{⁷} Raising the War Flag

..."Sejak kapan kapten basket kita mengibarkan bendera perang? Bukannya kita harus saling berdamai sekali pun kalah?" ...

...•...

...•...

...•...

...•...

Sepasang kaki jenjang melangkahkan cepat menuju lapangan basket. Kaki jenjangnya seketika berhenti tepat di lapangan saat matanya menemukan sosok yang di cari.

"Jadi, ini ketua osis baru kita?" Pria itu adalah Revan, dia mengamati penampilan acak-acakan Alanza yang sangat jauh dari kata rapih. Kemeja putihnya tidak di masukkan ke dalam. Dasi yang seharusnya menggantung rapih di leher kini malah berada di dahinya yang terikat manis di sana. Senyum remeh tercetak jelas di wajah Revan.

Tiga versus tiga. Kedua teman Revan dan Alanza saling memancarkan sinar permusuhan.

"Modal tampang doang bisa jadi ketos, 'ya? Atau Lo nyogok? Ups, sorry." Revan menutup bibirnya dengan satu tangannya tak lupa dengan tawa yang seakan mengejek Alanza.

Alanza tampak tenang seakan ucapan Revan hanya angin lalu. Alanza tak tau kenapa pria di depannya menghinanya, mungkin kalah saing?

"Sejak kapan kapten basket kita mengibarkan bendera perang? Bukannya kita harus saling berdamai sekali pun kalah?" ucapnya tak kalah menyindir. Tatapan datar tertuju pada Revan.

Jika menyangkut organisasi sekolah maka Alanza tau di mana jalan masalahnya.

"Shit!!" Revan mengeraskan rahangnya. Amarahnya langsung membanjiri hatinya ketika Alanza sukses menyinggungnya.

"Udah deh kalo kalah, 'ya kalah aja!" sahut Tio di belakang Alanza. 

"Siapa, juga yang kalah saing,"sahut Angga.

"Eh! Lebih pantes mana Alanza, si ketos sama lo pas jadi waketos?" Sarkas Akhbar kembali menyinggung masa lalunya.

Niat hati ingin membuat Alanza terpancing emosi malah dirinya sendiri yang di Landa api amarah.

"Jelas pantesan Revan, lah!" Sahut Aji.

"Waduh! Nggak bahaya, ta?" Tio menutup bibirnya alat.

Emosi di hina Revan akhirnya menarik kerah leher Tio dengan tangannya. "Heh! Maksud Lo apaan?!"

"Maksud gue, Kalo hubungannya masih abu-abu nggak usah belagu!" Tio menampilkan smriknya seakan tidak takut jika sewaktu-waktu dapat Revan menghajarnya.

"Waketos kok mojok. Itu, contoh yang baik untuk siswa?" Sarkas Akhbar habis-habisan.

"Revan, nggak pernah mojok, 'ya!" Sorot tajam di perlihatkan pada Angga untuk Akhbar.

"Coba ulangi kek mana modusnya?"  Tio tersenyum remeh mengingat masa kelam Revan yang begitu alay. Benaknya kembali mengingat kilasan masa lalu.

"Lo terlambat!"  Serunya ketika melihat Nasya berhasil turun dari tembok belakang sekolah.

"Terus kenapa kalo gue terlambat? Masalah buat Lo?!?"  Suara cempreng Nasya terdengar memberontak saat ketahuan terlambat. Nasya langsung menyeret sepasang kakinya untuk pergi meninggalkan Revan.

Tangan Revan sukses menarik tas Nasya. "Enak aja main kabur, cuci wc sekolah dulu."

"Eh, Curug! Gue kan teman sekelas elo, kalo Lo lupa." Nasya mengingatkan agar Revan melepasnya dari hukuman.

"Lo pikir gue peduli? Cuci WC sekarang!" Revan tidak akan goyah sekali pun Nasya orang yang dia sukai sejak pertama kali masuk. Dia harus profesional sebagai waketos, bukan?

Nasya berbalik memandangi wajah Revan. Tatapan dalam dia pancarkan untuk pria di depannya. Setelah di tatap Nasya memberi senyum semanis permen kapas.

"Lo ganteng, deh," ujar Nasya tiba-tiba tak lupa dengan memberinya kedipan manja.

Pertahanan Revan runtuh ketika Nasya memujinya bahkan menggodanya terang-terangan. Dia tersipu malu wajahnya sudah memerah bak kepiting rebus. Tak ingin Nasya tau jika Revan salting dia langsung menundukkan pandangannya saat menyadari jika kedua sisi wajahnya memanas.

"Ihh, Lo salting, 'ya?" Nasya tersenyum menggoda menelesik wajah Revan. Sudah tau jika pria itu salting yang Nasya dengan jahilnya malah bertanya.

"Pipi Lo merah! Lo suka, 'kan sama gue! Hayo ngaku Lo!" Nasya mengintimidasi Revan tapi pria itu malah menyembunyikan wajahnya seolah tidak mau ketahuan. Bukan Nasya jika tidak memaksa. Gadis itu memegang sisi wajah Revan memaksanya untuk bersitatap.

"Lo suk...."

"Nggak usah ke-pd-an! Muka gue merah juga karna kepanasan! Bukan karna salting!" Revan masih mengelak yang jelas-jelas dia salting brutal dengan apa yang Nasya ucapkan.

"Eh, kambing congek! Lo pikir gue sebodoh itu sampai nggak tau kalo di sekitar gue ada yang suka sama gue? Bahkan dari kejauhan aja gue tau kalo elo sering liatin gue!!" Sekarang giliran Nasya yang ngegas.

Nasya itu sangat peka tentang sekitarnya. Dia bukan gadis bodoh yang tidak sadar jika seseorang sering mencuri pandang ke arahnya. Nasya bahkan sangat tau gelagat seseorang yang menyukainya bahkan dari tatapannya. Dan orang seperti Revan sudah sering Nasya temui di SMP.

"Ngaku nggak lo, hahh!! Atau gue bilang ke guru kalo elo sering ngintili gue dari belakang dan akan melakukan pelecehan." Nasya mengancamnya agar Revan mengakui isi hatinya.

Lagian tinggal bilang 'iya' apa susahnya?. Pikir Nasya.

Revan menyentak kasar tangan Nasya yang ada di sjsis wajahnya. "Pelecehan? Gue bahkan nggak ada ngapa-ngapain elo, fitnah lo." Revan tidak terima jika di tuduh hal yang bahkan tidak dia lakukan.

"Halah!! Tinggal jujur sama gue kalo elo itu sebenarnya suka sama gue tapi nggak berani deketin gue. Ya, 'kan?" Nasya itu seperti peramal saja mengetahui isi hati orang bahkan gerak-gerik seseorang.

Karena malu jika Nasya terus meneriakinya, akhirnya Revan mengatakan yang sejujurnya.

"Iya, iya, gue suka sama Lo! Puas?!" teriak Revan tanpa sadar.

"Kok ngegas? Santai kali, bro." Nasya menyadarkan Revan, pria itu langsung mengatup mulutnya rapat-rapat.

"By the way, karna lo udah ngutarakan cinta lo  ke gue rasanya nggak adil kalo lo nggak ngasih gue hadiah," ucap Nasya besar kepala karena tau pria di depannya mencintainya itu ide bagus untuk kesejahteraan hidupnya. Manfaatin ah. Batin Nasya.

"Lo mau apa? Coklat?  Silverqueen? Jajan? Atau boneka? Lo mau apa bakalan gue kasih." Revan memberikan Nasya opsi yang tidak menguntungkan Nasya. Gadis itu menggeleng, pertanda tidak menyukai hadiahnya.

"Anything?" Tanya Nasya.

"Yes, anything." Nasya tersenyum manis mendengarnya.

"Gue nggak butuh makanan atau boneka, gue juga nggak bakal minta duit Lo. Keinginan gue cuma satu."

"Gue cuma mau Lo bebasin gue dari hukuman itu aja. Setelahnya gue nggak bakal minta hal lain kayak yang Lo bilang, karna gue nggak tertarik." setelah itu Nasya menyeret langkahnya untuk segera pergi dari hadapan Revan. Pria itu masih terdiam seolah mencerna ucapan Nasya.

"Jadi, kita pacaran?" Tanya Revan sebelum Nasya benar-benar pergi.

"Maybe, selagi Lo bebasin gue dari hukuman gue anggap iya."

"Sialan! Lo ngapain nguping?!" Revan menarik kerah leher Farel. Giginya bergemelatuk marah dengan pandangan menusuk.

"Santai bro, keep calem. Kayaknya sejauh ini gue tau masalahnya. Lo nggak pengen Nasya pindah haluan 'kan?" Tio seolah tertawa mengejek ke arah Revan.

Bugh!

Revan gelap mata. Api amarahnya sudah berkobar sejak mereka mulai menyinggung masa lalunya bersama Nasya. Sialnya lagi pria sialan itu mengejeknya.

"Heh! Asal Lo tau, 'ya Nasya, terima gue juga karna cinta! Bukan karna bebas dari hukuman!" Teriak Revan 

"Udah, bro bisa mati anak orang Lo buat." Farel menjadi orang pertama yang menengahi Revan yang di Landa api amarah.

"Lo juga!! Apa mata Lo liat-liat gue?!" Marahnya saat Alanza menyinggung senyumnya.

Revan hilang kendali atas dirinya sendiri. Bahkan jika kedua tangannya tidak di tahan oleh temannya maka wajah angkuh Alanza sudah menjadi sasaran empuk untuknya.

Alanza menaikkan satu alisnya. "Lo sehat?"

Dua kata yang terlontar dari bibir tipis Alanza berhasil membakar bara api di dadanya. Keinginannya untuk mengajar Alanza meningkat drastis. Tangannya di lepas paksa dari cekalan kedua temannya.

"Ups, sorry." Alanza seakan mengulangi kalimat yang sempat terlontar di bibir Revan.

"Maksud lo apa?!!" Revan mencengkeram kerah baju Alanza.

"Yang nyari ribut duluan siapa? Kok jadi elo yang emosi?"

"Ya, maksud Lo apaan ungkit-ungkit masa lalu gue?!! Mau itu pacar gue atau di di manfaatin, 'ya itu urusan gue!"

Suasana kian memanas para siswa-siswi berlarian menuju lapangan. Ingin menyaksikan perkelahian antara ketua OSIS dan kapten basket mereka.

"Gue nggak ada ungkit-ungkit masa lalu elo, 'ya." Manik elang itu kain menajam. Melepas paksa tangan Revan dari cengkeramannya.

"Lo kalo kalah saing, ya kalah saing aja nggak usah pake acara mau tanding basket, basi!!"

Bugh!

"Siapa juga yang kalah saing. Lo itu perebut!"

Bogeman mentah sukses menyapa pipi tirus Alanza. Seringai iblis nya kian terbit ketika Revan berhasil membangunkan sisi lain di diri Alanza.

"Apa, coba ulangi perebut?" Alanza mencengkeram kerah leher Revan. Manik elang itu berhasil menusuk pupil hazelt Revan. "Gue nggak pernah ada niatan buat ngerebut cewek Lo!"

Bugh!

Bugh!

Cengkraman itu lepas bersamaan dengan terlemparnya badan Revan di lantai basket. Kepala pria itu hampir mengenai kaki para siswa yang mengepung mereka. Sontak saja para murid yang melihatnya kian memundur kebelakang.

"Udah, bro lo masuk ruang BK kalo dia sampai pingsan!" Farel mencoba menahan Alanza agar pria itu tidak memukul Revan. Tatapan elang itu kian berbalik ke arahnya.

"Mau dia pingsan atau pun enggak, tetap aja bakal di panggil. Jadi lebih baik hajar aja." Alanza menyeret kerah Revan secara paksa.

Bugh!

Bugh!

Suasana kian memanas Revan sudah hampir mati terkapar karma Bogeman dari Alanza. "Lo!"

"Kalo sampai gue denger kata perebut dari mulut sialan ini gue pastiin nyawa Lo abis di tang......"

"Ada apa ini ribut-ribut?!!" Seorang pria dengan rambut botak dan perut buncitnya berhasil menghentikan ucapan dan aksi Alanza.

"Heh!! Kamu ini, 'kan ketua OSIS ngapain kamu mukulin dia?!!" Teriak pak Memet menengahi di tengah-tengah kegaduhan. Alanza melempar tubuh Revan secara kasar ke bawah.

Dengan raut wajah marahnya yang begitu kentara  menatap Revan tajam. Revan  berada tepat di belakang pak Memet. Tentu saja guru berbadan gemuk itu langsung memberinya tatapan yang lebih tajam lagi.

"Kalian semua yang menjadi saksi atas kegaduhan mereka, segera ikut ke ruang BK!!"

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!