...Jangan terlalu berekspektasi terlalu tinggi pada seseorang yang bahkan tidak mencintai mu....
.......
.......
.......
.......
Pagi ini kelas XI MIPA 3 sedang jamkos. Hal itu tentu saja membuat para penghuni kelas bersorak kegirangan. Ada yang berjoget tiktok ada juga yang bermain game dan ada yang sedang kejar-kejaran. Seperti halnya Nasya yang saat ini mengejar Revan--- pria serek yang selalu menggangu Nasya.
"Revaaaaaaan! Hapus potonya!"
"Kalo gue gak mau gimana, dong?" ejek pria yang di ketahui bernama Revan.
"Lo resek banget sih, hapuss lho, Revaaaaaan!"
Tangan lentik Nasya mencoba meraih benda pipih di tangan Revan. seakan mengejek Nasya, tubuh gadis itu yang lebih pendek di banding Revan yang jangkung.
"Coba aja ambil kalo lo bisa," ejek Revan menjinjitkan kakinya agar Nasya tidak bisa menggapai ponselnya.
"Makanya tumbuh tuh ke atas bukan ke samping! dasar pendek," seru Revan dengan nada mengejek yang begitu kentara.
Walaupun begitu Nasya tau itu hanya candaan semata yang jelas tidak benar. Karena pada dasarnya Nasya itu gadis dengan kaki jenjang yang tingginya mencapai 167 cm dan berat badan 60. Badan yang sangat ideal untuk gadis seumurannya. Jadi ucapan Revan hanyalah bualan semata yang jauh dari kata fakta.
"Heh! Sementang badan Lo tinggi kek tiang listrik Lo gak usah ngejek-ngejek gue!" Nasya tidak lagi merebut benda pipih milik Revan. Gadis itu berkacak pinggang dengan raut wajah sebal.
"Lo kira badan Lo itu bagus? Badan cungkring nggak berotot aja belagu Lo!" cetus Nasya dengan nada tak santai.
"Dih, ketimbang lo pendek udah gitu gendut lagi itu ikan buntal apa badan?" ucap Revan berhasil membuat seisi kelas tertawa terbahak-bahak.
Nasya menggeram. Gadis itu menatap nyalang Revan. Giginya bergemelatuk dengan tangan terkepal kuat.
"Mata lo aja yang katarak! badan spek Ariel Tatum lo bilang ikan buntal buta lo?!" sewot Nasya. Dengan sedikit memamerkan bokongnya.
"Lho lho lho gak bahaya ta?" kelakar Revan kembali membuat seisi kelas tertawa.
"Sadar neng, sadar! Kalo berekspektasi jangan berlebihan!" Kekeh Revan.
"Awsh sakit, Na" Revan meringis kesakitan saat Nasya menjewer telinga pria itu.
"Rasain! Siapa suruh Lo menghina gue, memangnya situ sempurna?"
"Gak ada yang sempurna Na, Yang sempurna itu cinta gue ke elo."
"Kyaaa, ampun Na, ampoooon." Revan menyatukan kedua tangannya kedepan, memohon ampun pada Nasya agar melepas jewerannya.
"Gak usah ngegombal Lo, gombalan Lo itu basi!"
"Iya deh gue gak nge gombalin Lo lagi, tapi Lo lepas dulu nih."
"Hapus dulu Poto gue tadi baru gue lepasin," Ancam Nasya semakin menguatkan jewerannya.
"Iya, iya ntar gue apus tapi Lo lepas dulu ini sakit, bjir."
"Siniin hp Lo." Nasya menengadahkan tangannya ke depan Revan.
Revan merengut sebal. Mau tak mau Revan pun terpaksa memberi benda pipih miliknya pada Nasya.
"Nahh gitu kek dari tadi, 'lan gue gak bakalan jewer elo." Nasya melepas jewerannya dan beralih fokus pada handphone Revan. Mencari sumber-sumber aib yang ada pada benda tersebut.
Naasnya belum sempat ia menghapus semua poto aibnya, Revan lebih dulu menggambil benda tersebut dan berlari keluar kelas agar Nasya tidak bisa mengejarnya lagi.
Nasya yang kecolongan pun kian mengejar Revan yang saat ini berada di luar kelas.
"Revaaaaan, berhenti Lo!" Nasya mengejar Revan yang berlari menuruni anakan tangga.
Nasya mencoba mengejarnya dengan berhati-hati agar dia tidak terjatuh. Kan berabe kalau dirinya sampai terjatuh dari tangga.
Saat Nasya sudah selesai menuruni anakan tangga dan akan berbelok ke kanan, tiba-tiba saja ada seseorang di depannya yang menghalangi jalannya.
Brak!
"Awsh, kalau jalan tuh pakai mata dong!" Nasya meringis ketika keningnya bertambrakan dengan dada bidang seseorang.
"Dimana-mana jalan tuh pakai kaki!" Sindir pria itu.
Nasya mendongakkan kepalanya menatap siapa orang yang menabraknya.
"Lo lagi, Lo lagi. Eneg gue liat muka sok cool lo itu." Nasya menyilang tangannya di depan perutnya.
"Lo kira Lo doang yang eneg? Gue juga!" ujarnya lalu pergi dari sana.
"Dih! Apaan dah. Sinting kali." Monolog nya pada diri sendiri.
°°°
Bel pulang sekolah sudah berbunyi sejak 30 menit yang lalu. Tapi seorang gadis dengan berbalut seragam SMA masih saja setia duduk di halte. Sepertinya sedang menunggu seseorang.
"Lingga, mana sih? Dari tadi di tungguin nggak datang-datang."
Gadis itu menghela napas berat, Nasya menghidupkan benda pipih berloga Apple tergigit. Membuka aplikasi chat dengan jemarinya yang berkenala mengetik nama seseorang. Berniat akan mendial nomor itu.
Lingga tunangan
Nasya beralih menekan ikon call pada namor itu. Sambungan berdering tetapi tidak tiangkat oleh pemiliknya, malahan panggilannya di matikan oleh pria itu.
"Lo kemana sih, Ga?" Nasya berdecak sebal, Namun tak urung ia kembali mendial nomor itu. Hampir 10 kali Nasya mendial nomor Lingga. Dan 10 kali juga dia menolak panggilan Nasya.
"Angkat dong, Ga." Nasya kembali mendial nomor itu dengan penuh harap. Dan kembali di tolak.
"Pliiss kali ini aja Lo angkat Ga." maniknya memandang langit yang kian menghitam. Pertanda akan segera turun hujan. Angin kencang nan dingin berhasil menyapa kulit Nasya.
"Sial! Lo jahat banget sih, Ga." benda pipih itu mati akibat kehabisan baterai.
"Lo janji bakal anter gue tapi nyatanya Lo bohong sama gue!" Decakan sebal keluar dari bibirnya.
Nasya menatap lingkungan sekolah yang kini telah sepi bahkan satpam sudah pulang karna sebentar lagi akan turun hujan.
"Cowok sialan!" butir bening kini jatuh membasahi pipi bulatnya. Tangannya mencengkram erat benda pipih di genggamannya.
Nasya mengeder pandangan ke atas berharap bulir bening itu tidak turun. Ia terlalu lemah jika harus menangisi pria brengsek seperti Lingga.
Selalu saja. jika sudah berjanji pasti Lingga akan mengingkarinya. Sudah bosan tapi masih betah bertahan. Karna apa? Karna terpaksa. Semua hal yang dia lakukan hanya semata agar agar ayahnya tidak menghajar dirinya lagi. Karna semua itu akan menguntungkan ayahnya jika Lingga dan Nasya bertunangan.
Liquid bening itu turun tanpa di minta. Andai saja Nasya tidak harus bertunangan dengan Lingga maka dia tidak akan terjebak di situasi macam ini. Situasi yang begitu tersiksa dan Nasya benci itu.
Air hujan yang turun kian semakin deras sampai jalan di ujung sana memutih akibat derasnya hujan yang turun dari langit.
Langkah kaki Nasya kian melambat dia sudah terlalu lama berjalan di bawah guyuran air hujan. Sehingga tubuhnya hampir menggigil kedinginan. Mau neduh tidak mungkin berteduh di bawah pohon beringin.
"Neduh di sana sama aja nyari mati." Nasya menghela napasnya berat.
Gendang pendengaran Nasya perlahan mendengar suara deru mobil yang mendekat ke arahnya. Nasya tidak memperdulikan siapa pemilik mobil itu baginya mana akan ada yang bakal mengantarnya dengan suka rela ke rumah dalam keadaan yang sedang basah kuyup.
Mobil sport berwarna merah berhenti tepat di sampingnya. Nasya mengalihkan atensinya ke arah mobil itu dia sangat tahu siapa pemiliknya.
Pemilik mobil membuka mobilnya, keluar dengan tangan yang memegangi payung hitam. Pria itu sedikit berlari menghampiri Nasya yang sudah menggigil kedinginan.
Nasya menatap datar ke arah pria di depannya. tidak ada raut bahagia mau pun marah di wajahnya. Bibir pucatnya seakan enggan untuk sekedar membuka.
"Jangan hujan-hujanan nanti sakit." tangan kekarnya memayungi tubuh Nasya. Ia menggenggam erat tangan Nasya yang mengkriput seakan memberi kehangatan pada Nasya.
Lingga membawa Nasya ke dalam dekapannya. Dada lebar Lingga mampu menghangatkan tubuh Nasya yang kedinginan. Sesaat Nasya merasakan kehangatan di dalam dekapan Lingga.
"Jangan bodoh! Lo punya hp seharusnya mesen taksi bukan main hujan di sini," cetus Lingga sangat bertolak belakang dengan perlakuannya.
JDERR!
Baru saja Nasya terbang dengan perlakuan manis Lingga. Tapi sedetik langsung di patahkan oleh kenyataan. Nasya terlalu berharap padanya padahal dia tahu jika Lingga tidak benar-benar tulus.
"Masuk! Nyusain aja Lo!" Lingga menyeret Nasya seperti kambing.
***
* Revano Mahendra
Revan kalo nggak di mode nyebelin ganteng.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 28 Episodes
Comments