Chapter 4

Kristal, yang melihat Sammy akan kembali ke ruangan Benedict dia mencegahnya.

" Tuan Sam, tunggu. Bayaran saya mana, anda tidak boleh mengingkari janji ya!"

Sammy, tertawa kecil

" Astaga, kamu ini ada-ada saja. Sabar, bisakan ?"

Kristal, menggigit bibirnya, dia menatap tajam wajah Sammy.

" Bapak Sammy yangterhormat, anda ini benar-benar menguji kesabaran saya ya. Tolong dong, jangan mempermainkan orang kecil seperti saya. Mentang-mentang anda kaya, bisa seenaknya saja menindas orang kecil seperti saya ."

Sammy, menatap sekeliling, pria itu segera membawa Kristal menjauh dari keramaian.

" Eh, Tuan apa yang anda lakukan?"

" Kristal, kamu berisik sekali. Bisa diam tidak, saya ingin berbicara dengan kamu empat mata. Tidak ada yang lain, saya mohon maaf sudah membuat kamu takut."

" Eh, apalagi ini tiba-tiba anda memanggil saya kamu? Aneh. "

" Tidak aneh, saya ingin akrab dengan kamu. Jadi, jangan terlalu kaku."

Kristal, menatap netra Sammy, tidak ada kebohongan di dalam sana. Akhirnya, dia menghela napasnya dan mencoba mempercayai Sammy.

" Baiklah, Tuan. Lalu, apa yang anda inginkan dari saya?"

Sammy, kemudian menceritakan detail masalahnya pada Kristal. Gadis itu menyipitkan matanya, kemudian dia menghela napas untuk kesekian kalinya.

" Bagaimana? Apakah kamu setuju, kalau kamu setuju dengan usulan saya . Kamu, akan saya berikan upah yang layak. Berapa banyak yang kamu inginkan?."

" Saya butuh Seratus Juta dor (mata uang karangan)."

" Mana nomor rekening kamu?"

Kristal, menyodorkan ponselnya dan memberikan Kode Q.Ris untuk Sammy. Tidak lama, ponselnya bergetar dan menandakan sebuah notifikasi dari Bank. Ternyata, uang yang dia sebutkan kini sudah sampai di rekeningnya. Kristal membelalakkan matanya, terkejut dengan apa yang barusan dilihatnya. Padahal, dia hanya bercanda sebab dia tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Sammy. Kakinya tiba-tiba lemas, Kristal jatuh terduduk membuat Sammy refleks membantunya berdiri.

" Astaga, apa yang kamu lakukan? Lantai itu kotor, jangan sembarangan duduk di situ . "

Kristal, tertawa memegangi perutnya.

" Kamu gila ya?"

" Astaga, anda ini bisa-bisanya mengatai saya gila. Laki-laki kok, mulutnya tajam seperti pisau?"

Kristal, mempoutkan bibirnya membuat Sammy tanpa sadar tersenyum melihatnya.

" Manisnya. " batin Sammy .

" Baiklah, saya minta maaf. Ah iya, kamu sudah makan ?"

Kristal, menyipitkan matanya.

" Ini sudah jam berapa Pak? Ah, maksud saya Tuan. "

Sammy, menepuk jidatnya.

" Memang benar ya, kita akan terlihat bodoh jika bersama orang yang disukai." batin Sammy.

" Ah itu, barangkali saja kamu belum makan. Biasanya, banyak sekali karyawan yang lebih mengutamakan pekerjaannya, dibandingkan dengan tubuhnya sendiri."

Kristal menggeleng cepat

" Tidak juga, saya ingin seimbang mencintai keduanya. Baik itu pekerjaan, ataupun diri saya sendiri. Sebab kalau kita terus bekerja dan melupakan kesehatan kita, nantinya akan berakibat pada tubuh kita. Dimana, ketika kita sakit bekerjapun tidak akan ada artinya."

" Cerdas, memang tidak salah aku menyukainya. " batin Sammy.

" Ah iya, saya akan menunggu kamu di ruang Kak Benedict. Kamu, bekerjalah dengan baik, setelahnya kita akan pergi ke butik guna membeli pakaian untuk perjamuan makan malam. Kalau kamu duluan, tunggu saya di parkiran mobil. "

" Baik, kalau begitu saya permisi dulu. " ujar Kristal sembari membungkuk hormat.

Keduanya berbalik arah, dan pergi untuk melakukan kegiatan masing-masing.

Tidak terasa, Sammy menunggu Kristal sekitar 1 jam lamanya.

" Dia pulang pukul berapa Kak ?"

Benedict, menatap wajah adik sahabatnya tersebut.

" Dia pulang sebentar lagi, sekitar 30 menitan lah."

Sammy, menganggukkan kepalanya.

" Jadi, masih lama ya?."

" Apakah, kau sedang menunggunya? Kau menyukai Kristal ?"

" Aku tidak, hanya saja aku ingin dia menjadi kekasih kontrakku. Sebab, kau tahu sendiri kan kalau aku tidak tertarik dengan perjodohan. Makanya, aku akan membawa Kristal ke perjamuan makan malam keluarga besar Choi malam ini. Aku, akan memperkenalkan dia sebagai kekasihku."

" Apa? Bagaimana nanti kalau mereka memberondongmu dengan pertanyaan? Jangan gila Sam, hubungan seperti itu tidak boleh dijadikan mainan."

" Aku tahu Kak, dan, aku yakin kalau suatu hari nanti kami akan saling jatuh cinta . Aku tertarik padanya, sebab dia itu berbeda dengan wanita kebanyakan."

Benedict, kemudian duduk di samping adik sahabatnya tersebut. Membuat Sammy, menatapnya heran.

" Kau kenapa Kak ?"

" Sam, aku ingin bercerita mengenai Kristal."

Sammy, menyipitkan matanya.

" Baik, apa itu ?"

Benedict, menceritakan semua tentang Kristal pada Sammy. Dimana, Kristal dulu pernah memiliki kekasih akan tetapi, pria itu meninggalkan dirinya tanpa alasan yang jelas. Bahkan, Kristal sudah tidak suci lagi karenanya. Sammy, menatap nanar wajah Benedict.

" Dia trauma jatuh cinta, maka dari itu hingga saat ini dia masih sendiri. Kami disini, selalu memberikannya dukungan, agar dia tetap semangat dalam menjalani kehidupan ini. "

Sammy, menganggukkan kepalanya paham dengan apa yang dikatakan oleh Benedict.

" Aku berjanji, akan menjaganya dengan baik. " jawabnya.

" Aku harap, kau menerima dia apa adanya. "

" Itu pasti."

Sammy, menunggu Kristal dengan gelisah. Pria tampan itu, memainkan ponselnya dengan gusar.

" Sudah jadwalnya pergantian shift Sam!."

Sammy, berbalik sembari memasang wajah sumringahnya.

" Kalau begitu, sudah boleh menemui dia kan ?"

Benedict, mengangguk mengiyakan.

" Baiklah, kalau begitu aku pamit dulu ya Kak. Sampai jumpa ."

" Oke, sampai jumpa. Semoga harimu menyenangkan. "

" Itu pasti ."

Kristal, menunggu Sammy di parkiran mobil. Tiba-tiba, ada yang menepuk punggungnya dari belakang.

" Aduh, Tuan anda benar-benar ya. Saya kaget tahu !"

Sammy, tertawa memegangi perutnya.

" Hahaha, lagian kamu melamun sih, saya kerjain kamu saja."

Kristal, mempoutkan bibirnya dia memegangi dadanya yang berdetak kencang tersebut.

" Kamu kenapa ?"

" Saya kaget, sehingga jantung saya tidak karuan."

" Maaf kalau begitu, ayo masuk ke dalam mobil. "

" Mobil anda yang mana ?" kata Kristal, celingukan.

" Itu sebelah sana, ayo ."

Sammy, menggenggam tangan Kristal. Membuat mata Kristal, membulat sempurna.

" Ah, Maaf saya tidak bermaksud untuk membuat anda merasa tidak nyaman. "

Kristal mengangguk.

" Iya, lain kali jangan begini ya ."

" Tapi, nanti malam kamu harus bergandengan tangan bersama saya. Sebab, kita akan berakting sebagai sepasang kekasih. Kalau kira tidak mesra, keluargaku akan curiga. "

Kristal, mencoba untuk bersikap tenang.

" Tapi..."

" Saya tahu, kamu pasti trauma kan?"

" B...bagaimana anda bisa tahu?"

" Kak Benedict yang bercerita, sebab dia takut saya hanya mempermainkan kamu. "

Kristal mengangguk,

" Tapi, meskipun begitu saya, tidak ingin dikasihani. Sebab, saya tidak ingin membuat anda dalam perasaan yang serba salah. Karena, sudah memilih saya menjadi kekasih kontrak anda. "

" Tidak ada, sudahlah jangan kamu pikirkan itu. Sekarang, kamu naik mobil. Kita bicarakan lagi nanti. "

" Baik Tuan. "

Sammy, membukakan pintu mobil untuk Kristal duduk.

" Saya duduk di depan?."

" Saya bukan supir pribadinya kamu, jadi harus di depan dong."

" Ah baiklah. " ujar Kristal pasrah.

Bersambung...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!