"Kota ini kayak tempat sampah, pekerjaan kayak sampah, dunia ini juga kayak sampah. Semua yang ada di sekitarku ini sampah! Uang, uang, dan uang, itu aja yang dilihat," desah Celine dengan marah dan sedikit kesedihan.
Tanpa sadar, air matanya turun mengalir di atas aspal yang panas terkena sinar matahari, campur aduk dengan debu jalanan dan keheningan yang mendalam.
"Tiiiiinnnnnn," terdengar suara klakson mobil di sekitarnya, disusul dengan sahutan klakson lainnya yang membentuk orkestra bising di telinga Celine yang sudah penuh dengan amarah meluap.
Begitu macetnya, ini saatnya makan siang di kota. Pegawai-pegawai kantoran bergegas keluar dari kantor-kantor mereka untuk mencari makan siang di sekitar kota setelah setengah hari penuh penat bekerja di perusahaan masing-masing.
Bagi Pangeran dan anggota klub Hundred Billion Dollars (HBD), para pekerja ini hanyalah mesin uang yang dapat diandalkan, mereka hanya cukup membayar dengan uang murah, dan semua suara protes bisa dipadamkan dengan lembaran-lembaran hijau, semata untuk menciptakan lebih banyak uang yang bisa dinikmati oleh mereka. Semuanya terasa begitu hampa, dunia ini hanya tentang uang dan kekosongan.
Zhang tengah asyik menyusun dan menjelaskan laporan terbaru mengenai perusahaan yang dipercayakan kepadanya oleh sang Pangeran.
"Bagus," ucap Pangeran dengan nada puas, merasakan kebanggaan atas hasil kerja keras Zhang selama beberapa tahun terakhir. Mengingat kerja sama mereka yang telah berlangsung lama, Pangeran memutuskan memberikan satu lagi bisnisnya untuk dikelola oleh Zhang.
Alasannya sederhana: Pangeran ingin lebih banyak menikmati hidupnya dan merasakan sensasi bersenang-senang tanpa batas.
"Kamu beneran yakin, deh, Pangeran, untuk nunjukin segitu banyak tanggung jawab ke satu orang?" ujar Siberia, mencoba membuat Pangeran mempertimbangkan kembali langkahnya.
Dia tahu resiko yang ada dalam mempercayai begitu banyak kepada satu orang. Siberia juga tahu betul bahwa Pangeran adalah tipe yang tak bisa menerima penghianatan dan kekecewaan.
Setelah makan siang selesai, suasana pun berubah. "Senang banget berjumpa denganmu, Zhang," ucap Pangeran sambil mengangkat tangannya sebagai bentuk perpisahan, senyum sumringah terpancar di wajahnya.
"Sjaumst," jawab Zhang balik dengan senyuman ramahnya, mengakhiri pertemuan mereka dengan hangat.
"Pangeran, gimana kalau kita cabut dari sini? Aku pengen beli buku nih," ucap Pangeran kepada Siberia dengan nada santai.
Siberia, yang tengah bosan dengan suasana, mengangguk setuju, meskipun di dalam hatinya muncul pertanyaan, "Apa ini jadi kencan atau gimana sih?"
Mereka pun meluncur ke sebuah toko buku setelah keluar dari tempat makan. Sekitar lima menit setelah Siberia mengemudikan mobil, Celine tiba di tempat itu dengan bantuan Oto Jegang yang dia temui di perjalanan.
Namun, nasib buruk menyertai Celine. Alih-alih bertemu dengan Pangeran, Celine malah diusir oleh pelayan restoran karena berbusana tidak formal dan dianggap tidak meyakinkan sebagai pengunjung restoran mewah tersebut.
"Aduh, sial, gimana ini? Bagaimana aku mau bayar tagihan hotel kalau begini terus? Mungkin aku harus kabur saja," gumam Celine frustasi, mencari solusi di tengah kebingungan.
"Mbak, yang tadi ojeknya bayar dulu ya," ucap supir ojek dengan tegas, menambahkan rasa penyesalan Celine yang semakin memuncak.
"Ehh, oke, oke, nanti saya bayar," ucap Celine dengan wajah panik, segera mencoba merogoh dompet di dalam tas kecilnya.
Namun, kepanikan Celine semakin memuncak saat dia menyadari bahwa dompetnya tidak ada di dalam tas, seperti janji manis pejabat di dekat pemilu yang sering kali tidak ditepati di akhir masa jabatan.
"Aduh, sial, dompetku hilang!" desis Celine dengan frustrasi, membuat supir ojek kesal melihatnya. Meskipun tanpa uang, Celine nekat menggunakan jasa ojek untuk pergi ke sebuah restoran mewah.
"Mas, gimana kalau saya bayar di hotel? Dompet saya tertinggal di sana," ucap Celine dengan nada cemas, mencoba mencari jalan keluar dari situasi sulitnya.
Namun, jawaban tegas tukang ojek membuat Celine semakin tertekan, "Lu pikir gue cowok apa, mau ajak-ajak ke hotel segala. Biar gue ojek, yang penting tetap halal."
Ucapan pedas itu menusuk hati Celine, membuatnya menyadari betapa sulitnya hidup di dunia yang begitu keras.
Kesalnya Celine tak tertahankan. Dia menyalahkan Pangeran dengan amarah dalam hati, "Sialan, kalau aku dibayar dengan layak, aku takkan direndahkan sama abang ojek kecut ini!" gerutu Celine dengan kekesalan yang mendalam.
Pengemudi ojek itu cepat melaju pergi, meninggalkan Celine dengan kekesalan yang membara. "Sedekah aja kali ke orang yang emang gak punya, jangan berlebihan dengan gengsi, dek," ejeknya dengan nada merendahkan, membuat Celine semakin merasa malu dan kesal.
Toko buku tua itu penuh dengan kenangan, terutama yang terkait dengan Pangeran dan ayahnya, Gunnefer.
Ayah Pangeran adalah seorang pengusaha minyak yang sangat disegani di dunia bisnis, bahkan sampai-sampai dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, empat nyawa saingannya melayang karena berani mencoba melawan bisnis Gunnefer.
Keberhasilan ayahnya tak terelakkan, membuat Pangeran tumbuh menjadi pria kaya raya. Namun, di balik kekayaannya itu, Pangeran dibesarkan oleh seorang pelayan yang pelit, terutama dalam hal keuangan.
Itu sebabnya, jarang sekali terlihat Pangeran mau mengeluarkan uang untuk hal-hal yang seharusnya dia bayar.
"Buku-buku ini keren banget, ya, classic abis, koleksinya juga komplit banget," ujar Siberia, matanya berbinar kagum melihat kemewahan toko yang sudah berdiri sejak tahun 1990-an itu.
"Iya, bener banget, keren parah," sahut Pangeran sambil sibuk memerhatikan buku-buku, sambil merasakan aroma nostalgia yang kental.
Siberia, wanita dengan tubuh langsing nan proporsional, mengenakan gaun yang membuatnya terlihat begitu anggun dan memikat, tersenyum manis ke arah Pangeran sambil menggenggam buku berjudul "Le Petit Prince."
"Buku itu emang keren, aku baca berulang kali waktu kecil dulu," kata Pangeran, matanya tak lepas dari kecantikan Siberia.
"Ini cerita tentang seorang Pangeran kecil yang dulu mikir dia satu-satunya yang punya mawar cantik banget di galaksinya. Tapi ternyata, dia salah besar. Pas dia datang ke Bumi, baru deh sadar, semua orang punya bunga yang sama cantiknya, meskipun bentuknya beda-beda. Tapi yang bikin beda adalah waktu yang dia habiskan untuk nyiram, merawat, dan melindungi bunga mawarnya dari ulat-ulat yang mau makan daunnya."
Pangeran terdiam sejenak, matanya tetap fokus pada Siberia dan bukunya. "Pangeran kecil itu baru sadar bahwa jutaan bunga di dunia ini sebanding dengan mawarnya, tapi setiap bunga punya cerita dan nilai tersendiri. Meskipun mereka semua cantik, tapi waktu dan perhatian yang kita berikan itu yang ngasih makna. Gitu, intinya."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 49 Episodes
Comments