"Aku serius mengajakmu berteman, aku pikir kamu adalah gadis yang sangat menyenangkan" ucap Adrian tersenyum ke arah gadis cantik di depannya.
Azura melihat kejujuran dari tatapan mata dan juga ucapan Adrian. Ia menghela nafas dan mengangguk, ia pikir tidak ada salahnya berteman. Ia sudah terlanjur masuk dalam cerita. Terlanjur basah, mandi saja sekalian! Begitu pikirnya.
Jadi ia akan hadapi apapun yang terjadi, ia hanya perlu menambah ekstra waspada saja setelah ini.
"Baiklah" ucap Azura membuat senyum Adrian makin lebar.
Azura mengerutkan keningnya saat Adrian menyodorkan ponsel ke arahnya.
"Aku tidak butuh ponselmu, aku sudah punya ponselku sendiri" ucap Azura cuek
"Astaga ha-ha..." Tawa Adrian pecah, sedangkan Azura menatapnya heran.
Apa ada sesuatu yang lucu? Pikirnya.
"Aku tidak memberimu ponselku" ucap Adrian menahan tawanya.
"Terus..." Ucap Azura tidak mengerti.
Kalau bukan ingin memberinya ponsel, lalu apa? Pikir Azura polos.
"Kamu nggak pernah pacaran atau di dekati cowok?" Tanya Adrian
"Kenapa pertanyaanmu jadi absurd begitu?" Ucap Azura makin tidak mengerti
Adrian tidak bisa menahan tawanya lagi, sungguh gadis di depannya ini membuatnya gemas karena saking polosnya. Baru kali ini ia merasa terhibur oleh sosok yang baru beberapa detik lalu menjadi temannya itu.
"Aku meminta nomor mu" ucap Adrian
"Hais, bilang dari tadi, kenapa jadi muter-muter nggak jelas" Oceh Azura.
Azura tidak berpura-pura, karena memang ia benar-benar tidak mengerti yang di maksud Adrian. Belum pernah ada yang meminta nomor teleponnya dengan cara seperti itu sebelumnya, bahkan saat ia di tubuhnya dulu pun tidak pernah.
Bisa jadi karena dulu ia terlalu berpusat pada David dan di bodohi oleh Janette. Selain akademis dan pekerjaan, ia tidak terlalu paham dengan hal percintaan atau persahabatan yang benar itu seperti apa.
"Nih!" Ucap Azura menyodorkan ponsel Adrian setelah mengetik nomor telepon miliknya.
Setelahnya ponsel Azura berdering.
"Itu nomorku, di save ya" ucap Adrian tersenyum.
"Hmm" Azura mengangguk dan menyimpan nomor Adrian.
Merupakan rekor bagi Adrian, karena dia adalah orang pertama yang menjadi teman Azura di dunia ini dan juga orang pertama yang nomornya di simpan di dalam ponselnya.
"Kamu mau beli laptop?" Tanya Adrian, Azura hanya mengangguk saja.
"Mau cari yang seperti apa, biar aku bantu pilih" ucap Adrian menawarkan diri.
Jika saja orang yang mengenal Adrian ada di sana, mungkin mereka akan syok. Bagaimana tidak, Adrian yang jarang bicara, justru kini lebih aktif mengajak Azura bicara padanya.
"Yang bagus" ucap Azura
"Mending yang ini, menurutku ini bagus. Aku juga memakainya, memang harganya mahal sih. Kalau kamu mau, aku bisa membelikannya untukmu" ucap Adrian serius dan tulus.
"Nggak perlu, aku bisa bayar sendiri" ucap Azura.
Segera ia meminta karyawan di untuk membungkusnya, ia akan mengambil laptop yang di tunjuk oleh Adrian tadi.
Adrian hanya menghela nafas dan menggelengkan kepalanya pasrah, ia memang tidak salah meminta Azura menjadi temannya. Azura tidak sama seperti perempuan yang selama ini Adrian kenal, yang hanya ingin mendekatinya karena keluarganya merupakan salah satu orang terkaya di negara ini.
"Totalnya 29 juta kak" ucap kasir
Tanpa ragu Azura menyodorkan card miliknya dan pembayaran pun berhasil. Adrian pun menatap Azura, ia mengerutkan keningnya.
Ia menyadari outfit yang di pakai Azura adalah merek brand ternama, setidaknya itu bernilai jutaan. Sekarang Azura membayar laptop 29 juta tanpa bergeming sedikit pun, seolah itu hal biasa.
Adrian berpikir pasti Azura adalah putri konglomerat, namun ia tidak pernah merasa ingat pernah bertemu dengan Azura di kalangan anak orang kaya di ibukota.
Ya, sebagai pewaris Keluarga Alexander. Adrian mengetahui putra dan putri dari rekan bisnis ayahnya. Namun ia tidak pernah sekalipun mendengar nama Azura.
"Ra, nama lengkap mu apa? Apa kamu asli sini?" Tanya Adrian saat keduanya kini berada di salah satu restoran untuk makan malam setelah selesai berbelanja.
"Azura Gumilang, aku berasal dari luar kota" ucap Azura. Adrian mengangguk paham, tapi terasa familiar saat mendengar nama itu.
"Kenapa?" Tanya Azura
"Nggak apa-apa, aku hanya penasaran. Soalnya aku belum pernah bertemu atau mendengar namamu saat perkumpulan anak-anak kaya di ibukota. Sekarang aku mengerti, tentu saja aku tidak pernah melihatmu karena kamu bukan berasal dari ibukota" ucap Adrian.
"Uhuuukk!!!" Azura tersedak saat mendengar ucapan Adrian. Ia tidak percaya jika Adrian menganggapnya terlalu tinggi.
Jelas Adrian tidak pernah mendengar namanya di sebut di kalangan anak-anak orang kaya, wong dia bukan anak orang kaya kok.
"Pelan-pelan makannya Ra, nggak ada yang minta makanan kamu. Ini minum dulu!" ucap Adrian menepuk pelan punggung Azura dan menyodorkan minuman.
"Thanks, Yan" ucap Azura dan di angguki oleh Adrian.
"Kamu salah" ucap Azura
"Eh, apanya?" Tanya Adrian tidak mengerti, tiba-tiba Azura mengatakan ia salah.
"Aku bukan anak orang kaya" ucap Azura, membuat kening Adrian mengerut.
"Tapi aku sendiri yang kaya" lanjut Azura mengangkat kedua bahunya cuek. Toh, dia mengatakan apa adanya.
"Ha-ha-ha... Kamu lucu banget Ra" ucap Adrian ketawa.
"Aku serius Adrian, aku bukan anak orang kaya, bahkan aku tidak tahu siapa kedua orang tuaku. Aku sejak bayi tinggal di panti asuhan di kota C dan aku sekarang tinggal seorang diri di ibukota" ucap Azura
Adrian menatap Azura dan tidak terlihat kebohongan sama sekali di sana.
"Aku kaya karena diriku sendiri, bukan orang lain" lanjut Azura lagi
Adrian terdiam, ia memikirkan berbagai kemungkinan tentang gadis cantik di depannya yang terlihat sangat tenang.
"Kamu...." Ucap Adrian, lidahnya terasa kelu hingga tidak melanjutkan ucapannya. Pikiran itu terlintas begitu saja di dalam pikirannya.
"Aku tahu yang di pikiranmu, tapi aku tidak seperti yang kamu pikirkan Adrian. Aku memang anak yatim piatu yang tidak tahu asal usulnya, namun aku bukan tipikal orang yang menghalalkan berbagai cara hanya untuk menghasilkan uang.
Aku menghasilkan kekayaan dengan usahaku sendiri. Aku bekerja sebagai konsultan bisnis dan aku juga bermain saham hingga uang dengan sendirinya mengalir ke rekening tabunganku" ucap Azura dengan santai.
"Azura, maaf..." Ucap Adrian, meskipun ia tidak mengeluarkan statement tentang apa yang di lakukan Azura yang terlintas di kepalanya, namun ia tetap merasa bersalah karena berpikir yang tidak-tidak tentang gadis di depannya itu.
"No problem, wajar jika kamu menganggapku demikian. Di usiaku yang baru 18 tahun, tapi sudah memiliki penghasilan sendiri yang terbilang besar. Itu tidak masuk akal, namun itu benar-benar terjadi padaku. Percaya atau tidak, itu terserah padamu dan aku sama sekali tidak peduli pendapat orang lain, selama aku yakin yang aku lakukan benar" ucap Azura
"Umurmu 18 tahun? Sulit di percaya, tapi aku percaya padamu" ucap Adrian.
Mengenai pekerjaan Azura yang menjadi konsultan bisnis dan bermain saham, sulit Adrian mempercayai itu. Namun entah mengapa ia yakin jika Azura adalah gadis baik-baik, baginya hal itu saja sudah cukup.
"Ya, besok adalah hari pertama aku kuliah" ucap Azura
"Kamu kuliah dimana?" Tanya Adrian.
"Brain University" ucap Azura
"Wow kita satu kampus, kamu ambil jurusan apa?" Ucap Adrian semangat.
"Fakultas Ekonomi, jurusan management Bisnis" ucap Azura, ia tidak terkejut jika ia satu kampus dengan Adrian dkk, karena ia sudah tahu hal itu.
"Sangat baik, aku dengar angkatan kali ini ada mahasiswi yang mendapatkan nilai penuh dan undangan langsung dari pihak universitas. Bahkan ia mendapat beasiswa penuh karenanya. Eh... Tunggu" ucap Adrian, matanya tiba-tiba membola saat teringat sesuatu.
"Azura Gumilang, fakultas management Bisnis.... Kamu..." Ucap Adrian menatap Azura tidak percaya.
"Ya itu aku yang kamu bicarakan barusan. Kenapa kaget? Kan aku bilang kalau aku bekerja sebagai konsultan bisnis, yang artinya aku sangat ahli dalam bisnis. Jadi untuk mendapatkan nilai dan beasiswa secara penuh, itu sama sekali tidak sulit bagiku" ucap Azura.
Memang benar Azura adalah mahasiswi pintar dan mendapat nilai tinggi, namun tidaklah benar jika ia adalah konsultan bisnis. Itu hanya karangan Azura semata, karena tidak mungkin ia mengatakan jika ia memiliki sistem. Dan lebih tidak mungkin ia membiarkan orang lain mengecapnya buruk, karena mengira ia bekerja yang tidak-tidak.
Namun dengan ini Azura memiliki ide lain, yaitu ia akan membuka konsultan bisnis sungguhan. Jadi jika suatu hari nanti ada yang bertanya apa yang ia lakukan hingga bisa menghasilkan begitu banyak uang. Maka ia tidak akan bingung karena ia bisa menjawabnya dengan tegas.
"Luar biasa..." Ucap Adrian takjub, sekarang ia yakin dengan ucapan Azura mengenai pekerjaannya. Karena ia mendengar sendiri dari pihak kampus kalau Azura adalah seorang jenius yang sangat di banggakan pihak kampus.
....
Di Rindu Cafe, Arsen, Galang dan Pras sedang berkumpul dan menunggu kedatangan Adrian. Arsen sudah keluar dari rumah sakit, karena ia hanya di rawat satu hari saja dan beberapa hari ini ia sudah pulih total.
"Sen, lu beneran nggak apa-apa kan?" Ucap Galang
"Emangnya gue kenapa" Tanya Arsen.
"Ya aneh aja, nggak biasa aja lihat lu diem dari tadi. Biasanya udah tebar pesona, apalagi di sini banyak cewek cantik" ucap Galang menoleh ke kanan dan ke kiri, banyak sekali para gadis menatap ke arah meja mereka.
"Males" ucap Arsen
"Wooww rekor, seorang Arsen bilang males!" ucap Galang di sambut kekehan Pras.
Arsen kembali melamun tidak menggubris ocehan sahabatnya, ia memikirkan gadis yang menolongnya beberapa hari yang lalu. Ia terus memikirkannya dan jantungnya terus berdetak saat ia mengingatnya. Ia nyaris gila karena ingin sekali bertemu dengan gadis itu.
Tak lama Adrian terlihat berjalan mendekati ketiga sahabatnya itu dan langsung duduk di bangku kosong di sana.
"Astaga... Lu udah kaya jurig Yan, nggak pake salam dulu udah nongol aja" celetuk Galang
Adrian tidak menimpali dan memanggil pelayan untuk memesan minuman.
"Lu nggak makan Yan?" Tanya Pras
"Gue udah makan" jawab Adrian
"Tumben, udah makan duluan" ucap Galang
Adrian hanya mengangkat kedua bahunya.
"Kenapa?" Tanya Adrian menunjuk Arsen dengan dagunya.
"Galau kali..." Ucap Pras
"Haaaahh...." Terdengar helaan nafas Arsen.
"Sebenernya lu kenapa sih Sen?" Tanya Pras kepo
"Gue mikirin gadis itu, namanya siapa ya? Tinggalnya di mana? Terus dia lagi ngapain? Udah makan belum? Apa dia juga demam kaya gue, secara dia juga ikut jeburin diri ke danau yang dingin itu" Ucap Arsen memikirkan Azura
"Lu mikirin si gadis Danau? Jatuh cinta lu?" Tanya Galang
Arsen diam tidak menjawab, karena dirinya juga tidak mengerti alasan mengapa dirinya seperti ini.
Adrian yang mendengar Arsen membicarakan tentang Azura hanya diam saja, ia sama sekali tidak ada keinginan untuk memberitahu Arsen tentang Azura.
Ia tahu bagaimana sahabatnya itu dan ia tidak ingin gadis polos seperti Azura, menjadi korban kesekian Arsen dan akan terluka nantinya. Bagaimana pun Azura sekarang sudah menjadi temannya juga.
...•••••••...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 224 Episodes
Comments
Bzaa
wkwkkw keren banget
2025-01-12
0
Seven8
yah jelas gak bergeming. belanja 29jt rabatnya 290jt, kaga pusying mikirin biayanya
2024-04-04
5
☠zephir atrophos☠
waduh, roman² berang nih keknya
2024-01-18
1