Chapter 5

Setelah perjalanan selama 25 menit dari kafe Cinderella menuju mansion keluarga Choi di jalan Jasmine ini. Begitu sudah memarkirkan mobilnya, dia melirik sekilas pada Kristal yang sedari tadi diam saja. Ternyata, gadis itu tertidur, tapi karena dia takut Kristal kelelahan. Jadi, dia akan menggendong tubuh gadis itu saja. Perlahan, Sammy membuka pintu mobilnya dan turun dari mobil. Kemudian dia berjalan ke arah bangku yang Kristal duduki. Lalu, dia membuka pintunya secara perlahan dan segera membuka sabuk pengamannya.

" Nona Kristal..." panggil Sammy sembari menggoyangkan lengan Kristal.

Kristal, tidak merespon dia masih begitu nyenyak.

" Nona..."

Kristal sudah mulai sadar, dia mengerjapkan matanya. Lalu, dia menggeliat mencoba untuk meregangkan ototnya.

" Astaga, maafkan saya Tuan. Saya tadi ketiduran. "

Sammy, menggeleng cepat.

" Tidak apa-apa, kamu pasti kelelahan. "

" Ini dimana Tuan?"

" Ini, kediaman Choi. Ayo jangan lama-lama, kalau kau mau istirahat di dalam saja."

Mulut Kristal menganga lebar saking terkejutnya. Dia, kemudian menutupinya dengan tangannya.

" APA? Tuan anda becanda kan, ini tidak sesuai janji anda tadi. Bukankah anda mengajak saya ke butik ya, lalu mengapa ini ke rumah ?"

" Hei, kamu ketiduran bagaimana saya membangunkan kamu. Tapi tenang saja, saya sudsh membeli beberapa gaun untuk kamu. Ayo turun, kita masuk ke dalam. "

" T...tapi."

Sammy menggeleng, " Tidak ada kata tapi." ujarnya.

Kristal menghela napasnya, " Orang kaya memang selalu semena-mena. Tidak pernah mau mengerti perasaan kami yang miskin ini."

" Hei, jangan berpikir yang tidak-tidak. Saya hanya ingin memperkenalkan kamu, dengan kedua orang tua saya. "

Kristal, membelalakkan matanya.

" Pak Sammy, anda bilang kan hanya perjamuan biasa. Loh, mengapa sekarang mengapa seperti ini. Anda mencoba untuk menipu saya ya? Begini saja, saya akan mengembalikan uang anda. Setelah itu, kita anggap saja tidak pernah bertemu sebelumnya. "

Kristal, hendak pergi akan tetapi Sammy menahannya.

" Apa kamu tidak kasihan dengan saya? Kaku tahu, orang lain semuanya membawa pasangan. Sedangkan, saya hanya seorang diri. Kalau kamu tidak mau pergi menemani saya, otomatis saya akan sendirian. Ya sudah, saya tidak akan memaksa. "

Sammy, melepaskan cengkraman tangannya pada Kristal. Dia, berbalik dan tertunduk lesu. Kristal, menatap punggung pria jangkung tersebut. Merasa tidak tega setelah mendengarkan cerita darinya. Diapun berlari mengejar Sammy.

" Pak Sammy...!"

Dirasa ada yang memanggil namanya, Sammy berbalik. Dia, terkejut ketika Kristal tiba-tiba sudah ada didepannya. Sehingga, hampir saja gadis itu terjatuh. Untungnya, Sammy menahannya, sehingga wanita itu jatuh ke dalam pelukannya. Sesaat setelah sadar, keduanya melepaskan pelukan masing-masing.

" Maaf. " ujar keduanya bersamaan.

" Ah tidak apa-apa, saya seharusnya berterima kasih pada anda. Sebab, jika tidak ada anda saya pasti akan terjatuh. Terima kasih. " ujar Kristal sembari membungkuk hormat.

" Sama-sama.,"

Sementara itu, di lantai dua Ane melihat dengan jelas jika Sammy putra bungsunya membawa seorang wanita. Dia, berteriak memanggil suaminya.

" Suamiku, kemarilah lihat itu !."

" Roxxane sayang, jangan berteriak seperti itu, kau ini kebiasaan. "

David, menutup koran yang dibacanya. Kemudian, dia menghampiri sang istri. Ane, menarik lengannya agar segera menuju ke arah jendela.

" Lihat, itu putra bungsu kita. Dia, tidak seperti yang orang-orang katakan. Sammy, putra kita normal Pa. Lihat saja, dia dan gadis itu begitu bahagia. "

David, menatap keduanya dari kejauhan. Dia, tersenyum melihat kebersamaan Sammy, dan seorang wanita yang menurutnya manis.

" Gadis itu, sangat manis ya Ma ?"

" Iya, ayo kita ke bawah Pa. Kita, harus menyambutnya. "

" Sayang, nanti saja malam saat perjamuan tiba. Aku takut, kekasih putra bungsu kita itu akan malu dengan kehadiran kita. "

" Tidak bisa, kita harus menyambutnya. Aku, tidak ingin menjadi calon mertua yang jahat dimatanya. "

Ane, bergegas untuk menaiki lift dan turun ke lantai bawah. Dengan terpaksa, David mengikutinya dan segera turun ke lantai 2.

" Mama, Papa ?"

Ane, dan David menyunggingkan senyumnya. Mereka, melambaikan tangannya pada sang putra.

" Halo sayang, aih siapa ini? Cantik sekali."

Kristal, menyodorkan tangannya dan bersalaman pada kedua orang tua Sammy.

" Namamu siapa Nak ?"

" Kristal Tante, Om ."

Ane, dan, David tersenyum seteberjabat tangan dengan Kristal. Entah mengapa air mata Kristal, keluar begitu saja.

" Nak, kamu kenapa ?"

Tubuh gadis itu bergetar hebat saat mendapatkan pelukan dari Ane.

" Sayang, kamu kenapa? Kamu tidak suka pada Tante dan Om ya ?"

Kristal menggeleng, dia mengeratkan pelukannya pada Ane.

" Ayo duduk dulu, Nak ."

Sammy bingung ada apa sebenarnya dengan Kristal, dia dan sang ayah saling pandang. Lalu, sang ayah menyuruhnya untuk meminta air putih pada maid, untuk menenangkan kekasih putranya tersebut.

" Maaf Tante, saya hanya terharu saja. Ternyata, orang kaya tidak semuanya jahat. Buktinya, Tante menyambut kedatangan saya dengan baik. Padahal, kita tidak saling kenal."

" Sayang, tidak semua orang kaya seperti itu. Kami keluarga Choi, tidak pernah merendahkan atau menindas orang .

" Lalu, apakah saya yang hanya pelayan kafe ini bisa berbaur dengan keluarga anda.?"

" Tidak masalah, karena kamu adalah pilihan Sammy. Kami, tidak seperti dalam drama yang suka menjodohkan anak dengan kolega bisnis."

" Tante, bolehkah saya memeluk anda lagi?"

Sammy yang baru saja dari dapur, melihat secara langsung jika Kristal dan Ibunya begitu akrab. Padahal, keduanya baru saling kenal.

" Sam, sebaiknya kuta biarkan Mamamu dan Kristal berdua dulu. Keduanya, sepertinya sedang tahap perkenalan. Ini bagus untuk keduanya. "

Sammy, menganggukkan kepalanya.

" Tapi Pa, Kristal harus istirahat dulu. Tadi di dalam mobil, dia ketiduran aku sudah meminta Bibi Lisa membuatkan teh madu supaya Kristal lebih segar."

David, menganggukkan kepalanya.

" Baik, kalau begitu Papa akan ajak Mamamu ke atas. "

" Iya, terima kasih Pa."

" Sama-sama, Nak ."

David, kemudian meminta istrinya untuk ke lantai atas. Akhirnya, kini hanya ada Kristal dan Sammy saja di ruang keluarga ini.

" Nona, kita istirahat dulu di kamar. "

" Apa? Kamar, anda ini mesum ya?"

Sammy, membungkam mulut Kristal.

" Ssst, jangan berisik. Saya tidak akan macam-macam pada anda ?"

" Apakah saya bisa mempercayai perkataan anda, Tuan?"

Sammy, mengangguk, lalu menatap wajah cantik yang sudah memikatnya tersebut.

" Kamu bisa mempercayai aku. Jangan kamu samakan saya dengan pria lain, Nona."

" Baik, Saya akan berusaha mempercayai anda.!"

" Pakaian kamu akan datang sekitar 10 menit lagi. Jadi, kita bisa istirahat dulu. "

Kristal mengangguk

" Baiklah kalau begitu ."

" Mari ."

Sammy berjalan mendahului Kristal, dan wanita itu mengikutinya dari belakang. Silang beberapa menit, mereka sampai di kamar Sammy, di lantai 3.

" Ini kamarku."

Sammy, membukakan pintu kamarnya. Kristal, menutup mulutnya sembari membelalakkan matanya.

" Wah, ini sangat luas, malah dengan apartemen yang saya sewa lebih besar kamar anda. Benar-benar ya, hidup ini begitu lucu. "

" Sudahlah, kamu harus pandai bersyukur mulai sekarang. Sebab, dengan rasa syukur itu hidup akan terasa indah. "

" Ah benar juga ya . "

Bersambung

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!