Di kampus, Arsen tidak lagi mempedulikan kelasnya yang masih berlangsung lama, ia segera kembali ke kelas hanya untuk mengambil tas dan kunci motor miliknya. Ia tidak peduli ucapan dosen nya yang mempertanyakan dia yang hendak pergi saat pelajaran berlangsung. Bagi Adrian, keselamatan Azura lebih penting saat ini.
Di jalan menuju tempat parkir motornya, Arsen menelepon anak buahnya agar melacak plat nomor dan juga bergerak untuk ke sana. Ia juga berusaha menelepon Adrian meminta bantuan, bukankah lebih banyak rekan lebih baik untuk mengantisipasi terjadi hal buruk.
"Hallo Sen, ada apa?" tanya Adrian
"Yan, bisa tolong telepon Pras dan Galang? Aku minta tolong sama kalian kerahin orang ke jalan AA menuju ke apartemen Azura", sekarang!" ucap Arsen dengan nada paniknya
"Memangnya ada apa Sen?" tanya Adrian tetap tenang meskipun ia sedikit gusar saat nama Azura di sebut.
"Sepertinya ada yang mengincar Azura, tadi dia telepon minta tolong. Dia bilang di ikuti dari belakang sama orang tidak di kenal" ucap Arsen.
"APA??? Ya sudah aku bergerak sekarang" ucap Adrian terkejut.
Sambungan telepon itu langsung di matikan dan Arsen langsung bergegas menaiki motornya dengan kecepatan penuh yang ia bisa. Dia sudah seperti orang kesetanan di jalanan, pikirannya saat ini gadis yang ia cintai harus baik-baik saja.
Ia menyesal tidak mengantar jemput Azura seperti biasanya. Atau meminta Azura menunggunya sampai ia selesai kelas.
Di sisi lain Adrian juga langsung beranjak dari tempat duduknya, membuat kedua orang tuanya merasa bingung.
"Mau kemana Yan?" tanya Aric
"Iyan pergi dulu pah, mah, Azura sedang dalam bahaya. Iyan harus cepat selametin Azura" ucap Adrian panik.
"Azura kenapa?" tanya Lita seketika panik mendengar gadis yang ia yakini sebagai putrinya itu kenapa-kenapa.
"Azura di ikuti orang tidak di kenal, Iyan berangkat dulu ya mah" ucap Adrian.
"Mama ikut" ucap Lita
"Papa juga" ucap Aric.
Ketiganya pun lekas berangkat, mereka tidak ingin terlambat menyelamatkan Azura.
.....
Setelah mendapatkan tanda dari Sistem, Azura langsung bergegas menuju ke kasir untuk membayar belanjaannya dan segera keluar. Ia sekilas melihat mobil milik kakaknya Amel masih berada di sana guna memantaunya.
Azura langsung masuk ke dalam mobil dan taksi online itu pun langsung jalan dengan kecepatan sedang. Terlihat Azura sangat tenang seperti tidak akan terjadi apa-apa.
Saat mobil sudah masuk jalan yang cukup sepi, mobil yang mengikutinya itu tiba-tiba tancap gas menyalip taksi online yang tumpangi Azura dan mencegatnya dari depan.
CEKITTTT!!!
Azura yang duduk di belakang terdorong ke depan karena supir taksi mengerem mendadak.
"Maaf kak, mobil di depan tiba-tiba mencegat kita. Aduh gimana ini???" ucap Supir Taksi online itu dengan terkejut dengan apa yang terjadi.
Tiba-tiba lima orang keluar dari dalam mobil, mereka menggedor kaca pintu depan.
DOR! DOR! DOR!
"BUKA!!! Atau saya pecahin kaca nih mobil!!!" ucap seseorang yang kemungkinan itu adalah kakak dari Amel.
"Jangan di buka pak!" ucap Azura.
"Tapi kak, bagaimana kalau mereka merusak mobilnya? Kira akan dalam bahaya" ucap supir taksi
"Jika ada kerusakan, saya yang akan ganti rugi pak. Mundurkan saja mobilnya pak, lebih baik kita menghindar!" ucap Azura
Supir taksi itu menurut ia mengubah gigi dan berjalan mundur. Namun tiba-tiba kaca depan di lempar batu besar, saat mobil hendak mundur.
PRANG!!!
"Akkkhhh...." teriak keduanya.
"Bapak tidak apa-apa?" tanya Azura terkejut dan panik saat serpihan kaca berhamburan meskipun hanya sedikit.
"Nggak apa-apa kak, saya cuma kena serpihan dikit" ucap supir taksi yang sudah paruh baya itu terkena serpihan kaca depan mobil di pipi kanan nya. Untung itu hanya tergores sedikit, hanya satu senti dan tidak dalam.
"Tem, berapa lama lagi mereka sampai?" tanya Azura dalam hati
[DING!!!]
[Kurang dari lima menit lagi Nona]
"Cukup lama, tapi aku coba untuk mengulur waktu" ucap Azura lagi.
"Bapak diam saja di sini, sepertinya mereka sengaja mengincar saya. Bapak tenang saja, biaya kerusakan mobil akan saya tanggung. Ini pak! Maaf saya cuma bawa cash segitu. Kalau kurang, nanti hubungi saya di kartu nama itu aja pak" ucap Azura menyodorkan uang cash berjumlah sepuluh juta pada supir taksi.
"Tapi kak, ini bukan soal uang, ini bahaya. Kakak jangan keluar lal" ucap supir taksi
"Nggak apa-apa pak, dari pada kita berdua celaka. Lebih baik bapak pergi saja dari sini! Biar di sini aku yang urus" ucap Azura.
Sebelum supir taksi itu melarang Azura lagi, Azura sudah membuka pintu dan keluar dari mobil.
"Siapa kalian dan mau apa kalian mencegat kami?" tanya Azura.
"Kamu tidak perlu tahu... Wow... Berani turun juga rupanya, uuhh cantik sekali" ucap kakak Amel yang menatap lapar ke arah Azura.
"Kalian awasi supir taksi itu, ambil ponselnya. Jangan biarkan ia memanggil bantuan apalagi polisi" ucap kakak Amel lagi, lalu berjalan mendekati Azura
"Jangan mendekat!!" Azura mundur ke belakang, namun tetap berada di jalan raya agar terlihat.
Ia berusaha mengulur waktu, Azura mengumpat karena jalanan di sana sangat sepi dan tidak ada kendaraan lain yang lewat.
"Jangan takut cantik, Abang akan buat kamu berteriak kenikmatan dan juga Abang akan buat kamu viral, terkenal seantero negeri" ucap Kakak Amel yang meminta kawannya untuk menyiapkan kamera.
Azura mengambil ancang-ancang untuk lari, namun sayangnya Kakak Amel lebih cepat dan menyeret Azura ke semak-semak di pinggir jalan.
"Aaahhh lepas!!!! Teriak Azura masih mencoba berontak.
"Tenang cantik, nikmati saja. Kau pasti akan menyukainya" ucap Kakak Amel. Ia berusaha mengunci gerakan Azura dan tidak sabar untuk mencicipi tubuh Azura
BREETT!!!
Baju Azura terkoyak, memperlihatkan kacamata kudanya terlihat. Azura mengumpat karena dirinya sangat lemah dan tidak bisa melawan. Ia sangat marah karena asetiliknya terlihat meskipun masih dalam keadaan terbungkus.
Ia bertanya pada sistem kapan bantuan datang dan sistem mengatakan bantuan akan datang dalam 10 detik. Azura akhirnya bernafas lega dan bersiap mengumpulkan tenaga untuk berteriak kencang dan adegan menangis.
"TOLOOONGGGG!!! AAAKKHHH LEPAAAAAASSS!!! Hiks...." Teriak Azura dan menangis.
Sungguh saat ini ia sudah seperti aktris yang sudah sangat layak mendapatkan piala Oscar karena aktingnya.
"Wooowww, beautiful, cantik dan se*si...." ucap kakak Amel hendak menyentuh aset kembar milik Azura, namun belum sempat ia menyentuh. Sebuah tendangan tepat mengenai kepalanya dan membuatnya tersungkur.
BUGH!!!
"Aaakkkhhhh!!!!" teriak Kakak Amel
"Sialan!!! Beraninya kau menyentuh wanitaku!!!" teriak marah Arsen.
Ya, yang datang adalah Arsen dan anak buahnya, anak buahnya langsung menyerang anak buah Kakak Amel. Sedangkan Arsen langsung melayangkan pukulannya yang tidak memberi ampun untuk kakak Amel, orang yang pernah mengeroyoknya lebih dari dua bulan lalu itu.
Kakak Amel sekarang sudah terkapar di semak-semak, tubuhnya babak belur tidak terbentuk karena pukulan Arsen dan jatuh tidak sadarkan diri.
"Hikkss....." tangisan Azura menghentikan pukulan Arsen, pria tampan itu lekas berbalik menuju Azura yang tengah meringkuk di sana sembari menangis.
"Ra..." ucap Arsen yang marah dan juga sedih melihat keadaan gadis yang di cintainya. Namun Arsen masih bersyukur karena gadis yang di Cintai nya itu belum sempat di sentuh lebih jauh.
Arsen membuka jaket bomber miliknya dan memakaikannya ke Azura meskipun belum tertutup semuanya.
"Hiks... Dia menyentuhku... Aku kotor..." ucap Azura menangis terisak, dalam hatinya Azura mengacungkan jempol untuk dirinya sendiri. Jujur ia sendiri tidak menyangka jika dirinya punya bakat akting.
"Sssttt... Kamu nggak kotor, jangan bilang begitu ya" ucap Arsen memeluk Azura yang masih terisak.
"Sayang jangan menangis aku mohon... Aku akan membuat mereka merasakan namanya penyesalan" ucap Arsen lagi, hatinya ikut sakit melihat Azura yang tampak syok itu.
Tak lama Adrian dan kedua orang tuanya juga kedua sahabat lain beserta orang-orangnya datang.
"Azura...." ucap yang lain terkejut melihat Azura.
Arsen terkejut dan melepaskan pelukannya, ia menatap tajam teman-temannya karena melihat Azura yang berantakan dan bagian tubuhnya masih terlihat.
"Putar tubuh kalian!!" ucap Arsen marah.
Kemudian ia meminta Azura untuk menarik resleting jaket milik Arsen itu.
"Pah, Lily..." bisik Lita merasa sakit melihat keadaan Azura.
Meskipun saat ini hasil test belum keluar, namun tetap saja ia merasa sakit mendapati gadis yang mereka yakini sebagai putrinya itu mengalami kejadian seperti ini.
Aric mengepalkan tangannya saat melihat Azura syok dan terpukul atas apa yang terjadi.
"Siapa yang melakukannya Sen?" Tanya Adrian geram.
"Kakaknya Amel" ucap Arsen sembari menunjuk kakaknya Amel yang tidak sadarkan diri.
"Si*lan tuh orang nggak ada kapok-kapoknya!!!" pekik Adrian langsung berjalan ke arah kakak Amel. Tanpa ba-bi-bu dan tidak peduli kakaknya Amel sudah tidak sadarkan diri, Adrian tepat memukulinya.
...•••••••...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 224 Episodes
Comments
X'tine
mampus loe kakak amel... 😡
2024-02-13
3
Meigha
kenapa si sopir manggil zura kak,padahal si supir sdh paru baya🤔
2023-12-08
4
Nispu Wati
Azura disini gak dibekali bela diri
2023-11-25
1