Ari melihat dengan mata sendu ketika penculik itu membawa Siti dengan cepat menjauh. Dia berusaha mengejar mereka, berlari secepat mungkin, tetapi jarak antara mereka semakin membesar. Penculik itu tampaknya tahu bagaimana melarikan diri dengan cepat dan efisien. Dalam hitungan detik, Siti dan penculiknya menghilang di tikungan jalan yang gelap.
Ari merasa ngeri dan putus asa. Dia merasa seolah-olah telah kehilangan segalanya. Airmatanya mengalir tanpa henti saat dia berteriak memanggil nama adiknya, tetapi suaranya terdengar seperti jeritan yang sia-sia di tengah keheningan malam yang gelap.
Kapten Rina dan anggota kelompok yang mereka temui tiba-tiba berada di samping Ari. Mereka merasa tak berdaya dalam situasi ini, karena mereka juga tidak tahu apa yang harus dilakukan. Kapten Rina menarik Ari dengan lembut dan berkata, "Kita akan mencari Siti, Ari. Tapi sekarang kita harus mencari tempat yang aman untuk beristirahat. Kita semua butuh istirahat."
Ari masih terisak-isak, tetapi dia akhirnya mengangguk setuju. Mereka berdua mengetahui bahwa mereka tidak bisa melakukan banyak hal dalam keadaan yang penuh keputusasaan ini. Mereka perlu merencanakan langkah selanjutnya dengan hati-hati.
Mereka kembali ke markas polisi yang terpencil, tempat Kapten Rina dan beberapa anggota kelompok tersebut telah menetapkan basis sementara. Saat mereka masuk ke dalam markas, Ari merasa kesedihan dan keputusasaan yang dalam. Dia tahu bahwa Siti mungkin berada dalam bahaya besar, dan dia merasa sangat bersalah karena tidak bisa melindunginya.
Kapten Rina berusaha memberikan dukungan kepada Ari. "Kita akan melakukan segalanya untuk menemukan Siti, Ari. Tapi sekarang kita semua perlu istirahat. Anda butuh istirahat untuk tetap kuat."
Mereka semua duduk bersama di dalam markas polisi yang redup, yang hampir tidak terdengar suara apapun selain deru angin di luar. Ari terus merenung dan merasa sangat cemas tentang nasib adiknya.
Saat mereka duduk di dalam, Kapten Rina mulai berbicara tentang situasi yang lebih besar di kota Surabaya. Dia menjelaskan bahwa virus zombie ini tidak hanya merusak kota, tetapi juga telah menciptakan beberapa kelompok manusia yang mencoba bertahan hidup dengan segala cara.
"Ada beberapa kelompok yang mencoba mengendalikan sumber daya yang tersisa dan mengambil alih wilayah tertentu," kata Kapten Rina. "Kita perlu berhati-hati dan mencari cara untuk bertahan di dunia yang sangat berbahaya ini."
Ari mendengarkan dengan hati-hati, tetapi pikirannya masih tertuju pada Siti. Dia tahu bahwa dia tidak bisa merasa aman sampai adiknya kembali ke dalam pelukannya. Tetapi dia juga tahu bahwa dia harus menjalani rencana yang hati-hati untuk menyelamatkan Siti.
Setelah beberapa saat berdiskusi, mereka memutuskan untuk mencoba mendapatkan informasi tentang kelompok penculik Siti. Mungkin ada saksi mata atau petunjuk di sekitar kota yang bisa membantu mereka melacak penculik tersebut.
Mereka juga memutuskan bahwa Ari perlu istirahat sejenak untuk mengumpulkan energi. Kapten Rina menunjukkan kepada Ari sebuah tempat tidur sederhana di dalam markas polisi tersebut. Ari merasa sangat lelah dan terkoyak oleh perasaan kehilangan dan ketidakpastian, tetapi dia tahu dia harus beristirahat untuk bisa bertindak nanti.
Dalam kamar yang sepi itu, Ari menutup mata dan mencoba untuk tidur sebentar. Namun, mimpi buruk tentang Siti yang diculik dan berada dalam bahaya selalu menghantui tidurnya. Dia terbangun berkali-kali dalam keadaan berkeringat dan gelisah.
Pada akhirnya, dia memutuskan untuk bangun. Dia tahu dia tidak bisa tidur dengan damai sampai dia menemukan Siti. Dia keluar dari kamar dan bergabung dengan Kapten Rina dan anggota kelompok yang sedang merencanakan langkah selanjutnya.
Mereka memutuskan untuk mencari tahu tentang aktivitas kelompok penculik tersebut di kota. Mungkin ada saksi mata atau petunjuk yang dapat membantu mereka melacak Siti. Mereka juga perlu merencanakan bagaimana mereka akan bertindak jika menemukan Siti atau kelompok penculik tersebut.
Mereka berangkat menuju pusat kota Surabaya dengan hati-hati. Kota yang dulu pernah hidup kini menjadi kota mati yang dilanda kehancuran. Mereka mencari tahu tentang keberadaan kelompok penculik Siti, bertanya kepada beberapa orang yang masih selamat.
Beberapa orang memberikan informasi yang berguna tentang kelompok tersebut. Mereka mengatakan bahwa kelompok penculik tersebut memiliki basis di bekas gedung pemerintahan yang terbengkalai di pinggiran kota. Mereka juga diberitahu bahwa kelompok itu sangat berbahaya dan tidak segan-segan menggunakan kekerasan.
Hari-hari berlalu dengan cepat, tetapi bagi Ari, setiap detik terasa seperti jam yang berlalu begitu lambat. Dia merasa tidak berdaya dan kehilangan dalam ketidakpastian. Selama empat hari, dia terus mencari tahu tentang Siti dengan harapan untuk mendapat kabar baik.
Ari banyak berdiam di ruangan markas polisi yang sederhana, pandangannya kosong sambil memikirkan adiknya yang hilang. Dia merasa sangat cemas dan gelisah. Kapten Rina dan anggota kelompok mereka berusaha memberikan dukungan, tetapi mereka juga merasa frustrasi karena tidak dapat menemukan petunjuk yang pasti tentang keberadaan Siti.
Pada hari keempat, tim intelijen yang bekerja dengan kelompok Kapten Rina akhirnya mendapatkan informasi yang berharga. Mereka menemukan jejak tentang Siti. Namun, berita yang mereka bawa bukanlah berita yang menggembirakan.
Ari duduk di ruangan yang gelap, menunggu dengan hati yang berdebar-debar ketika Kapten Rina dan anggota tim intelijen masuk. Wajah Kapten Rina tampak serius, dan Ari segera merasa bahwa berita yang akan dia terima mungkin tidak baik.
Kapten Rina duduk di depan Ari dan berkata dengan lembut, "Kami telah mendapatkan informasi tentang keberadaan Siti, Ari."
Mata Ari bersinar harap-harap cemas. "Dimana dia? Apa yang terjadi padanya?"
Tim intelijen menjelaskan bahwa Siti berada di dalam sebuah markas yang dikenal dengan nama ORI, singkatan dari Organisasi Rekayasa Infeksi. Mereka adalah kelompok yang terlibat dalam eksperimen terkait virus zombie ini dan memiliki akses ke fasilitas yang sangat aman di dalam kota.
Ari merasa amarahnya berkobar ketika dia mendengar nama organisasi tersebut. Dia merasa bahwa Siti telah menjadi korban kepentingan jahat kelompok ini, dan dia merasa bertanggung jawab untuk menyelamatkannya.
Kapten Rina melanjutkan, "ORI adalah kelompok yang sangat berbahaya. Mereka memiliki sumber daya yang kuat dan perlindungan ketat. Tapi kami tidak akan membiarkan mereka menguasai situasi ini."
Ari merasa semangatnya tumbuh. Dia ingin menyelamatkan Siti, dan dia tahu bahwa dia tidak akan sendirian dalam perjuangannya kali ini.
Mereka merencanakan serangan ke markas ORI dengan hati-hati. Mereka tahu bahwa ini akan menjadi tugas yang sangat berbahaya dan penuh risiko, tetapi mereka tidak memiliki pilihan lain. Mereka harus menyelamatkan Siti secepat mungkin.
Pada malam hari, mereka memulai perjalanan mereka menuju markas ORI yang terpencil. Mereka bergerak dalam kegelapan, menggunakan setiap pengetahuan yang mereka miliki tentang markas tersebut. Mereka merasa gugup dan tegang, tetapi tekad mereka untuk menyelamatkan Siti tidak pernah goyah.
Setelah beberapa waktu berlalu, mereka akhirnya tiba di dekat markas ORI. Mereka menyusup masuk dengan hati-hati, menghindari penjagaan yang ketat. Mereka merasa bahwa mereka semakin dekat dengan Siti, dan semangat mereka semakin membara.
Namun, ketika mereka akhirnya berhasil masuk ke dalam markas tersebut, mereka mendapati diri mereka di dalam labirin yang rumit dan gelap. Mereka merasa seperti dalam perangkap dan tidak tahu harus mencari Siti di mana.
Setelah mencari dan menjelajahi beberapa lorong yang buntu, mereka akhirnya menemukan ruangan yang tampaknya berisi berbagai peralatan eksperimen dan penelitian. Di sudut ruangan itu, mereka melihat Siti yang terikat dan tampak sangat lemah.
Ari berlari mendekati adiknya dengan hati yang penuh kebahagiaan. Namun, sebelum dia bisa mencapai Siti, mereka mendapati diri mereka dikepung oleh anggota ORI yang bersenjatakan.
Pemimpin ORI, seorang pria yang tampaknya sangat berpengalaman dan cerdas, berbicara dengan nada yang dingin. "Kalian telah melakukan kesalahan besar dengan masuk ke sini."
Ari merasa amarahnya meledak. Dia tidak akan membiarkan orang ini menghalangi mereka untuk menyelamatkan Siti.
Mereka bertarung habis-habisan, dengan semangat untuk menyelamatkan Siti. Meskipun pertarungan itu berat, akhirnya mereka berhasil mengalahkan anggota ORI dan membebaskan Siti. Ari meraih adiknya dengan erat, sambil meneteskan air mata kebahagiaan. Mereka berdua merasa lega bahwa akhirnya mereka bersatu kembali.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments
Rara Makulua
Yess, langganan setiap update punya author ini, doi keren abis!
2023-10-02
6