Jalur Hukum

Beberapa menit berlalu setelah teror pemerkosaan mengerikan yang dialami oleh Celine. Dengan gerakan cepat, sang bapak melepaskan diri dan membuang pengaman bekasnya dengan acuh tak acuh.

"Sudahlah, lain kali bayar hutangmu saat aku menagih," ucapnya dingin, puas dengan perbuatannya yang menjijikkan.

"Dasar psikopat," benak Celine menatap lemah sang bapak yang hampir saja merenggut nyawanya.

Rasa takut mendalam merasuki tubuhnya, menyebabkan dirinya terjerumus dalam depresi yang begitu menghancurkan. Celine menangis, campuran kesal, sedih, dan kebingungan memenuhi dirinya.

Dia merasa terperangkap, tidak tahu harus berbuat apa karena ketakutan masih menguasai dirinya.

"Mengapa ini harus terjadi?!" erang Celine, suaranya penuh keputusasaan sambil menangis histeris.

"Aku takut!" ucapnya dengan nada gemetar, kecemasan merajalela dalam dirinya.

"Awas, Pangeran, kau akan membayar atas semua yang telah kau perbuat!" serunya sambil sesenggukan, suaranya parau dan penuh dengan keputusasaan.

"Kau akan membayar lebih mahal dan menghuni jeruji besi!" Ancaman Celine terdengar penuh dengan rasa putus asa yang tak terbendung.

Pangeran telah tiba di kotanya, membawa keberhasilan besar dari proyeknya yang baru saja diselesaikannya. Langsung saja, dia menuju ke kantor perusahaannya.

"Nanti saat Pangeran datang, pastikan kita menyambutnya dengan meriah, ya?" ucap Zae, manajer yang penuh semangat.

"Kalian ingat kan kalimat yang sudah kita latih tadi?" tambah Zae, saudara kembar yang berbagi tanggung jawab dengan penuh antusiasme kepada semua karyawan di kantor itu.

Senyuman tak terbendung merekah di wajah semua orang di kantor. Keberhasilan Pangeran tidak hanya berarti bagi dirinya sendiri, tetapi juga bagi setiap individu yang terkait dengannya.

Perusahaan berkembang pesat, nilai investasi melonjak, dan pesanan dari pelanggan terus bertambah. Kepercayaan masyarakat terhadap perusahaan mereka berkembang, membawa keuntungan dan peluang baru.

Sementara itu, Celine berada dalam kondisi yang sangat berbeda. Dia duduk di ruangannya, air mata mengalir di pipinya.

Dia tengah berpikir keras tentang perkataan ibu-ibu di pasar yang menginspirasinya. Celine mencoba menyiapkan semua dokumen yang diperlukan untuk laporan, namun ketidakpastian menghantui pikirannya.

Sementara dia mengetik dengan cepat, tangannya gemetar. "Ah, darimana lagi aku bisa mendapatkan uang?" gumam Celine dengan suara yang penuh keputusasaan.

Memandang dokumen-dokumen di depannya dengan ekspresi campuran antara kegelisahan dan ketidakpastian. Dia merasa terjepit di antara kebutuhan dan keterbatasan.

Pangeran melangkah gagah masuk ke dalam gedung kantor, langkahnya dipenuhi kepuasan setelah perjalanan melelahkan dari bandara.

"Ah, nyamannya kantorku," ucap Pangeran sambil melihat sekeliling ruangan yang penuh kenangan. Para karyawan langsung menyambutnya dengan suka cita, memberikan sambutan yang begitu meriah.

"Selamat datang, Tuan Pangeran! Selamat atas keberhasilannya!" seru mereka dengan serempak, membuat Pangeran terkejut.

"Kalian, wah, hampir saja saya copot jantung tadi didepan pintu," ucap Pangeran, tak lupa menyampaikan rasa terima kasihnya atas sambutan yang hangat.

"Segera potong kue ini, Tuan!" seru Mae Ling sambil membawa kue spesial yang telah perusahaan beli untuk merayakan keberhasilan Pangeran.

Pangeran mengambil pisau besar dan dengan penuh keahlian memotong kue tersebut. Setelahnya, dengan ramah, dia menyodorkan sejumput kue kepada Mae Ling, membuat hati Mei Ling berbunga-bunga.

Sementara itu, rekan-rekan kerja lainnya terkejut dan cemburu melihat momen tersebut, merasa iri karena mereka juga ingin berada di posisi Mae Ling.

"Sialan, harusnya aku yang memegang kue itu," bisik salah satu dari mereka dengan nada kesal. Namun, Pangeran hanya melanjutkan perjalanannya menuju ruangannya tanpa mengindahkan reaksi cemburu mereka.

Zae masih terpaku, tak percaya bahwa dia tidak yang mendapat kesempatan disuapi oleh Pangeran. Kesempatan itu membuatnya terus terbayang, menciptakan rasa penasaran yang sulit disembunyikan.

Tidak butuh waktu lama setelah suara tangisan Celine memecah keheningan, Bono melangkah dengan gesit menuju kosannya.

Pintu kosan Celine terbuka dengan sendirinya karena tidak terkunci rapat, membiarkan Bono masuk.

"Kenapa sih, Ce? Kok sampai kayak gini?" tanya Bono sambil mencoba memahami situasi Celine yang tampak begitu rapuh.

"Aku merasa sendirian, Bang," jawab Celine dengan nada pura-pura kuat dan menggoda, mencoba meraih perhatian Bono dengan sikapnya yang sensual.

"Oh, aku datang bukan hanya membawa parcel karena naik jabatan, tapi juga bawa amplop dari pak Lizzie khusus untukmu," ucap Bono sambil menyerahkan bingkisan yang dia bawa, berusaha meredakan kesedihan Celine.

"Kami memang sudah tidak muda lagi, tapi mengalahkanmu membuat kami percaya diri, kami masih punya kekuatan, neng," lanjut Bono dengan ekspresi mesum di wajahnya, mencoba menggoda Celine dengan ucapan yang penuh insinuasi.

"Baiklah, bapak pergi dulu ya, neng. Nanti-nanti kita ngobrol lagi," ucap Bono dengan sabar, segera ingin kembali merayakan kesuksesannya dengan jabatan baru.

Celine melirik amplop yang baru saja diterimanya. "Wah, ini uang 2,5 juta!" serunya terkejut saat melihat jumlah bonus yang diberikan oleh Lizzie.

Tanpa pikir panjang, Celine segera bergegas menuju tukang print yang berada di dekat kosannya untuk mencetak semua dokumen yang dibutuhkan. Kesempatan ini membuatnya begitu bersemangat dan cepat bertindak.

"Awas ya, Pangeran," ujar Celine dengan emosi yang mendalam, mencampur aduk rasa takut, kesal, dan keinginan untuk membalas dendam.

Pikirannya kacau, tapi di balik kebingungan itu, ia membayangkan Pangeran meratapi nasibnya di balik jeruji besi, memohon ampun, dan menawarkan segepok uang hanya agar Celine menarik kembali tuntutannya terhadapnya.

"Bang, print tiga rangkap masing-masing, plus tiga map coklat dengan materi yang ada di sini," pesan Celine pada tukang print di dekat kosannya, sambil berusaha mempertahankan ketenangannya.

"Siap, sis! Eh, baru ya mbak, jarang-jarang kesini nih," coba tukang print memulai obrolan santai.

"Bukan baru, cuma lagi sibuk aja jadi gak ke sini," sahut Celine, mencoba menghindari obrolan lebih panjang karena masih merasakan kemarahan yang meluap-luap.

"Trettt!" bunyi printer menunjukkan bahwa segala bukti telah siap.

Sementara itu, di gedung kantor, Pangeran merasakan sesuatu yang tidak beres, seolah ada ancaman misterius yang mengintainya.

"Ah, ini nggak bagus," gumam Pangeran sambil memperhatikan suasana gembira yang terjadi di sekitarnya, karyawan-karyawan yang menikmati kue dan merayakan kesuksesan perusahaan.

Meskipun begitu, Pangeran tetap fokus pada pekerjaannya, menyelesaikan tugas-tugasnya dengan cermat dan hati-hati.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!