Azura takut ia di salahkan dalam kejadian ini, padahal ia hanya berniat menolong. Dalam hati ia merutuki dirinya sendiri karena mendorong dirinya terlibat.
Padahal ia berencana ingin menyelesaikan misi tanpa terlibat lebih jauh dengan para tokoh utama. Ia hanya perlu membongkar sifat asli pemeran utama wanita dari belakang layar, dan fokus untuk mengubah takdir Azura yang asli dan menguak misteri yang ada.
Di tambah ia yakin jika kematian pemilik asli tubuhnya berkaitan dengan para tokoh utama. Saat Azura membaca novel itu menyadari kalau kematian pemilik tubuh terjadi, tak lama setelah adegan Arsen bertemu dengan Azura Saat itu Arsen dan dirinya membahas perihal tugas kampus.
"A-aku...." Ucap Azura dengan bibir yang gemetar.
Belum sempat ia menyelesaikan ucapannya, terdengar suara Galang yang memotong.
"Yan, Ayo cepet bantu bawa Arsen ke rumah sakit" ucap Galang.
Melihat Adrian lengah saat itu Azura melepaskan genggaman tangan Adrian dan pergi dari sana.
"Hei, tunggu!!!" Teriak Adrian saat Azura berhasil kabur.
"Woy, Adrian cepetan!" ucap Galang.
Adrian pun akhirnya mengangguk dan membantu kedua temannya itu untuk membawa Arsen ke rumah sakit.
....
Di dalam apartement, Azura mondar mandir menggigit kukunya.
"Bego! Kenapa bisa terlibat dengan para tokoh utama itu, bagaimana kalau mereka ngira aku macem-macem tadi? Haissshh..." ucap Azura gelisah
"Tenang Zoy, tenang! Nggak usah di pikirin, karena beberapa hari kedepan pasti mereka juga nggak bakalan inget kamu. Bisa jadi mereka juga nggak nyalahin kamu, malah harusnya mereka yang berterima kasih karena pemeran utama pria itu sudah kamu tolong. Oke calm down... Lagian kemungkinan ketemu lagi juga sangat kecil, meskipun nantinya kuliah di tempat yang sama" ucap Azura.
"Lebih baik aku mandi air hangat dulu deh" ucap Azura mengingat tubuhnya basah kuyup dan takut dirinya masuk angin karenanya.
....
Di sisi lain di rumah sakit.
Arsen baru saja selesai di periksa oleh dokter di ruang IGD, ia kemudian di pindahkan ke ruang rawat VIP setelahnya. Ketiga temannya kini berada di sampingnya, menemani sahabatnya yang harus di rawat karena mengalami demam.
"Kenapa harus di rawat sih, kan cuma demam dikit" ucap Arsen.
"Cuman demam dikit pala lu... Itu panas lu itu udah sampai 39⁰ celsius, di rawat juga nggak apa-apa yang penting cepet sembuh" ucap Galang
"Siapa yang udah bikin lu kaya gini? Gue sama yang lain panik saat ada yang bilang lu di bawa orang tinggi gede" Tanya Pras
"Kakaknya Amel" ucap Arsen berdecih.
"Kan udah gue bilang bego! Jangan lu deketin itu si Amel, pawangnya serem, lu nggak percaya ma gue. Tapi kenapa kakaknya bisa mukulin lu, sampe lempar lu ke danau segala?" ucap Galang
"Amel gue putusin!" Ucap Arsen cuek
"Udah gue Dugong, lagian lu cari penyakit dasar buaya buntung! Baru juga jadian dua hari udah putus aja" Ucap Galang
"Kaya nggak tahu Arsen aja lu Lang, mana ada yang jadi pacarnya lebih dari dua hari? Masih untung di jadiin pacar dua hari, biasanya belum sejam juga udah di cut" ucap Pras
"Bener juga ya, tapi jujur gue bingung sama tuh cewek-cewek. Udah tahu nih cowok satu Playboynya nggak ketulungan dan nggak pernah pacaran lama, masih aja banyak yang suka dan ngejar. Bahkan bangga gitu pernah jadi pacar seorang Arsen meskipun hanya beberapa jam doang" ucap Galang
"Pesona gue kebanyakan" ucap Arsen
"Iye, awur-awuran... Saking awur-awuran nya buat tuh cewek otaknya awur-awuran juga, nggak ada yang beres" Ucap Galang kesal.
Arsenio Bagaskara, adalah pemeran utama di novel pelabuhan terakhir. Ia merupakan seorang putra tunggal keluarga Bagaskara, yang merupakan keluarga paling kaya di negara ini.
Parasnya yang sangat tampan dan terkenal sebagai playboy yang suka bergonta-ganti pacar. Hubungan dengan pacar-pacarnya tidak ada yang lebih dari dua hari saja. Meskipun begitu masih banyak saja wanita yang mengantri mendapatkan kesempatan buat jadi pacar singkatnya.
Di ceritakan di dalam novel jika Arsen, panggilan akrab Arseno. Jatuh cinta untuk pertama kalinya dengan seorang pemeran utama wanita dan menjadikannya satu-satunya wanita yang ia cintai. Ia juga berhenti menjadi Playboy sejak saat itu dan menjadi sangat bucin pada pemeran utama wanita.
"Gadis cantik itu mana?" Tanya Arsen yang baru ingat dengan penolongnya.
"Gadis cantik yang mana lagi?" Tanya Galang tidak mengerti.
"Yang nyelametin gue, apa dia ada di luar?" Tanya Arsen dengan wajah sumringah.
"Nggak ada cewek di sini, ngigo lu?" ucap Galang yang di angguki Pras
"Jangan bercanda deh, tolong panggilan dong! Gue pengen bilang makasih karena dia udah nolongin gue tadi" ucap Arsen
"Siapa yang bercanda, beneran nggak ada cewek kok di sini, ada juga suster" ucap Galang
"Masa sih? Masa iya gue halusinasi" ucap Arsen mengerutkan keningnya, ia yakin jika yang menolongnya adalah cewek cantik.
"Lu nggak halusinasi, dia tidak ikut anter lu ke sini" ucap Adrian, membuat ketiga temannya itu menoleh pada sahabatnya itu.
"Emang iya Yan?" Tanya Galang dan Pras bersamaan.
"Masa kalian nggak lihat, segitu dia di sana waktu kalian berdua hampirin Arsen. Mata lu berdua bermasalah ya?" ucap Adrian.
"Ah ya, gue inget. Gue lupa karena keburu panik dan khawatir sama Arsen dan nggak perhatiin sekitar" ucap Pras
"Gue juga sama paniknya waktu itu, lu tahu kan kalau Arsen itu alergi dingin? Mana suhu di luar lagi dingin lagi, ya jelas gue keburu panik. Terus tuh cewek mana, Yan?" Tanya Galang.
"Waktu kita bawa Arsen ke rumah sakit, dia langsung pergi" ucap Adrian.
"Kenapa lu nggak tahan!" Ucap Arsen menghela nafas kesal saat tahu bidadari penolongnya itu pergi.
"Gue udah nahan dia, tapi karena Galang waktu itu manggil gue buat bawa lu ke rumah sakit. Dia langsung pergi gitu aja" ucap Adrian.
Arsen langsung diam saat mendengar itu, ia mengingat suara lembut gadis penolongnya itu saat menanyakan keadaan nya. Wajahnya yang sangat cantik membuatnya terpesona dan hanya dengan mengingat nya saja jantungnya berdetak dengan cepat. ini kali pertama Arsen merasakan hal seperti itu.
....
Siang ini Azura pergi ke mall terbesar yang juga merupakan mall kalangan atas. Memang tidak ada label jika mall ini hanya untuk kalangan atas, tapi harga di sana membuat tidak semua orang berani datang dan membeli.
Azura yang tidak lagi memikirkan uang, karena uang mengalir dengan sendirinya di kantong. Hari ini ia memang mengkhususkan dirinya untuk melakukan treatment, lalu pergi ke gerai ATK dan counter elektronik untuk membeli laptop.
Besok ia sudah mulai kuliah, jadi ini adalah waktu santai terakhirnya sebelum ia memasuki dunia para tokoh novel sepenuhnya.
"Selamat siang kak Azura, apa treatment yang seperti biasanya?" sapa resepsionis salon dan spa itu dengan senyum ramah.
Sudah kali kelima Azura datang untuk melakukan treatment selama dua Minggu ini, jadi resepsionis itu mengenalnya.
"Selamat siang kak Dina, tahu aja he-he... Treatment lengkap ya kak" Ucap Azura terkekeh.
"Baik, tunggu sebentar ya kak Azura" ucap Resepsionis yang bernama Dina itu.
Tak lama kemudian seorang therapist langganan Azura yang bernama Yanti datang dan mempersilahkan Azura masuk dan menikmati treatment yang ia jalani hari ini.
....
Setelah selesai treatment, Azura merasa tubuhnya segar, kulitnya juga sangat bersih sekarang tidak buluk seperti dua Minggu yang lalu. Uang memang bisa mengubah itik buruk rupa menjadi angsa dalam sekejap.
"Totalnya Tiga juta tiga ratus kak" ucap kasir.
"Genapin empat juta aja ya kak, lima ratus buat tips Mbak Yanti dan seratusnya buat kakak dan kak Dina" ucap Azura, menyerahkan Card miliknya.
"Baik, ini card dan Struknya kak. Terimakasih banyak, jangan lupa datang kembali" ucap kasir dan di balas senyuman oleh Azura.
[Ding....]
[Terdeteksi, nona sudah menghabiskan 4.000.000]
[Selamat mendapatkan bonus rabat 10x. Sebanyak 40.000.000]
[Hadiah sudah berhasil masuk ke akun rekening bank anda]
Ting!
Sebuah pesan masuk dari bank di ponsel Azura, ia menerima uang 40 juta. Azura sudah terbiasa mendapatkan uang, jadi responnya tidak heboh seperti awal pertama kali ia mendapatkan uang puluhan hingga ratusan juta.
Azura langsung bergegas menuju ke gerai ATK, karena hari sudah mulai sore.
Saat memilah buku yang akan ia beli dan mengulurkan tangannya untuk mengambil buku, tidak sengaja bersamaan dengan orang lain.
"Maaf, silahkan kalau mau ambil" ucap Azura memilih menarik kembali tangannya.
"Kamu gadis yang di danau itu kan?" Ucap seorang pria.
Azura menoleh dan membolakan matanya saat melihat orang yang tak lain adalah Adrian. Buru-buru Azura menggelengkan kepalanya dan beranjak dari sana. Namun tangannya kembali di cekal oleh Adrian.
"Kenapa kamu kebiasaan sekali kabur-kaburan" ucap Adrian mengulum senyum melihat tingkah Azura, Entah mengapa Adrian sangat nyaman melihat Azura.
"Aku tidak kabur, aku hanya ingin mencari buku lain. Jadi tolong lepas!" ucap Azura mencoba melepaskan pegangan tangan Adrian di tangannya.
Tapi Adrian justru menariknya ke sudut yang memiliki sofa panjang yang memang di sediakan untuk pengunjung. Mau tak mau Azura ikut ke sana.
"Makasih" ucap Adrian saat melepaskan tangannya
"Untuk?" Tanya Azura mengeryitkan keningnya
"Sudah menolong sahabatku" ucap Adrian lagi
"Kirain aku dia mau marah karena salah paham dan mengira aku yang buat tuh orang tenggelam" gumam Azura lirih, namun masih di dengar oleh Adrian.
"Jadi kamu kabur kemarin karena mengira kamu akan di salahkan?" Ucap Adrian terkekeh.
"Salah satunya iya, tapi lebih tepatnya aku nggak mau ada urusan dengan kalian" ucap Azura dalam hati
"Adrian" ucap Adrian mengulurkan tangannya.
Azura diam sembari menatap tangan Adrian yang terulur padanya, dia nggak mau saling mengenal dengan salah satu dari mereka. Tapi nampaknya takdir tidak bisa berjalan sesuai dengan keinginannya.
"Azura" ucap Azura namun ia tidak menyambut uluran tangan itu.
Adrian menarik kembali tangannya, ia tidak marah malah tersenyum. Baru kali ini ada perempuan yang bersikap tidak ingin dekat padanya. Bukannya sombong, tapi ia sama tampannya dengan Arsen dan juga dua teman geseknya.
Meskipun Arsen memang sedikit unggul baik dari ketampanan maupun segi kekayaan keluarganya.
"Kamu mau kemana lagi?" Tanya Adrian saat melihat Azura hendak beranjak dari sana.
"Bukan urusan kamu, ucapan terimakasih kamu sudah aku terima. Jadi kita tidak memiliki hutang satu sama lain, aku permisi" ucap Azura kembali menuju bagian rak buku.
Adrian terkekeh dan mengikuti Azura dari belakang, sebenarnya Azura merasa risih. Tapi ia biarkan saja orang itu mengikutinya, setelah mengambil buku dan alat tulis yang ia butuhkan. Azura langsung beranjak ke kasir.
"Semuanya tiga ratus tujuh puluh Kak" ucap kasir.
"Ini mbak, gesek pake ini aja" ucap Adrian menyodorkan card-nya.
"Tidak perlu! Aku sama sekali tidak kekurangan uang. Pake ini aja mbak" ucap Azura menyingkirkan card milik Adrian dan menyerahkan card miliknya dan di terima oleh kasir dengan tersenyum.
Ia mengira kalau Adrian tengah dalam misi mengejar gadis cantik.
"Ini belanjaan, Card dan struk nya kak. Terimakasih sudah berbelanja" ucap kasir.
"Kembali kasih mbak" ucap Azura kemudian beranjak pergi dari sana dan bergegas ke toko laptop.
Makin lama, Azura semakin jengah karena Adrian terus saja mengikutinya. Akhirnya Azura menghentikan langkahnya dan berbalik.
"Kenapa kau mengikutiku?" Tanya Azura dengan dingin.
"Aku tidak mengikuti mu, ini jalan umum nona Azura" ucap Adrian tersenyum tipis.
Azura mendengus kesal dan melanjutkan langkahnya dengan cepat. Adrian di belakang terkekeh dan terus mengikuti Azura hingga masuk ke toko laptop, Ia melihat Azura tengah sibuk memilah laptop.
"Sebenarnya apa maumu?" Tanya Azura tanpa membalikan tubuhnya.
Adrian tahu jika Azura tengah bertanya padanya, jadi ia dengan ringan menjawabnya.
"Ayo berteman!" Seru Adrian
Azura menoleh dan menatap wajah serius Adrian yang mengajaknya berteman. Ia mengerutkan keningnya heran.
Di dalam cerita novel, Adrian adalah sosok paling pendiam di antara ketiga temannya, bahkan saat tokoh protagonis wanita datang. Ia sangat jarang bersuara dan terkesan tidak peduli, tapi apa ini? Kenapa sekarang seorang Adrian mengajaknya berteman? Pikir Azura.
...••••••••...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 224 Episodes
Comments
Sani Anisa
sebagai pembaca aku sedih. tapi bisa apa, cuma bisa kalo ga nyaman ya udh tinggal aja
2024-12-08
0
Sani Anisa
siapa pun boleh bgt kasih aku rekomen cerita yg serupa yg bagus, yg paling penting lg bahasa atau tulisan nya yg enak buat di baca. jelas arah nya ga ngalor ngidul. bkn yg tiap baca malah bikin mikir ini gimna ini maksud arah nya kmna.
2024-12-08
1
Sani Anisa
aku selalu nyari cerita yg genre nya sama bgini atau kurleb sama lah. ada nemu 1 2 yg dri segi cerita masih ok, tapi pas baca nya ya Allah bikin mikir dn kdg2 bikin emosi.aku ga nemu kenyamanan buat lanjut baca nya
2024-12-08
1