Azura yang sudah keluar dari toko brand mewah itu langsung mengangkat telepon dari Arsen, ia bisa mendengar nada panik dari laki-laki yang lebih dari satu bulan ini mengejarnya. Azura menggaruk keningnya merasa bersalah karena meninggalkan Arsen begitu saja tadi.
"Ra kamu di mana?" tanyanya Arsen yang terdengar panik
"Aku ada di toko pakaian dekat toilet pantai dua, kamu di mana?" tanya Azura
"Tunggu di sana, jangan kemana! Aku ke sana sekarang" ucap Arsen langsung mematikan teleponnya.
Azura menurut, ia diam saja menunggu Arsen datang dan benar saja, tak lama kemudian Arsen datang dengan setengah berlari menghampiri nya dan langsung memeluknya. Tentu saja hal itu membuat Azura menegang, apalagi ia dapat merasakan debaran jantung Arsen yang sangat cepat, aroma tubuh yang maskulin dan juga pelukannya yang hangat.
"Kamu habis dari mana sih Ra? Aku tadi nyariin kamu muter-muter tau nggak, aku pikir kamu di culik karena sejak tadi aku telepon nggak di angkat-angkat. Aku panik sampai aku tadi hampir ke costumer service untuk membuat pengumuman mall. Tapi untungnya teleponnya kamu angkat" ucap Arsen.
Dapat Azura rasakan nafas ngos-ngosan Arsen dan juga badannya yang sedikit bergetar, membuat Azura merasa bersalah karenanya.
"Sen bisa lepas? Malu ini tempat umum! Banyak yang liat" ucap Azura mendorong tubuh Arsen pelan.
"Ah maaf, aku reflek tadi langsung meluk kamu" ucap Arsen
"Hmm... Maaf tadi aku lihat baju yang di display di toko itu menarik, jadi aku ke sana sebentar dan lupa bilang sama kamu. Maaf ya sudah buat kamu panik" ucap Azura berbohong tentu saja.
"Iya nggak apa-apa, tapi lain kali harus kabarin dulu. Aku kan jadi berpikiran yang nggak-nggak takut kamu di culik, terus sekarang bajunya mana?" tanya Arsen tidak melihat Azura membawa barang belanjaan.
"Tadi aku sudah keduluan orang lain. Jadi nggak jadi beli deh" ucap Azura cemberut
Pluk!
Tangan Arsen mengusap kepala Azura dengan lembut dan tersenyum di wajah tampannya.
"Nggak apa-apa, nanti kasih tahu aku aja model dan merk nya seperti apa. Aku akan membelinya di tempat lain untuk kamu" ucap Arsen sungguh-sungguh.
"Nggak perlu sen, lagian kata mbak nya tadi baju itu tinggal satu dan di outlet lain juga udah sold out karena best seller" ucap Azura
"Terus gimana?" tanya Arsen
"Ya nggak gimana-gimana, aku hanya perlu cari model lainnya yang aku suka nanti. Dan lagi aku nggak terbiasa beli sesuatu bukan dari uangku sendiri" ucap Azura
"Ya baiklah, tapi jika nanti aku memberikan hadiah atau sesuatu padamu. Kamu di larang nolak" ucap Arsen
"Dih pemaksaan" ucap Azura mencibir
"Bisa di bilang begitu, apalagi nanti pas kita pacaran terus nikah. Kamu wajib menggunakan uangku untuk segala keperluan yang kamu butuhkan" ucap Arsen
"Ngimpinya kejauhan mas bro" ucap Azura tahu kemana arah pembicaraan Arsen.
"Bukankah semua hal besar di mulai dari mimpi? Maka dari itu aku akan berusaha untuk bangun dan mewujudkannya" ucap Arsen tersenyum dan memainkan kedua alisnya naik turun ke arah Azura dengan tatapan penuh puja.
"Dih, rayuannya nggak main-main dasar playboy cap kadal. Udah ayo kita ke atas, film nya sudah mau mulai kan?" ucap Azura
"Hmm sepertinya ada dua puluh menit lagi mulai. Yuk ke sana!" ucap Arsen yang menggenggam tangan Azura yang terkejut dengan tindakan spontan Arsen.
Meskipun saat ini Azura tidak merasakan getaran cinta dengan Arsen. Namun sebagai seorang wanita yang sangat jarang bersentuhan fisik, membuat Azura tetap saja terkejut dan merasa canggung.
Perlakuan Arsen yang lembut nan tulus padanya berhasil membuatnya nyaman, namun Azura masih membatasi diri untuk tidak membawa perasaan selama ia menjalankan misi.
Ia tidak ingin terluka dan juga merasa galau, karena cepat atau lambat. Setelah ia menyelesaikan misi, ia harus meninggalkan dunia ini dan masuk ke dunia lainnya untuk menjalankan misi lainnya.
Tapi ia juga bukan robot yang tidak menghargai perasaan seseorang. Mungkin ia akan berusaha merespon meskipun tidak menggunakan perasaannya sebagai Zoya.
Namun ia berusaha masuk menghayati peran Azura, anggap saja saat ini ia tengah syuting film dan harus berperan baik agar filmnya sukses. Dan kali ini ia berperan sebagai seorang gadis yang tengah merasakan jatuh cinta dengan lawan mainnya.
.....
Lita selama di perjalanan pulang hanya diam, bahkan saat mengantarkan wanita muda yang tak lain adalah Shaila sang pemeran utama wanita dalam novel ini. Lita hanya menanggapinya dengan singkat dan seperlunya saja.
Shaila sendiri tidak mengerti kenapa Lita tiba-tiba hanya diam setelah pulang dari toko, padahal sejak pagi mereka sangat antusias untuk bertemu dan mengobrol.
Setelah mengantar Shaila pulang dan kembali ke rumah, Lita masuk ke dalam kamarnya dan duduk merenung menatap sebuah kartu nama di tangannya.
"Azura...." ucap nya lirih
Tak lama Aric, suami dari Lita pulang, ia menatap heran sang istri yang tidak biasanya melamun di balkon.
"Mah..." ucap lembut Aric
"Pah, sudah pulang" ucap Lita tersenyum menyambut sang suami pulang dan mencium tangan sang suami.
"Hmm, kenapa kok papa lihat mama sejak tadi mama diam saja, ada apa?" tanya Aric
"Nanti mama jelasin ke papa, mending papa mandi dulu nanti kita ngobrol lagi" ucap Lita
"Ya sudah papa mandi dulu kalau begitu" ucap Aric menurut.
Setelah menunggu lima belas menit, Aric keluar dari kamar mandi dalam kondisi segar dengan pakaian rumahnya. Meskipun saat ini ia sudah kepala empat, tapi ia masih terlihat tampan dengan perut kotaknya karena rajin menjaga tubuhnya.
"Apa yang mau di bicarakan mah? Kenapa papa lihat mama seperti memikirkan sesuatu? Bukannya pagi tadi mama sangat semangat karena ingin bertemu Shaila?" tanya Aric
"Mama kepikiran gadis bernama Azura Pah" ucap Lita
"Azura? Siapa Azura?" tanya Aric mengerutkan keningnya.
Lira pun menceritakan apa yang ia alami saat di mall, kejadian ia bertemu dengan Azura dan apa yang membuatnya memikirkan gadis itu sejak tadi.
"Mama serius?" tanya Aric terkejut.
"Ya Pah, semenjak bertemu dengan Azura tadi, mama jadi membandingkan banyak hal. Terutama wajah, tanda lahir dan juga perasaan mama entah mengapa mengatakan yakin jika Azura itu Lily" ucap Lita
"Bukannya mama beberapa hari yang lalu juga bilang yakin kalau Shaila itu Lily?" tanya Aric bingung.
"Awalnya mama juga yakin kalau Shaila itu Lily kita, ia juga memiliki tanda lahir dan juga cerita Shaila jika ia seorang anak yatim piatu yang di buang orang tuanya di panti sama persis dengan ciri-ciri Lily. Bahkan tanggal ia di temukan di salah satu panti di kota C sama persis dengan tanggal di mana Lily kita di culik dan kota C itu hanya berjarak tiga puluh menit dari kota M, di mana kita liburan waktu itu" ucap Lita
"Tapi setelah bertemu Azura, bahkan hanya dengan melihat wajahnya saja membuat jantung mama berdetak kencang. Papa tahu, wajah itu... Wajah itu sangat mirip dengan wajah mama saat masih sekolah menengah dulu. Dan tanda lahir itu, bentuk dan warnanya bahkan sama persis dengan tanda lahir yang mama miliki. Sedangkan tanda lahir milik Shaila warna dan juga bentuknya tidak sama dengan milik mama" Jelas Lita lagi.
"Lebih baik kita temui gadis itu, papa jadi penasaran dengannya. Papa harap salah satu dari mereka berdua benar-benar Lily kita. Tapi bagaimana kita bertemu dengannya? Apa papa harus menyuruh orang untuk melacak keberadaan nya?" ucap Aric.
"Tidak perlu pah, mama punya kartu namanya. Mama bisa coba hubungi dia dulu" ucap Lita.
"Ya sudah, lebih baik kita turun untuk makan malam. Papa juga ada perlu dengan Iyan untuk bahas pekerjaan, kita bicarakan ini lagi nanti" ucap Aric
Lita hanya mengangguk dan ikut sang suami turun untuk makan malam bersama putra mereka satu-satunya.
....
Azura dan Arsen sudah kembali dari acara menonton mereka, di bioskop Arsen mengambil banyak keuntungan. Ia memilih film horor saat itu, karena film yang tayang hari ini hanya ada film horor dan drama yang menguras air mata.
Tentu Azura dan Arsen memilih horor, Azura tidak begitu menyukai drama yang membuatnya melow. Karena pada dasarnya Azura mudah sekali terhanyut dan menagis saat melihat drama yang sedih.
Namun jujur, ia juga sangat takut dengan film horor sejak di kehidupan aslinya. Azura lebih memilih film bergenre action, komedi romantis, komedi ataupun animasi. Namun karena hari ini yang tayang dua film bergenre itu jadi ia memilih horor.
Saat film berlangsung, Azura serius menonton meskipun beberapa kali ia teriak dan juga ketakutan. Tentu hal itu di manfaatkan Arsen, Azura yang takut masuk ke pelukan sang Playboy yang sudah tobat itu. Tangan Azura pun tidak lepas dari genggaman Arsen, mereka sangat dekat selama kurang lebih 120 menitan di dalam bioskop.
"Aku pulang ya, kamu berani kan tidur sendirian?" tanya Arsen saat ia hendak pulang saat keduanya sudah berada di unit Azura.
"Ih kenapa malah nakut-nakutin" ucap Azura langsung merinding, teringat dengan adegan horor yang ia lihat di bioskop.
"Perlu aku temenin?" tanya Arsen memainkan alisnya
"Ihhh mainya kamu, nyari kesempatan. Sana pulang!" ucap Azura
"Iya aku pulang, kalau ada apa-apa telepon aku ya Ra" ucap Arsen lembut
"Hmm..." Azura mengangguk.
"Aku pulang dulu, selamat malam dan mimpi indah calon pacar" ucap Arsen yang menahan diri untuk tidak mencium wajah cantik gadis yang di cintainya itu. Ia hanya berani mengelus kepala Azura dengan menampilkan senyumnya.
Azura merebahkan tubuhnya di tempat tidur, mengingat film horor. Bukannya hidupnya lebih horor, bahkan ia bisa bicara dengan suara tanpa rupa tiap saat (Sistem). Mengingat itu ia terkekeh dan tidak terlalu kepikiran lagi dengan film yang ia tonton itu, lalu ia memutuskan untuk mandi dan tidur.
...••••••••...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 224 Episodes
Comments
Nf@. Conan 😎
tes DNA lah msa orang kaya nggak k pkiran
2023-12-09
12
Nispu Wati
Jgn2 Azura adik Adrian
2023-11-25
2
vio~~~~
iyan yg dimaksud pasti adrian.. dan azura itu pasti adiknya yg hilang..😁
2023-11-14
1