"Satu ****** harganya 1 juta ya, Pak Lizzie. Kan bapak bos besar, kan bisa lebih 'premium'," goda Celine dengan nada menyindir. Lizzie hanya tersenyum penuh nafsu, setuju dengan tawaran Celine.
Celine kembali menampilkan gerakan sensualnya, menggesekkan tubuhnya ke arah wajah Lizzie.
"Ahhh, kamu bikin aku ingat pangeran brengsek itu," pikir Celine, antara terangsang dan marah.
"Tunggu sebentar ya," kata Celine sambil mengambil ****** dari laci, memastikan bahwa ****** itu sempurna tanpa cacat.
Setelah itu, dia membuang ****** bekas Lizzie dengan santai.
"Mau ****** lagi?" tawar Celine pada Lizzie yang masih birahi, baru 20 menit tapi sudah dua ****** terpakai.
"Satu ****** harganya 1 juta ya, Pak Lizzie. Kan bapak bos besar, kan bisa lebih 'premium'," goda Celine dengan nada menyindir. Lizzie hanya tersenyum penuh nafsu, setuju dengan tawaran Celine.
Celine kembali menampilkan gerakan sensualnya, menggesekkan tubuhnya yang tidak sempurna ke arah wajah Lizzie.
"Ahhh, kamu bikin aku ingat pangeran brengsek itu," pikir Celine, antara terangsang dan marah.
"Tunggu sebentar ya," kata Celine sambil mengambil ****** dari laci, memastikan bahwa ****** itu sempurna tanpa cacat.
Setelah itu, dia membuang ****** bekas Lizzie dengan santai.
"Mau ****** lagi?" tawar Celine pada Lizzie yang masih birahi, baru 20 menit tapi sudah dua ****** terpakai.
"Haha, 20 menit, 2 ******, 2 juta. Gila, gampang banget duitnya," gumam Celine sambil memikirkan berapa banyak uang yang akan dia hasilkan malam ini.
"Yang ketiga, Pak Lizzie," ucap Celine dengan nada tak peduli. Meskipun Lizzie adalah seorang pria tua, Celine melanjutkan tugasnya tanpa memperdulikan usianya.
Lizzie hampir tak bisa menahan rasa sakit. "Rasanya seperti punya Pak Lizzie, hampir patah," keluhnya.
Celine melanjutkan pekerjaannya tanpa ampun, meskipun tahu malam ini dia harus melayani seorang pria jauh lebih tua darinya. Lizzie mulai merasa lemah dan hampir pingsan.
"Celine, kamu luar biasa," ucap Lizzie dengan suara gemetar, berusaha bangkit dari tempat tidur, dan meraih kantong jasnya untuk mengambil amplop bayarannya.
"Dasar pria tua bejat," gerutu Celine dalam hati saat melihat Lizzie tersipu karena senyumnya.
"Ini gak seberapa, ambil saja," ucap Lizzie sambil menyodorkan amplop bayaran. Setelah itu, dia buru-buru meninggalkan kosan Celine dan menelepon Bono untuk menjemputnya.
Celine masih merasa kesal setelah Lizzie pergi. Dia menghitung uang yang baru saja didapatkannya.
"Wah, banyak banget, 10 juta!" Celine terkejut melihat jumlah uang yang begitu besar.
"Tua-tua tapi masih kaya. Pangeran harus bayar lebih banyak," gerutunya, masih penuh amarah.
Satu minggu berlalu, Pangeran akhirnya pulang dan menyerahkan kepemimpinan cabang perusahaannya kepada ketua pimpinan cabang, Dina Dara.
"Semoga cabang ini tumbuh dan berkembang di bawah pimpinanmu," ucap Pangeran, siap berpisah dengan seluruh elemen kantor cabang tersebut.
"Pulang deh, aku bener-bener butuh istirahat dan waktu untuk bersantai," ucap Pangeran dengan senyuman lega, merasa gembira karena dia akhirnya bisa kembali ke kotanya untuk beristirahat dan bersenang-senang.
Celine bangun dengan penuh semangat di pagi hari. Minggu ini, dia berencana pergi ke pasar untuk menguping obrolan ibu-ibu.
Ia masih teringat pembicaraan mereka mengenai cara mengajukan gugatan hukum agar sang tergugat bisa dipenjara.
"Aku benar-benar nggak sabar. Kali ini, dia bakal merasakan dinginnya jeruji besi, hahah!" ucap Celine, diakhiri dengan tawa jahilnya.
Pangeran merasa bangga dengan kesuksesan di semua lini bisnis di kantor cabang, memberikan keuntungan besar bagi semua rekan bisnis dan kolega yang telah bekerja sama dengannya. "Hehe, ternyata aku bisa juga, ya," gumamnya puas.
Hari itu, seorang pegawai wanita dengan tubuh mungil, kulit bening, dan rambut panjang hitam mengkilap datang menghampiri Pangeran. Dia memberikan sekotak coklat sebagai hadiah perpisahan.
"Tolong terima coklat ini," ucapnya sambil tersenyum manis. "Oh, Moni! Sudah mulai terbiasa di sini?" tanya Pangeran.
Moni adalah salah satu karyawan kantor cabang yang setiap hari sarapan dan makan malam bersama Pangeran.
"Pangeran, kamu harus lebih semangat lagi dalam bekerja. Kamu imut, keren, dan teliti," kata Pangeran dengan penuh semangat, membuat Moni tersipu malu.
Tanpa disadari, Pangeran merasa takjub dengan tubuh Montok Moni, memeluknya dalam pelukan hangat.
"Ah, dia begitu empuk, sampai-sampai dadanya hanya sejajar dengan pinggangku," gumam Pangeran, merasakan sensasi sesuatu Pangeran berpadu dengan tubuh Moni yang lembut seperti bantal.
"Ah, begini rasanya," pikirnya, membayangkan suatu hal yang lebih dalam.
Celine meluncur ke pasar seperti biasa, menggunakan ojek untuk sampai di sana. Sesampainya di pasar, dia menemui kerumunan ibu-ibu yang tengah berbincang dekat tukang sayur.
Celine berharap bisa mendengar obrolan mereka. "Mas, ada sayur apa yang baru?" tanya Celine kepada pedagang.
Pedagang itu menyahut, "Eh, semua sayur di sini baru, neng. Segar semua, lho!" Jawabnya riang.
Dalam kerumunan itu, Celine mendengar percakapan seru ibu-ibu yang tengah berbelanja. "Tahu nggak, Bu, di penjara hartanya ada situ, tapi dia nggak bisa menikmati fasilitas mewah, hahaha," ujar seorang ibu-ibu berdaster.
"Iya, karena dia dilaporkan ke kepolisian kota yang ada di jalan Waruwu. Polisi dan pengadilan di sana memang tegas banget," tambah ibu-ibu lainnya, sambil membawa kantong belanjaannya.
"Oh, gitu ya. Jadi kalau begitu, harusnya kita juga melaporkan hal serupa ke kepolisian jalan Waru," kata Celine, merasa senang mendapatkan informasi tentang keberadaan polisi yang cepat tanggap dalam menanggapi kasus.
Namun, di tengah kegembiraannya, handphone Celine berdering lagi. Nomer yang tidak dikenal kembali meneleponnya, mengingatkan Celine pada gangguan yang terjadi sehari sebelumnya ketika ada orang asing yang mengetuk pintu kosannya dari pagi hingga sore.
"Pasti mereka menagih bunga hutang lagi," ucap Celine dengan kesal dan pusing karena terus dihubungi oleh para penagih utang.
Celine menyimak dengan serius cerita ibu-ibu tetangga yang tengah ramai membicarakan tata cara melaporkan pelaku ke polisi.
"Gitu ya? Hard copy harus diserahkan ke kepala polisi melalui kabag pengaduan," Celine mencerna informasi yang baru didapatinya.
Namun, ada catatan penting yang tak kalah mengganggu, "Tapi, Bu, tetap aja kan, biaya untuk masuk ke sistem itu enggak sedikit. Mesti bayar buat pengaduan, uang jaminan, dan biaya untuk memastikan keaslian laporan ke pengadilan. Ribet banget," ujar ibu-ibu yang membawa kantong belanjaan, memberi penjelasan lengkap.
"Berapaan sih biaya yang harus dikeluarkan?" tanya seorang ibu yang tadi hanya mendengarkan saja.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 49 Episodes
Comments