"Neng, besok malam bapak dan bos kantor bapak akan ke kosan kamu. Jaga baik-baik ya, neng, ini kesempatan bagus buat kamu dan bapak," bunyi pesan dari Pak Bono.
Celine membalas dengan cemas, "Ehhh, Pak, saya cuma melayani pelanggan yang bisa jaga mulut, apakah bos bapak bisa diandalkan?" tanya Celine.
"Tenang aja, neng, semua aman. Bapak yang urus semuanya," balas Pak Bono mencoba menenangkan hati Celine.
Celine pun memutuskan untuk memasak makanannya sendiri. "Hidup sendiri, mencari uang sendiri, makan pun sendiri," ucapnya dengan nada getir.
Di kantor, Pangeran tiba dengan keterlambatan 5 menit. "Ah, sial, aku telat 5 menit," desis Pangeran dengan wajah kesal.
Zae, yang sangat perfeksionis, langsung merespons dengan marah, "Salah siapa, salah jalan?" Pangeran hanya diam, sibuk dengan tugasnya.
"Kerjakan dengan cepat. Sore nanti kita ada janji dengan klien," tegur Zae, mencoba menghibur Pangeran,
"Kalo kita cepet, masih sempet ke karaoke juga nanti, ga bakal telat kok," tambahnya berusaha mengangkat semangat Pangeran yang masih murung.
Sore telah menjelang, Pangeran tetap menunjukkan ketenangannya dalam menyelesaikan semua pekerjaan dengan presisi dan tepat waktu.
"Kamu memang hebat, ya," puji Zae, mencoba mengakui prestasi Pangeran. Namun, Pangeran hanya menanggapi dengan senyum tipis tanpa kata.
"Ayo, kita ketemu dengan klien sekarang," ajak Pangeran Zae, mengajaknya menuju ruang pertemuan di gedung perkantoran.
Sesampainya di sana, suasana ruang pertemuan disambut dengan senyuman hangat dari Pangeran.
"Selamat sore, semuanya," sapa Pangeran ramah kepada semua yang hadir.
"Tuan Pangeran, saya Lizzie. Saya sangat mengenal prestasi Anda. Saya didampingi oleh rekan saya, Bono, yang telah bekerja lama di perusahaan kami," ujar Lizzie memperkenalkan diri.
"Baik, mari kita mulai pembahasan mengenai kerjasama dan asimilasi," ucap Pangeran dengan suara mantap, memulai diskusi dengan penuh keyakinan.
Sementara itu, di tempat lain, Celine tengah merenungkan kata-kata dan rencananya.
"Menarik, nantikan saja pembalasanku," gumam Celine dengan penuh tekad, merencanakan tindakan balasannya dengan rahasia yang tersembunyi di hatinya.
Beberapa jam telah berlalu, suasana kantor Pangeran masih hangat dari diskusi kerjasama antara dua perusahaan.
"Baik, mari kita sepakati kerjasama ini dan tandatangani dokumen yang diperlukan," ucap Pangeran dengan mantap, mengakhiri pertemuan penting itu.
Setelah klien meninggalkan kantor, Pangeran melangkah menuju parkiran, bertemu dengan Zae yang sudah menunggu untuk melanjutkan hari yang melelahkan dengan kunjungan ke tempat karaoke favorit mereka.
Di sisi lain kota, Celine mendapat pemberitahuan melalui pesan singkat. "Ada pelanggan baru malam ini?" gumam Celine penasaran saat melihat nomor yang tak dikenal.
Dengan rasa ingin tahu yang tinggi, Celine membuka pesan tersebut dan membaca, "Jangan lupa siapkan bunga hutangmu."
Celine memicingkan mata, heran dengan pesan aneh ini. "Apa ini? Jangka waktu pinjaman kan hanya 6 bulan," keluh Celine, dahi Celine berkerut kesal membaca isi pesan tersebut.
Pangeran melangkah masuk ke tempat karaoke, suasana yang riuh rendah terasa begitu hidup. Semua orang berkumpul di dalam ruangan, memesan makanan dan memilih lagu untuk dinyanyikan.
"Ayo, Pangeran, nyanyi bareng sama aku!" seru Cindia, sambil mengajak Pangeran ke atas panggung. "Haha, aku sih biasa aja," bercanda Pangeran, meskipun sebenarnya dia memiliki suara yang cukup merdu.
Tapi malam ini, dia lebih memilih untuk duduk di sudut ruangan, menikmati pertunjukan dan menyaksikan goyangan bergaya Zae dengan dada berukuran E cup yang menggoda.
Meskipun mencoba mengalihkan perhatiannya, Pangeran tak bisa menghindari pesona yang memikat dari Zae.
Saat lagu selesai, mereka semua duduk untuk makan dan minum. Namun, ketika sepotong pizza jatuh dan mengenai baju Zae, suasana berubah. Tanpa ragu, Pangeran mendekati dan menjilati potongan pizza yang mengenai dada Zae, menambahkan keintiman tak terduga pada momen tersebut.
Cindia dan teman-temannya yang lain juga ikut memanas, dengan bergantian mendekatkan Pangeran pada dada mereka.
"Tentu saja, dengan senang hati Pangeran," kata Sinta, wanita berhijab yang manis, tidak mampu menahan gairahnya.
"Eh, kalian kenapa? Pasti kalian sudah mabuk," canda Pangeran, berusaha menghindar.
Wanita-wanita itu akhirnya menyadari bahwa mereka semua memiliki perasaan yang sama terhadap Pangeran.
"Ternyata kalian juga, ya?" ujar Sinta, tersenyum pada teman-temannya dengan penuh arti.
Pangeran tiba di rumah pada malam itu, mengingat bahwa besok dia akan memulai perjalanan dinas selama seminggu ke luar kota untuk menangani proyek besar perusahaannya.
"Nggak terlalu lama lagi, seminggu penuh kerja keras," gumam Pangeran dengan semangat, memikirkan tantangan-tantangan yang akan dia hadapi di luar sana.
Keberangkatannya menuju pembukaan cabang baru perusahaan membawa semangat dan antusiasme dalam dirinya.
Sementara itu, Celine masih kesal karena nomor yang pernah dia blokir sekarang kembali muncul dengan nomor yang berbeda.
"Ah, ini bikin emosi aja! Kenapa nggak bisa kasih aku ketenangan," keluh Celine sambil memandang layar ponselnya dengan ekspresi kesal.
Di sisi lain kota, Gunnefer kembali mencuri perhatian publik dengan tindakan heroiknya. Kali ini, dia membela sebuah perusahaan minyak dan gas di kota timur tengah, menjadi headline berita yang ramai diperbincangkan.
Berita tersebut mencuat ke media sosial dan menjadi obrolan hangat di berbagai platform online. Pangeran, meskipun mengetahui berita tersebut, hanya merespon dengan datar, tidak terlalu terkejut dengan tindakan Gunnefer.
Baginya, prinsipnya tetap sama, "Orang yang tidak menghasilkan apa-apa harus ditinggalkan," ucap Pangeran dengan mantap, mengingatkan dirinya sendiri tentang keyakinan yang telah dia pegang teguh selama ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 49 Episodes
Comments