"Siapa ini?" Celine bertanya lagi, bingung karena tak mendapat respons apa pun. Dia mengira itu mungkin Pak Bono atau Pak Samsudi, tetapi tak satu pun dari mereka memberi pesan.
Tiba-tiba, muncul sosok Kevin di depan pintu.
"Oh, kamu..." Celine terkejut dan bersiap-siap, "Ada apa? Jangan usir aku, susah nyari tempat tinggal yang affordable di kota ini." Celine memelas kepada Kevin, yang terlihat sangat marah.
"Diam, kamu ******," bentak Kevin, memegang erat tangan Celine dan memaksa dia masuk ke dalam kamar kosannya.
"Hmm, untungnya gak ada orang yang bangun," ucap Kevin sambil mengamati sekitar dan menutup pintu kosan Celine.
Dengan cepat, Kevin mengikat tangan Celine dan menyumpalkan mulutnya dengan sehelai kain.
"Jangan... jangan," Celine mencoba bicara, tapi suaranya terdengar samar karena mulutnya terikat.
"Jangan bunuh aku," serunya, namun tak ada belas kasihan dalam ekspresi kasar Kevin. Dia mendorong Celine ke kasurnya hingga Celine terjatuh dengan kesakitan.
"Ahh!" terdengar suara Celine yang merasakan sakit akibat jatuh, mulutnya masih terbungkus rapat oleh kain.
Kevin membuka ikat pinggangnya dengan gerakan cepat dan gemas. "Diam aja, kamu!" bentaknya kepada Celine dengan nada tajam, marah karena Celine telah mengganggu rekan kerjanya.
Ancaman terasa begitu nyata, Kevin nyaris bisa merasakan rasa hancur dalam kerjasamanya jika Celine terus mengacaukan segalanya.
Celine menangis ketakutan, tapi suara tangisannya hilang tak berbekas karena mulutnya telah tersumpal dan diikat rapat dengan sehelai kain.
Dengan kasar, Kevin merobek bagian belakang daster Celine. "Krekkk!" Suara robekan kain begitu menghantam, mengungkapkan ****** ***** Celine dengan tegas.
"Plakkkk!" Tamparan telak meluncur dari tangan Kevin menuju bagian belakang Celine yang lembut.
"Kamu berani sekali membokongi juraganmu," Kevin melontarkan kata-kata penuh kemarahan, membalas perbuatannya dengan tamparan yang memerahkan kulit di bagian belakang Celine.
Kevin tak ragu dan tak banyak bicara, langsung memberi pelajaran kepada Celine tanpa ampun.
Pangeran bergegas menuju kantornya dengan perasaan tekad yang tinggi. "Sudah saatnya aku berhenti hanya menganggur dan bermain-main.
Aku harus kembali bekerja," ucapnya sambil memikirkan betapa seringnya ia hanya datang ke kantor saat pekerjaannya menumpuk dan memerlukan perhatiannya.
Tiba-tiba, ponsel Pangeran berdering dengan suara "Cling!" Sebuah notifikasi pesan masuk dari Siberia.
"Pangeran, aku akan pergi ke luar negeri untuk bekerja. Rekan bisnis ayahku telah membantuku mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan besar," bunyi pesan dari Siberia, memberi kabar bahwa dia akan meninggalkan negara.
Ponsel berdering lagi, "Cling!" Siberia kembali mengirim pesan.
"Pangeran, jika mungkin aku hamil karena apa yang telah kita lakukan, aku akan menggugurkan bayi kita. Aku tidak ingin kehilangan pekerjaan ini, ini adalah impianku." Siberia khawatir bahwa hubungan mereka yang terlarang bisa membahayakan pekerjaannya dan ia tak ingin itu terjadi.
Pangeran akhirnya tiba di kantor. Seorang wanita karier dengan pakaian profesional, memakai rok mini dan blus putih berrenda, mendekatinya.
"Halo, Pak Pangeran," sapanya dengan ramah.
"Aku adalah Sinta," lanjut wanita itu, sambil tersenyum menampilkan pesonanya.
Pangeran melihat Sinta dengan mata berbinar. "Oh, Sinta, kamu tampak begitu mempesona.
Kamu bersinar, ya," ucap Pangeran sambil memuji penampilan Sinta yang semakin menawan sejak terakhir kali mereka bertemu.
Pangeran melangkah dengan mantap ke meja kerjanya, duduk di kursinya yang menghadap ke meja kerja yang dipasangi plakat berbunyi "CFO Mr. Pangeran".
Sebuah tanda penghargaan yang membuatnya merasa begitu gagah dan berkuasa.
Tiba-tiba, dengan suara "Brukkkk", sebuku data tebal dilemparkan ke atas meja Pangeran.
"Eh, baru saja aku datang dan disambut oleh tumpukan tugas perusahaan ini," ucap Pangeran dengan nada heran, merasa terkejut oleh banyaknya pekerjaan yang menantinya.
"Ini adalah semua data perusahaan sejak Anda tidak hadir," ucap Michelle Wong Zae, sang manajer Pangeran, dengan suara tegas.
Michelle adalah seorang wanita cantik keturunan Tionghoa-Jerman, dengan kulit mulus, wajah imut ala Jerman, dan mata tajam ala China.
"Sungguh perpaduan yang sempurna," batin Pangeran, memandangnya dengan decak kagum meski hatinya merasa agak terbebani oleh beban kerja yang menumpuk.
"Pangeran, kapan ini harus selesai?" tanya Pangeran dengan nada tak sabar, menggantungkan harapannya pada zae.
"Woi, secepatnya lah!" jawab zae dengan nada kesal, memandangi Pangeran yang masih terlihat malas dan kurang termotivasi untuk mulai bekerja.
Namun, segalanya berubah ketika zae membelikan Pangeran eskrim favoritnya. "Yey!" seru Pangeran dengan suara girang yang tulus.
Dibalik sifatnya yang kadang liar, Pangeran ternyata memiliki sisi tekun yang luar biasa.
Ia mulai menggali seluruh energinya untuk menyelesaikan semua pekerjaan dengan sungguh-sungguh dan penuh semangat.
Senja telah tiba, menghembuskan kesan tenang setelah sehari penuh pekerjaan.
"Wah, nggak kerasa ya, semuanya udah kelar," ujar zae sambil memeriksa setiap dokumen pekerjaan Pangeran, menyusun strategi perusahaan ke depan.
Sementara itu, Celine dan Kevin telah selesai, meski dalam situasi yang jauh dari nyaman.
Kevin, dengan tubuh yang terasa lelah, meninggalkan Celine yang terikat, bau amis menyelimuti mereka berdua. Kevin keluar dengan tergesa-gesa, lupa meninggalkan dompetnya di kamar Celine.
"Ahhhh, sialan ini, dia nggak bayar!" Celine geram dalam hati, berusaha mencari gunting untuk melepaskan ikatan tangan dan mulutnya.
"Slasshhh" suara tali yang terpotong dengan cepat mengisi ruangan, membebaskan Celine.
"Tah, anjing! Cowok-cowok kampungan, nggak mau bayar!" desis Celine dengan marah.
Saat Celine memeriksa dompet yang ditinggalkan, ia hanya menemukan kartu identitas tanpa uang di dalamnya.
"Haahhhh, orang ini dulu kerja di kejaksaan," Celine terkejut.
Namun, sebelum ia bisa menyusun pikirannya, pintu kosannya terbuka dengan keras karena tendangan keras Kevin.
"Gubraaakkk," suara pintu membentur dinding, menciptakan dentuman yang menggema di ruangan.
"Plaaaakkkkk," tamparan telapak tangan Kevin dengan kasar mengenai wajah Celine.
"Jangan ambil barang orang lain, kau hina mencuri!" bentak Kevin dengan kasar.
Celine terdiam dalam keheningan malam, namun pikirannya mulai berputar untuk menemukan cara membalaskan semua perlakuan buruk Pangeran.
"Dia akan membayar di balik jeruji seumur hidupnya," ucap Celine dalam hatinya dengan tekad yang menggebu.
Kini, ia merencanakan rencana balas dendam yang akan menghukum Pangeran sebagaimana layaknya karma yang menjemputnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 49 Episodes
Comments