Celine malam ini tampil sangat memesona, entah apakah tujuannya untuk menarik hati Pangeran atau sekadar menarik perhatian pelanggan tajir di restoran tersebut.
Riasan wajahnya yang sempurna dan gaun malam yang memperlihatkan keseksian tubuhnya, semua terlihat begitu pas.
"Mbak, naik sini, jangan lupa pake helm ya," ucap pengemudi ojek dengan senyum lebar. "Gasss!" seru abang ojek semangat.
Saat di perjalanan, Celine tak bisa menghindari pikiran-pikiran kreatifnya. Ia membayangkan apakah dia akan menumpahkan sup panas di kepala Pangeran atau bahkan menyiramnya dengan minuman mewah yang ia pesan.
"Awas, siap-siap kau, jangan kira bisa seenaknya mengerjai aku tanpa konsekuensi," gerutu Celine dalam hatinya, meski ekspresinya tetap terlihat tenang.
"Jangan melas-melas, mbak. Udah cantik, tapi kalau melas-melas malah bikin serem," kata abang ojek dengan nada ceria, mencoba menghibur hati Celine yang tampak serius.
Pangeran dan Siberia melangkah dengan langkah pasti mendekati restoran yang menjadi tujuan mereka, sambil terus mengobrol akrab dan saling menggenggam tangan dengan erat.
"Eh, denger-denger nih, ada masalah di perusahaan ayahmu kan? Katanya si pemilik perusahaan Eropa, Bobo Dicson, bikin onar," ucap Siberia dengan cemas, matanya penuh perhatian untuk Pangeran.
Pangeran menjawab dengan senyum ramah, "Iya, bener banget. Lagi rada kacau situasinya," ucapnya sembari tetap memegang erat tangan Siberia, memberinya rasa dukungan.
Sementara itu, di sebelah jalan, Celine tak bisa menyembunyikan rasa gelisah dan keinginannya untuk balas dendam. "Bang, ngebut dikit lah!" teriaknya kepada abang ojek dengan semangat membara.
Ketika mereka tiba di restoran, nama Pangeran dan Siberia sudah terpampang jelas di daftar reservasi VVIP. Layanan valet parkir siap menunggu mereka dengan ramah.
Pangeran masih tetap memegang tangan Siberia dengan lembut, menuntunnya masuk ke dalam restoran dengan perlahan.
"Tuk... tuk... tuk..." Suara langkah Siberia terdengar anggun, setiap langkahnya penuh keanggunan sembari ia mengangkat gaunnya melalui setiap anak tangga yang dihadapinya.
“Nona Siberia, silahkan duduk santai aja,” ucap pelayan dengan senyum ramah, menarik kursi dengan sopan untuk Siberia. Barulah setelah itu, dengan penuh hormat, kursi untuk Pangeran pun ditarik.
Menu makan malam mereka hari ini sudah direservasi jauh-jauh hari, mengingat banyak makanan spesial Pangeran yang harus diimpor khusus.
“Clurrkkk.” Suara anggur merah terbaik dari Prancis mengalir ke dalam gelas Pangeran, menciptakan nuansa mewah di antara deretan meja restoran yang khidmat.
Semua orang di dalam restoran terlihat begitu tenggelam dalam suasana, menjalani makan malam dengan ketenangan dan keanggunan. Setiap etika makan di meja dihormati dengan seksama.
Sementara menunggu hidangan utama disajikan, seorang pelayan datang membawa pembuka hidangan.
“Silahkan, tuan dan nyonya, Hors D’Oeuvre Royale D’Authentique D’Hewyys,” ucap pelayan dengan penuh keahlian, meletakkan hidangan pembuka itu di atas meja mereka.
“Hewyys D’Quiche,” lanjutnya dengan penuh semangat, menjelaskan dengan detail setiap aspek dari hidangan itu, mulai dari bahan terbaik yang digunakan, keju terbaik dari Italia, hingga si raja dari segala jenis jamur yang menjadi bahan utamanya.
Suara pelayan terdengar seperti lagu yang mempesona, menjelaskan kelezatan hidangan dengan sangat rinci, menciptakan antisipasi di antara para tamu yang menantikan pengalaman kuliner yang tak terlupakan.
Pangeran sudah mengerti betul dengan tema acara mereka malam ini, namun di mata Pangeran, penampilan Siberia begitu memukau. Siberia tampak seperti seorang putri kerajaan dengan dandanan yang begitu elegan.
"Siberia, kamu tampil luar biasa," Pangeran akhirnya memecahkan keheningan di meja makan. Sang pelayan, yang mendengar pujian Pangeran, segera bergegas ke dapur dan membawa sebuah botol bir terbaik yang sudah berumur 100 tahun.
"Clurrkkk," suara bir yang terenak terdengar saat pelayan menuangkannya ke dalam gelas Siberia dan Pangeran. "Danke," ucap Pangeran dengan penuh rasa terima kasih.
Makanan terus berdatangan, satu hidangan menggantikan yang lainnya. Hingga akhirnya, hidangan sup terbaik, yang merupakan favorit Pangeran dan Siberia, disajikan di meja mereka.
"Uhmmm, enak sekali," ucap Siberia sambil menikmati setiap sendok supnya.
Namun, tiba-tiba seorang wanita muncul dan menghampiri meja mereka dengan langkah perlahan.
"Hei, bayar," ucap Celine dengan singkat, wajahnya dipenuhi dengan sinis seakan-akan dia adalah seorang psikopat.
Pangeran hanya melihat wajah Celine sebentar, lalu melanjutkan makan siangnya. Siapa wanita ini?
Sepertinya dia seperti seorang gelandangan yang belum pernah ditemui sebelumnya. Terlalu sok tahu soalnya.
"Kau ingat aku?" kata Celine, nada suaranya semakin meninggi.
Pangeran menjawabnya dengan nada datar, "Ga," yang membuat alis Celine naik.
Amarahnya pun tidak bisa lagi dikendalikan. Celine dengan keras menggebrak meja dan menumpahkan sup ke kepala Pangeran.
"Bajingan! Kau tidak membayar aku! Kau menipu aku!" teriak Celine. "Kamu kaya, kan?!"
Celine mendesak, siap untuk menampar Pangeran. Namun, tindakannya dihentikan oleh Siberia yang sudah mabuk.
"Hei, kau wanita ******! Jangan macam-macam dengan Pangeranku!" ucap Siberia sambil memegang tangan Celine dan menamparnya dengan keras.
"Plak!" Terdengar suara tamparan yang renyah. Celine pun membalas dengan tamparan keras lainnya, "Plak!" Terdengar suara serupa.
Pertengkaran mereka hanya berlanjut dengan tamparan balasan.
Para penjaga restoran yang melihat keributan itu segera mengusir Celine karena membuat pelanggan lain merasa tidak nyaman. Mereka meraih kedua tangan Celine dan menyeretnya keluar.
Pangeran, di sisi lain, tidak bergeming. Dia hanya membersihkan sisa sup yang menempel di rambutnya ke dalam toilet. Cukup dengan sedikit air dan rapihannya pun kembali.
Di luar restoran, Celine terus meneriakkan amarahnya kepada Siberia. "Bajingan lacur! Kau mengincar uang Pangeran kaya ini! Ia pelit, bahkan tidak membayar jasaku. Dia sampah!" ujar Celine dengan suara penuh kemarahan, sambil meneteskan air mata kesal.
Siberia, tak tahan dengan penghinaan terhadap Pangeran, langsung meladeni Celine dengan nada tajam, "Tutup mulutmu, lacur! ******! Bedebah sialan!" teriak Siberia membalas dengan gemas.
Di dalam restoran, Pangeran hanya bisa menghela nafas mendengar keributan di luar.
"Semua perkelahian ini hanya akan merendahkanmu, dasar wanita rendahan," gumam Pangeran sambil menggelengkan kepala.
Sementara itu, di luar restoran, Celine masih terus berteriak, kali ini ke arah satpam yang mencoba menenangkan situasi.
"Asal kalian tahu, aku dipakai tapi tidak dibayar, lalu terlilit hutang oleh debt collectors!" ucap Celine dengan nada tinggi, ekspresinya penuh kemarahan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 49 Episodes
Comments