Celine yang sudah melengkapkan surat-suratnya untuk memenjarakan Pangeran segera meluncur pulang ke kosannya untuk mengganti pakaian terlebih dahulu dan bersiap-siap menghadapi pertempuran hukum dengan Pangeran.
Begitu dia berganti baju, Celine buru-buru mengambil ojek untuk menuju ke Jalan Waruwu, tempat ia berencana melaporkan Pangeran ke pihak kepolisian.
Tidak ada waktu yang terbuang, Celine mengantre dengan sabar di loket pengaduan, menunggu nomor antriannya dipanggil.
Satu jam berlalu, dan akhirnya, "Nomor antrian 207!" seruan resepsionis menyapa Celine.
"Itu saya, Nomor 207," tegas Celine saat menunjukkan nomornya. "Ada yang bisa saya bantu?" tanya resepsionis dengan suara yang datar.
Celine langsung memberi tahu tujuannya, penuh semangat, "Saya ingin membuat laporan aduan dan meminta agar kepala polisi menangani kasus ini segera. Saya yakin aduan saya benar adanya dan layak untuk diperjuangkan." Celine melontarkan kalimatnya dengan penuh keyakinan.
Resepsionis mendengarkan cerita Celine, "Apakah Anda membawa bukti-bukti pendukung aduan ini?" tanya resepsionis dengan tegas.
Celine dengan mantap menyerahkan berkas-berkas dan amplop yang berisi dokumen-dokumen penting.
Dia teringat percakapan ibu-ibu di pasar, yang mengatakan bahwa aduan akan segera ditindaklanjuti jika ditemani oleh amplop berisi uang dan surat pernyataan aduan yang jelas. Celine merasa yakin bahwa saat ini, Pangeran akan menghadapi masa-masa sulit.
"Hehehe, Pangeran, hidupmu akan segera berakhir," gumam Celine dengan kegembiraan jahat, tak sabar untuk menyaksikan keadilan dijalankan pada orang yang telah menghancurkan hidupnya.
Celine sudah mempelajari undang-undang yang berlaku terkait kasusnya dengan cermat, meyakinkan dirinya bahwa dia memiliki cukup bukti untuk memenjarakan Pangeran.
"Pffft, pasti Pangeran bakal kaget, deh, saat polisi mendobrak pintu rumahnya," goda Celine dengan senyum jahil di wajahnya.
Resepsionis yang telah mengecek dokumen-dokumen Celine memberitahukan, "Setelah saya periksa, surat aduan Anda sudah lengkap. Segera saya bawa ke ruang kepala polisi."
Dengan berkas lengkap di tangan, Celine bergegas menuju pengadilan untuk mengajukan dokumen-dokumen penting yang akan digunakan dalam persidangan besok setelah Pangeran ditangkap sebagai tersangka.
"Akhirnya, saatnya tiba. Pengadilan yang dinantikan," ucap Celine, mata penuh keinginan melihat gedung pengadilan yang kokoh, tempat di mana keadilan akan dipulihkan, di mana Pangeran akan mengalami kekalahan.
Celine berkhayal Pangeran duduk di kursi perkara dan kalah dalam Peradilan. (palu diketok sebanyak tiga kali) "Tok... Tok... Tokkkkk!!! Pangeran Pertibi dijatuhi hukuman 20 tahun penjara" sungguh indahnya ekspektasi Celine.
Ekspektasi? Tidak, ini akan menjadi kenyataan! Pangeran akan berakhir di jeruji besi serta harus membayar ganti rugi. "Mungkin aku akan menjadi pengunjung tersering di penjara nanti, xixixii…"
Malam telah turun, Celine kembali ke kosannya dengan hati penuh kebahagiaan. Dalam kegelapan, senyumnya memancar secerah bintang di langit.
Dia tahu, hari-hari yang dia nantikan akhirnya tiba. Kegembiraannya begitu memuncak sehingga membuatnya tertidur lebih awal, dipenuhi oleh antusiasme yang tak tertahankan, seolah dia bisa merasakan aroma kemenangan di udara yang dingin malam itu.
Dia ingin tidur cepat, menggantungkan harapannya pada berita baik yang akan datang esok pagi.
Pagi menjelang, Pangeran melangkah keluar dari rumahnya dengan kesejukan pagi yang menusuk tulang. Namun, kejutan menunggu di depan pintunya.
Sebaris polisi berkostum seragam menghalanginya dengan ketegasan. "Tuan, Anda harus ikuti kami ke pengadilan," ucap salah seorang polisi dengan wajah tanpa kompromi.
Pangeran merasa sedikit terkejut oleh kejadian ini. Inilah hadiah tak terduga dari Celine, hasil dari ketekunan dan keteguhan hati perempuan itu. Balas dendamnya, walau lambat, akhirnya mulai membuahkan hasil.
Pangeran mengikuti polisi ke pengadilan, dan bertemu pengacaranya yang sudah menunggu lama untuk membantu dalam sidang mendadak ini.
"Kamu sudah datang juga? Bahkan aku tidak tahu apa yang terjadi," ucap Pangeran dengan nada kesal, kebingungan melanda wajahnya.
Keseluruhan ruangan pengadilan dipenuhi oleh para pelaku, hakim, saksi, dan semua pihak yang terlibat dalam proses peradilan yang mendadak ini.
Hakim mengawali proses pengadilan dengan membacakan aturan-aturan yang mengatur jalannya sidang.
"Selamat pagi, saudara-saudara sekalian. Kita hadir di persidangan ini untuk membahas tindakan semena-mena seorang konglomerat yang tidak membayar jasa seorang PSK. Di satu sisi, kita memiliki Celine sebagai pelapor, dan di sisi lain, ada Pangeran yang menjadi terdakwa," kata hakim dengan penuh kekhidmatan. Ruangan itu seketika menjadi hening, seolah-semua insan menahan nafas menanti perkembangan sidang ini.
Suara hakim yang terhormat membuat semua yang hadir tak bisa berkomentar. Mereka hanya bisa menunggu dan mendengarkan dengan penuh ketegangan.
"Saat ini, semua pihak yang hadir tidak memiliki hak suara dalam keputusan yang akan diambil. Persidangan ini akan berlangsung sepanjang yang diperlukan demi mencapai keputusan yang adil," lanjut hakim. Ketukan ringan palu hakim menyatakan dimulainya sidang.
Celine, dengan sikap tegas dan percaya diri, akan segera membacakan tuntutannya di depan hakim. "Yang Mulia, izinkan saya, Celine, untuk menyampaikan tuntutan saya. Pangeran adalah seorang klien saya yang enggan membayar jasa yang telah saya berikan. Dia meninggalkan saya dengan beban-beban operasional terkait dengan pelayanan yang telah saya berikan. Dia, sungguh, adalah iblis manusia yang sangat kejam," ujar Celine dengan suara mantap. Dia siap memberikan argumen-argumen yang kuat di persidangan ini.
Di ruang sidang, Celine tampak begitu tegar, namun tiba-tiba semuanya berubah menjadi lirih dan haru. Air mata tak tertahankan mulai mengalir di pipi Celine.
"Tolong, Yang Mulia! Saya sudah dikejar-kejar oleh debt collector karena tagihan hotel yang seharusnya ditanggung oleh Pangeran. Saya hampir diusir dari kosan, saya benar-benar tidak tahu harus bagaimana lagi," ujar Celine dengan nada dramatis, mencoba dengan susah payah membuka hati Hakim yang tengah mendengarkan.
Pangeran, di kursi terdakwa, harus menghadapi pertanyaan tajam Hakim. "Pangeran, apakah Anda benar-benar terlibat dalam hubungan dengan wanita ini pada tanggal dan waktu yang telah dijelaskan?" tanya Hakim dengan serius, menilai setiap kata yang keluar dari mulut Pangeran.
Pangeran mengangguk mantap. "Iya, tepat di tempat dan waktu itu," jawabnya dengan rasa yakin. Hakim melanjutkan pertanyaannya, "Baik, Pangeran, apa pembelaan Anda?"
Pangeran dengan tenang menjawab, "Saya ingin mengizinkan pengacara saya berbicara, Yang Mulia." Dia lalu menyerahkan kendali kepada pengacaranya yang telah dia hubungi semalam.
Hakim mengangguk dan memberikan izin. Pengacara Pangeran, seorang bernama Maliandika, berdiri.
Dalam waktu singkat, ia mencoba menyampaikan pembelaannya, meskipun dia masih bingung dengan kasus ini, mengingat dia hanya memiliki waktu yang sangat singkat untuk mempersiapkan pembelaan Pangeran.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 49 Episodes
Comments