Sepasang kaki menuruni satu persatu anakan tangga dengan tangan yang mengetik lihai di pada pipih itu.
"Bun, hari ini gimana kalo kita nonton bioskop?" Suara dari ruang makan mengalihkan perhatian Alanza.
Alendra--- ayahnya Alanza melingkarkan tangannya di perut sang istri. Memeluknya dari belakang layaknya adegan romantis di film Drakor.
Aletha--- ibu Alanza menghentikan aksi mengolesi selai di roti, dia berbalik memandangi wajah suaminya."Papa, mau nonton film apa?" Tanyanya dengan senyumam semanis sari gula.
Alanza yang baru saja turun tiba-tiba di suguhkan dengan pemandangan semanis ini. Dia mendengus sebal. Ini masih sangat pagi dan ayahnya sudah bersikap se romantis itu pada sang istri. Alanza akui dirinya iri.
"Mama! Kita sarapan apa?." Pria itu menyeret bangkunya ke belakang. Derit kursi terdengar mengalihkan sepasang pasutri yang hendak berciuman mesra.
"Ck... Ganggu!" Decakan itu terdengar. Mata Alendra memandang sebal sang putra sulung. Kegiatan paginya terhenti akibat anaknya.
Alendra beralih duduk di kursinya. Wajahnya di tekuk Seperti anak kecil yang tidak di beri mainan kini mendominasi.
"Lagian kamu bucin nggak liat-liat." Aletha meletakkan roti yang baru saja di olesi dengan selai pada sang suami.
Wanita itu mendorong kursinya agar bisa duduk di depan sang putra. Sedangkan suaminya duduk di sampingnya.
"Itu, 'kan kebiasaan kita di pagi hari sayang." Tangan Alendra bertengger manis di bahu Aletha, dia menciumi pucuk rambut Aletha membiarkan Alanza yang memberinya tatapan sinis.
Aletha membalasnya dengan mencium lembut pipi tirus suaminya. Seakan mereka melupakan sosok Alanza yang masih di sana.
Muak dengan kemesraan keduanya Alanza berdeham keras. Mengingatkan mereka jika dia masih di sini.
"Khm!!"
Bukannya berhenti Alendra malah semakin menjadi. dia menciumi leher jenjang Aletha dan memberikan tanda kepemilikan di lehernya. Mereka sibuk dengan dunianya sendiri mengabaikan Alanza yang bernorabene-nya adalah anak tunggal.
'ya Allah kuatkan lah hati hamba-mu yang lemah ini.' batin Alanza mengelus dadanya. . Dengan wajah masam Alanza memakan roti itu tanpa di kunyah.
Setelah selesai, tanpa mau basa-basi lagi Alanza berdiri dari duduknya bersamaan dengan derit bangku yang terdorong ke belakang. Meninggalkan sepasang suami istri yang sedang bercumbu mesra. Alanza sudah cukup bosan menjadi nyamuk di antara keduanya.
"Loh Alanza, mau kemana kamu?"
"Mau pulang! Capek jadi nyamuk," balasnya lalu menghilang di balik pintu dapur.
Aletha berdiri ingin mengantar putranya, tapi tangannya di tahan Alendra. "Biarkan saja, lah."
"Ta......"
"Dia bosan jadi nyamuk, sayang."
*************
Seorang pria mengambil langkah tegas masuk ke dalam minimarket. Pagi ini dia akan sedikit belanja bahan makanan untuk mengisi lemari pendinginnya yang sudah kosong melompong. Tanpa berlama-lama tangannya segera mengambil beberapa bungkus mie dan satu kotak sosis kanzler juga beberapa minuman kaleng. Setelah di rasa cukup kakinya terayun menuju meja kasir.
Saat melihat antrian pembayaran lumayan panjang, Alanza akhirnya memilih menunggu saja. Matanya berlarian kesana kemari mencari pemandangan yang enak di pandang.
"Sayang, belanjaannya segini doang? Nggak kurang?" tanya pria di depan Alanza pada gadis berbadan sintal di sampingnya.
"Nggak, sayang." gadis itu bergelayut manja di lengan kekar pria tersebut.
Alanza mendengus sebal. Di mana-mana selalu saja bertebaran orang-orang bucin tidak tau tempat. Nggak di rumah nggak di luar Alanza selalu di suguhkan dengan pemandangan romantis sepasang kekasih.
'mereka pada pamer kemesraan, 'kan jadi pengen!'
Alanza mengalihkan perhatiannya ke arah lain. Manik abu itu tertoleh ke jalanan. awalnya jalanan di luar sana biasa-biasa saja, sebelum seorang gadis berjalan dengan langkah gontai melewati traffic light dengan lampu hijau yang menyala. Pertanda jika itu waktu pengendara sepeda motor dan mobil berlalu lalang.
"Kali ini nggak boleh terlambat."
Tanpa berlama-lama lagi Alanza berlari meninggalkan keranjang belanjaannya di lantai. Tanpa peduli jika nanti petugas minimarket mengembalikan belanjanya. Tangannya dengan sigap membuka pintu minimarket. Sepasang kakinya berlari kencang menggapai ke tempat gadis itu. Daun telinganya dapat mendengar suara klasonan mobil yang memekakkan pendengaran. Gadis itu bukannya malah lari dia malah berhenti dengan memegangi kepalanya.
Kakinya mengambil langkah lebar saat mobil dengan jarak satu meter hampir menghantam tubuh gadis itu. Tangannya segera terentang menggapai lengan gadis itu.
Brugh!!
Beruntungnya kali ini Alanza tidak terlambat menyelamatkan Nasya.
Badan keduanya terjatuh kasar di trotoar jalan. Bokong Alanza sukses mencium trotoar jalan dengan seorang gadis menimpa tubuhnya.
"Aws," ringisan terdengar saat bokongnya berdenyut nyeri.
Mata abu tua itu bertemu dengan manik biru laut. Jantung Alanza berpacu dua kali lebih cepat. Cukup lama keduanya bertatapan entah apa yang di pikirkan hingga tidak sadar akan posisinya saat ini.
"Khm." Alanza berdeham untuk menyadarkan Nasya karena posisi mereka yang sangat tidak memungkinkan.
Seakan sadar Nasya segera berdiri dari posisi yang tidak baik untuk jantungnya. Gadis itu berdiri membersihkan bajunya yang terkena pasir.
"kenapa, nggak lari?" Kening mereka bertemu bersamaan dengan matanya yang menyiratkan ke khawatiran yang begitu dalam.
"Ngapain juga lo nolong gue? Harusnya lo biarin gue ketabrak mobil tadi." Tidak disangka ternyata kalimat itulah yang diucapkan oleh Nasya, alih-alih berterima kasih.
"Kalo elo bosan hidup nggak gini caranya!"
Seringai sinis tercetak jelas di wajahnya "Ngapain juga lo sok baik nolongin gue? Ngapain juga lo peduli sama gue? Gue nggak butuh pertolongan Lo!"
Nasya meluapkan emosinya yang tertahan sejak tadi. Tidak seharusnya Nasya marah-marah kepada Alanza seharusnya Nasya berterima kasih pada pria itu karena pria itu rela menolongnya. Tapi, Nasya lepas kendali. Dia malah menyalurkan rasa kecewanya pada Lingga dengan marah padanya.
"Nggak usah jadi pahlawan di hidup gue, gue nggak butuh!" Nasya menutup matanya yang mengeluarkan cairan bening. Nasya yakin setelah ini Alanza akan memarahinya balik dan melontarkan kalimat kasar karena kecewa padanya. Ya, Nasya yakin itu. Mana akan ada yang tahan dengan sifat Nasya, jika pun ada yang tahan maka dia pemenangnya.
'dia nangis?' batin Alanza. Relung hatinya teriris melihat cairan bening itu berhasil membasahi pipi chubby Nasya.
Manik abu itu membulat ketika mendapati pipi chubby Nasya memerah seperti bekas tamparan, sudut bibirnya pun ikut terkoyak. Pupil abu itu kian menajam kala matanya menemukan dahi Nasya yang membiru seperti di hantam tembok.
Darahnya mendidih kala memandangi bagaimana keadaan miris Nasya yang bahkan jauh dari kata baik-baik saja.
"Siapa yang udah ngelakuin ini!?" Jemari Alanza terangkat mengusap pelan pipi chubby Nasya.
Nasya langsung menyentaknya. "Bukan urusan lo!"
Alanza tidak bisa baik-baik setelah melihat keadaan Nasya. Dia benci melihat gadis itu dalam keadaan yang tidak baik-baik saja.
"Tunangan lo?" Alanza meraih tangan Nasya yang akan pergi dari hadapannya.
Nasya menutup matanya. Sejak kapan juga pria itu tau jika dirinya memiliki tunangan, padahal jelas tidak ada yang tau jika Nasya bertunangan kecuali Anna.
"Nggak usah sok tau." Nasya menarik tangannya dari cekalan Alanza tapi pria itu tak kunjung melepasnya. Nasya berbalik memandangi wajah Alanza.
"Lepas!" Nasya menekan katanya.
Seolah tidak peduli Alanza malah mendekatkan Nasya ke dada bidangnya. Nasya segera menahan dadanya dengan kedua tangannya agar mereka tidak bersentuhan.
"Gue tanya sama lo, semua ini ulah tunangan lo?" Pria itu berujar dengan raut wajah dingin.
"Gue udah bilang ini bukan urusan lo!" Nasya membalas air muka Alanza tak kalah dingin.
Mata keduanya bertemu dengan tatapan yang sama-sama dinginnya. Jarak keduanya begitu dekat hingga terlihat seperti berpelukan apa lagi tangan Alanza yang bertengger manis di sisi pinggang Nasya.
Cekrek!
Seseorang di sebrang sana berhasil mengambil gambar keduanya. Seringai manis tercipta di bibirnya.
"Lepasin Al, Lo nggak liat orang-orang pada ngeliatin kita!?" Nasya menekan katanya berusaha untuk melepaskan diri dari pria gila ini
Seringai mengerikan terbit di bibir tipis milik Alanza. Pria itu malah semakin mendekatkan dirinya. Memeluk pinggang Nasya posesif.
"Gue nggak bakalan lepasin sebelum lo jujur."
Nasya memberontak di dalam pelukan Alanza tapi gerakannya itu malah terlihat merangsangnya.
"Lo ngerangsang gue?" Bulu di keningnya terangkat satu. "Pengen gue makan?"
Nasya meneguk ludahnya kasar. Ucapan Alanza benar-benar membuat bulu di kulitnya terangkat.
"Gue bakal teriak ke orang-orang kalo lo ngelakuin pelecehan!" ancaman Nasya seakan di anggap angin lalu oleh Alanza.
"Coba aja teriak." Seringai itu masih menghiasi wajah Alanza. Dia benar-benar meremehkan Nasya.
"TOLONG! ADA PELECEHAN!!" Teriak Nasya berharap ada orang yang mau menolongnya.
Berhasil. Mereka yang berlalu lalang terhenti dan memandangnya dengan sorot kasihan, sebelum sebuah suara berhasil melanjutkan langkah mereka dan mengabaikan Nasya.
"Sayang, jangan merajuk lagi dong Aku khawatir sama anak kita," ucap Alanza mengelus perut rata Nasya yang terbalut baju.
Manik biru laut milik Nasya sukses di buat membola dengan ucapan absurd Alanza. Tangannya menjepit kuat pinggang Alanza. Kekesalannya pada pria ini semakin bertambah.
"Mulutnya pengen gue sumpel?!" tanya Nasya dengan mata melotot.
"Aws, sakit sayang." Alanza meraih tangan Nasya. Pada dasarnya cubitan gadis itu tidak sakit bahkan terasa seperti di gigit semut, tapi karna Alanza ingin bermain-main sebentar jadilah dia mendrama.
"Apaan sih?! Ngaco mulu lo. Lepas nggak?" Bola mata Nasya memancarkan bara api yang ingin menelannya di dalam api tersebut.
"Tapi kamu janji, 'ya sayang jangan marah lagi sama aku. Aku nggak kuat di cuekin kamu sayang~~"
Nasya rasanya ingin sekali mencabik-cabik wajah tirus pria ini. Wajahnya terlihat begitu menyebalkan dengan ucapan yang memuakkan.
'oh, jadi gini cara main lo, oke gue ikuti.' Nasya berseringai manis.
Tangan lentik Nasya menyentuh lembut perut sixpack Alanza. "IYA SAYAAANG!!"
"mampus lo, emang enak perutnya di elus..hmm?" Bisik Nasya dengan tangan yang masih setua m
"Shh, jadi lo beneran pengen gue makan?"
Nasya meneguk salivanya kasar. 'Mampus!' batin Nasya kala mendengar desahan Alanza.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 28 Episodes
Comments