{⁶} Rahayu Mahendra

'Ingin berhenti mencintaimu, namun aku tidak memiliki alasan untuk melupakan sosok mu.'

°

°

°

°

"Hehh! Minggir!" Usir seorang gadis berpakaian ketat bersama kedua temannya pada gadis culun itu. Yang di usir pun segera pergi, tak mau mencari masalah dengannya.

"Eh--- sini dulu." Gadis itu menarik lengan cewek culun itu.

"Lo pesenin dulu kita bakso tiga porsi sama lemon tea. Buruan!!" Gadis itu lalu mendorong kuat tangan si cewek culun itu.

Gadis itu adalah Ayu, Rahayu Mahendra. Queen bullying yang menyukai kekerasan. Ayu paling membenci yang namanya cewek culun baginya cewek culun hanya sampah sekolah yang harus di basmi.

"Lo pikir lo siapa!?" Seru gadis culun itu seakan tak takut. Matanya dengan berani menatap Ayu tajam.

"Ouh, si culun mulai munculin taringnya, 'ya?!" Ayu paling membenci si culun yang memberontak. Baginya gadis culun harus menuruti semua permintaannya bukan malah memberontak apa lagi memandangnya tajam.

Ayu menarik tangannya untuk menyentuh gelas berisi orange juice dari meja tadi. Gadis itu langsung membasahi wajah si culun itu dengan orange juice di genggamannya.

"Gue? Gue adalah ratu bullying yang membenci cewek culun!" 

Cewek culun itu menunduk pandangannya. Dia pikir jika melawan maka tidak akan mendapatkan bully-an, tapi nyatanya sama saja. Bahkan lebih parahnya lagi kini wajahnya berhasil di maskeri oleh orange juice miliknya.

"Masih belum mau juga tuh, Yu," ujar Sarah mengode Ayu jika cewek culun itu masih diam.

Ayu yang emosi karna harus menahan lapar kian menarik rambut kepang cewek itu. "heh! Masih belum nurut, huh!?!"

Cewek itu meringis menahan sakitnya jambakan Ayu. "Iy-iy-iya aku pesenin."

"Nah gitu dong, 'kan nggak gue aniaya." Ayu melepas kasar tangannya dengan rambut cewek itu..

"Buruan!!!" Ayu mendudukkan bokongnya tepat di bangkunya.

"Jangan marah-marah dong Ayu, nanti cantiknya ilang," ujar Renna memamerkan senyumnya.

"Lagian kalo si cupu itu nggak berontak gue juga nggak akan marah-marah." Ayu membetulkan anakan rambutnya yang berantakan. Cewek culun itu berhasil membuat emosi.

"Sabar," ujar Sarah berusaha menenangkan Ayu.

"Heh! Lo kalo cuma mau bilang sabar lebih baik diem, deh."

Ayu paling benci kata sabar. Karna baginya kata itu hanya kalimat ejekan yang semakin membuatnya emosi.

"By the way, kayak mana sama dua preman kemarin?"

"Masa, 'iya satunya mati Cok," sahut Ayu tak percaya. Gadis itu baru dapat kabarnya tadi pagi.

"Hah?!" Beo Sarah dan Renna bersamaan.

"Yang bener aja! Masa, 'iya tuh cewek kuat sampe bisa bunuh satu preman," ucap Renna tidak percaya. Tangannya terangkat mengambil saos di depan Ayu.

"Jadi yang satunya lagi?"

"Yang satunya lagi kabur, karna dia lah gue tau kalo preman satunya mati." Ayu menyeruput kuah bakso di depannya. "Katanya, sih di cekek sama cowok."

"Siapa?" Tanya Renna penasaran.

"Itu, lah gue juga nggak tau."

************

Sepasang sneaker putih bercorak ungu tengah berlari kecil menuju lapangan basket. Tepat di sana pupil coklat itu melihat pujaannya sedang bermain basket. Ayu tersenyum manis melihat tambatan hatinya mendribble bola dan berlari ke arah ring basket.

"Rambutnya tuing-tuing," ujarnya dengan senyuman yang sejak tadi membingkai wajahnya. Dengan tangan yang memuat kuat sebuah botol berisikan air mineral.

Pria itu berhenti bermain basket setelah berhasil mencetak point. kakinya berjalan tegas menuju pinggir lapangan Tepat di mana temannya berada. Dia mengesat peluh di keningnya dan di sisis wajahnya.

"Dia ganteng banget." Ayu gemas sendiri melihat wajah tampan sang tambatan hati. Gadis itu berlarian kecil menghampiri Alanza yang terduduk di sisi lapangan.

Sedangkan di tempat lain, tepatnya di tengah lapangan ke empat cowok yang beristirahat setelah main basket kini berbincang ria.

"Ketua basketnya mana sih, katanya mau ngajak tanding." Celetuk Akbar berdecak sebal ketika kembali mengingat bagaimana ketua basket sok berkuasa itu menantang mereka.

"Mereka tuh, cuma iri sama kita. Kita, 'kan kalo main basket selalu rame yang liat sedangkan mereka sedikit yang ngeliat” ucap Tio berbangga hati. Seolah dialah yang paling tampan di sini.

"Eh, Kumpret! Muka modelan opet nggak belagu Lo." Farel melempar handuk kecilnya kearah Tio yang berlagak layaknya pangeran.

"Apaan, sih?! Sirik bener liat orang ganteng." Tatapan sinis Tio berikan pada Farel.

"Pede bener anaknya, Samsul." ejek Farel mulai main nama bapak.

"Sirik bener anaknya, Udin," balas Tio.

"Ngajak tandingnya kapan?" tanya Alanza di sela-sela keduanya bertengkar.

Akhir gerak juga tuh mulut. Batin Akhbar.

"Tadi, waktu Lo ngambil minum di loker."

"Terus kenapa, belum datang?"

"Aelah, palingan juga nggak berani," sahut Tio mengingat betul bagaimana tabiat ketua basket itu.

Bugh!

"Sok iye, Lo bisa tanding ngelawan dia." Farel memukul tengkuk Tio dengan botol di genggamannya. Sedari tadi Farel jengah memandang dan mendengarkan ocehan un-faedah dari Tio.

"Sialan lo Din, sini Lo!" Tio mengejar Farel yang berlarian ke tengah lapangan. Pria itu menghindari amukan massal dari Tio. Perlu diingat di ketahui  jika Tio sudah mengamuk maka batu pun ikut terbang asalkan ada yang di jadikan bahan balas dendamnya.

"Kapok Lo Rel, nyari masalah sih sama kakek lampir." Akbar menertawakan Farel yang berlari mengelilingi luasnya lapangan. Alanza menatap keduanya dengan senyum tipis. Sangking tipisnya bahkan hanya makhluk halus yang bisa menyadarinya.

Tiba-tiba sebuah suara memasuki gendang telinga Alanza.

"Al, lo haus, 'kan nih gue bawain minum." Ayu menyodorkan botol air mineral di depan Alanza. Sontak saja kening pria itu tertarik ke atas.

"Gue udah punya." Alanza memamerkan botol mineral di sampingnya pada Ayu.

Akhbar menoleh kebelakang lalu berceletuk. "Terima aja kali Al, kasian dari tahun lalu selalu lo tolak."

"Yaudah, buat lo aja kalo gitu." Alanza menarik botol di tangan Ayu dan melemparnya di depan Akbar.

Akbar yang belum siap pun hampir jatuh karena menangkap botol mineral itu.

Kaki jenjang Alanza berdiri tegas meninggalkan lapangan basket. Jengah jika terus melihat wajah menyebalkan Ayu. Dia masih dendam dengan niat busuk gadis itu kemarin.

Sudah sejak dulu gadis itu menyukainya dan sejak dulu pun Alanza sudah menolak semua pemberian Ayu. Tapi sepertinya Ayu tidak mengerti apa itu penolakan secara halus. Dia bahkan tidak jera sekalinya Alanza memberinya tatapan se tajam parang yang baru di asah.  Seperti Saat ini contohnya.

Ayu saat itu juga mencekam pergelangan tangan Alanza. Dia tidak mau jika Alanza pergi begitu saja darinya. "Al, lo mau kemana?"

Cekalan Itu berhasil menghentikan langkah Alanza. Pria itu dengan sorot mata tajam seakan ingin menguliti daging Ayu.

"Al, bekal tadi pagi kamu makan?" Tanyanya dengan nada lembut tak lupa senyuman manis yang lebih terlihat seperti jalang yang ada di club bagi Alanza.

"Lepas!" suara datar nan dingin adalah khas Alanza ketika di tahan Ayu.

"Al, gue kurang apa di mata Lo? Gue kurang cantik? Gue bahkan di sebut sebagai primadona di sekolah. Apa karena Gue kurang pinter? Gue udah dapet rangking 2 berturut-turut selama dua tahun. Gue kurang seksi? Badan gue bahkan sangat ideal untuk cewek. Apa kurangnya gue Al? Biar gue bisa merubahnya. Apa karena gue nggak bisa main basket?" Ayu bak orang gila yang seakan bertanya lalu menjawab pertanyaannya sendiri.

"Sinting!" Sarkasnya. "Le.pas!" Ulang Alanza penuh penekanan.

"Nggak! Gue nggak bakalan lepas sebelum lo jawab pertanyaan gue!" Ayu menahan tangan Alanza agar pria itu tidak pergi.

Alanza menghela napas panjang. "Lo nggak ada kurangnya."

"Bohong! Kalo gitu kenapa lo selalu nolak gue?" Ayu masih tidak percaya. Dia yakin jika dirinya masih ada yang kurang Makanya Alanza tidak mencintainya.

"Ouh, gue tau lo pasti seleranya sama cewek basket."

Ayu melepas tangan Alanza Kakinya berlari mengambil bola basket di pinggir lapangan. Alanza tidak peduli apa yang akan gadis itu lakukan dia bosan melihat tingkah kekanak-kanakan Ayu. Alanza menggerakkan kakinya untuk segera pergi sebelum sebuah suara mengalihkannya.

"Al! Gue bakal buktiin ke elo kalo gue jago main basket!" Teriak nya yang malah di hadiahi decakan sinis.

Ayu mendribble bola, berlari dengan pelan menuju ring basket yang dua kali lipat lebih tinggi darinya. Ayu masih takut-takut untuk mengarahkan bolanya ke ring basket. Lantaran tinggi badannya yang sangat pendek.

Sekilas matanya melihat dua orang anak gadis yang sedang bercengkrama menatap ke arahnya. Ide cemerlang seketika muncul di otak Ayu. Sedetik kemudian seringai lebar muncul di bibirnya. Ayu akan melakukannya dengan sangat sengaja. gadis itu langsung memplesetkan bolanya ke arah Nasya bukan ke ring basket.

DUUK!

Yap, bola basket itu mendarat sempurna di atas kepala Nasya. Senyum manis terbit di bibirnya kala gadis lemah itu terjatuh tak berdaya di tengah lapangan. Semua orang yang ada di sana mengerumuni gadis itu.

"Malang sekali nasib mu." Tawanya dalam hati.

Tapi satu hal yang sukses membuat senyum manisnya luntur dalam sekejap. Alanza. Pria itu berlari dengan langkah cepat menuju ke arah Nasya. Raut wajah khawatir begitu kentara di wajah pria itu.

Ayu mencengkeram erat telapak tangannya, giginya bergemelatuk marah. Manik coklat itu memncarkan kobaran api yang siap melahap habis lahan kering.

"Sial! Nggak anak nggak mama sama aja. Sama-sama jalang!" desis nya dengan sorot penuh kebencian.

Mata coklat itu menatap benci kala seseorang yang dia cintai mengangkat tubuh gadis yang dia benci. Alanza bahkan dengan raut marah menatap ke arahnya.

"sialan!"

***

* Rahayu Mahendra

Ayu : mang enak kenal bola..😏

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!