Di sisi lain kota, Pangeran meninggalkan kantor dengan mengendarai Sedan antik miliknya.
"Brummmm," suara mesin mobil klasik itu menggema di malam yang sunyi.
Mobil tua itu melaju dengan gagah, melintasi jalan-jalan kota yang terang benderang oleh lampu-lampu gedung pencakar langit.
Cahaya kota yang mempesona memantulkan kilauan di bodi mobil Pangeran, menciptakan suasana magis yang memukau, seolah menggambarkan kemegahan dan keanggunan di balik kesederhanaan yang terlihat.
Pangeran terperangah melihat keramaian kota yang tak pernah tidur. "Kota ini memang gak ada habisnya, ya?" ucapnya sambil tersenyum puas.
Dia menikmati setiap detik hidupnya di tengah keriuhan malam yang penuh dengan warna-warni lampu dan riuh rendah orang-orang yang tengah berpesta dan bersenang-senang.
Sementara itu, Kevin mengambil dompetnya dan pergi dengan meninggalkan Celine yang terkunci dalam kamar.
"Greek," pintu kamar Celine tertutup rapat oleh Kevin. Namun, di tengah kekesalan dan rasa marahnya, Celine mendapat pesan dari pak Didit di ponselnya.
"Ini pak Didit, neng, ayo main sama bapak jam 10 malam ini." Pesan dari pak dadang masuk melalui SMS.
Namun, Celine, yang masih dipenuhi kemarahan dan kekesalan, tak memiliki mood untuk bertemu dengan siapapun.
"Maaf, saya gak bisa, pak. Malam ini saya lagi libur," balas Celine dengan nada dingin dalam pesan balasannya kepada pak dadang.
Celine memutuskan untuk mandi menjelang malam itu, berharap kesegaran air dapat meredakan amarahnya yang memuncak.
Air mengalir melalui tubuhnya, mencuci semua ketidakpuasan dan marah yang mengendap di dalam dirinya. Namun, meskipun segar setelah mandi, Celine masih tak bisa melepaskan amarahnya.
"Pangeran, kau anjing, kau bakal dapet balasan," desis Celine sambil menggertakkan giginya dengan kesal yang mendalam. Rasa kebencian yang membakar di hatinya membuatnya berencana untuk membalas semua perlakuan Pangeran.
Pangeran menderu melintasi jalan-jalan kota dengan cepat, mengumandangkan teriakan kegembiraannya, "Uhhuuuu!" Dia melepaskan kepenatannya, menyingkirkan semua pikiran dan beban kerja.
"Life is good, love money," ucapnya dengan nada penuh keyakinan, membenamkan dirinya dalam filosofi sederhana bahwa hidup itu indah dan cinta beriringan dengan keberuntungan finansial.
Sementara itu, Celine sibuk menggoreng telur untuk makan malamnya hari itu. Dengan lahap, dia menambahkan kecap ke telur goreng dan menyantapnya bersama nasi.
"Sialan, kenapa Pangeran bisa makan di restoran mewah?" gumam Celine, menggerutu karena iri hati. "Kalau saja aku dibayar dengan pantas, mungkin aku juga bisa makan enak seperti ini," lanjutnya, menyalahkan Pangeran atas ketidakpuasannya.
Tiba-tiba, suara telepon berdering di rumah Pangeran. "Driiing... Donggg.. Diiing.. Diiing..." Panggilan dari ayah Pangeran memecah keheningan.
"Halo, pap," sapa Pangeran dengan hormat.
"Aku dengar kamu sudah mulai bekerja lagi. Apa perusahaanmu memang begitu sibuk? Bagaimana dengan keberlanjutan bisnismu?" Ayah Pangeran bicara dengan nada datar, mengingatkan anaknya tentang prinsip keluarga.
"Kamu ingat kan, jangan bergaul dengan orang yang tidak produktif atau merugikan, nak." Petuah bijak keluarga itu terngiang di telinga Pangeran, mengingatkannya akan tanggung jawabnya terhadap nama baik keluarga dan perusahaannya.
"Apakah kamu cuma nelpon untuk ini, sih?" gerutu Pangeran, wajahnya tampak kesal ketika "bipppp" panggilan terputus.
Ayahnya memutuskan panggilan untuk kembali fokus pada pekerjaannya yang tengah dalam situasi genting, melawan para musuh bisnis yang mencoba merongrong keberlangsungan perusahaan.
Pangeran melangkah masuk ke dalam rumahnya. "Selamat datang di rumah tahun ini," sapa salah seorang pelayan dengan penuh keramahan, sibuk menyusun hidangan malam dengan menu khas Afrika.
"Kayaknya malam ini makanannya biasa aja. Aku lebih pengen mandi aja," ucap Pangeran, menggumamkan kebosanannya.
"Dreererr" bunyi air keran mengalir memenuhi bathtub tempat Pangeran hendak berendam.
"Ahhh, enak banget setelah seharian kerja berat, ini dia yang aku butuhin," katanya sambil membenamkan diri dalam air hangat.
"Apalagi kerja sambil ditemenin sama Zae yang seksi itu, nih, jadi pengen nikmatin keberadaannya," gumam Pangeran, senyum nakal melintas di wajahnya.
"Blooopp" suara gelembung udara pecah terdengar dari dalam bak mandi Pangeran, memecah kelelahannya setelah seharian bekerja keras.
Sementara itu, Celine tengah menikmati makan malamnya ketika dilema baru menimpanya. Lampu kamarnya mulai bermasalah, berkedip-kedip tanpa henti.
"Nih, listrik apa lampu yang bermasalah, bikin bete aja," gerutu Celine, kesal karena makan malam yang seharusnya tenang jadi terganggu oleh kilatan cahaya yang tak menentu, menyebabkan sakit kepala.
Di belahan timur tengah, oligarki tampaknya mulai merasa tidak suka pada Gunnefer. Persaingan antara Gunnefer dan seorang pengusaha kaya dari Eropa timur semakin memanas.
"Apakah perusahaan kita bakal tetep bertahan ya?" bisik Hendrik, salah satu pengurus tinggi di perusahaan Gunnefer, sambil menggelengkan kepala khawatir.
"Bertahan atau gak, itu gampang, yang penting ngehapus jejak di laporan keuangan, dan hidup atau mati, yang pasti musuh perusahaan. Selama aku punya uang, bisnis ini gak bakal padam," ujar Gunnefer mantap, mencoba membujuk Hendrik.
Sementara itu, Celine berusaha memperbaiki lampu yang menurutnya longgar, tapi sayangnya, "Traaang" lampu itu tiba-tiba pecah dan pecahan kaca menyakitkan mendarat di kakinya.
"Akkhh, sialan, sakit banget!" umpat Celine, merasakan pedihnya serpihan kaca menusuk kulitnya.
Pagi cerah menyapa Pangeran yang akhirnya bisa tidur nyenyak semalaman.
"Pukul 06:30, pagi banget nih," ucap Pangeran, meski begitu, semangat membara membakar dirinya untuk bersiap-siap ke kantor.
Tiba-tiba, "Cling" suara notifikasi dari handphone Pangeran membuyarkan keheningan pagi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 49 Episodes
Comments