..."Baiklah, kalau begitu saya akan memilih........" ...
...•...
...•...
...•...
...•...
...•...
"Kalian ini sudah besar harusnya bersikaplah sesuai umur, bukannya malah adu jotos kayak anak SD!" Omel buk Indri-- selaku guru BK.
Sejak setengah jam yang lalu buk Indri tidak berhenti untuk mengoceh hal yang jelas tidak menguntungkan siapa pun.
"Apa, alasan kalian berantem!?" Buk Indri memandangi kedua remaja yang tertunduk di kursinya.
"Kamu juga Alanza, udah jadi ketua osis harusnya kamu menengahi keributan, Bukannya malah membuat keributan!" Guru berkacamata itu menunjuk-nunjuk Alanza yang terduduk di depannya.
Alanza yang masih di landa marah membalasnya dengan tatapan menusuk. Buk Indri yang di tatap kian gelagapan. Dia beralih pada empat orang yang di belakang sana.
Alanza memang diam tapi dalam diamnya tidak ada yang tau. Tatapan tajam itu berhasil menusuk buk Indri. Guru biologi itu bahkan ketar-ketir jika berbicara dengan Alanza.
"Kalian yang di belakang sebagai saksi, 'kan tolong ceritakan kronologisnya bagaimana sampai bisa ribut." Buk Indri meminta salah satu di antara mereka agar menjelaskan semuanya.
1 detik
2 detik
3 detik
Hening.
Brak!!
"Kalian ini di suruh ceritakan kronologisnya bukannya malah bengong!" Hentakan meja yang perempuan itu buat sukses membuat mereka terlonjak kaget.
"Astaghfirullah." Tio mengelus dadanya kaget tidak mau senam jantung lagi akhirnya dia menceritakan bagaimana kronologisnya. Dari awal sampai bahkan masa lalu Revan, Tio ceritakan.
"Nah, jadi gitu buk kronologinya." Tio usai bercerita.
Revan memutar tubuhnya kebelakang mengahadap Tio. "Maksud lo apaan ceritain kisah cinta gue?!"
"Gue hanya ceritain yang sebenarnya bukan buka aib lo."
"Ya, ng.."
"Hey, sudah sudah!" Buk Indri menenangkan Revan Yangs siap memberikan Bogeman mentah pada Tio.
"Ohhh, jadi masalahnya karena cewek? Se cantik apa sih ceweknya itu. Palingan cantikan ibu," ujar buk Indri dengan pd-nya. Mereka yang mendengar sontak saja memutar bola mata malas.
"Aduh buk, kali ini ceweknya cantik buk, Ibu jangan sepele." Tio berucap agar buk Indri menghentikan sesi memuji dirinya sendiri.
"Se cantik apa, sih ceweknya sampe bikin prince charming kita berantem?!"
Fyi, Buk Indri ini termasuk ke dalam guru yang menyukai murid tampan. Bagi yang tampan maka dia akan memberi murid tersebut nilai tambahan bahkan jika dia tidak mengerjakan tugasnya. Lain halnya dengan murid cewek, jika ada yang cantik maka nilainya akan di kurangi bahkan jika nilai dia sempurna. Agak lain memang.
"Cepat kamu Panggil ceweknya!!" Buk Indri menyuruh Tio agar memanggil Nasya. "Ibu mau lihat secantik apa ceweknya."
Revan yang sudah ke palang malu tidak akan membiarkan guru itu memanggil Nasya. Bisa-bisa dia kembali malu karna gadis itu akan menguak kisahnya.
"Tunggu! Saya rasa, ibuk nggak perlu manggil Nasya," sahut Revan berharap agar guru BK sekaligus guru biologi itu mengerti jika hubungan Revan dan Nasya sudah sebatas mantan.
Mantan?!
"Kamu pikir kamu siapa?" Buk Indri tidak akan semudah itu mencabut perintahnya. "Tio, cepat kamu panggil cewek itu!" Revan mengepal tangannya ingin sekali dia memukuli wajah buk Indri. Tapi itu hanyalah mimpi jika Revan memukul wajah guru ini maka akan di pastikan nilainya jeblok.
Tidak butuh waktu lama bagi Tio untuk memanggil Nasya. Sekarang gadis itu sudah muncul di tengah-tengah keributan.
"Oh, jadi ini cewek yang udah bikin prince charming kita berantem?!" Buk Indri memandang Nasya dengan sorot menilai.
"Apa, nya yang cantik Menang biru doang matanya." Ada raut tidak suka yang begitu kentara di wajah buk Indri.
"Buk, ada apa, 'ya manggil saya?" Tanya Nasya dengan raut wajah keheranan.
Seingatnya dia tidak melakukan kejahatan sampai harus di panggil guru BK. Bahkan malahan dia yang jadi korban atas kejahatan Ayu kemarin siang karena gadis itu yang memang dengan sengaja melempar bola ke arahnya.
Sialan memang.
Nasya semakin kebingungan apa lagi melihat tatapan buk Indri yang seolah menilainya. Itu jelas membuat Nasya tidak nyaman!
"Liat mereka." Buk Indri mengarahkan dagunya ke arah Alanza dan Revan.
Pandangan Nasya teralihkan kepada dua orang remaja yang sedang dalam keadaan yang tidak baik-baik saja. Seragam acak-acakan dengan wajah yang di penuhi luka lebam.
Kapten basket dan ketua OSIS bertengkar? Batin Nasya seolah kejadian ini sangat tabu di benaknya.
"Di antara kedua orang ini, saya minta kamu buat pilih salah satu dari mereka." Buk Indri menunjuk ke arah kedua cowok itu, Revan dan Alanza.
"Pilih?" Beo Nasya masih mencerna ucapan guru BK tersebut. Mendapati anggukan mantap dari guru biologi, Nasya menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal.
"Buk, kalo ibu manggil saya hanya gara-gara di suruh milih. Lebih baik ibuk pilih sendiri, saya masih banyak tugas yang belum selesai di kerjakan." Nasya hendak berbalik meninggalkan ruang BK sebelum suara buk Indri menghentikan langkahnya.
"Mereka ini bertengkar karna kamu!!"
Buk Indri sukses membuat Nasya semakin melioat dahinya. Gadis itu kembali memutar tubuhnya menghadap ke arah Alanza dan Revan berada.
"Karena saya, buk?" Nasya menunjuk dirinya sendiri. "Becanda kali, ibuk!"
"Hadeh! Kamu ini bloon banget, sih!" Capek jika menjelaskan panjang lebar lada Nasya.
"Sebenarnya ada apa, sih?!" Tanya Nasya dengan benak yang di penuhi dengan tanda tanya.
"Jadi singkatnya gini Na, mereka ini gado karna Revan, yang nggak terima kalo dia kalah saing sama Alanza," sahut Tio yang semakin membaut benak Nasya bertanya.
"Kalah saing?" Beo Nasya beralih memandang Revan yang tertunduk.
"Aduh! Capek saya kuat kamu nanyak mulu. Sekarang Kamu pilih salah satu diantara mereka," perintah buk Indri.
"Ketua osis tampan atau kapten basket mantan mu." Terlihat jika raut wajah buk Indri tidak ikhlas.
Selama dia jadi guru BK baru kali ini dia mengalami hal seperti ini, murid ke sayangannya bertengkar hanya Karena wanita. Biasanya hanya murid-murid jelek yang di perebutkan. Tapi gadis dengan mata biru ini berhasil menarik perhatian kedua murid tampannya.
"Astaga, buk! Revan, itu bukan mantan saya." Nasya tak habis pikir sejak kapan juga Nasya berpacaran dengan pria se tengil Revan. Yang benar saja.
Revan langsung menatap Nasya tidak percaya. Raut wajah kecewa tercetak jelas di manik nya. "Na, jadi selama ini perjuangan gue Lo anggap apa?!"
Nasya menarik napasnya dalam-dalam. Urusan hati toh. Batinnya. "Revan, gue tau perjuangan Lo selama ini sangat berarti di gue Tapi, apa pernah Lo ngucapin cinta lo ke gue? Waktu itu, 'kan Lo cuma bilang 'iya' bukan ngucapin cinta lo ke gue."
Penuturan Nasya sukses membungkam bibir Revan untuk protes. Bodohnya dia malah menganggap Nasya adalah pacarnya.
"Lagi pula gue cuma minta hadiah dari kata 'iya' Lo bukan dari ungkapan cinta Lo." Nasya bersedekap dada tidak habis pikir dengan pemikiran aneh Revan.
Kedua teman Alanza hampir saja menyemburkan tawanya mendengar kejelasan hubungan Revan. Nyatanya Revan itu cowok baperan sampai lupa jika dia tidak pernah mengucapkan kata cinta pada Nasya.
"Terus, Statusnya apa, Friends zone? HTS? Atau kamu cuma mau manfaatin Revan, doang karna tau dia suka sama kamu!?" Tanya buk Indri sudah mirip seperti wartawan berita.
"Kamu ini mentang-mentang cantik langsung bersikap seenaknya aja, nggak mikirin gimana perasaan orang itu. Coba aja seandainya kamu berada di posisinya Revan, kuat nggak?!." Tilikan meruncing dari buk Indri terarah pada Nasya.
Itu bahkan belum seberapa dengan kisah cintaku. Batin Nasya.
"Buk, saya ini bukan ninja hati saya han....."
"Sudah cepat kamu pilih salah satu di antara mereka. Yang tidak terpilih akan saya hukum nyikat wc sekolah."
Ucapan buk Indri sontak saja membuat Nasya terheran. Sejak kapan ada sistem begituan? Apakah guru BKnya waras?
"Buk, Sejak kapan yang di pilih nggak dapat hukuman teori dari mana itu." Protes Nasya tak terima.
"Teori dari saya. Guru BK nya, 'kan saya."
Mereka yang mendengarnya hampir menjatuhkan rahangnya ke tanah.
"Udah cepetan pilih!" Perintah buk Indri tidak sabaran.
Nasya terdiam berpikir siapa yang akan dia pilih. Apakah Alanza yang telah menolongnya dari dua preman lusa lalu? atau Revan yang sudah ke membiarkannya bebas dari hukuman selama hampir satu tahun. Nasya di lema siapa yang harus dia pilih? Dua-duanya sama-sama berjasa Di hidup Nasya.
Tatapan mata Revan seakan menyuruh Nasya untuk memilihnya. Mata elang Alanza menyorotkan tatapan yang sulit di artikan.
Gadis itu menghela napas berat. Ini pilihan yang sangat sulit.
"Baiklah, kalau begitu saya akan memilih........" Nasya menjeda kalimatnya dia masih ragu atas pilihannya sendiri.
"Diri saya sendiri," ujar Nasya berlari menjauh dari buk Indri takut-takut jika guru itu melemparkan penggaris kayu di genggamannya.
"Kamu ini apa-apaan sih?! Saya suruh milih salah sat......"
"Biar adil buk, kasian kalo cuma milih satu."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 28 Episodes
Comments