Kevin, rekan Pangeran dalam bisnis mereka, tiba-tiba muncul dengan sikap dan ucapannya yang sangat tajam, menciptakan atmosfir yang beku di sekitarnya.
"Kamu, bodoh sekali. Perkelahian ini takkan menghasilkan apa pun," ucap Kevin dengan nada keras, mencoba memberikan nasihat kepada Celine.
"Kamu tahu kan, Pangeran itu sangat selektif dalam memilih karyawan karena dia selalu mengutak-atik nilai-nilai. Jadi, kamu, wanita ******, tidak memiliki cukup nilai untuk merasakan uang Pangeran."
Sorot mata dingin Pangeran hanya menatap Celine tanpa ekspresi yang berarti. Celine merasa ketakutan karena sadar bahwa Kevin adalah pemilik kosannya.
"Wah, ini gawat. Ternyata pemilik kosanku adalah teman Pangeran. Dia pasti tahu seberapa sering aku membawa laki-laki ke dalam kosan," pikir Celine, hatinya berdegup kencang dalam kepanikan.
Di dalam restoran, suasana mulai tegang ketika Pangeran dan Siberia kembali duduk di meja mereka.
"Masih mau makan malam, kan?" tanya Pangeran dengan ekspresi kesal yang sulit disembunyikan.
Siberia hanya menggeleng pelan sambil tersenyum, "Ehehmm, aku udah kenyang, sebenarnya."
Pangeran segera menarik lengan Siberia dengan lembut dan membawanya keluar menuju mobil.
Celine, meskipun sangat marah, terpaksa dihentikan oleh Kevin agar Pangeran bisa mengantarkan Siberia pulang.
"Woi, jangan macam-macam sama Pangeran, dia sekutu Kevin, loh," ucap seorang wanita yang ternyata sepupu dari Kevin, mencoba memberi peringatan pada Celine.
Celine menggertakkan gigi, "Jangan ikut campur, ya!" katanya dengan geram.
Dalam hatinya, dia merasa hancur melihat semua rencananya berantakan.
"Ini buruk sekali, tidak seperti yang kubayangkan. Yah, setidaknya aku sudah berhasil menumpahkan sup ke kepalanya. Tapi apakah itu cukup?" gumam Celine dalam kekecewaannya, berharap bahwa hubungan antara Pangeran dan wanita tadi akan segera berakhir.
Saudari sepupu Kevin, Rinda Mae, ikut menemani Siberia dan Pangeran saat mereka mengantarkan Siberia pulang.
"Pangeran, ayo buruan," ucap Rinda Mae dengan suara riang. "Iya, Rin," jawab Pangeran dengan ramah, menyetujui ajakan Rinda Mae.
Saat itu, Pangeran berada di samping pengemudi mobilnya, sedangkan Siberia, yang terlihat sangat mabuk, tiba-tiba menjadi agresif.
Libidonya naik tinggi, dan dia mulai menggoda Pangeran dengan cara yang menggoda. "Pangeran, apakah menurutmu aku masih cantik?" tanya Siberia sambil memonyongkan bibirnya, memberi kode bahwa dia menginginkan ciuman.
Pangeran, tidak menolak ajakan Siberia, dengan lembut menerima ciuman itu.
"Kamu sangat menawan hari ini, Siberia," ujar Pangeran sambil mencoba menjelaskan kepada Siberia tentang ketampanannya.
“Pangeran~~” bisik Rina dengan suara yang penuh hasrat, memberi kode hijau bagi Pangeran.
Pangeran, sambil menggelengkan kepala, meresponsnya dengan nada bermain-main, “Kenapa, Rina? Kamu ini wanita nakal, dasar mesum,” ujar Pangeran sambil menampar pelan pipi Rina, membuatnya merasa tergoda.
“Becek ya kamu, Rin,” tambah Pangeran dengan nada nakal.
Mobil mereka berhenti di tengah jalan yang begitu sepi, memperlihatkan betapa langka momen seperti ini.
Pangeran, tanpa ragu, memberi komentar tentang penampilan Rina, “Bentuk bagian depanmu luar biasa,” ujar Pangeran sambil memuji ukuran dada Rina yang baru dilihatnya untuk pertama kalinya.
“Wanita tadi tipe A atau B, tapi Siberia adalah tipe C, sedangkan kamu, Rinda, adalah tipe D yang luar biasa,” lanjut Pangeran, mengagumi penampilan Rina dengan cara yang cukup ekspresif.
“Pasti Kevin adalah mekanik yang handal sampai membuatmu begitu besar,” tebak Pangeran sambil bertanya, dan Rina hanya bisa mengangguk dengan senyum malu-malu.
“Kevin itu memang mesum, sampah busuk. Dia memperkosa aku ketika aku tidur, saat semua keluarga tertidur usai pesta, mulai sejak usiaku 14 hingga 27 tahun seperti sekarang,” ungkap Rina dengan jujur, berharap Pangeran bisa melihat di balik penampilannya.
“Ssstt, aku tahu,” bisik Pangeran lembut ke telinga Rina sambil meniupi lehernya, menciptakan sensasi yang menggetarkan.
Celine tiba di kosannya dan mendapati pesan yang sungguh tidak menyenangkan dari Kevin, membuatnya gelisah dan murung.
Isi pesan itu tak main-main, "Kamu harus segera pindah dari kosanku, ambil barang-barangmu dan cari tempat tinggal lain." Pesan ini seperti pukulan keras bagi Celine, yang tiba-tiba harus berpikir keras tentang mencari kosan baru di tengah kota yang penuh dengan harga sewa mahal.
Dalam keputusasaan, Celine langsung membalas pesan Kevin dengan nada permohonan dan kepanikan yang mendalam, "Pak, saya mohon, berikan saya kesempatan. Saya akan sangat berterima kasih jika Anda bisa mempertimbangkan ulang keputusan ini." Celine merasa sedih.
Pangeran tersenyum mengamat-amati Rina yang sedang berpakaian kembali. "Nih, udah siap," ucapnya, mengancingi celananya. "Yuk, antar Siberia pulang."
Dalam sekejap, Rina sudah siap, terlihat sangat terampil dalam rutinitas semacam itu.
"Kayaknya udah biasa banget ya kamu sama situasi kayak gini," canda Pangeran, mencoba mengurangi ketegangan suasana.
Sesampainya di rumah Siberia, Pangeran tetap dengan sikap gentleman-nya, menggendong Siberia hingga ke dalam rumah.
Rina mengantarnya sampai pintu, lalu melambaikan tangan dengan ramah. "Sampai jumpa, Pangeran," ucapnya, senyum manis di bibirnya.
Pangeran tersenyum balas, "Ok, bye," sahutnya sambil melambaikan tangan menjawab salam perpisahan.
Pagi yang cerah menyambut Pangeran saat dia bangun. Seolah-olah kejadian kemarin adalah hal sepele yang tak perlu dihiraukan.
"Semua itu cuma angin lalu," gumam Pangeran sambil meraih semangatnya.
"Apa yang gak bisa membunuhku, bakal bikin aku makin kuat." Dia memulai hari ini dengan keyakinan dan tekad yang tak tergoyahkan.
"Driiiing!" terdengar suara panggilan dari Pak Jack. "Bangun, Bos, kita udah masuk bulan sibuk, loh," seru Jack melalui suara panggilannya kepada Pangeran.
Di kosan Celine, terdengar suara ketukan pintu yang menggema. "Siapa itu?" tanya Celine, namun tak ada jawaban, hanya keheningan yang memenuhi ruangan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 49 Episodes
Comments