Handphone Celine bergetar dengan riuh, namun dia sadar bahwa panggilan tersebut berasal dari nomor asing, seseorang yang tidak jelas identitasnya.
"Ah, kayaknya lagi di-teror nih," Celine bergumam sambil mengamat-amati layar ponselnya sebelum akhirnya memutus panggilan itu.
Meski begitu, seiring berjalannya waktu, panggilan demi panggilan dari pelanggan malam itu masuk tanpa dihiraukan oleh Celine yang sudah terlelap tidur.
Para pelanggan mulai bertanya-tanya apakah Celine telah mengakhiri pekerjaannya, kebingungan karena panggilan mereka tidak mendapat respons.
Dengan uang yang habis setelah berbelanja pagi tadi, satu-satunya harapan Celine adalah pada uang yang akan dibawa oleh Pak Bono. Celine merasa kelelahan dan tertidur pulas tanpa menyadari seberapa banyak panggilan yang dia lewatkan malam itu.
Sementara itu, Pangeran duduk di meja kerjanya di rumah, tengah sibuk merencanakan anggaran dan jadwal operasional untuk cabang baru perusahaannya.
"Hmm, tinggal mengaplikasikan, mengembangkan, memperbaiki, dan memaksimalkan," Pangeran berbisik pada dirinya sendiri, merenungkan rencana masa depan perusahaan dengan serius.
Setelah Pangeran meninggalkan karaoke, rekan-rekannya pulang ke rumah masing-masing dengan perasaan cemas dan penuh tanda tanya mengitari pikiran mereka.
Mereka memikirkan apakah mereka harus meminta maaf kepada Pangeran, merasa khawatir apakah telah membuatnya tidak nyaman, atau berspekulasi apakah makanan yang mereka pilih tidak cukup mewah karena Pangeran tampak tidak begitu menyukai makanan cepat saji.
Pertanyaan-pertanyaan itu menghantui pikiran rekan-rekan Pangeran yang sangat memperhatikan perasaan Pangeran.
"Haruskah aku menghubungi Pangeran?" gumam Zae dalam kebingungannya, wajahnya memerah teringat saat Pangeran menjilati dadanya dengan lembut, mengundang sensasi yang tak terelakkan.
Sementara itu, Mae Ling merasakan rasa cemburu melanda.
"Andai saja aku memiliki dadaku sebesar Zae, apakah Pangeran akan menjilati dadaku juga?" desisnya penuh kecemburuan, sebab rasa cinta diam-diamnya kepada Pangeran semakin dalam.
Pangeran tidur pulas malam itu, terlelap tanpa kekhawatiran karena ia tahu ia harus bangun sangat pagi esok hari.
Di tempat lain, Bono dan Lizzie merayakan kesuksesan mereka dalam kerjasama dengan perusahaan Pangeran dengan minuman beralkohol yang mengalir deras.
"Kita melanjutkan!" seru Lizzie, mengajak Bono untuk bersulang merayakan pencapaian mereka.
"Bos, dia sangat takut namun memiliki bakat yang luar biasa. Tenang saja, kita berkolaborasi dengan pihak yang tepat," Bono meyakinkan bosnya.
"Besok, Bos, saya akan mengajak Anda ke tempat yang bisa membuat Anda merasa muda kembali," janji Bono sambil tersenyum penuh keyakinan.
Di saat matahari baru saja merayapi langit, Pangeran sudah berada di bandara dengan perasaan campur aduk.
"Sampai jumpa, kota yang selalu menghidupi mimpi-mimpi ku," bisik Pangeran kepada kota tempatnya tinggal.
"Satu minggu nggak bakal lama kok," tambahnya mencoba menguatkan diri.
Sementara itu, Celine masih terlelap dalam tidurnya, alarm yang berdering keras pun tidak mampu membangunkannya.
Langganan setianya akhirnya memutuskan untuk datang ke tempatnya, tetapi terpaksa meninggalkannya begitu saja saat dia mengetuk pintu dan tidak mendapat jawaban.
"Ah, mungkin dia sudah berhenti," ucap Pak Didit, pelanggan tetap Celine, dengan nada kecewa.
Beberapa jam kemudian, tepat pukul 08:00, Pangeran telah tiba di kota baru tempat cabang perusahaannya akan dibuka.
"Semoga kota ini sehebat kota kelahiranku," ujar Pangeran, mencoba membayangkan masa depan cerah untuk perusahaan barunya.
"Pagi semua!" sapa Pangeran penuh semangat saat dia menghadiri peresmian gedung baru kantor cabangnya, menyambut dengan ramah seluruh elemen masyarakat yang hadir di acara tersebut.
Celine akhirnya membuka mata dengan terkejut. "Wah, dah lewat jam 11 siang aja nih," celetuknya, kaget bahwa alarm yang seharusnya membangunkannya gagal total.
Dengan sigap, Celine melangkah ke dapur dan mulai memasak makanannya. Dia tahu bosnya, Pak Bono, akan datang, jadi dia ingin merapihkan tempatnya.
"Aduh, gimana sih bos Pak Bono itu? Kira-kira dia muda gak ya, atau udah kayak Pak Bono?" gumam Celine, penasaran tentang sosok bos yang selama ini hanya dikenal lewat namanya.
Sementara itu, Pangeran sukses membuka cabang baru perusahaannya dengan penuh semangat.
"Keren, cabang ini bisa berdampak besar buat perusahaan dan mendongkrak nilai saham kita," ujarnya dengan senang.
Sore sudah menjelang senja, Celine merasa puas karena telah membersihkan seluruh kamar kosannya.
Setelah kerja keras membersihkan rumah, tubuhnya berkeringat, sehingga dia memutuskan untuk mandi segera.
"Ah, seger banget kalau mandi," ucap Celine sambil melangkah menuju kamar mandi dengan semangat.
Namun, malam datang tanpa adanya pesan masuk di handphone Celine.
"Eh, kenapa gak ada kabar sih? Apa gak jadi ya?" desis Celine, tanpa sadar bahwa dia telah mematikan handphone-nya.
Tiba-tiba, ada suara ketukan pintu yang memecah keheningan malam.
"Siapa ya?" tanya Celine, heran dengan kedatangan tak terduga ini. "Ini Pak Bono," jawab Bono dengan suara lantangnya.
"Btw, Celine ini Pak Lizzie, dia boss gue," ucap Bono sambil memperkenalkan Lizzie, dengan senyumnakalnya.
"Oh, jadi ini Pak Lizzie ya? Nama saya Celine," sapa Celine dengan ramah dan sopan.
"Celine, huh? Nama yang familiar, kayaknya pernah dengar dari seseorang sebelumnya," kata Lizzie yang berusaha mengingat dengan wajah bingung.
"Yo, bro, aku cabut dulu ya," kata Bono sambil melangkah pergi, meninggalkan Celine yang merasa canggung berada di hadapan orang asing. "Halo, Pak, ada yang bisa saya bantu?" sapa Celine dengan sedikit gemetar.
Celine segera menutup pintu kosannya rapat-rapat. Dia menyalakan musik lembut yang mengalun di sudut ruangan, dan tanpa ragu mulai menari dengan gerakan gemulai.
"Kamu beneran jago nari, nih!" puji Lizzie sambil memperhatikan gerakan Celine yang begitu memikat dan seksi.
"Gak tahan liat kamu, nih!" pikir Lizzie yang semakin terpana melihat gerakan memikat Celine.
Perlahan, dengan gemulainya, busana Celine satu per satu terlepas.
Tapi Lizzie tidak bisa lagi menahan gejolak dalam dirinya. "Gluukk," suara getaran Lizzie menelan liurnya yang menggambarkan betapa dia sulit mengendalikan diri.
"Stop, please," ucap Lizzie dengan napas tersengal, terpana oleh pesona Celine yang begitu memikat.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 49 Episodes
Comments