"Itu sekitar 8 jutaan, Bu," jawab ibu-ibu yang mengaku sebagai tetangga pelapor. "Tapi katanya, puas banget lho, ngasih duit segitu bisa nangkep para koruptor," imbuh ibu-ibu tersebut, semuanya berseru senang.
Sambil menyimak obrolan itu, Celine tersenyum licik. Dia merasa mendapat petunjuk yang berguna. "Ah, kayaknya sudah cukup belanja hari ini. Aku mungkin harus pulang," pikir Celine.
Sejenak, dia berpikir keras. Dia perlu menyiapkan semua berkas dalam bentuk hard copy, dan tambahan uang sekitar 2 juta rupiah.
Namun, di tengah kebingungan mencari dana tambahan, teringatlah Celine bahwa uang yang dia terima dari pak Lizzie sudah dipakai sebagian untuk kebutuhan sehari-hari, dan hanya tersisa sekitar 6 juta rupiah.
"Gimana ya?" benak Celine penuh kebingungan, sambil mengelus pelipisnya. Untungnya, kebingungannya terhenti sejenak ketika handphone-nya berdering lagi.
Pak Lizzie berseru semangat, "Bono, kau luar biasa! Keputusan kerjasama dengan perusahaan Pangeran membawa dampak luar biasa pada saham perusahaan kita. Kita untung besar dalam satu minggu!"
Bono tersenyum lebar, bersemangat melaporkan hasil kerjasama kepada bosnya, "Iya, Pak! Saham perusahaan melonjak drastis. Pangeran memang hebat!"
Sementara itu, Lizzie dengan wajah liciknya menyodorkan amplop bonus kepada Bono, "Ini, Bono, bonus untukmu. Dan berikan amplop ini ke Celine besok pagi."
Bono menerima amplop dengan senyum kecil, mengerti bahwa bonusnya akan segera sampai kepada Celine.
Sementara itu, Celine pulang dengan berjalan kaki dari pangkalan ojek ke kosannya. Namun, kejutan menunggu di depan pintu kosannya. Seorang bapak gendut, berpakaian hitam tua dengan tas selempang, mengetuk pintu dengan keras.
"Dongak kau bayar bunga hutangmu sekarang juga!" seru bapak tersebut dengan nada tinggi, memukul pintu beberapa kali.
Celine, yang melihatnya dari kejauhan, merasa takut dan bingung, "Siapa dia? Kenapa aku jadi merasa sangat takut?"
Bapak tersebut menggedor pintu kosan Celine dengan penuh kemarahan, "Kau harus bayar hutangmu! Jangan hanya mau enak doang!"
Celine, dengan suara yang tinggi dan penuh ketegasan, menanggapi, "Bapak ini siapa? Ada urusan apa bapak datang kemari?"
Bapak tersebut tanpa ragu menjawab, "Aku datang untuk meminta kau membayar bunga utangmu!"
Celine mencoba menjelaskan, "Tapi ini baru akan di bayar setelah 6 bulan, kan? Saya punya waktu."
Bapak tersebut dengan kesal mengingatkan, "Ndasmu gendeng! Utang di lunasi setelah 6 bulan, tapi bunga hutang harus dibayar setiap bulan!"
Celine mencoba membela diri, "Saya hanya belanja keperluan sehari-hari, bukan foya-foya. Saya tidak punya uang untuk membayar bunga hutang sekarang."
Namun, bapak itu tidak tergerak oleh penjelasan Celine, tetap mempertahankan tuntutannya dengan penuh amarah.
Celine terkejut karena orang itu tiba-tiba meledak dengan kemarahan, "Eh, kau harus bayar bunga hutangmu, brengsek!" ujarnya, sambil mengeluarkan pisau dari saku bajunya.
Celine gemetar melihat orang itu, merasa ketakutan mendalam, "Aduh," gumam Celine dalam ketakutan yang mendalam, mencoba merayu, "Tolong, ampuni aku."
Namun, rayuan Celine malah membuat orang itu semakin marah. Sang bapak lekas mendorong Celine ke pintu dan mencekik lehernya dengan kasar.
Celine merasa sesak, berusaha memohon ampun dengan suara terputus-putus, "Ampuni aku, tolong..." Sambil terus menggigil, Celine merasakan bibirnya dicium paksa oleh orang itu, tanpa ampun.
"Buka pintu!" teriak sang bapak sambil memaksa Celine membuka pintu kosannya.
Celine dengan ragu membuka pintu, namun tanpa ampun, dia ditarik masuk ke dalam ruangannya. Pintu kosan Celine dengan keras dibanting, menghasilkan suara berisik, "Brukkk!"
Dalam kegelapan ruangan, Celine merasa detak jantungnya semakin cepat. Sang bapak tua membuka resletingnya dengan kasar, menunjukkan kejantanannya dengan bangga di hadapan Celine yang terpaku ketakutan.
"Srtttt," suara resleting yang terbuka
Bapak itu dengan penuh kebiadaban menganiaya Celine yang tidak berdaya itu, melakukan hal yang tidak senonoh secara paksa.
"Sial, sakitnya luar biasa!" gumam Celine dengan penuh kesal dan ketakutan, merasakan rasa sakit yang begitu nyata dan brutal. Dalam kegelapan ruangan itu, Celine merasa terjebak dalam situasi yang mencekam, dihadapkan pada kebiadaban seorang pria tua yang sangat keji.
Dalam ketakutan dan keputusasaan, benak Celine meratapi situasi mencekamnya. Meskipun sangat tidak ingin melibatkan diri dalam keadaan seperti ini, keberanian Celine memuncak.
Terdengar "kirk!" suara Celine menggigit ******** debt collector bejat itu, mencoba melawan dengan cara apapun.
"Wanita anjing ini menolak membayar, malah menggigit!" seru sang bapak dengan kebencian, sambil memukul keras kepala Celine dan meraih rambutnya dengan kasar.
Tanpa ampun, sang bapak menarik dan mendorong kepala Celine dengan cepat, menyebabkan Celine merasakan sakit yang tak tertahankan.
"Oooeeekkkkkk... Uhuukkk...." suara Celine terdengar tercekik, terjepit dalam kebrutalan yang dialaminya.
Dia merasakan desakan mual hingga akhirnya muntah dengan hebat, memuntahkan segala cairan dari dalam mulutnya.
Debt Collector itu sadar betul, dia menghadapi seorang PSK. Meski tahu keberanian wanita ini, tetap saja dia bertindak keji dan kejam.
Celine, dalam keputusasaan, terpaksa pasrah dan menghadapi ketidakadilan ini, meskipun tahu bahwa tidak ada pilihan lain selain menikmatinya. Meski sakit kan ada enaknya sedikit.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 49 Episodes
Comments