Ari, Siti, dan Alia menghabiskan waktu berjam-jam untuk menjelajahi sekitar markas pusat. Alia adalah panduan yang hebat, menunjukkan mereka tempat-tempat penting dan memberi tahu mereka tentang sumber daya yang bisa mereka temukan.
Mereka mulai dengan menyusuri gudang penyimpanan markas pusat. Di sana, mereka menemukan berbagai sumber daya yang bisa digunakan untuk bertahan hidup. Ada makanan kaleng, air minum, obat-obatan, serta perlengkapan medis dan senjata yang tersedia.
Alia menjelaskan bahwa sumber daya ini tidak hanya untuk konsumsi sendiri, tetapi juga bisa dijual atau ditukar dengan kelompok lain di luar sana. "Uang masih memiliki nilai, bahkan dalam dunia seperti ini," kata Alia kepada Ari dan Siti.
Ari masih merasa ragu. Dia merasa bahwa mencari uang adalah hal yang tidak penting dalam situasi yang penuh bahaya seperti ini. Namun, Alia menjelaskan dengan bijak bahwa uang bisa membantu mereka memperoleh hal-hal yang mungkin tidak dapat mereka temukan dengan sumber daya sendiri.
"Uang bisa digunakan untuk membeli perlindungan, mendapatkan informasi, atau bahkan membayar orang-orang yang memiliki kemampuan khusus yang kita butuhkan," kata Alia. "Ini adalah alat yang bisa membuat kita lebih fleksibel dan kuat."
Ari mulai memahami argumen Alia. Meskipun dia masih merasa tidak nyaman dengan pemikiran mencari uang di tengah-tengah krisis ini, dia tahu bahwa keputusan ini bukanlah sesuatu yang bisa diabaikan sepenuhnya. Mereka membutuhkan sumber daya untuk bertahan hidup, dan uang adalah salah satu cara untuk mendapatkannya.
Dengan hati-hati, mereka mengumpulkan beberapa barang yang mereka pikir bisa memiliki nilai di luar sana, seperti bahan makanan, obat-obatan, dan senjata cadangan. Mereka juga mengecek barang-barang lain yang mungkin berguna, seperti peralatan elektronik, alat-alat komunikasi, dan perhiasan.
Setelah mengumpulkan barang-barang tersebut, mereka merencanakan perjalanan ke luar markas pusat untuk mencari kelompok lain atau individu yang mungkin tertarik untuk melakukan pertukaran. Alia tahu beberapa jalur yang relatif aman yang bisa mereka gunakan, dan mereka merencanakan perjalanan mereka dengan hati-hati.
Sebelum mereka berangkat, mereka mendekati salah satu pemimpin di markas pusat untuk memberitahu tentang rencana mereka. Pak Agus, yang telah menjadi mentor bagi Alia, mendengarkan dengan serius dan memberikan beberapa saran.
"Kalian harus berhati-hati di luar sana," kata Pak Agus. "Dunia di luar sana bisa sangat berbahaya. Pastikan untuk selalu memprioritaskan keselamatan kalian."
Mereka juga diberikan beberapa alat komunikasi darurat dan rencana evakuasi jika mereka menghadapi situasi yang berbahaya. Dengan perlengkapan yang telah mereka siapkan, Ari, Siti, dan Alia meninggalkan markas pusat dengan hati-hati.
Mereka melalui beberapa daerah yang dulu merupakan bagian dari kota Jakarta. Bangunan-bangunan yang hancur dan jalan-jalan yang penuh dengan kendaraan yang terlantar menjadi saksi bisu dari kengerian yang pernah terjadi di sini. Mereka harus tetap waspada, karena setiap sudut bisa saja menjadi tempat berkeliaran zombie atau kelompok yang tidak ramah.
Selama perjalanan mereka, mereka bertemu dengan beberapa kelompok kecil yang juga mencari sumber daya. Beberapa kelompok tersebut bersedia untuk melakukan pertukaran dengan mereka, dan Ari, Siti, dan Alia mulai memahami nilai uang dalam situasi seperti ini. Mereka berhasil memperoleh beberapa sumber daya tambahan, termasuk makanan segar dan bahan bakar.
Namun, mereka juga menghadapi situasi yang tidak selalu ramah. Pada suatu titik, mereka harus menghadapi kelompok yang mencoba merampas barang-barang yang mereka kumpulkan. Dalam situasi itu, Alia menunjukkan keberaniannya dengan berbicara dengan tegas dan mempertahankan apa yang mereka miliki. Mereka berhasil melarikan diri tanpa cedera, tetapi pengalaman tersebut mengingatkan mereka betapa berbahayanya dunia di luar sana.
Mereka kembali ke markas pusat dengan sumber daya tambahan dan pemahaman yang lebih baik tentang dunia yang telah berubah ini. Ari, Siti, dan Alia mulai melihat uang sebagai alat yang bisa membantu mereka bertahan hidup dan mencapai tujuan mereka. Mereka telah belajar bahwa dalam keadaan krisis seperti ini, sumber daya dan kemampuan untuk beradaptasi sangat penting untuk bertahan hidup di tengah-tengah kekacauan yang melanda dunia mereka.
Ari, Siti, dan Alia kembali ke kamar mereka di markas pusat dengan berbagai sumber daya yang telah mereka kumpulkan. Mereka merasa lega telah berhasil mendapatkan barang-barang yang dibutuhkan, meskipun mereka tahu bahwa perjalanan keluar masih akan menjadi hal yang berisiko di masa depan.
Setelah meletakkan barang-barang yang mereka bawa di meja, Ari memutuskan untuk menyalakan televisi. Mereka ingin memeriksa berita dan mendengarkan perkembangan terbaru di luar sana. Siti dan Alia duduk di samping Ari, menunggu dengan ketegangan.
Ketika televisi menyala, layar penuh dengan gambar seorang penyiar berita yang tampak serius. Dia memberikan laporan tentang perkembangan terbaru di seluruh dunia. Ari, Siti, dan Alia memperhatikan dengan cermat.
"Kabar terbaru yang kami terima sangat mengkhawatirkan," kata penyiar berita. "Virus zombie yang awalnya terbatas di beberapa wilayah telah menyebar ke seluruh dunia. Negara-negara di seluruh dunia berjuang untuk mengatasi wabah ini, tetapi situasinya semakin memburuk."
Laporan berlanjut dengan berbagai gambar dan klip dari berbagai negara yang dilanda kengerian. Mereka melihat pasukan tentara yang berjuang melawan zombie, kota-kota yang hancur, dan ribuan orang yang berusaha mencari tempat perlindungan.
"Negara-negara dan organisasi di seluruh dunia bekerja keras untuk mencari solusi untuk mengatasi pandemi ini," lanjut penyiar berita. "Namun, keadaan masih sangat sulit."
Ari, Siti, dan Alia merasa tertegun oleh berita ini. Mereka telah melalui banyak perjuangan di perjalanan mereka, tetapi sekarang mereka menyadari bahwa masalah ini jauh lebih besar daripada yang mereka bayangkan. Ini bukan hanya masalah lokal atau regional, tetapi sebuah krisis global yang melibatkan seluruh dunia.
Mereka menyadari bahwa mereka harus tetap waspada dan terus beradaptasi dengan perubahan situasi. Mungkin saja rencana mereka untuk mencapai Jakarta akan menjadi lebih sulit dari yang mereka perkirakan. Tetapi mereka juga merasa bahwa mereka tidak sendirian dalam perjuangan ini, karena mereka telah menemukan keluarga baru di markas pusat ini.
Setelah berita selesai, mereka mematikan televisi dan duduk dalam keheningan. Mereka tahu bahwa mereka harus tetap fokus pada tujuan mereka untuk mencapai Jakarta dan mencari tempat yang lebih aman. Tantangan yang mereka hadapi mungkin semakin besar, tetapi dengan tekad dan semangat yang mereka miliki, mereka akan terus berjuang untuk bertahan hidup di dunia yang telah berubah menjadi kengerian.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments