Motor Arsen melaju dengan kecepatan sedang di jalan raya, sesekali Arsen melihat ke arah spion di mana Azura kini memeluknya dari belakang.
Arsen tidak bisa menyangkal hati dan jantungnya tidak aman karena selalu berdetak kencang saat berada di dekat Azura. Terlebih ia merasakan sesuatu yang menempel di punggungnya.
"****!! Kenapa aku jadi memikirkan hal yang tidak-tidak" Gumam Arsen saat merasakan sesuatu yang kenyal.
"Sen, kamu bilang apa?" tanya Azura tidak mendengar apa yang di ucapkan Arsen, karena suara angin dan juga suara kendaraan. Terlebih motor gede Arsen menggunakan knalpot racing.
Azura hendak melepaskan pelukannya karena di rasa Arsen sudah mulai menjalankan motornya dengan kecepatan sedang. Namun tangannya kembali di tarik dan di lingkarkan di perut Arsen yang terasa keras, sudah di pasti kan perut Arsen tercetak indah.
"Tidak apa-apa, Jangan di lepas Ra, tetap pegangan. Bahaya!!!" teriak Arsen.
Mau tidak mau Azura pun menurut dan diam dengan posisi memeluk Arsen dari belakang.
.....
Motor Arsen sampai di Arch Restaurant, Arch mengumpat dalam hati karena merasa terlalu cepat sampai. Padahal ia masih ingin di peluk Azura lebih lama.
"Makasih" ucap Azura tulus meskipun wajahnya masih sama datar.
"Sama-sama, kamu kerja di sini? Pulang jam berapa?" tanya Arsen, penasaran.
Kalau benar Azura bekerja di sini, maka dia akan sering datang ke salah satu restoran milik orang tua nya itu.
"Aku tidak kerja di sini, hanya bertemu mitra kerja saja. Kenapa?" ucap Azura
"Aku sepertinya akan makan di sini juga, bagaimana kalau pulang nya nanti aku antar" ucap Arsen.
Azura tidak bodoh, ia tahu Arsen sedang berusaha mendekatinya. Anggap saja ia terlalu percaya diri, mengira Arsen tengah mengejar nya.
"Tidak perlu, aku pulang naik taxi" ucap Azura menolak secara langsung.
Jujur saja, ia tidak memiliki perasaan pada siapapun di dunia yang ia tempati saat ini. Baginya keberadaan nya di sini hanya untuk sebuah misi, agar ia kembali ke dunianya. Jadi ia tidak ingin membawa perasaan ke dalamnya, yang nantinya akan membuat penyesalan yang tidak perlu dalam dirinya.
Mengingat identitas Arsen yang merupakan pangeran keluarga Bagaskara dan juga seorang playboy. Azura berusaha bersikap seperti biasa saja, meskipun persentase suka Arsen padanya tinggi. Namun bukan berarti Azura akan luluh dengan mudah hanya karena tahu orang itu menyukainya.
Misi tersembunyi pun Azura hanya menjalankannya seperti air mengalir, meskipun ia tergiur dengan hadiahnya. Namun ia tidak akan merendahkan harga dirinya untuk mengejar seorang laki-laki.
"Tidak menerima penolakan! Aku akan mengantarmu pulang" ucap Arsen
Azura menghela nafas. Sepertinya nya Arsen tidak pantang menyerah dan juga tidak bisa di ganggu gugat.
"Terserah" ucap Azura yang hendak masuk, namun tangannya di cekal Arsen.
Ia melihat Arsen menyodorkan ponselnya, Azura teringat Adrian yang melakukan hal yang sama padanya waktu itu.
"Apa?" tanya Azura pura-pura tidak mengerti.
"Tulis nomor ponselmu" ucap Arsen
"Mau apa? Isiin kuota? Pulsa? Dompet digital?" ucap Azura
Arsen terkekeh mendengar itu, entah mengapa ia merasa sangat gemas dengan gadis di depannya. Ingin sekali ia memeluk dan menciumnya saat ini juga.
"Boleh juga, nanti aku isi. Tulis nomor mu, aku tidak akan bisa menghubungimu saat pulang nanti, jika aku tidak memiliki nomor ponselmu" ucap Arsen
Azura mengambil ponsel itu dan mengetikan nomernya dan memberikannya kembali pada Arsen.
"Masuklah, nanti kalau sudah selesai telepon aku, oke" ucap Arsen mengusap lembut kepala Azura, Azura pun hanya mengangguk malas kemudian segera masuk.
....
"Arsen! lu di sini?" sapa seseorang.
"Adrian, lu juga ngapain di sini?" ucap Arsen terkejut melihat sahabatnya itu keluar dari restoran.
"Gue baru selesai menemani ayah bertemu klien" jawab Adrian
"Oh..." Arsen hanya mengangguk
"Sedang apa lu di sini? Tumben?" tanya Adrian menelisik curiga.
"Anterin calon pacar" ucap Arsen
"Si*lan!! Bukannya kemarin lu kemarin bilang ke gue kalau lu beneran suka sama Azura, mana sumpah sumpah segala dan minta gue nggak halangin lu deketin dia. Sekarang apa hah? Lu mau jadiin Azura sama seperti cewe lain, jadi korban perasaan lu?" ucap Marah Adrian.
Ia tidak terima jika Azura, sahabat barunya itu akan di jadikan korban perasaan sahabatnya yang lain.
"Sembarangan lu ngomong, gue serius lah sama Azura. Gue kan udah sumpah kalau gue sekarang benar-benar yakin cinta sama dia" ucap Arsen.
"Terus lu ngapain masih cari mangsa lain hah?" ucap Adrian lagi kesal.
"Siapa yang cari mangsa sih?" ucap Arsen ikut kesal
"Tadi lu bilang ke sini anterin calon pacar?" ucap Adrian
"Iya, terus salah gue di mana?" tanya Arsen
"Ya salah lah, lu bilang kalau lu beneran jatuh cinta sama Azura, sekarang lu jalan sama cewe lain. Sehat lu?" ucap Adrian emosi
"Cewe lain apa sih? Orang gue nganter Azura" ucap Arsen
"Azura?" beo Adrian
"Iya, emang siapa lagi. Kan gue bilang calon pacar. Ya jelas Azura lah, kan gue udah bilang sejelas-jelasnya sama lu kemarin. Gue serius sama Azura, hati gue udah jatuh pada pesonanya seorang Azura. Makanya gue mohon-mohon sana lu buat nggak halangin gue ngejar dia" ucap Arsen.
"Terus Azura mana?" tanya Adrian
"Di dalem katanya mau ketemu Klien. Ini gue mau masuk, gue mau jagain dia dari jauh" ucap Arsen masuk, namun ternyata Adrian juga mengikuti dari belakang.
"Ngapain lu ngikutin gue?" tanya Arsen
"Ikut jagain Azura dari lu" ucap Adrian
"Si*lan, gue udah bilang kalau gue serius sama Azura, lu masih nggak percaya?" tanya Arsen kesal
Adrian hanya mengedikan bahunya, sedangkan Arsen berdecih mau tidak mau hanya bisa membiarkan sahabat nya itu mengikutinya.
....
Di ruangan yang di gunakan Azura untuk bertemu dengan Klien nya, Azura ternyata datang lebih dulu sampai dan duduk dengan tenang setelah memesan minuman sembari menunggu kliennya itu.
[DING!!!]
[Nona, sistem mendeteksi adanya alat penyadap suara di dalam ruangan]
Azura mengeryitkan keningnya saat mendapat peringatan dari sistem. Ia pun menghela nafasnya, ia akan mengabaikan apapun itu. Karena ini sama sekali tidak merugikannya dalam hal apapun.
"Kau tahu siapa Tem?" tanya Azura dalam hati
[Target misi Anda dan juga sahabatnya, nona]
"Oh, Arsen kah? Biarkan saja" ucap Azura tidak peduli
[Sepertinya nona tidak peduli]
"Tentu saja aku peduli, tapi sayangnya aku tidak ingin melibatkan perasaan dalam misiku Tem" gumam Azura
[Jadi anda menolak misinya?]
"Memang bisa di tolak? Nggak kan? Jadi biarkan saja mengalir seperti air, tapi aku tidak ingin memberikan harapan palsu padanya. Kalaupun gagal, aku tidak masalah, lagian aku juga mendapatkan hukuman kan?" ucap Azura lagi.
Seorang pelayan pun masuk membawa pesananan Azura, lalu tak lama dua orang paruh baya yang Azura yakini sebagai klien dan juga seorang asisten datang. Pria paruh baya yang masuk lebih dulu mengerutkan keningnya saat menatap Azura.
"Kamu yang bernama Zoya?" tanya pria paruh baya yang melangkah lebih dulu itu.
Azura memang menggunakan nama aslinya sebagai identitas usahanya. Jadi jangan aneh jika Klien Azura mengenalnya sebagai Zoya, seorang Buisnes Consult.
"Ya, hallo tuan Anton, senang bertemu dengan anda" ucap Azura dengan sopan, meskipun ia tahu ada tatapan mengejek dari lawan bicaranya.
"Sepertinya keputusan ku untuk menggunakan jasamu salah, maaf saya harus membatalkan menggunakan jasamu nona Zoya. Anda tenang saja, tagihan ruangan dan juga biaya konsultasi selama satu jam akan saya kirim ke rekening anda. James ayo pergi!" ucap Anton dan berbalik dan meminta asisten nya itu ikut pergi.
"Pantas saja perusahan anda tidak pernah berkembang menjadi lebih maju tuan Anton, bagaimana bisa maju kalau pemimpinnya orang yang berpikiran sempit, yang hanya suka menilai sesuatu hanya dari tampilan luarnya saja" ucap Azura dengan tenang menyeruput kopi latte miliknya.
Anton yang hendak pergi menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Azura.
"Kau terlalu tinggi menilai dirimu sendiri nona Bukankah harusnya anda bersyukur saya tetap membayar anda" ucap Anton mencebikkan bibirnya.
"Tentu harus tinggi, karena value yang saya miliki juga tinggi. Apa yang salah dengan ucapanku? Saya tidak mengharapkan uang receh dari jasa konsultasi saya. Harus saya katakan, anda memang berpikiran sempit tuan Anton. Anda bahkan belum melihat apa rancangan ide konsep yang akan saya perlihatkan pada anda. Tapi anda sudah menilainya nya buruk" ucap Azura
"Anton Zaquen, saya tebak perusahaan industri menengah milik anda sedang mengalami kemunduran karena kehabisan ide baru. Produk lamamu sudah tidak laku lagi di pasaran. Ada banyak masalah intern yang terjadi hingga membuat goyah dari dalam. Banyak sekali orang yang tidak berkompeten hanya menjadi benalu di perusahaan anda, yang membuat harga saham pun turun drastis hingga 15 point dalam satu bulan belakangan.
Keuangan perusahaan juga dalam kondisi hampir failed, pengajuan pinjaman bank mu di tolak karena tidak memenuhi syarat dan kemungkinan besar gaji karyawan bulan ini akan di pending karena tidak adanya dana Kass di perusahaan. Karena Dana Kass perusahaan sudah di bawa kabur oleh orang kepercayaan mu, benar bukan?
Sayang sekali, awalnya saya optimis dengan rancangan dan juga ide konsep bisnis yang akan saya tawarkan, kemungkinan besar akan menghasilkan setidaknya lima kali lipat dari apa yang sudah perusahaan mu hasilkan dalam satu tahun, hanya dalam dua bulan saja. Itu bisa menutupi krisis keuangan yang ada di perusahaan. Dan saya juga memberikan solusi apa yang harus di lakukan agar memperbaiki intern di perusahaan mu." ucap Azura dengan tenang.
Sedangkan Anton terlihat terkejut mendengar ucapan Azura, ia tidak menyangka Azura bisa dengan detail mengetahui apa yang terjadi dalam perusahaan nya.
Karena memang benar perusahaan nya saat ini sedang di terjang gelombang besar dari dalam dan luar. Bahkan terancam gulung tikar karena tidak bisa menggaji karyawan.
Ia menatap tidak percaya pada Azura yang sudah mengetahui semuanya, bahkan sangat detail.
"Ekhmmm... Baiklah, mana rancangan produk dan ide yang kamu buat. Saya akan melihatnya dan menimbang apakah kerja sama kita bisa di lakukan" ucap Anton berdeham agar menghilangkan kecanggungan di antara keduanya.
"Ah, sayangnya saya sudah tidak tertarik lagi. Anda bisa keluar, pintunya ada di sebelah sana" ucap Azura santai menunjuk ke arah pintu keluar.
"Si*lan, Kau.... Jangan keterlaluan!!!" ucap Anton marah saat secara tidak langsung Azura mengusir nya.
"Apa yang keterlaluan? Bukankah anda sendiri yang tidak ingin menggunakan jasaku tuan Anton? Apa anda tidak punya cermin di rumah? Mau saya pesankan yang paling besar, agar anda bisa berkaca diri?" ucap Azura tanpa ada rasa tertekan atau terintimidasi sama sekali.
"Tuan, jangan sampai emosi. Mungkin nona Zoya adalah jawaban dari keputusasaan anda, tidak ada salahnya melihat apa yang ingin nona Zoya tawarkan" ucap James bijak
"Haaahhh... Apa maumu nona?" tanya Anton menghela nafas dan berusaha menekan emosinya.
"Minta maaflah! Atau silahkan pergi dari sini..." ucap Azura melipat kedua tangannya menatap datar ke arah Anton.
Anton mengetatkan rahangnya, namun ia menutup mata dan mencoba untuk tenang. Ia juga memikirkan bahwa ia harus bersikap profesional. Setelah tenang ia pun membuka mata dan membungkuk di depan Azura.
"Saya minta maaf sudah bicara yang tidak-tidak dan menilai anda tanpa melihat kebenaran nya nona, tolong maafkan ketidaksopanan Saya" ucap Anton menekan egonya dan meminta maaf pada Azura
...••••••...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 224 Episodes
Comments
Erna Masliana
betul..misi adalah misi jangan pake perasaan nanti gagal misinya
2025-03-23
0
☠zephir atrophos☠
pikiran kotor anda tolong dikondisikan🗿
2024-01-18
0
_cloetffny
please deh ceritanya enak loh, tpi penggunaan bahasanya campur-campur /Toasted/
2024-01-07
2