Ketahuan ngintip

Pangeran melirik jam tangannya yang terlihat begitu elegan, dilapisi emas dan dihiasi dengan permata murni. Waktunya menunjukkan pukul 3 sore yang akurat.

"Cepet, Sherly! Kita harus sampai di Restoran Imperial King Royale Luncheon sebelum jam 8 malam. Kita mau makan siang bareng Direktur Zhang Wang," ucapnya dengan suara tegas dan cepat.

Dalam sekejap, mobil hitam dengan logo dobel R besar menjadi pusat perhatian di jalanan, menggambarkan kemewahan dan keanggunan.

"Jadi, gimana nih, Sherly? Bisnismu udah maju pesat belakangan ini?" tanya Pangeran, mencoba membuka percakapan dengan gadis itu.

Pangeran tenggelam dalam lamunannya sendiri, merenungkan situasi yang rumit. Pikirannya berselisih, membentuk pertanyaan dan keraguan.

"Pasti ada wanita itu yang bakal muncul. Dia mungkin berpikir aku bakal bayar semua ini, termasuk hotel dan jasanya. Padahal, buatku, dia cuman mainan. Wanita yang menjual dirinya kayak gini, bisa dibilang sampah. Kenapa aku harus ngeluarin duit buat sampah kayak gitu?" pikir Pangeran, suaranya hampir tenggelam dalam refleksi pribadinya.

Namun, meski tenggelam dalam pikirannya, Pangeran masih sempat mendengar pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan Sherly. "Pangeran, kamu dengerin aku nggak?" tanya Sherly berkali-kali, hingga akhirnya berhasil menghentikan khayalan Pangeran.

"Ah, iya, aku masih dengerin lo. Maaf, tadi agak kebayang-bayang," jawab Pangeran dengan suara datar.

"Sherly, apakah kamu gak enak badan? Singa aja gak bisa berburu kalo dia lagi sakit," tegur Sherly dengan penuh perhatian.

Sementara itu, Celine mencoba mencari tahu lokasi Restoran Imperial King Royale Luncheon melalui mesin pencarian di ponselnya. Dia berharap bisa menemukan tempat yang sedang dituju oleh Pangeran.

Tiba-tiba, seorang satpam penjaga di kediaman Pangeran mendekati Celine. Celine merasa terkejut dan bulu kuduknya merinding. Keringat mulai mengucur tidak terkendali.

"Kalau aku bilang lagi lagi aku cari Pangeran, pasti aku bakal diusir," gumamnya dalam hati, sambil tubuhnya terdiam tak bergerak, mencoba menyelinap tanpa banyak kata.

Celine mencoba menjawab dengan santai, berusaha menjelaskan kehadirannya. "Aku cuma penasaran sama taman yang indah ini," ucapnya dengan nada yang coba tenang.

Penjaga taman merespon Celine dengan nada tegas, "Kamu ini bener-bener aneh, ya! Sekolah itu pernah nggak sih? Kamu bisa baca, kan? Ini area pribadi, bukan buat umum."

Celine menjawab dengan wajah yang mencerminkan rasa penasaran, "Wah, keren banget sih yang punya taman dan rumah kayak gini. Mesti orang super kaya ya?" Penjaga itu dengan lugas menyatakan, "Emang iya, pastinya. Sekarang, buru-buru keluar dari sini, atau bisa-bisa aku harus mengusirmu pakai cara yang kurang nyaman."

Celine menggelengkan kepala, tak ingin mencari masalah lebih lanjut dengan penjaga taman yang tampak tangguh itu. Meski badannya mungil dengan tinggi hanya sekitar 150cm, dia tahu betul bahwa tidak bijak mencoba menantang penjaga tersebut.

Celine harus menelan pil pahit dan meninggalkan kediaman Pangeran dengan hati yang berat.

Namun, setidaknya dia mendapatkan petunjuk dari penjaga taman bahwa Pangeran pasti bisa membayar tagihan yang telah disepakati antara mereka sebelum tidur bersama malam itu.

Kini, tugas Celine adalah menemui Pangeran dan memastikan bahwa mereka menyelesaikan urusan yang telah dimulai.

"Kenapa kamu malah ngajak cewek lain, padahal urusan kita belum kelar?" pikir Celine dengan hati yang resah.

Siberia melirik sekeliling, melihat lahan parkir VIP yang sudah penuh sesak dengan mobil-mobil mewah. Tentu saja, ini bukan hal aneh, mengingat mereka berada di tempat yang jadi langganan para bangsawan kaya di kota itu.

"Huff, apa daya," desah Pangeran, keluar dari mobil dan meregangkan tubuhnya yang tegang setelah perjalanan yang panjang.

Mata Pangeran menyapu sekeliling, memberi sinyal kepada para pelayan VIP yang langsung bergerak sigap, siap menyambut kedatangan mereka. Mereka dengan lincah beralih ke mobil Siberia, terpesona saat melihat Pangeran melangkah keluar dari kendaraan tersebut.

"Selamat siang, tuan muda," sapanya sopan, penuh kerendahan hati, ketika kepala pelayan tempat itu menunduk hormat menyambut Pangeran dan Siberia.

Dengan penuh elegansi, pelayan menyiapkan sebuah plat besi bertabur sutra halus untuk Siberia meletakkan kunci mobilnya. Pangeran dengan ramah membuka pintu mobil, memberi Siberia senyuman lembut.

"Ayo, Nona Siberia," bisiknya ramah, dan Siberia tanpa ragu menggenggam tangan Pangeran. Bergandengan tangan dengan penuh anggun, mereka memasuki gedung, menuju ruang di mana mereka akan bertemu dengan Paman Zhang.

Tepat lima menit setelah mereka sampai, tuan Zhang keluar dari kamar kecil, karena sebelumnya dia telah menunggu beberapa menit sebelum Siberia dan Pangeran tiba.

"Eh, Tuan Zhang," sapa Pangeran cepat, dan Siberia ikut berdiri menyusul gerakannya.

"Ahh, Tuan Pangeran dan Nona Siberia, senang banget bisa ketemu kalian," ucap tuan Zhang dengan senyum ramahnya.

Sementara itu, Celine terjebak di dalam kendaraan umum yang terperangkap dalam kemacetan kota. Kekhawatiran mulai merayapi pikirannya ketika dia menyadari dia tidak tahu berapa lama Pangeran dan wanita itu akan makan bersama di Imperial King Royale Luncheon.

"Ahh, bingung banget deh, nggak tau mau ngapain," desah Celine, pikirannya penuh kegalauan.

Amarah yang diberi bumbu pedas oleh matahari terik membuat kepala Celine seakan terbakar habis oleh kesabaran. Meluap-luap, dia akhirnya keluar dari angkutan umum yang terjebak dan memutuskan untuk melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki, mencoba menghindari kemacetan yang total.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!