..."Kejar dia kalo emang Lo cinta." ...
...•...
...•...
...•...
...•...
"Yah kita di hukum, Nas." Revan menghela napas berat. Dia mengalihkan perhatiannya ke samping di mana Nasya berdiri.
"Padahal gue udah ngebut buat cepat sampai Nas, tapi malah masih terlambat."
Nas? Tunggu dulu dia manggil siapa? Batin Nasya seraya menolehkan pandangannya ke samping.
Mendapati keterdiaaman Nasya Revan jadi tak enak hati. Gadis bawel ini biasanya akan terus mengomel entah apalah itu yang jelas dia akan menggerutu tidak senang karna di hukum. Dan Revan menyukai gerutuan Nasya apa lagi saat bibir tebal Nasya bergerak dengan cepat menyumpah serapahi rivalnya. Revan menyukai itu dan Revan benci ketika gadis itu bersikap cool seperti ini. Rasanya seperti melihat kucing yang bisa berenang ke dasar laut. Impossible.
"Lo kok diam aja sih, Nas!?" Revan mengarah pandangannya ke samping. Dan saat itulah mata mereka beradu tatap.
"Nas? Lo manggil siapa?"
"Nas, Nasya," ujar Revan memberi tahu.
Perkataan Revan sukses mendapat tatapan sinis dari gadis itu. "Lo kata gue nasgor?!"
"Dih! Bukan nasgor kali Nas, gue manggil Nas, karena itu kan nama depan Lo. Nas, Nasya."
"Aduh! udah deh nyet, jangan bikin gue tambah emosi." Tangan Nasya yang berada di ekor matanya kian enyeka keringat di peluh nya.
"Nyet? Sejak kapan jadi, Nyet?" Dagu Revan berkerut ketika menyadari jika panggilannya berubah drastis.
"Iya, monyet." ujar Nasya santai dengan senyum tak berdosanya sebelum sepasang kekasih kaki berbalut sepatu mengejarnya.
"Bang*e Lo, Nas." Revan mengejar Nasya yang kini tengah berlari mengelilingi lapangan.
"Siapa, yang suruh Lo ganti-ganti nama gue," seru Nasya sembari berlari dengan langkah cepat. "Lo pikir emak gue buat nama nggak potong kambing?"
"Elo yang ganti-ganti nama gue! Jelas-jelas Revan, Lo ganti jadi monyet," teriak Revan mencoba menangkap Nasya yang begitu lincah.
"Bodo amat! Biasanya Lo juga manggil gue Na, kok sekarang malah, Nas."
"Itukan memang nama depan Lo."
Tanpa sadar mereka sudah mengelilingi lapangan lebih dari 10 kali. Ternyata berlari mengelilingi lapangan sebanyak 10 kali akan jauh lebih ringan jika di kejar-kejar Revan di banding sendirian. Pikir Nasya.
"Tetap aja gue nggak terima!" Nasya berhenti berlari tangannya menopang pada lutut dengan napas yang terengah-engah.
Revan menghampiri Nasya yang kelelahan. Pria itu mengatur napasnya yang tidak beraturan. Baju keduanya sudah di banjiri lautan asin yang keluar dari pori-pori.
"Udah..... Hah.... Hah.... gue capek." Nasya mengangkat tangannya ke arah Revan dengan napas yang tersengal-sengal.
Karna tidak tahan lagi menopang berat badannya, Nasya mendudukkan pantatnya di pinggir lapangan. Kakinya sudah tidak kuat lagi untuk berdiri. Rasa kram itu tiba-tiba menjalar di betisnya.
"Jarang olahraga sih, Lo," sindir Revan terang-terangan yang kini di buahi tatapan tajam dari Nasya.
"Lo pikir gue pemalas?!"
Revan pun membalasnya dengan cengiran tak berdosa.
"Mending Lo beliin gue minum deh." Nasya menahan tubuh Revan yang hendak duduk di sampingnya. Pria itu berdecak kesal, namun tak urung menuruti perintah Nasya.
"Demi lo Na, demi lo gue rela di apain aja," teriak Revan dengan mata melirik ke lorong kelas.
"Bacot! Udah Sono buruan!!" Nasya mengusir Revan agar pria itu cepat membelikannya air. Kerongkongannya sudah kering seperti lahan tandus.
Nasya menunggu kehadiran Revan dengan kaki terselonjor-kan. "hah, ternyata keliling lapangan sebanyak 10 kali sama Revan jauh lebih cepat di banding sendirian."
semilir angin menerpa halus sisi wajah Nasya. hal itu membuat anakan rambutnya berterbangan menempel di pipi Nasya. Bosan menunggu, akhirnya bibir mungil Nasya bersenandung ria menyanyikan sebuah lagu favoritnya.
I am wide awake
thunder rumbling
Castles crumbling
I am trying to hold on
Tiba-tiba sebuah benda dingin menempel tepat di sisi wajahnya. Pandangan Nasya teralihkan pada seorang cowok yang tengah tersenyum manis. Bahkan manisnya mengalahkan gula batu.
Sontak tentu saja itu langsung di sambar cepat oleh Nasya. "Kyaaa, makasih Nyet."
Dengan gerakan cepat gadis itu membuka tutup botol yang masih di segel dan menenggaknya. Nasya meneguknya sampai separuh Menandakan begitu hausnya gadis itu.
"Ahh," desahnya setelah selesai meminum air mineral tersebut. Itu adalah kebiasaan Nasya ketika selesai minum.
"Hmm, kayak ada manis-manisnya" ucapnya dengan kekeh ringan di depan Revan.
Revan yang menyaksikan kekehan Nasya pun ikut tertawa. Mata biru laut Nasya akan tenggelam dengan bulat sabit ketika dia tertawa.
ya Allah!! cantik banget jodoh gue!! teriak Revan dalam hati. pria itu menggigit pipi bagian dalamnya karna menahan gemas yang tak tertahan. ingin rasanya dia mencuri Nasya dan menjadikan gadis itu istrinya di detik itu juga.
tapi apa Nasya mau?
Tiba-tiba sebuah ide muncul di benak Revan.
"Masa, sih ada manis-manisnya, Mana sini coba gue cicip." Tanpa aba-aba pria itu langsung merampas air mineral dari tangan Nasya. Revan membuka tutup botol. Meneguk air mineral itu sampai tandas.
Nasya yang melihat Revano meminum di tempat bekas bibirnya hanya bisa melongo kaget. Jakun yang menonjol di lehernya naik turun berirama dengan suara air yang masuk ke kerongkongannya.
Nasya meneguk kasar air ludahnya. Menurut Nasya, Revan sangat menggoda imannya saat minum.
Oke, Nasya itu gadis normal yang memiliki hati yang jelas tidak di gembok. Akan sangat mudah baginya untuk jatuh hati jika terus menerus mendapati pria modelan Revan.
Setelah meminumnya sampai habis Revan beradu tatap dengan Nasya. "Sebenarnya nggak ada manisnya, tapi kalo liat wajah lo jadi manis."
"Nggak usah ngegombal! Gombalan lo udah basi!!"
"Tapi cinta gue ke elo farmentasi!" Teriak Revan dengan sengaja.
iya, bahkan sangat sengaja.
"Oh, ya?" Bulu di keningnya terangkat satu. "Gue hanya butuh pembuktian bukan bualan!"
"Iya, Nanti gue buktiin, ya," ucap Revan seraya mencuri pandang ke koridor sekolah lewat ekor matanya.
Dalam hati dia tertawa lebar. 'kalah saing lo, 'kan.'
"apa perlu lo gue nikahin detik ini juga, biar lo percaya?"
Nasya merasa Dejavu akan kalimat Revan. tapi, entah di mana dia mendengarnya.
Bugh!
tanpa persetujuan tangan Nasya terangkat memukul kuat dada bidang Revan. "Ngaco mulu Lo kalo ngomong."
"Nggak apa-apa ngaco yang penting nggak naif," ucapnya seolah menyindir seseorang.
Tiba-tiba Nasya teringat sesuatu. "Van, lo tadi minumnya tepat di bekas gue?"
"Bekas apa, sayang?" tanya Revan dengan raut menyebalkan.
"Iih! Apaan, sih sayang-sayang!" Nasya memukul kuat dada dan lengan Revan. "diem nggak Lo!?" Rasa kesalnya semakin bertambah saat pria itu menertawakannya kuat.
"Iya, sengaja biar kita ciuman secara nggak langsung." Revan memamerkan senyum indahnya.
"Lo kok......"
"Manis."
Manik biru laut itu membola sempurna. Apa katanya manis? Sisi wajah Nasya bersemburat merah. Dia salting! Tentu saja. Siapa yang bisa menolak pesona seorang Revan? Dia itu pria tampan dengan senyum menawannya.
"Tapi, masih manisan elo kok, Na."
"Kita ciuman secara nggak langsung, Revan!"
Senyum Revan semakin mengambang. Bukan Revan tidak tahu tapi itulah idenya. Bagaimana? Cemerlang bukan.
"Lo nggak terima ciumannya dari botol? Atau mau gue cium sampe bengkak?" Penuturan Revan sukses membuat Nasya ingin berteriak.
"REVAN!!!" Nasya memukuli dada bidang pria itu. Ini terlalu menyebalkan dan Nasya tidak suka itu.
Yang di beri pukulan hanya tersenyum saja. Senyuman itu terus mengambang karena dia senang berhasil menjahili Nasya dan membuat pria di ujung sana menggeram kesal.
"Aduh Na, lo suka bener mukulin dada gue." Revan mencekal tangan Nasya, tatapan mereka beradu. "Lo modus pengen megang dada sixpack gue, 'ya?"
Okay, wajah Nasya kini merah padam sampai ke telinganya bahkan ke lehernya. Itu terlihat jelas karna gadis itu memiliki kulit seputih susu.
"Ih, muka lo kok merah sih, Na?" Tanya Revan seolah dia tidak tahu. Padahal dalam hati dia senang.
"Lo sakit.. hah?" Revan meletakkan telapak tangannya di dahi Nasya.
Menyadari itu Nasya tidak bisa untuk tidak berteriak. tangannya terangkat menutupi seluruh wajahnya yang memerah. "REVAN!!!"
...******...
Sementara itu di tempat yang sama dengan waktu yang sama. seorang pemuda bersama ketiga temannya yang sedari awal menyaksikan pergelutan Nasya dan Revan. Pertengkaran yang malah terlihat begitu romantis di mata mereka.
"Duh, gue kok kepanasan, 'ya?" Tio bergerak heboh mengipasi tubuhnya. "Kita kurang AC, kah?"
"Kita bukan kurang AC, tapi kita kurang effort," sindir Akhbar dengan senyum mengejeknya.
"Masokk!"
"Akhh.. dada gue." Akbar memegangi dadanya dengan dramatis seolah dadanya baru saja terkena serangan jantung dadakan.
"Aduh, dada lo kenapa, Bar?" Tio dengan wajah panik mengecek dada pria itu.
"Sesak ngeliat si crush ketawa ama yang laen," balas Akbar jelas menyindir Alanza. Keduanya tertawa kejer setelahnya. Mengejek Alanza adalah kebiasaan dua orang itu.
"Makanya jangan kelamaan di biarin!"
"Tau nih, saingannya berat banget jadi pengen nyerah."
Nyerah? Alanza menyungging sudut bibir kanannya. Sejak kapan menyerah bagian dari gue. Batinnya.
Alanza bukan orang yang mudah menyerah sebelum sampai di detik-detik terakhir sekali pun.
"Yo, dada gue kok makin nyesek, 'a?"
"Kenapa, tuh?"
"Liat mereka ciuman secara nggak langsung." Jari telunjuk Akbar mengarah ke pinggir lapangan. Di sana mereka bisa menyaksikan dua remaja berbeda gender tengah meminum air mineral satu botol.
Sontak mereka yang ada di sana mengalihkan pandangannya ke arah Alanza. Bisa di lihat jika pria itu sedang menahan segala rasa cemburunya yang akan membuncah. Tangannya terkepal kuat dengan sorot mata tajam yang ingin menikam habis Revan.
"Lho, lho, nggak bahaya, ta?" Di detik ini juga kedua temannya masih dengan lantang mengejek Alanza. Padahal pria itu lagi di mode menahan amarah.
"Lo berdua pengen ngerasain tangan terbang?" tanya Farel memberi peringatan sebelum mereka benar-benar di amuk Alanza. Pria itu jika sudah mengamuk maka jika tidak mati ya, sekarat.
Farel sedari tadi hanya menyaksikan tanpa mau komen. Dia cukup tahu bagaimana perasaan Alanza saat ini karna dia pernah merasakan hal serupa.
Tidak ada kata yang terlontar di bibirnya. Ingin mengucapkan kata 'sabar' pun itu pasti akan sia-sia, karna pada akhirnya kata itu semakin membuat siapapun menggeram.
Bagaimana bisa orang terkena musibah dan teman dekatnya mengatakan jika dia harus sabar? Kalimat itu bahkan lebih menyebalkan dari kalimat lain. Lebih baik tidak usah mengatakan apa pun jika pada akhirnya kata sabar yang terlontar.
Farel mendekati Alanza, menepuk pelan bahu pria itu dan berkata.
"Kejar dia kalo emang Lo cinta." Hanya kalimat itu yang bisa Farel ucapkan. Lalu setelahnya menjauh pergi dari mereka.
Alanza mengarahkan pandangannya ke samping. Farel adalah teman terbaik yang paling mengerti dirinya. Dari sekian banyaknya teman Alanza hanya Farel yang masih memiliki kewarasan.
'dia benar.'
Alanza pergi dari sana. Dia akan membuat plan balas dendam untuk Revan karna sudah berani menyentuh Nasya. Bahkan Alanza tidak sampai se jauh Revan, tapi pria itu malah melangkahi nya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 28 Episodes
Comments