ngebully Nasya, gue pastikan hubungan kita akan retak sekalipun saudara kembar."
*****************
Plak!
Tangan terbang berhenti tepat di pipi chubby seorang gadis. Wajahnya yang sudah di polesi bedak berakhir berantakan akibat tamparan yang mengenai pipinya. Sudut bibirnya terkoyak menghasilkan cairan kental berwarna merah. Kristal bening memenuhi kelopak matanya menghasilkan penglihatan yang memburan.
"Heh! Lo pikir gue mau jalan bareng cewek jalang kayak elo!?" Pria itu menjitak kasar surai gadis itu yang sudah di tata rapih.
"Ga, kapan kamu bisa hargai aku sebagai tunangan mu?" Nasya mendongak mengamati wajah angkuh khas Lingga.
Minggu pagi tepat di mana Nasya sudah bersiap untuk mengajak Lingga jalan-jalan. Semua ini semata dia lakukan agar Lingga mau menandatangani kontrak kerja samanya. Nasya sengaja mendatangi apart Lingga berharap agar laki-laki itu tidak akan menolak permintaannya.
Tapi pada akhirnya semua usahanya sia-sia. Lingga bahkan melayangkan tangannya tepat di pipinya. Itu sangat menyakitkan. Bekas luka di keningnya kemarin malam saja masih sakit dan sekarang malah di tambah dengan tamparan yang tidak main-main sakitnya.
"Gue akan hargai lo kalo elo udah nggak ada di dunia ini!" bisik Lingga tepat di daun telinga Nasya.
Lingga mendoakannya agar mati. Itu adalah kalimat paling halus dari yang terhalus di telinga Nasya.
"Sayang, ada apa ribut-ribut?" Seorang gadis dengan piyama merah muda keluar dari kamar Lingga. Muka bantal gadis itu begitu kentara.
'mereka tidur satu kamar?' batin Nasya. Hatinya seperti di peras kuat-kuat. Dadanya terhimpit paksa oleh sesuatu. Butiran bening seakan memberontak akan keluar dari manik biru laut itu. Bukan lebay tapi Nasya sakit hati. Bagaimana bisa mereka tidur di satu kamar, sedangkan dia adalah tunangannya? Itu sungguh mengiris hati Nasya.
Ayu bahkan dengan beraninya mengapit kedua tangannya di lengan kekar Lingga. Mata mereka bertemu dengan senyum manis yang menghiasi wajah keduanya.
"Sayang, kamu bangun gegara aku bising, 'ya?" Lingga mengelus lembut pipi Ayu tatapan matanya memancarkan sorot kasih sayang yang begitu kentara.
"Enggak, kok sayang aku memang udah bangun tadi," ujar Ayu seakan memamerkan kemesraannya pada Nasya. Itu begitu terlihat apa lagi saat gadis itu mencuri pandang ke arahnya.
Cup!
Lingga menempelkan benda kenyal berwarna merah di bibir tipis Ayu. Bukan hanya menempel tapi mereka berciuman panas tepat di depan Nasya. Desahan mereka terdengar memenuhi ruangan ini.
Liquid bening itu sukses mengeluarkan diri dari tempatnya. Dada Nasya dua kali lebih sesak dari yang tadi. Mata Nasya tak kuasa melihat Lingga yang menggerayangi tubuh Ayu.
'apa-apaan ini?! Gue jadi saksi kebucinan mereka?' teriak Nasya tertahan di hatinya. Kakinya melemas seperti jelly Nasya tidak kuat menopang berat tubuhnya.
Nasya menangis sejadi-jadinya. Perasaannya campur aduk, seperti es kolding yang di campur hingga menghasilkan warna yang merata. Nasya bimbang, dia ingin pergi karena tidak mau melihat kelanjutannya tapi di sisi lain dia tidak ingin pergi karena Nasya harus menyiapkan misinya agar Lingga mau menandatangani kontrak itu.
"Eh, ada Nasya, sayang jangan gitu kasian tunangan kamu di kacangin," ucap Ayu seolah dia baru melihat Nasya. Padahal Nasya sangat tau jika gadis itu sengaja melakukanya. Apa lagi bicaranya seakan mengatakan jika Lingga harus perdulikan Nasya.
'basi!!' batin Nasya.
Pandangan Lingga teralihkan. "Kamu jangan nggak enak gini sayang, biarin aja dia berdiri di sana. ayok kita lanjutkan yang tadi."
Brak!
Lingga menutup kasar pintu apartemennya. Membuat anakan rambut Nasya berterbangan di di wajahnya. Sejujurnya Lingga tidak pernah sekalipun memberikan pintu pada Nasya untuk masuk ke dalam apartnya. Karena pada dasarnya Lingga hanya membuka sedikit pintu apart saja jika Nasya datang.
Mereka seakan melupakan jika derajat Nasya lebih tinggi di banding Ayu yang hanya seorang pacar. Tangannya terkepal erat dengan gigi bergemelatuk marah. Seandainya Nasya lebih kaya di banding Lingga, maka sudah di pastikan dia tidak akan merendahkan harga dirinya dengan mengemis cinta pada pria brengsek itu.
"Hari ini gagal lagi."
Sepasang penyanggah badan Nasya bergerak untuk segera pergi. Merelakan semua sikap kasar Lingga yang sudah kelewat batas. Dan juga harus merelakan untuk pulang dengan berjalan kaki karena Nasya tidak membawa sepeser uang pun untuk naik bus. Dan sialnya lagi handphone-nya tidak ada paket.
Ini yang namanya sudah jatuh tertimpa tangga, sudah di abaikan kini dia juga harus pulang jalan kaki sejauh 35km.
Kesialan itu seperti mengikutinya dan bahkan mendarah daging di tubuh Nasya. "Bener kata papa kalo gue memang anak pembawa sial."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 28 Episodes
Comments