"Pangeran, karaoke setelah kerja nanti yuk!" begitu bunyi pesan dari Cindia.
Pangeran yang setengah sadar dan setengah masih terlelap langsung meraih ponselnya dan membalas pesan itu, "Siapa aja yang bakal ikut?" Pangeran bertanya singkat.
"Banyak, aku, manajer Zae, Mae Ling, Titina, Sinta, Amel, Tina. Kayanya itu aja deh," jawab Cindia dalam balasan pesannya yang juga singkat.
"Hah, emang gue sendirian dong, gak ada cowok?" gumam Pangeran, bingung dengan ajakan itu.
"Gue gak bisa nolak, ya udah deh," Pangeran menulis pesan dan mengirimkannya ke Cindia.
Namun, hanya emoji "marah" yang menjadi balasan Cindia, membuat Pangeran semakin bingung dan sulit untuk menolak.
"Oke deh, sampai jumpa nanti pas gue balik," Pangeran akhirnya menjawab dengan agak bingung.
Sementara itu, di pagi yang cerah itu, Celine bersiap untuk berbelanja kebutuhan bulanannya.
Kakinya yang luka terbalut perban hansaplast, ia melangkah keluar dengan sandal, memakai celana pendek yang memperlihatkan paha mulusnya, dan baju yang terlalu pendek, seolah-olah kehabisan bahan saat dibuat.
"Bang, ojek!" teriak Celine memanggil ojek di pangkalan dekat kosannya. "Ke pasar, ya," pesan Celine.
"Oke, neng, langsung meluncur!" sahut pengemudi ojek siap membawa Celine ke pasar.
Dalam lima belas menit melibas jalan yang sesak, akhirnya Celine tiba di pasar. Setelah membayar abang ojek, dia melangkah ke pasar sambil mendengar teriakan pedagang ayam,
"Ayamm... Ayamnya segar! Langsung potong, neng!" Seruannya diikuti oleh pedagang ikan, "Ikan... Ikan neng seger kayak paha nengnya! Ikan segar!"
Mendengar itu, bapak pedagang ikan mendapat teguran dari istrinya dengan gaya yang tak kalah keras.
Di tengah hiruk-pikuk pasar, Celine menyaksikan ribuan obrolan ibu-ibu yang saling berbaur dengan serunya bursa belanja.
"Tau gak, Bu Jum? Suaminya dilaporkan ke polisi dan semua kekayaannya disita!" seru seorang ibu di tengah kerumunan.
Celine yang sedang menguping dengan saksama mencoba merangkum informasi sebanyak mungkin, bagian dari rencananya untuk melaporkan Pangeran dan menjebloskannya ke penjara.
Dalam usahanya mengumpulkan informasi, Celine bahkan memutuskan untuk membeli beberapa barang dagangan dari pedagang di sekitar para ibu itu agar bisa mendengar percakapan lebih jelas.
"Iya, suaminya tuh gak bener, kaya koruptor!" ujar seorang ibu berdaster coklat, disambut oleh ibu berdaster ungu dengan rambut di kuncir, "Kalo udah masuk jalur hukum, ya pasrah deh, pasti ketangkap juga."
Sambil mendengar percakapan itu, Celine merasa senang, membayangkan Pangeran dalam kesulitan.
"Pasti dia bakal ditangkap! Pangeran, kau bakal menyesal!" gumam Celine dengan bahagia mendengar percakapan tajam para ibu-ibu di pasar itu.
"Ah, cerita kita lanjut minggu depan aja, Bu. Sekarang ayo pulang, anak-anakku menunggu, mereka harus makan dan berangkat sekolah lagi besok," ucap seorang ibu yang lebih tua berkaos hitam, menandai akhir dari obrolan seru itu.
Celine melangkah dengan hati penuh tekad, mencari informasi dari ibu-ibu tadi agar dapat merancang rencana untuk memastikan Pangeran akan berakhir di balik jeruji besi.
Dia menenteng belanjaannya dengan penuh semangat, menuju tempat berkumpulnya kendaraan umum seperti ojek yang akan membawanya pulang.
Sementara itu, Pangeran berangkat ke kantor dengan mobil kesayangannya, dipenuhi kegembiraan.
Namun, kesalahannya memilih jalan membuatnya terjebak dalam kepadatan lalu lintas pasar tradisional.
"Sial, salah belok gara-gara terlalu asik ngebut," gumam Pangeran dengan rasa frustrasi.
Klakson mobilnya berbunyi, menciptakan orkestra bising di tengah keramaian pasar.
"Woi, punya otak gak sih lo?" teriak supir angkot yang kesal karena dihalangi.
"Sialan, orang-orang kumuh ini hanya menghasilkan recehan, minggir lah! Aku mau lewat," keluh Pangeran dengan sikap arogan, memperlihatkan sikap sombong yang diajarkan oleh keluarganya.
Celine berusaha menyeberang ke pangkalan ojek di seberang saat hampir tertabrak oleh mobil sedan berkaca gelap.
Pangeran, yang terburu-buru, tidak menghiraukan apapun di sekitarnya. "Aku harus cepat sampai ke kantor," gumam Pangeran tanpa mempedulikan situasi sekitar.
Setelah beberapa menit, lalu lintas akhirnya kembali lancar untuk Pangeran.
"Sialan, 20 menit terbuang karena jalan ini macet," ucap Pangeran dengan rasa kesal, merasa waktu berharganya terbuang percuma karena terjebak kemacetan tersebut.
Zae menghubungi Pangeran melalui panggilan telepon, "Halo, di mana kamu? Sudah hampir waktunya untuk masuk kerja, nih," ujar Zae dengan nada was-was dalam suaranya.
Namun, Pangeran hanya menekan tombol "End Call" dan memacu sedan tua miliknya dengan cepat. Mesin sedan mengeluarkan suara berdentum saat mobil itu melaju di atas aspal.
Sementara itu, Celine pulang ke kosannya setelah diantar oleh abang ojek ke pangkalan yang berdekatan.
"Neng, tau gak? Di deket sini ada kosan yang terkenal pelacur, tau," ujar abang ojek dengan nada iseng. Celine pura-pura tidak tahu dengan senyum terpaksa di wajahnya.
"Ah, masa sih?" sahut Celine, berusaha menjaga ketenangannya. Dalam hati, dia merasa kesal karena kosannya menjadi bahan perbincangan di pasar.
"Sial, itu kosanku," gumam Celine dalam hatinya, khawatir dengan keamanannya.
"Sampai-sampai abang ojek di pasar aja udah pada tau," pikirnya, merasa kesal bahwa privasinya yang seharusnya terjaga dengan baik sekarang terbongkar.
Celine memutuskan untuk berjalan memutar agar tidak terlalu mencolok di mata abang ojek yang mungkin mengenalinya.
"Huft, untung aku hapal jalan ke belakang kosan," ucap Celine dengan lega.
Dia merasa lega karena tahu jalur-jalur tersembunyi di sekitar tempat tinggalnya, meskipun dia jarang keluar rumah.
Celine sampai di kosannya melalui pintu belakang dengan nafas tersengal-sengal, "Aduh, capek banget. Jauh-jauh harus muter-muter, trus mobil sedan tadi tuh kampret banget, hampir aja nyaris ketabrak," keluh Celine sambil menggosok lelah dari wajahnya.
"Brukkk," dengan kasar dia meletakkan belanjaannya di atas meja. "Greekk, cleeekkk..." suara bising dari lampu yang dipasangnya mengisi ruangan, "akhirnya lampu terpasang juga," ucap Celine dengan senang gembira karena berhasil memasang lampu sendiri.
Tepat saat itu, sebuah pesan masuk di ponselnya dari Pak Bono.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 49 Episodes
Comments