Kristal, berteriak memanggil nama Sammy. Membuatnya,menjadi pusat perhatian sementara itu Sammy, berlari dan dari belakangnya ada Julian yang mengimbanginya.
" Pak Sammy, anda harus jaga image. Mengapa, harus lari seperti ini. "
" Julian, hah diam kamu !" ujar Sammy sembari mengatur napasnya.
" Sayang ! " teriak Kristal sembari melambaikan tangannya.
Sammy, kemudian menghentikan langkahnya secara mendadak. Membuat sang asisten pribadi, tanpa sengaja menabrak punggung tegapnya tersebut.
" Ya Ampun, Pak Sammy bisa tidak sih tidak berhenti mendadak. Saya kan, jadi mengenai punggung anda, sakit tahu. "
" Cerewet sekali kamu Julian, saya sudah sampai. Sebaiknya kamu ke pos penjaga, katakan pada mereka bahwa mereka akan saya hukum. Tidak boleh berangkat kerja selama 1 Minggu, dan gaji mereka dikurangi. Saya masih mending tidak memecat mereka, jadi mereka patut untuk mensyukuri itu. "
Julian, mengangguk dia kemudian menunduk hormat.
" Sayang, kok melamun sih ?" teriak Kristal.
Sammy, tersadar dari lamunannya. Kemudian, dia meminta agar penjaga keamanan membukakan pintu gerbang untuk sang kekasih.
" Pak Sammy, maafkan kami. Bu, saya minta maaf ya, tadi saya tidak mempercayai anda. "
Kristal, mengangguk sebagai jawaban.
" Tidak apa-apa, mungkin karena penampilan saya seperti pelayan ini. Sehingga, kalian tidak percaya kalau saya kekasihnya Pak Sammy ya ?"
Petugas keamanan tersebut, menggaruk kepalanya. Sementara itu, Sammy memelototi dirinya. Membuatnya, menjadi semakin tidak berdaya.
" Maaf Pak, Bu. "
" Sudahlah, kembali bertugas sana. Ah sebentar, tolong parkirkan motor kekasih saya di sebelah mobil saya ya. "
Kristal, membelalakkan matanya.
" Sayang, aku hanya memberikan ini saja. Aku, akan kembali bekerja. "
Sammy, menatap tajam kearah Kristal. Membuat gadis itu, mau tidak mau menuruti kemauannya.
" Ah iya, Justin kamu sebaiknya pergi ke kafe Cinderella. Kembalikan motor itu ke pemiliknya. Sayang, pemilik motor ini siapa, kamu kan tidak punya motor?"
" Ah itu, Dave namanya. "
" Baik, kamu dengar itu Justin?"
Justin, mengangguk dan segera mengambil alih motor itu dari Kristal.
" Pak Sammy, nanti saya pulangnya bagaimana?"
" Ah itu, ini saya kasih kamu 500 ribu dors. Nanti, kamu naik angkutan umum atau taksi ya . "
" Baik, Pak Sammy. Justin disini siap menjalankan tugas dari anda. "
" Oke, pergilah hati-hati di jalan jangan ngebut. Ayo sayang. "
Sesuai memberikan arahan, dia menggandeng tangan kekasih palsunya. Kemudian, dia dan Kristal berjalan beriringan sembari bergandengan tangan.
" Oh iya, nanti di kantor saya akan menghubungi Kak Benedict. Saya susah menghubungi dia, di tangan kiri saya ada kantong plastik berisi makanan. Dan, tangan kanan saya, ada tangan kekasih saya. "
" Duh, Bapak bisa saja. Padahal, seharusnya tadi anda menghubungi beliau dulu. Ini malah menarik lengan saya, dan bekal makanan ini, dasar aneh. "
Sammy, tanpa sadar mengusap kepala sang kekasih. Tentu saja, setelah melepaskan genggaman tangannya. Lalu, dengan segera dia menghubungi Benedict. Dia, meminta izin agar Kristal tidak kembali bekerja. Dan, saat ini kekasihnya sedang berada di perusahaannya.
" Sudah selesai, ah iya mulai besok kamu jangan bekerja lagi. Dan, mulai besok kamu jaga adik kamu saja, sesekali aku akan menjaga dia untukmu. Sebentar lagi, dia akan sadar kembali kok. "
" Apa yang anda katakan ? Maksud anda, James sudah pindah ruangan ya ?"
Sammy, mengangguk
" Benar, dan saya sudah memindahkan dia ke ruangan Presidensial. Jadi, kamu juga bisa tidur dengan nyenyak, sembari menjaganya. Saya sebelumnya mau minta maaf,sebab sudah lancang memindahkan dia tanpa seizin kamu. "
Kristal, menggeleng dia kemudian memeluk Sammy, sebagai ungkapan rasa terima kasihnya. Sementara itu, Sammy mengerjapkan matanya. Dia, benar-benar tidak pernah menduganya. Jika dirinya akan mendapatkan sebuah pelukan, dari kekasih palsunya tersebut.
" Ah maaf Pak, saya tidak sengaja . "
" Sudahlah, saya senang kok. Kamu, mau memeluk saya."
Sammy, kemudian menggandeng tangan Kristal menuju ruang kerjanya. Lalu, keduanya duduk di sofa panjang ruang tersebut. Kemudian, Sammy, membuka kotak bekalnya yang di masak langsung oleh Kristal.
" Wah, ini pasti enak terima kasih ya. Oh iya, kamu sudah makan belum?"
" Sudah kok, di kafe . "
" Baiklah, saya cuci tangan dulu ya. "
Kristal mengangguk, sementara itu. Di balik pintu ruang tersebut Julian, mendengar percakapan keduanya hanya bisa mengelus dadanya. Dia, merasa kasihan pada diri sendiri.
" Sudah punya kekasih, Asistennya ini malah dilupakan. Pak Sammy, anda sungguh kejam. Hati jomblo ini, merasa tersakiti, huhu" batin Julian.
Samuel, mencari Aira kemana-mana, tapi wanita itu masih belum bisa ditemukan sama sekali. Sementara itu, hari sudah larut malam, karena lelah, alhasil dia kembali ke mansionnya. Setelah melakukan perjalanan, dari Mangkuo city ke mansionnya sekitar 15 menit. Dia, yang kelelahan akhirnya langsung naik ke atas. Dia, tidak ada keinginan untuk menyapa para maid yang sudah menyambutnya.
" Bibi Jung, saya tidak makan hari ini. Apakah Istri saya sudah datang?."
" Nyonya, belum pulang Tuan. "
Samuel, mengerutkan keningnya, dia merasa heran dengan jawaban dari kepala pelayannya tersebut.
" Kemana perginya wanita itu?" batin Samuel.
" Baik, terima kasih Bi. Silakan tunggu dia 30 menit lagi. Setelah itu, boleh dibereskan. "
" Baik, Tuan ."
Samuel mengangguk sebagai jawaban. Pria tersebut, segera berjalan menaiki lift, dan menuju kamarnya.
" Selalu saja bertengkar jika meminta anak. Sebenarnya, dia kenapa sih? Dulu saat aku berselingkuh dengan Kristal, Aira begitu semangat agar aku kembali padanya. Setelah kami kembali, dan menyingkirkan keberadaan Kristal. Dia justru seolah sedang menghindari aku, dia bilang aku terlalu sibuklah, cueklah. Padahal, dia sendiri yang menghindar dariku. Apa salahnya meminta anak, bukankah kita menikah sudah lumayan lama? Kristal, apakah kau mengutukku supaya tidak memiliki anak ? Jika Tuhan memberikanku kesempatan, aku akan meminta maaf padamu"
Pria itu menatap langit-langit kamarnya, kemudian dia menatap poto pernikahannya yang bahagia bersama sang istri.
" Selamat malam, Sayang ."
Mendengar suara lembut, sang istri Samuel bangkit dan menghampirinya.
" Kamu darimana saja, aku khawatir tahu."
" Aku minta maaf, tadi aku sudah marah sama kamu. Sayang, apakah benar Ibu kamu ingin mendapatkan cucu dari kita?"
Samuel, menatap wajah cantik sang istri, lalu dia melepaskan pandangan dan berbalik melihat ke arah lain.
" Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Aku, tidak ingin kita bertengkar lagi. Kalau begitu, kamu mandi dulu gih aku akan mengerjakan pekerjaan dulu sebentar. "
" Aih iya, terima kasih sayang . "
Aira, berjinjit dan mengecup pipi sang suami. Sementara itu, Samuel berpura-pura bahagia telah mendapatkan sebuah kecupan dari sang istri.
" Sayang, aku sudah selesai. Kamu mau mandi tidak ?"
" Iya, tolong sediakan air hangat sayang. Aku, sedang sibuk. "
" Kamu kok gitu sih? Aku kan, tidak bisa hal-hal yang seperti itu. Kamu bilang aku ini cinta satu-satunya kamu. Tapi, ini apa kamu justru memperlakukan aku seperti pembokat saja. "
Samuel,memijit pelipisnya, dia berusaha menahan emosinya. Bagaimana bisa, istrinya itu tidak bisa apa-apa. Padahal, dulunya sang istri sangatlah penurut.
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 53 Episodes
Comments