Siberia menatap Pangeran dengan penuh perhatian, membenamkan diri dalam kata-kata Pangeran. "Kamu punya bunga kayak gitu di hidupmu, gak, Pangeran? Kaya mawar yang begitu indah," ucap Siberia dengan suara lembut, wajahnya sedikit tertunduk sambil tersenyum lembut.
Pangeran duduk di antara tumpukan buku yang telah ia baca, sementara ingatannya membawa dia ke masa lalu. Buku-buku ini adalah saksi bisu perjalanan hidupnya, mengajarkannya segala pengetahuan yang mungkin.
Waktu luangnya di masa remajanya diisi dengan membaca, menggali psikologi manusia, dan memahami kompleksitas dunia melalui lembaran-lembaran buku. Pangeran memang punya kebiasaan unik dalam membaca, dia menganggap buku sebagai jendela ke dunia.
Siberia, wanita cantik dengan senyumnya yang menghangatkan hati, mendekati Pangeran dengan kehangatan. "Kamu tahu, waktu di sekolah dulu, ada seorang wanita yang suka padamu, loh! Aku yakin cintanya masih ada, meskipun waktu terus berlalu," ucap Siberia, mencoba membuka lembaran kenangan yang terkubur dalam hati Pangeran.
Pangeran memandang Siberia dengan tatapan penuh tanda tanya. "Siapa yang bakal mencintai sosok kosong seperti aku? Aku tidak pernah benar-benar tertarik pada hubungan serius. Bagiku, wanita hanya jadi alat untuk meraih kebahagiaan sesaat," jelas Pangeran, mencoba menjelaskan kepribadiannya yang sulit ditembus.
Meskipun demikian, dalam kedalaman hatinya, Pangeran merasa aneh karena dia merasakan ada sesuatu yang berbeda dalam tatapan mata Siberia, sesuatu yang membuat hatinya berdegup lebih kencang.
Celine melangkah dengan hati yang berdebar menuju gang sempit yang direkomendasikan oleh temannya seprofesi. Dia mencari Pak Hamam, seorang tokoh yang konon bisa membantunya menyelesaikan masalah yang menghimpit.
Ketika dia tiba di depan sebuah pintu di ujung gang, seorang laki-laki buncit dengan tato tengkorak di lehernya memberitahunya bahwa Pak Hamam berada di balik pintu nomor empat.
Saat Celine memasuki ruangan itu, dia dikejutkan oleh penampilan seorang pria tua yang tidak terlalu menarik, kulitnya gelap dan matanya menyilaukan berkat kilauan cincin dan kalung emas yang memenuhi tubuhnya.
Suaranya berbicara dengan kebijaksanaan yang tajam, "Apa yang kau inginkan, anak muda?"
Dengan keberanian, Celine memperkenalkan dirinya, mencoba membuka pembicaraan. "Saya menghadapi masalah dan butuh pertolongan, Pak Hamam."
Pria tua itu tersenyum, namun senyumnya tidak mencapai matanya yang berkilau. "Setiap orang yang datang kepadaku membutuhkan pertolonganku. Hanya aku yang bisa memberikan harapan kepada mereka. Namun, setiap bantuan tidak datang tanpa harga dan syarat. Apakah kamu siap untuk membayar?" ujarnya, memandang Celine dengan tajam, membuatnya merasa seakan-akan diuji oleh mata yang tajam.
Celine diberi waktu setengah jam oleh Hamam untuk menjelaskan masalahnya dengan harapan mendapatkan bantuan finansial.
Dalam waktu yang sama di toko buku, Pangeran dan Siberia terlihat tengah asyik mengobrol. Siberia menampilkan senyuman imutnya, memikat hati Pangeran. Namun, suasana berubah ketika Pangeran tiba-tiba menarik Siberia keluar dari toko buku, membawa buku yang baru saja dibeli Siberia.
Mereka berdua berjalan menuju sebuah bangunan klasik dengan ornamentasi yang memukau, sebuah hotel megah yang menjadi destinasi mereka. Siberia membaca plang di depan pintu masuk dan menyadari bahwa itu adalah sebuah hotel.
"Uhmmm," gumam Pangeran dengan senyum misterius, tangan Pangeran dengan lembut meraih kedua pipi Siberia, dan dia memberikan ciuman lembut di bibir Siberia.
"Muachhh." Ciuman itu membuat Siberia terkejut, hingga ia menjatuhkan tas yang berisi banyak buku.
"Apa ini nyata? Kenapa tiba-tiba, rasanya seperti dalam mimpi," pikir Siberia, terkejut oleh momen yang terjadi begitu cepat dan tiba-tiba.
Siberia terkejut dan grogi setelah ciuman mereka terhenti secara tiba-tiba. Dalam kebingungan, Siberia tak sadar menggigit bibir dan lidah Pangeran, memutuskan momen yang intens itu. Namun, seketika itu juga Siberia memeluk Pangeran dengan erat.
"Umm, kamu kenapa baru sekarang?" ucap Siberia dengan nada penasaran. Pelukan Siberia terasa hangat dan lembut, menyelimuti Pangeran yang telah melewati masa lajangnya bersama Celine.
Tapi, efek pelukan itu tidak hanya menciptakan kehangatan emosional. "Eh, ada sesuatu yang keras di celanamu, Pangeran," ucap Siberia dengan nada kagum.
Pangeran hanya tertawa dan mengusap lembut kepala Siberia, meredakan ketidaknyamanan Siberia dengan kejantanannya yang terbangun.
Pangeran dan Siberia bergegas menuju dalam hotel. Siberia dengan cermat memesan satu kamar untuk pasangan dengan tempat tidur terbaik, memperhatikan bahwa reputasi Pangeran adalah aset berharga dalam bisnisnya.
Siberia mengeluarkan kartu Platinumnya dengan percaya diri untuk melakukan pembayaran di tempat. "Baik, sudah dibayar," ucap Siberia dengan mantap, mengambil kartu akses masuk ke kamar hotel.
Pangeran dan Siberia bersama-sama naik lift menuju lantai 20, menuju kamar nomor 1013. "Ting!" beberapa menit kemudian, mereka akhirnya tiba di lantai 20.
Di dalam gang sempit itu, Celine memegang erat sebuah paket yang dibungkus dalam plastik hitam. Paket itu baru saja diberikan oleh Hamam, dan sepertinya berisi uang yang sudah lama ditunggu-tunggu oleh Celine.
Rasanya seperti keberuntungan bagi Celine, meskipun ia belum menyadari bahwa dalam waktu enam bulan, dia akan harus mengembalikan uang itu beserta bunganya yang sangat besar.
Bagi Celine, pekerjaannya sering kali sepi dan bayarannya rendah, membuatnya kesulitan menghadapi tuntutan tersebut.
"Dengar baik-baik, Pangeran, kamu akan membayar lebih mahal dari ini," desis Celine dengan mata yang penuh amarah, menyimpan dendam yang dalam terhadap Pangeran atas segala perasaan campur aduk dalam hatinya.
Siberia mengarahkan kartu aksesnya ke pintu nomor 1013. Dengan lembut dan penuh kelembutan, dia mengatakan, "Silakan masuk."
Pintu itu pun terbuka, mempersilahkan Pangeran dan Siberia untuk memasuki kamar itu bersama-sama, menandai awal dari petualangan mereka yang baru.
Siberia dengan lembut menutup pintu kamar dan mengunci dengan hati-hati. "Mwahh," dia mencium Pangeran dengan penuh kasih sambil air mata meluncur di pipinya.
"Kenapa baru hari ini," Siberia berkata sambil meratap, "sudah begitu lama aku menyimpan perasaan cintaku padamu."
Pangeran hanya membalas dengan ciuman yang lembut, tanpa sepatah kata pun. Mereka terhanyut dalam keintiman ciuman mereka, seperti dua jiwa yang akhirnya bersatu. Siberia akhirnya meminta izin untuk sejenak meninggalkan Pangeran.
"Tunggu sebentar, aku perlu ke kamar mandi," kata Siberia seraya meminta Pangeran untuk bersabar sebentar.
Pangeran duduk di atas kasur dengan sabar, menanti kedatangan Siberia. Dalam diam, ia mengeluarkan alat pengaman yang sudah dipesan sebelumnya di meja resepsionis hotel.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 49 Episodes
Comments